**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.
Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.
Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.
Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:
*"Bayar pakai dirimu."*
*"Syarat pertama — jadi pacarku."*
Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.
Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.
Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.
Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.
*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*
Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...
Keira menatapnya dengan mata kosong.
*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*
Dia sudah **melupakannya**.
Sepenuhnya.
---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Pria Tua itu Aku
Keira, kali ini lihat siapa yang masih percaya wajah polosmu.
Pukul tujuh pagi, unggahan itu muncul di forum kampus.
Judulnya dibuat seperti pisau.
Mahasiswi miskin naik Rolls Royce. Dipelihara om-om?
Video pendek diputar otomatis begitu orang membuka tautan. Keira berjalan ke parkiran belakang, pintu mobil mewah terbuka, lalu sebuah tangan laki-laki muncul di sisi pinggangnya saat ia masuk. Wajah Rayhan tidak terlihat jelas. Plat mobil sengaja diburamkan. Yang dibiarkan tajam justru tas lusuh Keira, sepatu kanvasnya, dan sudut tubuhnya ketika menunduk masuk ke kursi belakang.
Cindy Song menambahkan caption di bawahnya.
Katanya anak baik-baik. Ternyata pintar cari sponsor.
Dalam sepuluh menit, unggahan itu masuk ke grup kelas, grup angkatan, base anonim UI, lalu IG story beberapa akun gosip kampus.
Keira melihatnya dari layar ponsel Tina.
Tina langsung mematikan layar. "Kei, jangan baca komentar."
Tentu saja kalimat itu terlambat. Beberapa komentar sudah masuk ke mata Keira.
Pantas kemarin tiba-tiba punya gelang mahal.
Yang waktu itu nembak Varian ditolak, ternyata memang cari laki-laki kaya.
Om-om mana yang mau sama wajah polos begitu?
Keira duduk di tepi ranjang kos. Tangannya dingin. Bukan karena ia tidak pernah dihina. Ia sudah pernah berdiri di plaza dan mendengar tawa orang-orang. Tetapi kali ini hinaan itu membawa sesuatu yang lebih kotor, sesuatu yang bisa sampai ke telinga Mama Liana di rumah sakit, sesuatu yang bisa membuat Kelvin diserang lagi karena kesalahannya.
Sania mondar-mandir di depan pintu. "Ini pasti Tania. Kemarin dia nggak pulang bareng kita, kan?"
"Jangan menuduh tanpa bukti," kata Keira, suaranya pelan.
"Mbak Keira, kamu masih mau baik di saat begini?"
Keira mengunci ponselnya. Ia belum menerima pesan dari Rayhan. Mungkin laki-laki itu sedang latihan atau rapat. Mungkin belum tahu. Untuk satu detik, ia hampir berharap Rayhan tidak tahu. Jika Rayhan tahu, keadaan bisa menjadi lebih besar dari yang sanggup ia tanggung.
Namun dunia kampus tidak menunggu kesiapan siapa pun.
Saat Keira tiba di fakultas, bisik-bisik mengikuti setiap langkahnya. Ada yang pura-pura menelepon sambil mengarahkan kamera. Ada yang tertawa saat ia lewat. Ada yang menatap gelang giok di pergelangan tangannya seperti benda itu bukti kejahatan.
Di depan gedung, tiga mahasiswa laki-laki menghadang. Mereka bukan teman sekelas Keira, tetapi ia mengenali wajah mereka sebagai anak-anak kaya yang sering berkumpul di parkiran dengan mobil sport pinjaman keluarga.
"Mbak Keira, boleh tanya?" Salah satu dari mereka menyeringai. "Tarif jadi sugar baby sekarang berapa?"
Orang-orang di sekitar langsung melambat. Ponsel terangkat.
Keira menatapnya. "Minggir."
"Jangan galak begitu. Kami cuma penasaran. Om-om di video itu bayar kamu pakai apa? Gelang? Rumah? Atau langsung transfer?"
Temannya tertawa. "Kalau sama kami, diskon mahasiswa ada?"
Keira merasa telapak tangannya dingin sampai sakit. Ia ingin melewati mereka, tetapi laki-laki pertama menggeser tubuh, menutup jalan.
"Jawab dulu. Atau jangan-jangan kamu pilih yang tua karena yang muda seperti Varian nggak mau?"
Nama Varian membuat beberapa orang tertawa lebih keras.
