Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.
Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.
Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?
Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 30 Tama
Tama bersiul-siul sambil sesekali tersenyum mengingat kejadian disekolah tadi. Kejadian yang ia harapkan akhirnya terkabul juga berdampingan dengan Arifah didepan kelas dan disaksikan anak-anak lain. Belum lagi mereka harus tampil kembali karena Pak Deni menilai dialognya dengan Arifah sangat baik, jadi mereka mendapatkan tugas Bahasa Inggris membuat dialog sendiri termasuk Januar dan Maya.
Ia berharap kedekatannya dengan Arifah akan terus seperti ini, meskipun tak seseru Januar dan Maya yang mendapatkan tepukan dan sorakan 'PACARAN' dari anak-anak tadi. Ia akan membuat sesuatu yang berbeda saat tampil lagi nanti dengan harapan anak-anak akan meneriakinya dan Arifah seperti Januar dan Maya, 'JADIAN!'
Tama kembali bersiul-siul sembari menyirami bunga-bunga yang bermekaran dengan indah didepan cafe tempatnya bekerja, seolah bunga-bunga itu ikut riang bersiul bersamanya.
Tama terlahir dari keluarga berkecukupan, Ayah dan Ibunya adalah seorang PNS. Sejak duduk dikelas lima, Tama sudah hidup mandiri tanpa mengandalkan uang orang tuanya ia berhasil membiayai sekolahnya sendiri. Tama bekerja disebuah cafe dan bertugas mencuci piring terkadang membuatkan minuman untuk pelanggan. Ia memilih sekolah sambil bekerja karena ia merasa kesepian dirumah apalagi terlahir sendiri sebagai anak tunggal.Kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan terkadang pulang sore terkadang pulang malam belum lagi saat Ayah dan Ibunya pergi keluar kota untuk beberapa hari. Meskipun demikian ia tidak pernah melupakan dirinya sebagai pelajar, ia harus menyelesaikan misinya untuk menjadi pelajar berprestasi seperti harapan kedua orang tuanya.
"Tama, ini upahmu." ucap Kak Indah pemilik cafe.
"Eh iya kak, terima kasih." ucap Tama sembari menerima upah yang diberikan Kak Indah padanya.
"Sekarang pulanglah, ini sudah sore."
Tama pun segera pulang memacu gas menyusuri jalan pulang, namun sebelum pulang ia kerumah Arifah terlebih dahulu membuat dialog Bahasa Inggris. Tama memang sengaja ambil shif kerja sampai sore karena malamnya ia harus belajar
Ciiiiitt..
"Sampai juga dirumah Arifah." gumamnya sembari membuka helm yang menempel dikepalanya.
Ting.. Tong..
Tama memencet tombol bel.
Tampak seorang paruh baya tergopoh-gopoh dikejauhan.
"Cari siapa?" tanya paruh baya itu setelah sampai didepan pagar.
"Arifahnya ada?"
"Ada perlu apa?"
"Saya temannya, kami ada tugas kelompok."
Bu Aminah celingak celinguk mencari-cari orang selain Tama yang ada didepannya.
"Katanya tugas kelompok, kok cuma sendiri?"
"Oh, kami hanya berdua." ucap Tama ramah.
"Ya sudah mari masuk, motornya juga dibawa masuk kedalam saja, takutnya ada pencuri." ucap Bu Aminah mempersilahkan.
Tama pun memasukkan motornya masuk kehalaman yang sangat luas dihiasi penghijauan yang tersusun rapi dan bunga warna warni disekelilingnya.
"Mari masuk" ucap Bu Aminah membuyarkan lamunannya.
"Iya"
"Silahkan duduk, saya panggilkan Non Arifah dulu." ucap Bu Aminah meninggalkan Tama diruang tamu.
"Besar dan mewah sekali rumah ini" gumam Tama sembari duduk disofa.
Tak berapa lama kemudian Arifah keluar dari kamarnya. Ia baru saja selesai mandi dan melaksanakan shalat Ashar. Didalam doanya selain menyematkan doa untuk Mami dan Papi, ia juga harus semangat, jangan sampai pertemuannya dengan Vika tadi justru membuatnya takut dan down. Arifah melihat Tama cengegesan sedari ia muncul sampai duduk disofa.
Dasar aneh!
"Apa yang kamu lihat cengar cengir aja dari tadi ha!" cecar Arifah yang dibuat kesal oleh Tama.
Tama masih semakin cengegesan, ia merasa lucu dan gemas melihat Arifah mengomel.
