NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 030: Gelang

Tiga minggu setelah Helena diusir dari compound, Jessica mulai sering duduk diam dengan tangan menempel di pelipis.

Awalnya, semua orang mengira ia hanya lelah.

Jessica memang bukan tipe perempuan yang bisa duduk rapi seperti boneka di rumah besar. Ia suka bicara, suka tertawa, suka mengirim pesan suara panjang, dan suka turun ke taman hanya untuk mengeluh bahwa udara compound terlalu mahal untuk dihirup sendirian.

Jadi ketika ia mulai mengeluh pusing, Ningsih hanya membuatkan teh jahe. Ketika ia bilang tubuhnya terasa naik turun, kadang panas, kadang dingin, Ratna menyarankan ia tidur lebih awal.

Tetapi Keira memperhatikan hal lain.

Jessica tidak lagi banyak bercanda.

Wajahnya sedikit bengkak di pagi hari, lalu tampak terlalu pucat menjelang sore. Berat badannya berubah aneh dalam waktu singkat. Di pergelangan tangan kirinya, tepat di tempat Gelang Akik Merah sering melingkar, kadang muncul bintik merah tipis yang Jessica anggap sebagai alergi sabun.

Yang paling membuat Keira tidak tenang adalah kalender kecil di ponsel Jessica.

Siang itu, Jessica duduk di ruang medis compound dengan wajah malu-malu.

"Aku sebenarnya tidak mau ribut," katanya kepada Dokter Xiao. "Mungkin cuma stres. Tapi siklusku biasanya teratur. Dua puluh delapan hari. Sekarang sudah lewat jauh, lalu badanku rasanya tidak enak."

Dokter Xiao tidak menertawakannya. Ia menulis beberapa catatan, lalu meminta pemeriksaan darah dan panel hormon dasar.

Keira duduk di samping Jessica, tangannya sudah pulih tetapi rasa panas samar kadang masih kembali saat ia mengingat bunga itu.

Jessica memiringkan kepala.

"Cici Keira, wajahmu lebih tegang daripada aku."

"Karena kamu terlalu santai."

"Kalau aku panik, nanti keriput."

"Kalau kamu sakit, keriput bukan masalah terbesar."

Jessica cemberut. "Kamu sekarang makin mirip dokter."

Dokter Xiao yang sedang membaca hasil awal tersenyum tipis, tetapi senyumnya cepat hilang.

Ia menatap angka di layar tablet, lalu menatap Jessica.

"Ci Jessica, ada beberapa indikator yang tidak sesuai dengan kondisi normal tubuh Anda."

Jessica langsung duduk tegak. "Maksudnya?"

"Kadar hormon reproduksi Anda lebih rendah dari yang saya harapkan untuk usia dan kondisi Anda. Ada juga tanda ringan gangguan pada fungsi metabolisme. Ini belum diagnosis akhir, tapi saya curiga ada paparan jangka panjang terhadap zat yang mengganggu sistem endokrin."

Kata-kata itu membuat ruangan mendadak dingin.

Jessica berkedip. "Paparan? Dari makanan?"

"Bisa dari banyak sumber," jawab Dokter Xiao hati-hati. "Kosmetik baru, suplemen, obat herbal, aksesori yang sering bersentuhan dengan kulit. Ada sesuatu yang baru Anda gunakan dalam beberapa minggu terakhir?"

Jessica berpikir.

"Kosmetik tidak. Suplemen juga tidak. Aku bahkan jarang minum vitamin karena lupa terus."

Keira menatap tangannya.

Di pergelangan tangan kiri Jessica, Gelang Akik Merah masih melingkar.

Manik-manik merahnya tampak cantik di bawah lampu ruang medis. Terlalu cantik. Warna merahnya dalam, seperti menyimpan api kecil.

Jessica mengikuti arah pandangan Keira.

"Oh, gelang ini?"

Ia mengangkat pergelangan tangannya.

"Ini hadiah dari Ci Serena. Masa bisa ada masalah?"

Keira tidak bergerak.

Nama Serena jatuh ke dalam dadanya seperti batu.

Dokter Xiao mendekat, memeriksa gelang itu tanpa menyentuh terlalu lama.

