Anita atmaja putri seorang gadis cantik yang kaya raya memutuskan untuk merubah penampilannya karena masa lalu yang harus di tuntaskan.
tapi disaat memutuskan untuk menikah dengan hasan lelaki sederhana yang di cintainya ia berusaha ikhlas untuk melupakan dendamnya kepada sang mertua.
dengan keikhlasan yang tulus dalam diri anita, anita berusaha untuk mengambil hati mertuanya tapi usahanya menjadi gagal, karena bu susi yang tak lain mertua anita sangat tidak menyukainya hanya karena anita hidup dari kalangan bawah, cara demi cara dilakukan bu susi untuk menyingkirkan anita tapi bayi malang yang masih dalam kandungannya yang terkena dampaknya.
setelah sadar dari koma, anita sangat murka mendengar kematian anaknya sehingga ia bertekad untuk kembali membalaskan dendamnya atas kematian anaknya dan ibu angkatnya di masa lalu dengan berpura-pura menjadi orang tidak waras.
akan kah anita berhasil membalaskan dendamnya?
lalu apakah hasan akan mendukung rencana istrinya atau malah meninggalkannya.
ikuti kelanjutan nya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisah Alawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 28
" suamimu tidak akan pernah menceritakan apa yang sebenarnya, jadi biarkan aku saja yang cerita" ucapku menatap dingin yesi. sepasang suami-istri baru itu langsung terdiam menatapku dengan tatapan sulit di artikan, apalagi si rio dia bahkan berani menatap ku tajam.
"kenapa kau melihatku seperti itu? apa kau takut kalo aku akan menceritakan yang sebenarnya kepada istrimu?" ucap ku sedikit mengejek, Yesi menatapku dan Rio bergantian sedangkan rio terlihat salah tingkah.
"ada apa sebenarnya mbak?" tanya Yesi mulai lembut kepadaku.
"kamu mau tau? kalo kamu mau tau, aku punya syarat yang harus kau lakukan, jangan memotong ucapan ku apapun yang terjadi, ok. kalo kamu melanggar maka cari tahu sendiri" ucapku dengan tegas dan penuh penekanan, ya aku memang orang yang paling tidak suka kalo sedang bicara malah di potong orang lain, oleh siapapun itu. yesi hanya mengangguk pasrah saja.
"suamimu yang baru kamu nikahin ini sebenarnya sudah selingkuh, kamu tahu siapa selingkuhan nya?" ucapku sengaja menjeda, Yesi terlihat syok sedangkan suaminya seperti mati kutu.
"siapa?" tanya Yesi bergetar, aku tahu kalo dia sedang menahan tangis.
"tantenya arum, arum anak kecil yang ku bawa dari pinggiran jalan" ucapku datar, semua ku ceritakan tanpa adanya yang di tutup-tutupi, toh Yesi ini adik iparku jadi dia berhak tau semuanya. apa lagi si rio buaya ini adalah suaminya.
"kamu jangan percaya dengan ucapannya sayang, dia itu pembohong toh aku juga baru bertemu dengannya hari ini" ucap rio mengelak, aku hanya tersenyum sinis.
"itu terserah mu saja antara mau percaya atau tidak yang jelas aku sudah menceritakan semuanya" ucapku berlalu pergi menyusul suamiku dan arum.
******
Dua hari kemudian.
hari ini adalah hari dimana mas hasan harus pergi untuk urusan pekerjaan, aku sudah menatap sebal pada ka rangga, karena gara-gara dia lah suamiku harus pergi jauh dariku.
"aku harus pisah sama suamiku itu gara-gara kamu, bang" ucapku ketus, bang rangga tak memperdulikan perkataan ku, mungkin ucapanku bagaikan angin lalu, dia malah asyik dengan gawainya saja.
"mas pergi dulu ya, nit. kamu jaga diri baik-baik dan jaga juga anak kita, semoga dia bisa menjadi anak yang Sholehah seperti dirimu" ucap mas hasan sambil mengelus-elus perut ku. aku terdiam mendengar ucapan mas hasan, kenapa mas hasan seolah bilang kalo aku harus sendiri yang merawat anak dalam kandungan ku, kenapa tidak denganya, toh dia adalah bapaknya. kenapa seperti ada yang janggal dengan ucapannya itu. batinku gelisah
"kita urus anak kita sama-sama, mas! kenapa kamu bicara seakan akan pergi sangat lama dari ku, aku tidak suka kamu bicara seperti itu" ucapku kesal dan sebal pada suamiku, mas hasan hanya tersenyum dengan mengelus pipiku sebelum berangkat dia sempat mencium keningku dengan lama, air matanya menetes, ya mas hasan menangis. tapi, kenapa harus menangis, ini hanya perpisahan yang sementara itu pun pasti sebentar. ini adalah tangisan kedua yang pernah aku lihat.
"mas pergi dulu, assalamualaikum" pamit mas hasan sambil memasuki mobilnya. hati ku berdetak dengan kencang ntah kenapa perasaanku sangat tidak tenang, perpisahan ini seakan berat untukku, padahal sebelum aku hamil aku sering di tinggal pergi oleh nya. tapi, sekarang?..
air mataku mengalir dengan deras, apalagi saat melihat mas hasan melajukan mobilnya, ku ucapkan istighfar dalam hati beberapa kali, agar hati ini bisa kembali lebih tenang.
"mas anak yang kita nanti akan segera lahir, semoga kau bisa kembali lagi bersama ku" batinku tersisak
"tante jangan angis, ayum kan ada disini. jadi selama om asan pelgi, ayum yang akan jaga ante di sini" ucap arum sambil mengusap air mataku, aku hanya tersenyum tipis. sekarang bocah ini sudah terlihat tegar, padahal kemari saat jenazah arin dan suaminya datang ke halaman rumah, bocah itu terus saja menangis tanpa henti sampai-sampai terserang demam, syukurlah sekarang dia sudah jauh lebih baik. tapi, yang membuatku bingung adalah kemana anak bungsunya arin? kenapa tidak ada mau jasad atau pun apapun.
mampir like balik novel ku judul menikahi anak majikan