⚠️Ngapak Alert⚠️
Novel ini terdapat beberapa part percakapan bahasa derah, terlebih di part-part awal🙏jadi mohon bersabar bacanya ya😊kalau pusing, bagian itu silakan di skip aja👉
💐selamat membaca💐
Ayu Anindita, seorang gadis desa, yatim piatu, yang dibesarkan oleh sang Nenek. Mencoba mandiri demi bertahan hidup hingga rela kehilangan masa kecil dan remajanya. Hingga suatu hari, Ayu memutuskan merantau ke kota demi sang Nenek. Namun sayang, Ayu justru kehilangan saat-saat terakhirnya bersama neneknya.
"Kamu harus bahagia, Yu!" pesan Nenek.
"Selamat jalan, Mbah! Tenang di sana ya. Ayu di sini akan baik-baik saja," batin Yudi.
"Aku janji akan selalu melindungimu. Walaupun, kita sama-sama tahu, tidak ada cinta di antar kita," ucap Elang.
Akankah Ayu bahagia? Siapakah yang akan mewujudkan permintaan Nenek?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterkejutan
“Assalamualaikum!” ucap Ayu saat memasuki apartemen itu.
Ayu berjalan tanpa melihat sekelilingnya. Ketika dia sampai di ruang tengah yang bersebelahan langsung denga dapur tanpa sekat,
“Astagfirullah hal’adzim!” seru Ayu sambil menutupi wajahnya.
Dia terkejut dengan sosok pria yang kala itu sedang berada di dapur dan menatapnya.
“Siapa ya?” batin Ayu.
Ayu pun mencoba menurunkan tangan yang menutupi wajahnya, agar dia bisa melihat sosok tadi. Dan saat dia berhasil melihatnya,
“Ya Allah!” serunya.
Justin yang melihat tingkah Ayu pun, mulai berjalan mendekati Ayu yang masih menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Kok ya ana wong lanang wuda sih? (Kok ada laki-laki telanjang sih?)” batin Ayu.
“Hallo!” sapa Justin yang kala itu sudah berada tepat di depan Ayu.
“Ma ... maaf! Sa ... Saya ki ... Kira nggak ada orang,” jawab Ayu sambil terus menutupi wajahnya.
Justin memperhatikan Ayu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Dia cewe yang semalam ‘kan!” batinnya.
“Siapa, Honey?” tanya Levy dari lantai atas.
Dia yang baru selesai memakai pakaiannya dengan rambut yang masih sedikit basah, berjalan keluar kamar tidur karena mendengar suara ribut dari luar.
Ketika Levy melihat Ayu, matanya membulat seketika karena terkejut dengan kehadiran Ayu di apartemen itu.
Segera, Levy masuk ke kamar dan mengambil kemeja Justin. Sejurus kemudian, dia turun ke lantai bawah dan menghampiri mereka.
Levy berjalan langsung ke arah Ayu yang masih menutupi wajahnya.
“Pake!” perintah Levy seraya mendorongkan kemeja yang dia ambil ke dada Justin.
“Heh! Ngapain kamu di sini?” Levy beralih ke Ayu.
“Ma ... Maaf! Saya kesini karena Ma ... Mau bekerja seperti biasa,” jawab Ayu yang masih belum membuka tangannya.
“Sa ... Saya kira tadi nggak ada o ... Orang. Jadi, Sa ... Saya masuk aja,” lanjutnya.
“Saya bentar lagi pergi! Kamu pergi belanja dulu aja!” perintah Levy.
“Ba ... Baik, Mbak!” jawab Ayu yang langsung pergi keluar dari ruangan itu.
Levy terlihat panik mengetahui Ayu melihat keberadaan mereka di tempat itu.
“Who is she, Beib?” tanya Justin
“Cuma babu!” jawabnya singkat.
“Oh! Aku kira dia teman mu. Semalam, dia ketemu kita pas kita baru keluar lift lho,” tutur Justin.
“Realy?” Levy semakin terkejut dengan penuturan Justin.
“Cepat kamu siap-siap! Kita harus cepat pergi dari sini. Aku nggak mau sampai Elang menangkap basah kita!” ujar Levy dengan tergesa-gesa naik ke lantai atas.
Justin mengikuti Levy dan dia pun segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi dari sana.
Sekitar satu jam kemudian, mereka pun meninggalkan apartemen itu.
