Pembalasan atas cinta Citra Novichandra Dinata yang merupakan aktris dan model.seorang putri dari pengusaha kaya tapi memilih meninggalkan keluarganya demi menikah dengan kekasih yang ditentang keluarga,
Di hari sebelum pernikahaannya ia di selingkuhi oleh kekasihnya yang merupakan CEO di agensinya dengan rival sesama model di agensinya
Namun datanglah seorang pemuda tampan yang akan membantu dan mendukung ia membalas dendam.
Siapakan pemuda tampan itu?
Bagaimana cara citra membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viona 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Kami telah tiba di bandara pada pukul 4 sore di Singapore.
17 jam di dalam pesawat membuat badanku sakit-sakitan dan aku sekarang juga mengalami jet-lag.
'Apa ini karma karena berbohong ke Jacob dulu jika aku mengalami jet-lag saat tiba di kota New York' fikirku.
Masih di dalam pesawat yang akan landing.
"Istriku kita akan lansung pulang ke rumah saja,karena melihat kondisimu saat ini.aku telah menelepon orang di rumah,dan mereka akan menjemput kita." ucap Aldrich.
"Baiklah aku hanya patuh." ucapku singkat karena tidak memiliki tenaga lagi, dan juga kepalaku pusing.
"Kamu tidak apa-apa Ra?" tanya Gabriella.
"Tidak apa-apa Gaby." jawabku lemah.
"Hemm, nona Gabriella. saya juga telah menyiapkan mobil untuk mengantarkan anda pulang ke rumah anda." ucap Aldrich.
"Tidak usah tuan, saya bisa pulang dengan taxi saja." ucap Gabriella.
"Jangan nolak Gaby." ucapku.
Gabriella membalas ku dengan mengangguk saja.
Kamipun keluar dari pesawat, di jalan ke luar untuk mengambil koper kami.
Dari lantai dua yang dindingnya dari kaca kulihat dari jauh, sepertinya reporter dari beberapa media telah menunggu di luar bandara.
"Suamiku,Gaby lihatlah para wartawan sudah ada di luar." ucapku kepada mereka,
Mereka berduapun melihat ke bawah.aku pun menunjukkan tempat para wartawan itu kepada mereka.
terlihat jelas mereka membawa camera.
"Sekarang bagaimana kita keluar Ra?" tanya Gabriella padaku.
Aku melirik ke arah Aldrich untuk mencari jalan keluar untuk menghindari para wartawan itu.
"Bagaimana ini suamiku?" tanyaku.
"Tenanglah kita akan lewat jalan VIP yang di sediakan oleh bandara ini." ucap Aldrich dengan santainya.
"Jalan yang hanya di lalui oleh para pejabat dan presiden itu?" tanya Gabriella.
"Hem." jawab Aldrich.
Gabriella melihat ke arahku karena bingung dengan jawaban dari Aldrich yang hanya dengan deheman saja.
"Iya Gaby." ucapku.
Kamipun berjalan keluar,dan para reporter/wartawan itu tidak melihat kami.
........
Kami telah sampai di parkiran mobil yang tidak jauh dari jalan VIP itu.
Aldrich juga telah menyiapkan 2 mobil, mobil satunya yang akan mengantarkan Gabriella ke rumahnya.
dan yang lainnya untuk mengantarkan aku dan Aldrich ke rumah kami.
"Terima kasih atas mobilnya tuan."ucap Gabriella pada Aldrich.
"Dan juga sampai besok ya Ra." ucap Gabriella padaku.
"Ya, sama-sama." ucap Aldrich dan berlalu membukakan pintu mobil untukku.
"Iya Gaby, sampai jumpa besok. dan hati-hati di jalan. " ucapku melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil.
Gabriella melakukan hal yang sama diapun masuk ke dalam mobil dan kami berpisah di sana.
.
.
.
.
.
Selama perjalanan aku tertidur di bahunya Aldrich karena jet-lag yang aku alami.
sekitar satu jam perjalanan kami telah tiba di rumah.
Para pengurus rumah telah berdiri di luar untuk menyambut kami berdua pulang.
"Istriku, apa kamu bisa bangun. kita telah sampai di rumah." ucap Aldrich.
"Hmmm, " balasku karena masih mengantuk.
Tanpa berkata kembali Aldrich keluar dari mobil.
dia berjalan membukakan pintu mobil di sisiku dan mengendongku dengan ala bridal style.
berlalu jalan di depan para pengurus rumah.
"Selamat datang ....." ucap para pengurus rumah yang terhenti karena tanda dari kepala pengurus rumah yang tak lain Elan.
