Menikah saat masih SMA? Yang benar saja? Akankah kisah ku ber akhir dengan bahagia?
Ikuti kisah Alifea dan Azrel yang absurd dalam cerita Nikah muda SMA!
Salam Author-Jangan lupa follow, like and coment!✓
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek_Zhea♡《, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Test pack biru
Azrel membalikan handphonenya, berbalik menatap Alifea tersennyum. Mengajaknya untuk tidur. Tak lupa sebelum tidur Azrel berdoa dan memeluk Alifea.
'Siapa? Ya Allah, kenapa harus Alifea yang jadi korbannya?'
Azrel menatap Alifea yang sudah tertidur pulas. Azrel mendekatkan lagi tubuh mungil itu, agar Alifea tak kedinginan.
****
Skip! 2 bulan kemudian!
Tak terasa 2 bulan berlalu sejak penculikan Alifea. Azrel makin nempel dengannya, dimatanya semakin hari Alifea semakin cantik dan menggemashkan. Dasar suami bucin.
Sedangkan Vina dan Riksa kali ini kerjanya berantem bae bak pasangan paling absurd sedunia. Kenapa? Apa apa dipermasalahin, didebatin, digaplokin. Setan aja eneg sama kelakuan mereka. Marah baikan, marah baikan.
Theia sedang dekat-dekatnya dengan Reon yang jutek bak minga digeprek mukanya. Reon kadang suka iseng menjepret wajah Theia dari kejauhan. Tak jarang Theia mengajaknya jalan bak anak ilang.
Oke, back too story👇
Alifea mendengus kesal, menghentakan kakinys super sebal pada lantai. Lihatlah kamarnya yang sekarang bak kapal pecah berantakan. Siapa lagi kalau bukan ulah suaminya?
"MAS AZREL! KALO NYARI BARANG TUH DIRAPIIN LAGI! JADI BERANTAKAN KAN!"
Alifea melemparkan sebuah kemeja batik kepada Azrel yang baru saja selesai mandi dan ganti baju. Azrel menyingkirkan kemeja yang menutupi wajah gantengnga itu. Terlihat Alifea yang sendiri merapihkan kamarnya sembari mengomel padanya.
"Kalo nyari tuh pelan-pelan! jangan berantakan! tuh kan liat jadi kapal pecah?! kalo gini terus aku buang semua barang mas nih! konsol game nggak dirapihin! lemari udah kayak pintu surga! mending mas teh pinter ya soal cara merapihkan rumah! inimah udah kayak rumah kurcaci! awas aja kal---"
Hampir aja Alifea tersandung karna lilitan kabel konsol game punya Azrel. Dengan sigap, Azrel menangkap tubuh Alifea. Bukannya berterima kasih, Alifea mendorong tubuh Azrel menjauh dari tubuhnya.
"Tuh kan! liat! aku mau jatoh kan! kali ini aku sita konsol game nya! kecuali mas janji mau nge rapihin sendiri! aku tuh capek ya liat pemandangan kayak gini tiap pagi!"
Alifea menggebrak laci nya menyimpan konsol game milik Azrel. Beralih merapikan baju yang terlempar semua dari lemari.
Ntah kenapa Alifea akhir-akhir ini suka marah marah tanpa alasan yang jelas. Pernah dia marah akibat tak dibelikan susu kotak, Azrel disuruhnya tidur di luar. Pernah seperti orang hamil, Alifea minta Azrel membelikan sate ayam ke luar pada malam hari. Dan hanya dikasih waktu tiga jam, atau nggak Azrel disuruhnya tidur di lantai.
Dan Azrel hanya bisa menggaruk lehernya yang gatal tampak bingung. Meraih tangan Alifea yanh selesai membereskan baju-baju mereka. Azrel memeluk badan Alifea yang beda 12cm darinya.
"Mas ih! lepasin nggak! sono! aishhh!" ucap Alifea sebal, mencoba menyingkiran kepala Azrel darinya. Malah Azrel membungkam bibirnya cepat.
"Marah-marah bae, kayak orang lagi hamil aja," cibir Azrel menggoda, menggigit ujung telinga istrinya.
"Paan sih?! emangnya siapa yang hamil hah?!" sarkas Alifea, nafasnya serasa sesak ketika Azrel sedang memeluknya.
"Kamu."
"Kapan?!"
"Udah, tapi nanti."
Azrel mencium bibir Alifea agak lama, agar gadis itu sedikit membungkam mulut bawelnya pagi ini. Yang Azrel ingin rasakan hanya kelembutan saat pagi hari.