"Tidak, aku lihat semakin hari kamu semakin cantik saja." ucap Tama tanpa rasa canggung.
"Simpan gombalan basi mu itu. Ayo kita kerjakan tugas ini." ucap Arifah cuek.
"Ayo, o ya maaf kalau aku datang sore-sore begini."
"He'em"
Mereka pun berdiskusi kira-kira tema apa yang pas untuk ditampilkan nanti.
"Bagaimana kalau kita berdialog tentang bunga." ucap Arifah.
Tama mengernyitkan keningnya bingung.
"Aku tidak setuju, emm bagaimana kalau kita dialog tentang geng motor saja."
"Ck! Aku tidak setuju, aku maunya bunga!" celetuk Arifah tak mau kalah.
"Baiklah baiklah, kamu menang karena kamu cewek."
Mendapatkan kode hijau dari Tama, Arifah tersenyum penuh kemenangan dan bersemangat membahas bunga-bunga bersama Tama. Tama merasa aneh dengan tema dialognya ini, tapi tak mengapalah demi Arifah.
Pukul 18.30 mereka pun selesai mengerjakan tugas.
"Kamu harus menghapalnya. Aku mau kita tampil lebih baik dari Januar dan Maya."
Arifah hanya memberi kode 'oke' dengan jarinya sambil mengerlingkan matanya sebelah pada Tama.
Tentu saja Tama jadi salah tingkah dan tersenyum tipis-tipis.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?" ucap Arifah sembari memegang kertas berisi dialog yang baru saja mereka selesaikan.
"Kamu menyukai Januar?" tanya Tama tanpa basa basi.
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Aku serius."
Arifah memutar bola matanya, tidak ada salahnya juga ia bercerita. Lagipula Tama yang ia kenal baik dan merasa nyaman sekarang.
"Januar pernah bilang suka, tapi itu dulu." ucap Arifah meletakkan kertas dialog dimeja.
"Kenapa? Mengapa kamu menanyakan itu?" selidik Arifah sedikit memicingkan matanya.
"Lalu apa jawabanmu?"
"Aku ini masih kecil, belum tahu apa-apa, kutang Mami ku aja masih aku bilang kaca mata." ucap Arifah ceplas ceplos.
"Uhuk uhukk.." Tama yang sedang minum jus buatan Bu Aminah pun terbatuk-batuk mendengar ucapan Arifah.
Arifah bangkit mengambil air putih.
"Ini minum" ucap Arifah panik.
"Sudah baikan?" tanya Arifah setelah Tama meneguk air putih pemberiannya.
"Kamu ini lucu sekali." ucap Tama terkekeh, ia tak menyangka ternyata Arifah asyik juga diajak ngobrol.
"Kita makan dulu sebelum kamu pulang" ajak Arifah.
"Tidak aku pulang saja. Orang tuaku pasti sudah menungguku sedari tadi, lain kali saja." ucap Tama.
"Memangnya kamu tidak pamit kalau mau kesini?" ucap Arifah sembari menyilangkan tangannya diatas perutnya.
"Seperti biasa, sepulang sekolah aku langsung ketempat kerja. Biasanya sore baru pulang." ucap Tama sembari mengemasi buku-bukunya didalam tas.
"Kamu kerja?" tanya Arifah tak percaya.
"Iya. Aku bosan dirumah sendiri, orang tuaku jarang sekali dirumah. Jadi dari pada aku main ketempat yang tidak jelas atau bermain yang menurutku buang-buang waktu lebih baik aku bekerja cari duit." ucap Tama tersenyum ramah.
"Orang tuamu tahu kalau kamu bekerja?"
"Iya, tapi mereka mana bisa melarangku. Setiap mereka melarang ku aku selalu bilang salah satu diantara mereka harus berhenti bekerja, temani aku dirumah. Jadi mereka tidak dapat berkata apapun." jelasnya.
Arifah mengangguk-angguk, ia mengagumi Tama yang pemikirannya sudah seperti orang dewasa. Meskipun bekerja, namun ia tetap berprestasi disekolah.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa besok disekolah." ucap Tama.
"Hati-hati."
Arifah pun mengantar Tama sampai didepan pintu. Ia menatap Tama sampai Tama tak terlihat lagi. Orang yang selama ini selalu membuatnya kesal ternyata memiliki pribadi yang baik. Mulai saat itu ia bertekad akan menjadi teman yang baik untuk Tama.
.
.
.
Jangan lupa likenya 👍
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️