Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Tit tit tit tit!
Suara monitor detak jantung berbunyi sangat cepat dan melengking.
Angka detak jantungnya melonjak drastis melewati batas kritis.
"Bertahanlah, Kiara!" ucap Bima sambil menahan bahu wanita itu agar tidak terjatuh.
Mata Kiara terbelalak lebar sebelum akhirnya tertutup rapat.
Tubuhnya seketika menjadi sangat lemas dan tidak bergerak lagi.
Suara monitor detak jantung tiba-tiba berubah menjadi satu nada panjang.
Tiiiiit.
Garis di layar monitor berubah menjadi lurus mendatar.
Jantung Kiara berhenti berdetak.
"Nona Kiara!" teriak Kakek Darma yang baru saja masuk ke ruangan itu dengan panik.
"Bima, apa yang terjadi pada cucuku?!"
Kakek Darma berlari mendekat dengan wajah berlinang air mata.
"Jangan mendekat, Kakek Darma!" bentak Bima dengan suara sangat keras.
"Ini adalah bagian dari prosesnya, tolong beri saya ruang untuk bekerja!"
Kakek Darma langsung terdiam membeku dan mundur beberapa langkah dengan lutut bergetar.
Bima tidak punya waktu untuk menjelaskan lebih jauh.
Dia langsung mengaktifkan Pandangan Sinar-X miliknya dengan kekuatan penuh.
"Sistem, tampilkan kondisi internal jantungnya sekarang!" batin Bima panik.
[Pandangan Sinar-X diaktifkan.]
[Serum genetik sedang menghancurkan jaringan otot yang menebal di bilik kiri.]
[Dibutuhkan rangsangan mekanis eksternal untuk menjaga aliran darah selama proses peluruhan terjadi.]
Bima tahu bahwa CPR biasa tidak akan cukup kuat untuk memompa darah yang bercampur serum tersebut.
Dia harus melakukan pijat jantung langsung atau menggunakan teknik bedah mikro dari luar.
Bima mengambil seperangkat jarum akupunktur panjang khusus dari tasnya.
Ini bukan jarum biasa, melainkan jarum bedah mikro berlapis perak murni.
"Aku harus memandu pergerakan serum itu agar tidak menyumbat katup jantungnya."
Bima menyingkap sedikit kerah baju rumah sakit Kiara untuk mengekspos area dadanya.
Dengan bantuan Pandangan Sinar-X, Bima bisa melihat tembus hingga ke bilik jantung Kiara.
Jleb.
Bima menusukkan jarum perak pertama menembus kulit dada Kiara, tepat di sela tulang rusuk ketiga.
Jarum itu masuk cukup dalam hingga menyentuh lapisan luar selaput jantung.
Bima memutar jarum itu perlahan dengan jari-jarinya.
Setiap putaran yang dia lakukan menghasilkan stimulasi elektrik kecil pada otot jantung Kiara.
Jleb, jleb, jleb.
Bima menusukkan tiga jarum lainnya di titik-titik krusial di sekitar dada.
Tangannya bergerak dengan kecepatan dan presisi yang tidak masuk akal.
Jika jarum itu meleset satu milimeter saja, dia akan menusuk paru-paru atau merobek pembuluh nadi utama Kiara.
Keringat dingin membanjiri wajah Bima hingga menetes ke kerah kemejanya.
"Ayo, berdetaklah," gumam Bima dengan gigi gemeretak menahan tegang.
"Kau tidak boleh menyerah di sini, Kiara."
Di dalam pandangan Sinar-X Bima, serum keemasan itu mulai bekerja menggerus gumpalan otot yang menebal.
Namun sisa-sisa sel otot yang luruh itu mulai menumpuk dan berisiko menyumbat aliran darah.
Bima menggunakan teknik putaran jarumnya untuk menekan dinding jantung dari luar secara ritmis.
Teknik ini memaksa jantung Kiara untuk memompa keluar sisa sel yang mati tersebut.
Ini sama sulitnya dengan melakukan operasi bedah jantung terbuka tanpa menggunakan pisau bedah.
Waktu terasa berjalan sangat lambat di dalam ruangan yang sunyi itu.
Hanya terdengar suara napas Bima yang memburu dan isakan tertahan dari Kakek Darma.