Keira menarik napas. "Kalau kalian tidak minggir, saya lapor keamanan kampus."
"Lapor saja. Bilang apa? Ada yang membahas pekerjaan sampinganmu?"
Sebuah tangan tiba-tiba meraih tali tote bag Keira.
Keira tersentak.
Detik berikutnya, suara pukulan memotong udara.
Laki-laki yang menyentuh tas Keira terhuyung ke samping, jatuh menghantam pot tanaman. Kerumunan berteriak. Ponsel yang sejak tadi merekam langsung bergerak liar.
Rayhan berdiri di depan Keira.
Kemeja putihnya masih rapi, tetapi mata gelapnya tidak lagi menyimpan malas. Ada lebam sisa pertandingan di sisi tubuh yang tersembunyi di balik pakaian, namun caranya berdiri membuat semua orang mundur setengah langkah.
"Siapa yang menyentuhnya?" suaranya rendah.
Tidak ada yang menjawab.
Laki-laki yang dipukul mengusap bibir berdarah. "Kau gila? Aku cuma bercanda."
Rayhan menendang lututnya sampai laki-laki itu kembali jatuh.
Keira memegang lengan Rayhan. "Ray."
Sentuhan itu menghentikannya, tetapi hanya sedikit. Rayhan menoleh ke kerumunan.
"Kalian bilang dia dipelihara om-om?"
Sunyi.
Cindy berdiri di tangga, wajahnya pucat tetapi masih berusaha terlihat berani. Tania berada dua langkah di belakangnya, memeluk buku, seolah bukan dia yang menyimpan api pertama.
Rayhan melihat mereka.
"Pria tua yang kalian maksud itu aku."
Suara bisik-bisik langsung meledak.
Keira membeku.
Rayhan menggenggam tangannya, mengangkatnya cukup tinggi untuk dilihat semua orang. Gelang giok di pergelangan Keira memantulkan matahari pagi.
"Mobil itu mobilku. Tangan di video itu tanganku. Gelang itu aku ambil kembali untuk dia dari Varian. Rumah yang kalian gosipkan juga aku yang beli untuknya, atas nama Keira Salim. Ada yang masih mau bertanya tarif?"
Tidak ada yang berani bicara.
Rayhan tersenyum, tetapi wajahnya jauh dari ramah. "Kalau kalian ingin menghina pacarku, pastikan rekening keluarga kalian cukup panjang untuk membayar akibatnya."
Cindy menelan ludah. "Pacar?"
"Iya." Rayhan menatap kamera-kamera yang masih menyala. "Keira Salim pacarku. Tulis yang benar."
Beberapa orang langsung menurunkan ponsel. Ada yang panik menghapus story, ada yang saling memandang karena baru sadar komentar mereka masih tertinggal di forum dengan nama akun jelas. Bisik-bisik yang tadi penuh hinaan berubah menjadi suara takut.
"Itu benar Bos Ray?"
"Mobilnya punya dia?"
"Berarti yang fitnah siapa?"
Keira merasakan genggaman Rayhan mengencang, bukan menyakitkan, melainkan seperti janji yang tiba-tiba dilempar ke tengah dunia. Mereka sepakat menjaga jarak di kampus. Mereka sepakat merahasiakan hubungan. Tetapi di depan wajah-wajah yang baru saja meludahi harga dirinya, Rayhan memilih membakar semua kesepakatan itu.
Untuk melindunginya.
Petugas keamanan kampus datang bersama dosen pembimbing akademik. Kekacauan dipindahkan ke ruang konseling fakultas, tetapi video baru sudah lebih dulu menyebar.
Di ruang itu, Keira duduk di satu sisi meja. Rayhan berdiri di belakang kursinya, menolak duduk. Tiga mahasiswa yang tadi menghadang duduk dengan wajah pucat. Cindy dan Tania dipanggil karena unggahan pertama berasal dari akun yang terhubung dengan perangkat Cindy.
"Kami perlu klarifikasi," kata dosen pembimbing, Bu Ratna, dengan wajah tegang. "Ini sudah menjadi isu besar. Ada tuduhan pencemaran nama baik, pelecehan verbal, dan penyebaran konten tanpa izin."
Cindy langsung menunjuk Keira. "Saya cuma menerima video. Semua orang juga lihat. Kalau dia tidak melakukan hal memalukan, kenapa harus takut?"