Elan meletakkan jari telunjuk ke bibirnya setelah mengerti akan isyarat dari Aldrich supaya tidak berisik.
Para pengurus rumah hanya membungkukkan badannya tanda memberi hormat kepada tuan rumah.
Aldrich berjalan ke kamar kami.
di merebahkan badanku ke atas kasur dan menyelimutiku.
.
.
.
...............
Saat aku bangun, aku telah berada di atas kasur.
aku melihat ke arah jam yang menunjukkan jam 11 malam dan Aldrich juga tidak terlihat di dalam kamar.
Aku merasa badanku lengket dan gerah, tanpa fikir panjang dan masih dalam keadaan mata setengah mengantuk, aku berjalan ke arah kamar mandi.
Karena pintunya tidak terkunci, aku hanya menyelonong masuk ke dalam kamar mandi.
setelah membuka pintu dan menutupnya kembali.
aku pun berjalan ke arah keranjang pakain kotor untuk membuka bajuku .
Akupun berjalan ke arah bathtub dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.
Ku mendengar suara air dari shower, akupun melihat ke arah sana dan terlihat Aldrich yang sedang mandi membelakangi ku.
"Aaaakkkkhhhhhhhhh." teriakku kaget dan segera bergerak memasuki bathtub yang luas itu untuk menutupi tubuhku yang polos.
ku rasa ini air rendaman dari Aldrich tadi yang belum di buang oleh Aldrich.
Aldrich melihat ke arahku yang kaget karena teriakkan ku " Istriku." ucapnya.
"Su-suamiku, kenapa pintunya tidak di kunci?" tanyaku yang sedang menutup kedua mataku.
"Kenapa kamu berteriak istriku?" tanya Aldrich.
"Itu karena aku kaget kamu ada di sini, dan juga kenapa tidak mengunci pintu jika memakai kamar mandi?" tanyaku yang sedikit teriak dan masih menutup wajahku dengan tangan.
"Dan kenapa menutup wajahmu dengan tangan?, apa kamu belum pernah melihat tubuh laki-laki huh?" tanyanya kembali.
"Iya aku belum pernah lihat. sekarang kamu segera pakai handuk dan keluar sana." ucapku.
"Iya ini sudah aku pakai handuknya." ucap Aldrich.
Akupun mulai menurunkan tanganku dan melihat ke arahnya yang ternyata berbohong padaku.
"Aaaakkkkhhhhhhhhh," teriak ku. " Suamiku jangan bercanda!" ucapku lagi dengan segera menutup wajahku dengan kedua tangan ku.
"Hahahahaha, " ketawa Aldrich.
Dengan perlahan suaranyapun hilang, aku juga tidak tau apa di telah pergi keluar atau belum.
karena tidak ada suara aku menurunkan tanganku dan perlahan membuka mataku.
Saat membuka mata aku terkejut kembali karena dia telah berada di dalam bathtub bersamaku.
"A-apa yang k-kamu lakukan suamiku?" tanyaku gugup.
Dia diam dan menatapku, tatapan itu cukup lama hingga aku hanyut dalam tatapannya itu.
"Aku pernah bilang bukan, aku suka padamu istriku." ucapnya dengan meletakkan tangannya di pipiku.
"Jadi sekarang aku juga mau tau bagaimana perasaan mu kepadaku istriku." kata Aldrich.
Aku diam beberapa saat sambil menatapnya.
"A-aku.......... aku juga merasakannya suamiku, setiap di dekatmu jantungku berdegup kencang.
dan ya aku suka sama kamu suamiku." jawabku.
Dia tersenyum dan mengecup keningku lembut.
aku bisa merasakan bibir dinginnya di keningku.
Lama kami bertatapan setelah ia melepaskan kecupannya di keningku, dengan perlahan dia mengecup bibirku yang lama-kelamaan Aldrich memperdalam ciumannya.
aku juga membalas ciuman itu sampai aku kehabisan nafas, barulah Aldrich melepaskan ciumannya.
"Mandilah, aku akan menunggumu di luar" ucap Aldrich, ia keluar dari bathtub dan berjalan ke arah shower untuk membersihkan busa di badannya, setelah selesai ia berjalan keluar kamar mandi.
Aku yang masih termenung karena perbuatan Aldrich tadi, tiba-tiba ingatanku saat aku mabuk di rumah mami kembali dan membuatku malu...........
.
.
.
.
.
.
Bersambung..........
Jangan lupa like, comen dan vote ya teman-teman☺️
karena like teman-teman semangat untuk author😁
salam sayang dari author 😍
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