Miranda adalah seorang jurnalis wanita berusia 29 tahun di sebuah majalah sport di Toronto, Kanada. Impian sebagai seorang penulis buku dia hentikan setelah bertemu Jeff, kekasihnya. Selama dua tahun mereka tinggal bersama, Jeff dengan teganya berselingkuh dan membuat Miranda jatuh di titik terendah hidupnya.
Di saat kegalauan itu datang, Miranda diperintahkan atasannya untuk kembali menulis buku. Sebuah buku biografi dari mantan atlet nasional rugby yang kini menjadi seorang pelatih terkenal bernama Rick. Pria berusia 51 tahun yang baru kehilangan istri yang dicintainya karena kanker.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biran ASMR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
My Sexy Old Man 2
Orang bilang pernikahan lima tahun pertama adalah yang terberat. Tahun-tahun tersebut adalah tahun penjajakan. Tahun dimana segala kekurangan terlihat dengan jelas. Benarkah? Bagi Rick dan Miranda, tahun
pertama adalah tahun yang menggelora.
Sreekk
Kedua tangan Miranda berada di atas kepalanya, ditahan oleh satu kepalan tangan Rick, sementara tangan satunya berada di tempat yang lain. Miranda berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara apapun dari mulutnya, tapi tak bisa.
“Kau bisa teriak semaumu,” bisik Rick.
“Oh ****!” umpat Miranda.
Saat Miranda hendak berteriak karena mencapai puncak, Rick menyumpal bibir Miranda dengan bibirnya hingga suara Miranda tertahan. Rick melambatkan gerakannya seiring dengan sesuatu yang terlepas darinya. Sebuah pelepasan yang penuh cinta dari keduanya.
Miranda memeluk Rick setelah kedua lengannya terlepas dari genggaman suaminya. Tak pernah dia kecewa atas permainan yang suaminya lakukan di atas ranjang. Kematangan usia Rick membuatnya mampu menahan emosinya, untuk lebih mengutamakan kepuasan pasangannya.
“Penerbangan kita pukul dua siang ini,” ucap Miranda, seraya duduk di pinggiran tempat tidur.
“Bulan madu yang terasa singkat,” kata Rick.
Miranda mengangguk setuju. Tapi meraka harus kembali ke realita, pekerjaan menanti. Rick harus kembali ke tim. Banyak pemain baru yang masuk ke dalam timnas. Pemain timnas sebelumnya sudah banyak yang dikontrak
oleh grup lain di luar negeri. Rick harus dapat mencetak para juara baru.
***
Rick dan Miranda sudah sampai di Bandara Internasional Pearson Toronto. Di luar bandara, terlihat Nat dengan memakai kacamata hitam dan jaket kulitnya melambaikan tangan di samping mobil Volvo berwarna silver.
“Nat!” Miranda memeluk Nat dengan bahagia.
“Good to see you again!” ucap Nat, kemudian beralih pada Rick.
“Bagaimana kabarmu? Apakah kau butuh bertemu dokter sebelum ke rumah?” tanya Nat pada Rick.
Rick mengernyitkan dahi.
“Barangkali kau punya keluhan sakit pinggang setelah dua minggu penuh gairah?” goda Nat.
Miranda terkekeh mendengarnya godaan Nat, sementara Rick menatap sinis.
“Kau salah Nat, akulah yang butuh bertemu dokter! Rick menyerangku habis-habisan!” timpal Miranda
sambil berusaha menghentikan tawanya.
“Owh.. I see..” Nat tertawa.
Rick menatap kedua wanita yang tengah tertawa itu dengan tatapan lelah. Dulu, hanya Nat yang menjengkelkannya. Sekarang, tambah satu wanita lagi, dan itu isterinya sendiri.
Nat membawakan koper Miranda dan Rick ke dalam bagasi kemudian mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam mobil. Nat mengemudi, sementara Rick duduk di depan di samping kemudi dan Miranda duduk di belakang.