Keira hendak menjawab, tetapi Rayhan lebih dulu meletakkan ponselnya di meja.
"Ini rekaman CCTV parkiran belakang dari mobilku. Ada wajah yang merekam dari tangga." Ia menggeser layar. "Tania Gondokusumo."
Tania langsung pucat.
"Aku... aku cuma tidak sengaja."
Arya masuk beberapa detik kemudian, membawa laptop tipis. Senyumnya sopan, tetapi matanya tajam. "Tidak sengaja tapi mengirim file asli ke Cindy pukul 17.42, lalu Cindy mengunggah pukul 07.03 pagi ini. Metadata lengkap ada di sini."
Bu Ratna menatap layar, wajahnya semakin berat.
Cindy kehilangan suara sesaat, lalu memaksakan diri. "Tapi caption itu opini. Saya tidak menyebut nama lengkap."
Daisy yang sejak tadi bersandar di pintu tertawa pendek. "Kau pakai wajahnya, kelasnya, gelangnya, lalu bilang tidak menyebut nama? Mau aku ajari cara bohong yang lebih pintar?"
Bu Ratna mengetuk meja. "Daisy, mohon."
Daisy mengangkat tangan, pura-pura patuh.
Rayhan menatap Cindy. "Hapus unggahan. Minta maaf terbuka. Sebut nama akunmu, sebut bahwa kau menyebarkan fitnah, dan sebut Tania sebagai sumber video."
Cindy tercekat. "Tidak bisa. Reputasiku..."
"Reputasi?" Rayhan mendekat satu langkah. "Kau baru saja mencoba membunuh reputasi Keira."
Tania mulai menangis. "Aku tidak bermaksud sejauh itu. Aku cuma... aku cuma kesal."
Keira menatapnya. "Kesal karena apa?"
Tania tidak menjawab.
"Karena aku tidak hancur waktu kalian menertawakanku?" suara Keira tetap pelan, tetapi seluruh ruangan mendengar. "Karena aku masih kuliah, masih menang lomba, masih punya teman?"
Tania menunduk.
Keira menggenggam tepi kursi. Ia tidak ingin menangis di depan mereka. Tidak kali ini.
"Aku tidak pernah mengambil apa pun darimu, Tania."
Rayhan melihat tangan Keira yang memutih di tepi kursi. Amarah di wajahnya tidak meledak. Justru menjadi lebih dingin.
"Bu Ratna," katanya. "Kurnia Group punya tim hukum. Jika kampus ingin menyelesaikan ini secara internal, beri sanksi yang pantas hari ini. Jika tidak, aku bawa ke jalur hukum."
Ruangan kembali sunyi.
Setengah jam kemudian, Cindy mengunggah permintaan maaf terbuka. Tania diproses melalui komite disiplin. Tiga mahasiswa yang menghadang Keira juga diwajibkan membuat pernyataan tertulis dan meminta maaf di grup angkatan.
Namun yang paling cepat menyebar bukan permintaan maaf itu.
Yang menyebar adalah potongan video Rayhan menggenggam tangan Keira di depan gedung fakultas.
Pria tua yang kalian maksud itu aku.
Sore harinya, ketika Keira keluar dari ruang konseling, ia melihat puluhan pasang mata masih menatap. Kali ini bisik-bisiknya berbeda.
"Jadi benar pacarnya Bos Ray?"
"Gila, Cindy cari mati."
"Rayhan sampai mukul orang."
Keira menunduk, tetapi Rayhan menggenggam tangannya lagi di depan semua orang.
"Mulai hari ini," katanya, cukup pelan hanya untuknya, "kalau ada yang menatapmu seperti tadi, tatap balik. Kau tidak perlu sembunyi."
Keira menatap tangan mereka yang saling menggenggam.
"Bukankah kita sepakat merahasiakan?"
"Aku berubah pikiran."
"Sepihak?"
"Iya."
"Kau menyebalkan."
Rayhan tersenyum. "Tapi pacarmu."
Di ujung koridor, Varian berdiri menatap mereka. Wajahnya tenang, tetapi kertas di tangannya terlipat sampai hampir robek.
Untuk pertama kalinya, bukan Keira yang menjadi tontonan.
Melainkan Varian yang harus melihat Rayhan membawa pergi sesuatu yang ia kira bisa ia rusak.