Gavril Mahesa harus rela memendam cinta kepada sahabatnya sejak usia enam belas tahun.Dan selama itu pula,Gavril berjuang untuk mendapatkan cinta sahabatnya itu,dari doa doa disetiap sujudnya.
Hingga akhirnya Tuhan mengabulkan apa yang ia inginkan,didetik detik terakhir keputus asaannya.
Berkat rencana kedua orang tuanya,dan juga sang sahabat,Gavril akhirnya bisa menikahi wanita sahabatnya itu.
Namun setelah pernikahan itu lagi lagi,Gavril harus kembali berjuang dengan kekuatan doa dan cintanya kembali agar sang istri mau menerima ia sebagai suami seutuhnya.
Konflik,sakit hati pertengkaran,kecemburuan mewarnai lernikahan mereka.Sampai akhirnya kebshagiaan itu pun datang.Tuhan kembali memberikan apa yang Gavril inginkan.
Sampai akhirnya kabar menyakitkan itu datang.
Kabar yang merenggut semua asa dan harapan kebahagiaan Gavril bersama istrinya.Dan Gavril kembali harus berjuang dengan kekuatan doa dan cintanya.
Kabar apakah itu.?
Dan apakah kali ini kekuatan doa dan cinta Gavril akan kembali membuat Tuhan memberikan apa yang ia inginkan..?
Inilah CINTA DAN PERSAHABATAN
Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ini ya..! VOTE LIKE RATE dan juga KIRIMKAN HADIAHMU sebanyak banyaknya.TERIMA KASIH readers...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengungkapkan perasaan
Surai pendek, tebal dan hitam legam itu, diremasnya kuat dengan kepala bertumpukan setir pengendali kendaraan roda empatnya, yang sudah lebih dari tiga puluh menit ia parkirkan ditepi jalanan tak jauh dari tempat gadis yang ia sukai menimba ilmu perguruan tingginya.
Rindu, itu yang ia rasakan. Bukan baru kali ini saja ia akan berlaku seperti ini, jika kerinduannya akan gadis itu tak bisa lagi ditahan. Hanya sekedar melihat, atau mengikuti kemana gadis itu pergi jika urusan pendidikannya telah usai. Dan apa yang menjadi tujuan, tertangkap juga dikedua indra pengelihatannya.
Dijarak tak kurang dari dua puluh meter, gadis itu berdiri menunggu angkutan atau jemputan guna membawanya ketempat yang dimau. Tanpa mau membuang waktu percuma, dinyalakannya mesin kendaraan dan menghampiri gadis yang sangat ia ingin temui.
"Saritem..!" serunya setelah kendaraan berhenti, dan pintu kaca terbuka, dengan sedikit mencondongkan kepala keluar.
Dengan kedua alis beradu "Sarkali...!" balasnya "ngapain loe disini..?" tanya kemudian.
"Kangen sama loe lah, makanya sengaja gue lewat sini." jawabnya dengan bibir yang menampilkan senyuman konyol.
Suara berdecih "loe enggak lagi kehabisan obat kan..?" seraya menempelkan punggung telapak tangannya kedahi pria yang tak lain adalah Gigas.
"Gue masih waras, dan gue serius" seraya menggerakkan kepalanya kekiri dan kekanan, membebaskan dahinya dari sentuhan gadis yang tak lain adalah Zania. "Masuk cepet..!" titahnya kemudian.
"Loe dari mana gitu..?" selidik Zania setelah ia memasuki kabin kendaraan roda empat milik Gigas, yang sudah mulai bergerak meninggalkan area universitasnya.
"Dari kantor..!" jawab Gigas dengan mata lurus memandang jalanan didepannya.
"Terus mau kemana..?" tanya Zania kembali
"Dibilang gue kangen sama loe, makanya gue sengaja kekampus, mau ajak loe kencan." balas Gigas mengungkapkan apa yang memang sedang ia rasakan dan ia ingini.
"Ini bukan malam jum'at kliwon, masih sore juga." ucap Zania
"Gue waras banget Saritem, gue enggak lagi kurang sesajen juga." balas Gigas "lagian kenapa sih..? anehnya dimana coba kalau gue kangen sama loe..?" lanjut Gigas kemudian.