"Kamu nggak mau ikut mas ke kantor de?"
"Nggak, aku mau dirumah aja! lagian mau ngambil dokumen doang juga kan? Udah sono! hush hush!"
"Aku diusir nih ceritanya?" Azrel menaik turunkan kedua alisnya. Membuat Alifea melemparkan bantal empuk tepat ke wajahnya.
"Sono! dasar tukang embel-embel!"
Akhirnya diakhiri tawa, Azrel pergi berlalu keluar kamar. Tapi sebelumnya seperti biasa, Azrel mencium kening, pipi, bibir, dan tangan Alifea adalah rutinitas Azrel setiap hari. Ini yang suka bikin Alifea kesel, nggak kenal tempat, Azrel itu suka cium sana cium sini.
"Dadah istriku sayang! pergi dulu ya! assalamualaikum! jangan kangen ya dek!"
Alifea hanya menjawabnya dengan bibir monyongnya. Selepas kepergian Azrel. Diam-diam Alifea mengeluarkan kalender dan test pack dari laci rahasianya.
[Januari, jumat, tanggal 29, 2021]
Alifea hanya tersenyum kecil memandang kalender mini hasil sovenir pernikahannya. Sekilas memandang test pack yang dia pegang. Berguling guling di atas kasur king size nya sambil menatap lamat test pack punyanya.
[Dua garis biru, positif]
"Hari ini hari ulang tahunnya, apa aku hadiahin ini aja ya? Tapi pake apa nutupinnya?"
Alifea masih memirkan tempat apa yang akan dia gunakan untuk test pack nya. Sambil terus memegang perutnya, lamunannya dikejutkan oleh suara panggilan Ghe dia bawah.
"Iya mah! sebentar!"
Alifea melemparkan test pack nya ke arah kasur di samping handphonenya.
_______________________________
○Dokter matran
[Yesterday]
Dok, boleh minta fotonya?•
•[Send a picture]
•Selamat ya, mau buat
kejutan ya mbak?
Iya^^•
\[Today, 16.00\]
Dok, nanti tolong kabarin•
kalo mas Azrel udah
pulang ya, thx.
•Mas Azrel dateng ke rumah
sakit mbak, nanti saya kabarin.
•Sticker love ( pesan telah dihapus )
[Baru saja✅]
______________________________
Matran menghapus sticker berbentuk love pada Alifea. Gila saja, Matran mengacak-acak kepalanya frustasi. Menghela nafasnya kesal.
"Gila aja gue! Matran, jangan sampe lo nikung istri temen lo sendiri, sadar!"
Tanpa sadar, Matran mengoprek sendiri foto profil milik Alifea. Terpampang foto profil itu adalah Azrel dan Alifea yang sedang main ayunan di tengah jurang. Matran hanya bisa tersenyum patah hati. Ntah apa yang ada di pikirannya sekarang.
Tut .... tut ....
"Halo? Fanesha?"
[Ada informasi? Bosen gue tran.]
"Ada."
[Apa, apa? Kepo gue!]
"Dia hamil, puas?"
[Nggak, bagus banget malah! Jadi korban gue tambah jadi satu dong ... asyik kan?]
[Btw, adek lo si F---]
Tut ....
Matran mematikan telfonnya dengan Fanesha cepat. Meneguk kopi hitammnya yang tinggal sedikit itu.
'Sampe kapan? Gue akan bertopeng seribu begini?'
*****
______________________________
○Alifea myX-
•Dok, Mas Azrelnya di mana ya?
[15.00]
Barusan jalan pulang mbak•
Goodluck buat kejutannya•
mbak. \[Read✔\]
_______________________________
Mau sampe kapan lo Tran? Sembunyi dari semua kenyataan? Maaf Zrel, gue ngelakuin ini demi ego gue sendiri.
*****
Azrel berjalan cepat, bersiap mengetuk pintu lebar rumahnya. Tumben sekali keadaan luar rumahnya tampak sangat sepi. Dilihat di samping pun sangat sepi. Dengan tegap Azrel berniat membuka pintu rumahnya, terlihat di tangannya menggengam sebuah chesse cake es krim kesukaan Alifea.
Namun saat Azrel memasuki pintu, di dalam rumahnya terlihat sangatlan gelap sampai Azrel tak bisa melihat apa-apa. Saat menginjak satu langkah, kakinya tak sengaja menginjak balon dan--
DORR!
Tubuh Azrel seketika membeku. Terlihat confeti warna warni bertaburan di atas kepalanya. Di depannya ada keluarganya, para pegawai, dan Alifea tentunya yang memegang kue tart tiramisu chessee yang bertancapkan 'Happy Milad ke-21 Azzrel!
