Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.
Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Bright Spot
Keesokan harinya ....
Pemakaman Keluarga Raharsya ....
Tidak ada yang bisa menebak kapan kita akan pulang ke rumahNya. Tidak ada yang bisa menerka, bagaimana takdir kita kedepannya. Manusia hanya bisa berharap dan berdoa, tapi tentu saja yang menentukan adalah yang maha pencipta. Hidup hanya sementara, ada kalanya kita disayangi, ada kalanya kita ditinggalkan.
Ada yang datang, juga ada yang pergi. Semua tinggal menunggu waktu, kapan kita akan datang, kapan kita akan pergi. Seperti hal nya Bayi Hila, walau tak ada yang mengharapkannya, tapi Hila tetap mencintai dia. Hila tetap menanti kehadirannya. Namun, ternyata bayi mungil itu ditakdirkan tak hidup bersama Hila, mungkin jika bayi mungil itu hidup, tak akan ada yang mengasihi mereka, dan bahkan Hila malah jadi bulan-bulanan seluruh keluarga dan kerabat Raharsya.
Seperti saat ini, Gara membawa Hila dengan kursi roda, mengantar bayi mungil mereka menuju tempat peristirahatannya. Ditemani oleh keluarga inti Raharsya. Tira yang kondisinya belum sepenuhnya membaik, ditemani oleh Arini. Karena Tira pun sebagai Ibu, ia merasakan betapa sedihnya kehilangan seorang anak. Apalagi, bayi yang meninggal ini adalah cucunya sendiri.
"Kakak, izinkan aku memeluk dia untuk yang terakhir kalinya," ucap Hila pada Keyza yang menggendong jenazah bayinya.
"Kamu yakin kamu kuat, Hila?" tanya Keyza.
Hila mengangguk. Ia menguatkan dirinya untuk tak menangis dihadapan bayinya. Rangga pun mengisyaratkan pada Keyza, untuk memberikan bayi itu pada Hila. Gara tetap memegang pundak Hila, menguatkan Hila, agar Hila tak rapuh, dan tak terus-menerus menangis.
Hila pun menggendong bayi yang telah terbungkus kain kafan dan kain penutupnya. Hila tak boleh menangis, Hila tak boleh terluka. Ia harus kuat, ia harus menerima semuanya dengan lapang dada. Sambil ditatapnya jenazah bayi mungil itu, Hila mengusap-usapnya perlahan. Ia berbicara dalam hatinya ....
Sayangku, bayiku ... maafkan aku yang tak bisa menjaga kehamilan ini dengan baik. Apalah dayaku, ketika aku stres berat, aku tak bisa menghentikannya. Ini karena kesalahanku, sayang. Mama tak pantas untuk hidup bersamamu, sayang ... mungkin, karena itulah kamu pergi. Maafkan Mamamu ini, aku begitu berdosa padamu. Aku menyesal tak memberi tahu Ayahmu mengenai kehamilan ini. Jika saja dulu aku tak egois, mungkin kau kini akan baik-baik saja. Sayang, bahagia lah di sana. Tunggu Mama, secepatnya Mama akan menyusul mu ke Surga .... Batin Hila.
"Hil, sabar ... ini yang terbaik untuknya," Gara mengusap-usap pundak Hila.
Air mata Hila, sudah memenuhi kelopak matanya, ia pun memberikan bayi itu pada Gara. Ia tak kuat berlama-lama memeluk bayinya, Hila takut malah tak bisa lagi menerima kenyataan bahwa anaknya telah tiada.
Gara menatapnya, melihatnya dengan wajah penuh penyesalan. Bayi yang seharusnya hidup bahagia dengannya, malah pergi meninggalkannya begitu saja. Sakit, memang sakit. Tapi, mungkin Allah tahu yang terbaik untuk Hila dan Gara, dengan mengambil bayi yang tak berdosa ini.
Gara memberikan bayi pada Keyza agar proses pemakaman segera dimulai. Karena kasihan jenazah bayi Hila jika terlalu lama belum dimakamkan. Gara menatap Hila lagi, Gara harus bisa membuat Hila tersenyum, Gara harus membuat Hila kembali semangat menjalani hari, walau sebenarnya ia pun sangat rapuh.
"Dia sangat cantik, sama sepertimu. Bahkan, disaat aku terakhir kali menatapnya, dia terlihat manis, dan aku selalu membayangkannya, betapa dia sangat mirip denganmu, Hila."
"Dia akan membenciku," Hila menunduk sambil menangis.
'Tidak, Hila ... justru dia sangat bangga padamu. Kamu yang menjaga dan merawatnya. Dia pasti sangat beruntung pernah menjadi bagian dalam hidupmu. Jangan menyalahkan dirimu, karena kamu tak salah. Aku yang salah, Hila. Kita doakan saja, bayi kita akan bahagia bersamaNya. Dia akan melihat kita dari jauh, dan tersenyum pada kita. Percayalah ....
Hila tak menjawab, air matanya terus bercucuran, menatap bayi kecilnya yang akan di kebumikan. Sakit, sangat menyakitkan. Hila mencoba
dirinya, kala ia melihat bayi mungil itu masuk ke liang lahat. Hila tak bisa lagi menatap dan menyaksikan hal tersebut. Hila tak berdaya untuk menatap bayinya.