"Ya aneh lah, tumben amat loe kangen sama gue. Mau ajak gue kencan segala lagi, loe tau kan..? kencan itu hanya untuk pasangan yang punya ikatan dan saling mencintai." balas Zania
"Gue cinta sama loe, makanya-----
"Sarkali..!" seru Zania dengan mata yang membola sempurna, mendengar ucapan dari sahabat kakaknya itu.
Gigas menepikan kendaraannya diarea lahan parkir sebuah taman, yang senja ini nampak begitu ramai. Ditatap netra gadis yang sudah mengisi relung hatinya sejak lama itu. Diraih dengan cepat tubuh yang sejak tadi menatapnya tak percaya "gue cinta sama loe, cinta banget..!" ucap Gigas.
Zania terkesiap, ia tak percaya akan apa yang ia dengar barusan. Tubuh yang kini berada didalam pelukan Gigas pun membeku, lidahnya pun terasa kelu juga kaku, entah rasa apa yang kini berkecamuk didada.
"Gue cinta sama loe Zania..!" lagi Gigas mengutarakan perasaannya, dan semakin mengeratkan kedua tangan yang membelenggu tubuh kurus gadis itu.
"Sarkali..!" suara Zania terhenti, disana didalam mulutnya, terasa tercekik saja sampai membuat ia tidak mampu untuk membalas perkataan lelaki yang semakin erat memeluk tubuhnya.
"Terserah loe mau membenci gue atau menjauh dari gue, yang terpenting loe udah tau gimana perasaan gue." ungkap Gigas yang sedikit melegakan himpitan rasa sesak didalam dadanya selama ini.
Perlahan diurainya belenggu akan tubuh Zania, berganti dengan menangkup kedua sisi wajah cantiknya. Ditatapnya lekat lekat netra lentik yang juga terarah kepadanya. Dikikis jarak itu dengan perlahan, dan diraih bibir ranum Zania menggunakan bibirnya. Dicari rasa yang ingin ia dapatkan disana, dengan penuh kelembutan serta emosi akan perasaan cintanya.
Zania untuk sesaat terlena, membiarkan Gigas mencercap kemanisan dari kedua bibir ranumnya. Sebelum kemudian ia pun tersadar dan melepaskan dengan paksa pangutan lelaki yang sudah sejak ia kenal dari ia menginjak masa remaja. Dialihkan pandangan keluar jendela kaca kendaraan itu.
"Zania..!"
"Loe kalau lagi patah hati mending semedi deh, jangan malah------
"Gue enggak lagi bercanda Zania..!" kini Gigas bergantian menyela ucapan Zania "gue cinta sama loe, sayang sama loe sejak loe mulai pakai seragam putih abu abu." jujur Gigas lagi.
Zania mengarahkan matanya kembali kepada Gigas "Kak Agalia..?"
"Gue enggak pernah cinta sama Agalia, selama ini gue menjalin hubungan sama dia hanya untuk mengalihkan perasaan dari elo. Karena gue pikir loe pacar dari sepupu gue. Tapi nyatanya gue enggak bisa, perasaan gue keelo justru malah semakin besar." jawab Gigas memberi penjelasan.
"Jahat banget loe..!" umpat Zania "jangan jadiin gue korban selanjutnya deh."
"Sumpah demi Tuhan, gue cinta sama loe Zania" ucap Gigas dengan suara yang sedikit meninggi "loe boleh tanya sama tong bajil, gimana selama ini gue selalu cerita soal perasaan gue sama kakak loe itu"
Zania semakin dibuat tidak percaya saja, akan apa yang ia dengar. Entah apa yang harus gadis itu lakukan sekarang, untuk bisa pergi dari keadaan yang sangat tidak mengenakan ini.
"Gue tau loe cinta sama orang lain, tapi gue mohon loe bisa-----
"Gue mau pulang...!" pinta Zania memotong ucapan Gigas, yang terdengar tengah menghembuskan nafas berat seraya mesugar rambutnya.