"Ka--kalian? Kena---"
"Happy milad Mas Azzrel hanafi! cieee! udah jadi calon ayah di umur 21 tahun!" serempak semuanya yang ada di ruangan terlihat bahagia.
Azrel terlihat bingung dengan ucapan 'calon ayah. Tapi raut mukanya tampak tak bisa membendung haru dan bahagianya. Alifea maju ke arah Azrel memegang kue tart.
"Happy birstday!"
Kini pegangan Alifea berganti menjadi sebuah kotak mungil manis bertuliskan 'HM 21!
Segera mungkin Azrel membukanya, dan terpampanglah sebuah test pack mungil, benda itu membuat Azrel terisak terhura, eh terharu.
"Yee, mas Azrel cengeng!"
Terdengar teriakan adek sepupunya, yang melihat Azrel memeluk Alifea sambil menangis terharu bahagia. Alifea hanya tersenyum sambil mengelus punggung Azrel.
"Selamat ya."
"Makasih ya sayang," ucap Azrel lalu mencium pipi Alifea, tanpa sadar langsung menggendongnga mesra.
Yang dibelakang? Yang liat? Yang baper? DEMO LAH! YA MASA KAGAK!
"Eh kamvret lo Zrel!"
"Eh anj-, gue jomblo woy!"
"Dasar calon papa bucin kau!"
"Kucemplungin ke selokan biar mati kebucinan lo!"
"KITA DISINI MASIH JOMBLO ANJIR!"
Begitulah teriakan sorakan umpatan para saudara keponankan kerabat Azrel yang masih jomblo. Yang udah nikah malah hanya tertawa dan tersenyum, seperihal juga dengan Azrel dan Alifea. Yang hanya tertawa mesra melihat kegaduhan keluarga besar mereka.
Dan acara pun disambung dengan doa dan makan kue bersama, tak lebih diakhiri dengan ucapan hangat Azrel dan suara karoeke kerabatnya yang memenuhi ruangan.
****
At night, 09.00.
_____________________________
○Grup OSIS ******^^🎷
\[Today, 08.55\]
•Theia kyudR
[Heh?! serius lo?! coba liat
fotonya!]
•Riksa🦁
[Masa? Coba liat!]
Azrel gans♡•
\[Send a picture\]
•ReonTh🦄
[Selamat ya Zrel! conrula-
tions^^!]
•Theia kyudR
[Wih! sahabat gue udah jadi
bapak sama emak! wkwkwk]
•Riksa🦁
[Satu apa dua lo😂?]
Azrel gans♡•
\[Nggak tau gue, allham-
dulillah kalo dapet dua.☺\]
•Theia kyudR
[Feli yang hamil, lo yang
maruk njim, bapak kagak
ada akhlak😒]
•Riksa🦁
[Jagain tuh istri lo!]
Azrel gans♡•
\[Iya, thank you.\]
\[Read✔✔✔\]
____________________________
Azrel mengakhiri grup chat lalu mematikan handphonenya, beranjak memeluk Alifea yang sudah tertidur pulas. Khas gaya tidur kaya kebo. Azrel ikut tidur sambil memeluknya.
"Makasih ya dek, i will always love you. Alifea."
****
Matran hanya memandang sinis gadis berambut navy terang di depannya.
"Minta fotonya dong Tran," ujar Fanesha tiba-tiba menoleh ke arah Matran.
"Foto apa?"
Fanesha menyeringai miring, "Ya foto konsultasi Alifea lah, lo dokter pribadi dia kan? Ya masa kagak punya."
Matran menghela nafasnya memburu, menyerahkan sebuah dokumen berisi foto yang seharusnya dia kasih pada Azrel.
"Wah, kembar ya? Asyik nih. Korban gue jadi tiga!" tawa Fanesha memandang foto tersebut, lalu menyimpannya di tas nya.
"Mau sampe kapan lo begini Fan?"
Fanesha menatap Matran yang memandangnya punuh kejenuhan.
"Kenapa? Lo mau lepas? Matranila Khairat? Lo tau kan? Lo kayak gini juga karna apa, kalo nggak salah karna lo maksa gue deh. Iya kan?"
Fanesha menyeruput es matcha nya sambil men croll jahil handphonenya. Tak peduli dengan Matran yang membuang muka ke luar jendela kafe.
"Sayang sih ya, gue harus nunggu 8 bulan 20 hari lagi. Semoga mental mereka cukup sih, ya? Nggak sabar gue."
[Bersambung°]