“Oh ya, proyek sekolah olahraga dan tiny house sudah berjalan hampir delapan puluh persen,” kata Nat sambil mengemudi melaporkan update terkini tentang proyek sekolah olahraga Rick.
Rick mengangguk, kedua bola mata Miranda berbinar. “Honey, selagi kau melatih. Bolehkah aku melihat perkembangan proyek? Aku sudah tidak bekerja di majalah, so aku harus melakukan sesuatu agar tidak suntuk.”
Rick masih menimbang-nimbang. Jauh di lubuk hatinya, dia ingin Miranda terus berada di sampingnya. Tapi dia sadar itu terlalu posesif, dia takut Miranda malah menjauhinya.
“Well, itu ide bagus,” dukung Nat.
Lagi-lagi Nat selalu tidak ada di pihaknya. Rick pun akhirnya berkata, “Baiklah, kalau itu membuatmu senang.”
“Thank you honey,” ucap Miranda dengan girang.
Nat menatap Rick dengan sudut matanya. Dia tahu Rick tidak terlalu suka dengan keputusannya. Nat dengan senang hati tak sabar menanti drama apa lagi yang akan dia saksikan di pernikahan ke dua rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.
***
Kedua kopernya sudah keluar dari bagasi mobil Nat.
“Okay, sampai jumpa besok di stadion Rick!” ucap Nat, lalu menyalakan mobilnya dan berlalu.
Miranda melambaikan tangan saat Nat berlalu. Mereka berdua pun menyeret kopernya masuk ke dalam rumah yang sudah dua minggu tak ditempati. Rumah itu nampak rapi, sama seperti sebelum mereka tinggalkan, tetapi terlihat berdebu.
“Baiklah, saatnya menjadi wanita yang mengurus rumah dengan baik,” gumam Miranda.
“Sebelum mengurus rumah, kau harus mengurus suamimu terlebih dahulu!” ucap Rick kemudian mengangkat tubuh Miranda kemudian membawanya masuk ke dalam kamarnya. Miranda tak dapat berontak untuk urusan itu.
Rick meletakkan tubuh Miranda ke atas ranjang tempat tidurnya. Helai demi helai kain yang menempel di tubuh mereka mulai terlepas hingga tak tersisa sedikit pun.
“Kau tidak pernah merasa lelah?” tanya Miranda.
Rick menggeleng, kemudian menyumpal mulut Miranda agar tidak berbicara lagi dengan bibirnya. Dia sudah ingin melakukannya sedari tadi. Dia bahkan kesal kenapa Nat mengemudi lebih lamban dari biasanya. Menikahi Miranda, yang usianya terpaut jauh lebih muda darinya, membuatnya selalu bergairah dari sebelumnya.
Baiklah readers, mari kita tinggalkan sejenak pasangan yang baru pulang bulan madu ini.
Tring
Pintu lift terbuka, seorang wanita muda berambut pirang keluar dari lift dan berjalan menuju pintu bernomor 16. Dia menyeret kopernya masuk ke dalam losmen sederhana itu. Wanita itu menebarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
“Well, not bad,” ucapnya setelah menilai tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya selama beberapa hari.
Dia berjalan menuju lemari dan memindahkan isi kopernya ke dalam lemari satu persatu. Sampai selembar foto lawas yang memperlihatkan pasangan yang terlihat begitu bahagia, berdiri berdampingan. Wanita yang berada dalam foto itu diakenali sebagai ibunya, sementara lelaki di sampingnya begitu asing. Tak pernah dia jumpai dalam hidupnya semenjak lahir hingga kini berusia 18 tahun. Pikirannya melayang ke tahun lalu.
“Pergi kau cari ayahmu!” teriak wanita paruh baya dengan emosi yang meluap-luap.
Ibunya mengusirnya karena tidak ingin membiayai kuliahnya. Ibunya memang bermasalah, beberapa kali dia menyaksikan pernikahan ibunya dan tak ada satu pun yang berhasil. Kini ibunya ketergantungan dengan minuman beralkohol.
Wanita muda itu mengusap wajah lelaki dalam foto di tangannya.
“Aku akan menemukanmu, ayah.”
***