.
.
.
.
.
Setelah Ayu keluar dari apartemen itu, dia bergegas pergi kebawah dengan lift. Ayu langsung berjalan menuju swalayan yang ada di seberang apartemen.
“Ya Allah! Kenapa aku lupa kalau semalam Mba itu dateng ke sini sih?” gumamnya.
“Semoga aku nggak dipecat gara-gara ini,” harap Ayu yang terlihat begitu panik.
Sangkin panik dan terburu-burunya, dia sampai tidak memperhatikan langkahnya. Dengan wajah menunduk dan pikiran yang kacau, Ayu pun berjalan serampangan. hingga akhirnya,
BUG!!!!
Ayu menabrak seseorang yang berjalan di depannya.
“Maaf!” ucap Ayu tanpa melihat orang yang ditabraknya itu.
Dengan tetap menunduk, Ayu beranjak pergi dari sana. Namun, tangannya ditahan oleh orang yang ditabraknya tadi.
“Maaf saya nggak sengaja!” seru Ayu yang meronta karena tangannya ditahan oleh orang itu.
“Ayu? Kamu Ayu ‘kan?” tanya orang itu.
Ayu pun mengangkat wajahnya dan melihat orang yang berbicara itu. Sejenak dia nampak berfikir, lalu kemudian,
“Mas Elang?” tanya Ayu.
“Iya, ini aku Elang! Ternyata bener kamu!” kata Elang tersenyum.
“Kamu kenapa? Kok kelihatannya buru-buru banget? Sampe nggak lihat jalan gitu! Ada masalah?” tanyanya.
“Eng ... Enggak kok, Mas! Aku cuma mau belanja ke swalayan depan,” jawab Ayu sambil menunjuk swalayan yang ada di seberang.
“Oh ...,” gumam Elang.
Elang teringat semalam, ketika semua orang tidak mau menjelaskan tentang Ayu.
“Ini kesempatanku!” batin Elang tersenyum.
“Aku temenin ya!” tawar Elang.
“Nggak usah, Mas!” tolak Ayu.
“Nggak papa! Ayuk!” ajak Elang menggandeng tangan Ayu.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari tadi.
Karena jarak swalayan yang lumayan dekat, mereka memutuskan untuk berjalan kaki kesana.
Mereka tak sadar, tangan mereka masih bergandengan bahkan sampai mereka tiba di swalayan itu.
Sesampainya di swalayan, Ayu yang masih merasa kebingungan, membuat dia tidak tau harus membeli apa disana.
“Kamu nggak papa ‘kan?” tanya Elang yang melihat Ayu diam saja di depan rak barang.
Ayu yang ditanya hanya diam saja tak menjawab.
“Yu!” panggil Elang seraya menyentuh bahu Ayu.
“Eh! Ada apa, Mas?” tanya Ayu yang tersadar dari lamunannya.
“Kita duduk sambil minum dulu yuk di depan!” ajak Elang.
Elang pun mengajak Ayu duduk di kursi yang ada di depan swalayan itu. Dia kemudian membeli dua botol minuman dingin dan memberikan salah satunya kepada Ayu.
“Nih! Minum dulu,” seru Elang seraya memberikan minuman ke Ayu.
“Makasih ya, Mas!” jawab Ayu.
“Kamu beneran nggak papa? Kayanya lagi ada pikiran!” tanya Elang.
“Aku nggak papa kok, Mas! Mungkin cuma kecapean aja. Kemaren aku pulang telat banget,” tutur Ayu tersenyum.
“syukurlah kalau emang nggak papa!” seru Elang.
Suasana hening sejenak. Mereka menikmati minuman masing-masing sambil menyaksikan lalu lalang orang dan kendaraan yang keluar masuk area apartemen green field.
Sejurus, Elang seperti melihat seseorang yang sangat dia kenal. Elang pun beranjak dari duduknya.
“Mas, mau kemana?” tanya Ayu yang melihat Elang hendak pergi.
“Bentar, Yu. Kamu tunggu di sini ya. Aku ada urusan bentar,” seru Elang.
Saat dia menoleh kearah yang semula, orang itu sudah tidak terlihat olehnya lagi.
Buru-buru Elang mengeluarkan hand phone dari sakunya dan mencari sebuah kontak.
Setalah ketemu, segera dia menekan tombol hijau di layarnya.