"Sistem, berapa banyak lagi otot yang harus diluruhkan?" batin Bima dengan tangan mulai terasa kram.
[Proses peluruhan mencapai sembilan puluh persen.]
[Peringatan, otak pasien mulai kekurangan oksigen akibat henti jantung berkepanjangan.]
Bima menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.
Dia tidak peduli dengan rasa kram di tangannya dan mulai memutar keempat jarum itu secara bersamaan.
Ini adalah batas maksimal dari Teknik Penjahitan Pembuluh Darah Tingkat Master miliknya yang diaplikasikan pada akupunktur mikro.
"Sedikit lagi..."
Bima memfokuskan seluruh tenaga dan pikirannya pada jarum-jarum tersebut.
Tiba-tiba, otot bilik kiri jantung Kiara yang sebelumnya menebal drastis kini kembali ke bentuk dan ukuran normalnya.
Serum genetik itu telah menyelesaikan tugas utamanya.
"Sekarang!" teriak Bima.
Bima mencabut keempat jarum perak itu dari dada Kiara secara bersamaan dalam satu gerakan cepat.
Sret.
Bersamaan dengan tercabutnya jarum tersebut, Bima memberikan satu pukulan keras dengan tumit tangannya tepat di tengah dada Kiara.
Bugh.
Hening.
Ruangan itu kembali diselimuti kesunyian yang mencekam selama beberapa detik.
Tit.
Suara pelan dari monitor jantung memecah keheningan itu.
Tit, tit, tit.
Garis mendatar di layar monitor perlahan mulai bergelombang kembali.
Detak jantung Kiara muncul kembali, awalnya lemah namun perlahan menjadi semakin kuat dan teratur.
"Hahhh!"
Kiara tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan menarik napas panjang.
Dada wanita itu naik turun dengan cepat saat udara kembali memenuhi paru-parunya.
[Prosedur Penyembuhan Genetik selesai.]
[Kardiomiopati Hipertrofik berhasil disembuhkan secara total.]
[Pasien kini memiliki anatomi jantung manusia normal.]
Membaca pemberitahuan dari sistem tersebut, tubuh Bima langsung lemas.
Dia jatuh terduduk di kursinya sambil mengusap wajahnya yang basah oleh keringat.
"Syukurlah..." gumam Bima dengan suara serak.
Kakek Darma langsung berlari menghampiri ranjang cucunya.
"Kiara! Kau sudah sadar, Sayang!"
Kiara menoleh menatap kakeknya dengan pandangan yang masih sedikit sayu.
"Kakek... dadaku terasa sangat ringan."
"Rasanya seperti ada batu besar yang baru saja diangkat dari dadaku."
Kakek Darma menangis tersedu-sedu dan memeluk Kiara dengan sangat erat.
"Kau sudah sembuh, Nak."
"Dokter Bima berhasil menyelamatkanmu."
Kiara menatap Bima yang sedang duduk bersandar kelelahan di kursinya.
Air mata bahagia mengalir dari sudut mata Kiara.
"Terima kasih, Dokter Bima."
"Aku berutang nyawa padamu untuk yang ketiga kalinya."
Bima tersenyum tipis dan mencoba mengatur napasnya kembali.
"Anda tidak berutang apa pun pada saya, Nona Kiara."
"Sudah tugas saya untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai."
Bima perlahan berdiri dari kursinya.
"Biarkan dia beristirahat penuh malam ini, Kakek Darma."
"Besok pagi kita akan melakukan ekokardiogram untuk memastikan semuanya benar-benar normal."
Kakek Darma mengangguk cepat dan menyeka air matanya.
"Tentu, Bima."
"Aku tidak tahu bagaimana harus membalas budi sebesar ini padamu."
"Kita bicarakan itu nanti, saya butuh tidur sekarang," balas Bima sambil terkekeh pelan.
Bima berjalan keluar dari kamar perawatan itu dengan perasaan sangat lega.
Misi utama yang memberinya tekanan selama berminggu-minggu akhirnya selesai sudah.
Ancaman dari Sindikat Ular Hitam juga telah berhasil dipatahkan malam ini.
Mulai besok, kehidupan Bima Aditya tidak akan pernah sama lagi.
Dunia medis akan segera mengetahui nama sang dokter jenius yang berhasil menaklukkan penyakit bawaan yang mustahil disembuhkan.