Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI POLISI
Malam itu, rumah Taufiq tampak ramai. Pesta kecil-kecilan yang terpaksa ia adakan, akhirnya terlaksana. Kolega-kolega kantornya datang tanpa ada yang absen seorang pun, kecuali Pak Kepala. Sudah seperempat jam dari waktu yang ditentukan, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Beliau.
Mereka yang telah berumah tangga, juga ikut membawa pasangan dan anak-anak mereka.
Taufiq terperangah melihat ramainya para tamu yang datang. Peluh dinginnya bercucuran, keluar dari pori-pori kulitnya yang tipis.
Bagaimana ini? Tadi aku cuma bilang tiga puluh porsi sama Raniya... ~ Batin Taufiq resah.
Semua tamunya silih berganti mengucapkan selamat dan mulai berkenalan dengan Raniya. Masing-masing dari mereka yang perempuan, menenteng sebuah cover bag berisikan kado untuk pengantin baru itu.
Rasa khawatir Taufiq tentang porsi makanan pun sampai terlupakan olehnya ketika melihat senyum ramah istrinya menyapa kolega-kolega kantornya.
Pandai bergaul dan cekatan. Masih Raniya yang sama, pujinya begitu bangga.
"Permisi... Maaf, saya mengganggu. Saya ada perlu dengan istri saya sebentar. Bolehkah?" Ucap Taufiq meminta izin kepada istri temannya yang tengah asik mengobrol dengan Raniya.
"Oh....Tentu, Pak Taufiq..." Sahut wanita muda yang telah menjadi istri dari temannya.
"Terima kasih..." Ucap Taufiq seraya menarik lembut lengan Raniya yang menatap wajahnya penuh kebingungan.
Setelah berpamitan pula dengan kenalan barunya, Raniya pun menurut dibawa oleh Taufiq.
"Ada apa, Fiq?" Tanya Raniya keheranan dan bercampur kebingungan. Wajah Raniya ikut khawatir melihat ekspresi kecemasan di wajah suaminya itu.
"Bagaimana ini, Raniya? Teman-temanku tidak mengatakan sama sekali kalau mereka akan membawa keluarga mereka juga. Pasti hidangannya tidak akan cukup. Belum lagi Pak Kepala. Beliau katanya juga akan datang malam ini." Ujar Taufiq semakin panik.
Raniya tersenyum tenang setelah mendengar keluhan Taufiq yang membuat raut wajahnya tampak sekhawatir itu.
Diam-diam Bu Lian juga ikut tersenyum dari kejauhan. Beliau seakan menyukai sikap Taufiq yang begitu care terhadap Raniya. Keluh kesah yang Taufiq rasakan, tidak sungkan-sungkan dikadukannya kepada Raniya.
Persis seperti suami istri sungguhan, meski mereka benar-benar suami istri sungguhan pada dasarnya. Hanya saja, Taufiq dan Raniya sendiri yang tidak menyadari perasaan mereka satu sama lain. Sementara orang lain dapat melihat bagaimana sikap mereka yang saling memiliki.
"Sudah 'ku duga, Fiq... Tidak akan mungkin mereka tidak membawa keluarga atau pasangan mereka. Jadi, aku menyiapkannya lebih kok." Sahut Raniya.
Taufiq terperangah tak percaya. "Be-benarkah?" Baru kali itu ia gugup di depan Raniya.
"Iya... Insya Allah cukup kok, Fiq." Ujar Raniya meyakinkan Taufiq. "Ayo ikut aku..." Ajak Raniya sembari menarik lengan Taufiq dengan lembut.
Taufiq semakin gugup. Dua bola matanya tak berhenti menatap lengannya yang digenggam Raniya. Hatinya pasrah untuk dibawa kemana pun saat itu oleh Raniya.
Sesampai mereka di halaman belakang, Raniya menghentikan langkahnya. Taufiq yang belum tersadar dari lamunanannya, terus melangkah hingga tubuh kekarnya terjerambab menubruk Raniya.
"Taufiiiiq..." Pekik Raniya cemas. Tubuh Raniya hampir tumbang karenanya. Beruntung Taufiq dengan cepat menyambut pinggang Raniya dan menahan keseimbangan dengan kakinya.
Keterkejutan Raniya semakin menjadi-jadi ketika dua bola mata mereka saling menatap. Jantungnya berdegup kencang.
Taufiq segera tersadar dan membawa tubuh Raniya kembali pada posisi berdiri. "Maaf..." Ucapnya berusaha sesantai mungkin.
Taufiq membuang pandangannya hendak menghapus rasa gugupnya saat itu. Tapi lagi-lagi ekspresinya dibuat terpana oleh pemandangan yang ia temui.
"I-ini..." Ucap Taufiq gugup.
"Di ruang tamu tidak akan cukup untuk teman-temanmu bersama keluarganya, Fiq. Jadi... Tadi siang, aku meminta bantuan kepada pemuda komplek untuk menata taman belakang ini. Semua meja dan kursi milik RT sini. Besok mereka akan membantu untuk mengurusnya kembali." Tutur Raniya.
Taufiq hanya diam. Dalam hatinya, dia tidak percaya Raniya akan secekatan itu.
"Kamu kenal dengan Pak RT di sini?" Tanya Taufiq berusaha tidak terlalu terkejut.
"Aku kan udah sering ke sini sebelum kita menikah, Fiq... Jadi, aku kenal beberapa orang di sini. Mereka yang menemaniku menemui Pak RT tadi siang." Jawab Raniya semangat. Tidak peduli Taufiq takjub atau tidak saat itu padanya, tapi dia begitu yakin suatu hari nanti suaminya itu akan terbiasa untuk segala hal bersama dirinya.
"Terima kasih, Raniya." Ucap Taufiq dengan biasa-biasa saja.
"Iya, sama-sama..."
Aku bahagia melakukan ini semua, Fiq... Lewatmu, Allah mengabulkan pintaku menjadi istri seorang polisi.
Aku tahu bagaimana sibuknya menjadi istri seorang polisi. Solidaritas sesama anggota yang begitu kuat, membuat aku harus cekatan.
Raniya menatap Taufiq dengan diam-diam.
"Ayo... Kita persilakan para tamu untuk ke sini. Mereka semua pasti sudah pada lapar." Ajakan Taufiq membuat Raniya bersigegas mengalihkan pandangannya.
"Ayo..." Sahut Raniya sembari tersenyum. Dia mengekori langkah Taufiq yang telah mendahuluinya.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