Pada deringan ke tiga, panggilan terhubung.
“Halo, Vy! Kamu dimana sekarang?” sergah Elang.
“Hai, Sayang! Aku lagi jalan ke tempat pemotretan. Kenapa?” jawab Levu dengan nada yang dibuat biasa saja.
“Kamu tadi mampir ke tempatku?” tanya Elang.
“Nggak sih! Ngapain aku kesitu? Kan ini minggu, kamu di rumah nenek ‘kan?” jawab Levy.
“Kamu sama siapa sekarang?” cecar Elang.
“Ya sama menejer aku lah! Kenapa sih?” kata Levy yang mulai geram dengan tingkah Elang.
“Coba kamu ganti ke mode vidio call!” perintah Elang.
“Kamu kenapa sih? Kamu nggak percaya aku?” bentak Levy.
“Aku itu mau ke tempat pemotretan bareng menejer aku. Kita baru jalan beberapa menit lalu. Kamu kenapa sih? Nggak biasanya kaya gini? Kamu mulai posesif sama aku? Kamu mau ngelarang aku? Kamu udah nggak sayang lagi sama aku?” tutur Levy dengan suara tangis yang dibuat-buat.
Justin yang ada di samping Levy hanya tersenyum miring mendengar drama yang barusan dia dengar.
“Kalau emang kamu udah nggak bisa ngertiin aku ya udah! Kita putus aja!” ancam Levy.
“Vy! Sayang! Bukan gitu maksudku! Aku Cuma pengin mastiin kamu baik-baik aja kok,” jelas Elang yang takut dengan ancaman Levy.
“Ya udah! Aku percaya kamu kok. Kamu hati-hati ya. Kabari aku kalau kamu butuh sesuatu. Miss you!” ucap Elang.
“Miss you too!” jawab Levy.
Panggilan pun berakhir.
Levy yang kala itu sedang berada di mobil bersama Justin, tersenyum menang karena untuk kesekian kali, dia bisa mengakali Elang.
“Kamu nggak akan bisa lepas dari aku, El!” ucapnya.
“Kamu memang jago bersilat lidah, Honey!” puji Justin.
“Bukannya kamu sudah sangat tau itu, Beib!” jawab Levy.
Dan mereka pun tertawa, menertawakan kebodohan Elang yang sangat mudah ditipu.
Sementara itu, di depan swalayan, Elang yang baru saja menutup panggilannya, terlihat menerawang ke depan.
“Nggak seharusnya aku langsung mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Ah...kenapa aku bodoh sih! Bisa aja aku emang salah lihat!” batin Elang.
Elang terlihat frustasi. Dia mengusap kasar wajahnya berkali-kali dan mengacak kasar rambutnya.
Ayu yang menyaksikan tingkah Elang, tak bisa membantu apa-apa. Dia sendiri saja masih syok dengan apa yang dialaminya pagi ini.
Ketika Elang berbalik, dia melihat Ayu yang masih tertunduk sambil memegangi botol air minumnya.
“Sudahlah! Levy nanti saja aku urus,” batin Elang.
“Jadi belanja?” seru Elang yang membuyarkan lamunan Ayu.
“Ehm ... jadi, Mas!” jawab Ayu mengangguk.
“Ya sudah! Ayo masuk lagi!” ajak Elang.
Mereka pun kembali ke dalam swalayan itu. Ayu mencoba menenangkan dirinya dan mulai memilih barang yang akan dia beli.
Sepasang mata yang mengawasi mereka dari lobi apartemen tadi, masih mengintai gerak gerik mereka berdua dari kejauhan.
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
**hai readers...jangan lupa tinggalkan jejak kalian dibawah ya😊
kasih like, comment dan vote karya ku sebanyak-banyaknya biar aku tambah semangat up nya🤭
thanks yang udah mau mampir dan dukungannya🙏**
lanjutin donk ceritanya,😘😘😘
adakah season 2 buat Adiba potrinya Elang dan Ayu.Dan klnjtan hub Yudi dn Bianca😀
Kutunggu deh thor💪
semoga kamu makin kreatif ya Thor.. ditungguin cerita lainya yg pasti sarat dgn pembelajaran hidup..😘😘🌹🌹❤️❤️
1 lg..jangan lupa ngopiiii....☕😁💪
lanjy Thor..💪😍