Bayi mungil yang tak diharapkan itu pun telah pergi. Hila dan Gara hanya bisa menatap nisannya dari jauh. Satu persatu dari mereka pun, meninggalkan pemakaman. Semua larut dalam kesedihan. Berharap, bahwa badai ini cepat berlalu, dan kebahagiaan akan segera menjumpai mereka berdua.
Selamat jalan bayiku ... semoga kau tenang di sana. Aku akan selalu merindukanmu. Aku akan selalu mengingatmu di setiap sujudku. Semoga, aku masih tetap bisa melihatmu walau hanya sebatas dalam mimpi. Aku akan mencoba kuat hidup tanpamu, walau aku tahu, semua ini tak mudah. Tapi, aku akan mencobanya. Semoga saja, aku bisa mengendalikan kesedihan ini.
...❤❤❤❤❤...
Kabar meninggalnya bayi Hila terdengar di telinga Bianca. Ia yang merasa tak dianggap sebagai tunangan oleh Gara, mulai menyesal dan marah. Keluarga Bianca tak ada yang tahu mengenai kabar tersebut. Tapi, Bianca mendengar, karena ia sengaja memata-matai Gara dan Hila.
"Kenapa hanya bayinya saja yang meninggal?" tanya Bianca.
"Maksud Nona?" tanya sekretaris Ibu dan Ayah Bianca.
"Iya, kenapa si Hila itu tidak ikut meninggal saja, sih? Dia merusak hubunganku dengan Gara. Kehadirannya membuatku terlupakan. Padahal, aku sudah sangat mencintai Gara. Aku harus apa, Div?"
"Nona, menurut saya, Nona tak perlu khawatir. Nona adalah tunangan resmi dari Tuan Sagara. Kalian telah dikenal sebagai tunangan oleh seluruh keluarga. Tuan Sagara pasti akan takluk pada Nona. Dia tak mungkin memilih wanita itu. Karena apa? Karena dia pun butuh jabatannya. Nona pikirkan saja, apa dia mau meninggalkan perusahaan hanya demi gadis itu? Kurasa tidak. Dia pasti pintar memilih. Walau ia tahu, gadis itu adalah Ibu dari anaknya yang meninggal, tapi kan mereka sudah tak ada ikatan, karena bayinya pun telah tiada. Nona tak perlu takut. Oke?" rayu Divo, sang sekretaris keluarga.
"Kamu ada benarnya. Kalau begitu, aku harus menghentikan wanita itu agar tak mengejar Gara-ku!" Tegas Bianca.
"Saya akan selalu ada dibelakang anda, Nona ..."
Tiba-tiba, Ayah dan Ibu Bianca, menghampirinya, dan mereka meminta Divo untuk berlalu. Sepertinya, ada hal yang ingin orang tuanya katakan pada Bianca.
"Bianca ..." ucap sang Mama.
"Ya, Mama?"
"Kita harus bertemu dengan keluarga Raharsya, mereka ingin bernegosiasi dengan kita." Ucap Ayah Bianca.
'Maksudnya apa? Negosiasi apa?" Bianca tak mengerti.
"Mama dan Papa juga belum tahu, tapi kita memang harus segera menemui mereka. Mama dan Papa tak ingin, nama kita ikut tercoreng karena mereka," ujar Mama Bianca.
"Maksud Mama? Mama tak ingin tercoreng? Memangnya kenapa? Ada apa?" Bianca tak mengerti.
"Bianca, dengarkan Papa ... kita harus membatalkan pertunangan itu! Papa tak ingin menanggung malu! Mereka sudah mencoreng nama besar keluarga mereka, dan Papa takut keluarga kita terkena imbasnya. Papa tak ingin, kamu hidup dengan lelaki yang telah menghamili wanita lain. Lagipula, mereka akan bernegosiasi dengan kita. Mereka akan memberikan satu perusahaan cabang mereka pada kita. Sebagai ganti pembatalan pertunangan antara keluarga kita. Bukankah itu hal yang cukup menguntungkan untuk kita, Bianca?" ujar Papa.
"APA? Jadi, aku ditukar dengan perusahaan? Perasaanku tak berarti bagi kalian, begitu? Perusahaan lebih penting daripada perasaanku, iya? Aku tak setuju! Aku tak ingin membatalkan pertunangan ini. Aarrgghhh, pokoknya aku harus menikah dengan Gara!" Bianca kesal.
Bi ... dia telah menghamili wanita lain! Apa kamu tak mengerti? Dia sudah tak lagi perjaka! Kami kecewa akan hal itu!" Ujar Mama.
"Masa bodoh! Aku tak peduli. Aku tak peduli kalau dia tak perjaka! Karena aku sendiri pun, sudah tak suci lagi!" Bianca emosi, hingga ia tak sadar, dirinya keceplosan.
"APA?" Papa Bianca kaget.
"Bianca! Apa maksud ucapan mu itu, hah?" Mama emosi.
Ya Tuhan ... aku keceplosan. Aku lupa, aku harus mengubur semua ini. Tapi, aku selalu membicarakannya ketika aku emosi. Bagaimana kalau aku ketahuan? Aku takut.
*Bersambung*