"Untuk sementara, saya sarankan dilepas dulu. Bukan berarti pasti penyebabnya. Tapi semua benda yang menempel di kulit dalam waktu lama perlu diperiksa."

Jessica ragu.

"Tapi ini hadiah..."

"Hadiah bisa disimpan di kotak," kata Keira pelan. "Tubuhmu tidak perlu jadi tempat penyimpanan."

Jessica menatapnya, lalu tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.

"Cici Keira kalau galak, kalimatnya tetap bagus."

Namun tangannya gemetar saat melepas gelang.

Begitu Gelang Akik Merah terlepas, Keira melihat garis merah tipis di kulit Jessica. Tidak parah, tidak berdarah, tetapi cukup jelas untuk membuat napasnya tertahan.

Dokter Xiao memasukkan gelang itu ke kantong pemeriksaan khusus dan menandai labelnya.

"Saya akan kirim untuk analisis permukaan. Ci Jessica, untuk beberapa hari ke depan, jangan pakai aksesori logam atau batu alam dulu. Kita ulang pemeriksaan setelah hasil tambahan keluar."

Jessica mengangguk, tetapi wajahnya sudah kehilangan warna.

Keluar dari ruang medis, ia memeluk lengan Keira.

"Kamu pikir benar dari gelang itu?"

Keira ingin berkata tidak.

Ia ingin membuat Jessica tenang seperti orang dewasa baik hati yang mengatakan bahwa dunia tidak sejahat itu.

Tetapi dunia memang sejahat itu.

Dalam kepalanya, sebuah ingatan dari kehidupan sebelumnya tiba-tiba menyala.

Seorang perempuan duduk di ruang tamu, tersenyum pucat, berkata bahwa dokter bilang ia sulit punya anak. Di pergelangan tangannya ada bekas merah samar. Di meja, sebuah aksesori merah tergeletak di atas kain putih.

Lalu ada suara lain, lembut dan penuh simpati.

"Aku hanya memberinya hadiah kecil."

Keira berhenti berjalan.

Jessica ikut berhenti. "Cici?"

Keira menekan rasa dingin yang merayap ke punggungnya.

Ingatan itu belum lengkap. Wajah orang yang berbicara masih kabur. Tetapi pola itu terlalu mirip untuk diabaikan.

Hadiah kecil.

Kulit.

Gangguan tubuh yang tidak langsung terasa.

Senyum lembut.

"Tidak tahu," kata Keira akhirnya. "Karena itu kita periksa."

Sore itu, Keira kembali ke Sayap Giok dan meminta Ningsih memastikan tidak ada orang luar masuk ke ruang kecilnya.

Lalu ia memanggil Andi.

Andi datang dengan tablet di tangan dan wajah tegang. Sejak kasus bunga, pemuda itu terlihat seperti orang yang tidur dengan mata setengah terbuka. Ia tahu compound tidak lagi aman, dan ia cukup pintar untuk tidak pura-pura tenang.

"Nona Keira memanggil saya?"

Keira meletakkan foto Gelang Akik Merah di meja. Foto itu ia ambil sebelum gelang dibawa Dokter Xiao.

"Aku perlu kamu mencari asal gelang ini."

Andi menatap foto itu.

"Gelang yang dipakai Ci Jessica?"

"Ya. Jangan lewat jalur resmi dulu. Cari dari pembelian, pengiriman, toko, orang yang mengambil, siapa pun yang menyentuhnya sebelum sampai ke tangan Serena."

Andi menelan ludah.

"Nona mencurigai Ci Serena?"

Keira tidak langsung menjawab.

Di layar tablet di sampingnya, riwayat akses Serena masih terbuka. Pintu servis halaman belakang. Koridor administrasi. Ruang arsip. Semua belum menjadi bukti, tetapi semuanya sudah menjadi tanda tanya.

"Aku mencurigai gelang itu," kata Keira. "Untuk sekarang, cukup itu."

Andi mengangguk. "Baik, Nona."

"Jangan bilang siapa-siapa."

"Termasuk Pak Darren?"

Keira menatapnya.

Pertanyaan itu membuat ruangan menjadi lebih berat.

Darren pasti akan tahu jika ia ingin tahu. Tetapi Keira tidak ingin setiap langkah kecilnya langsung berubah menjadi badai. Ada hal-hal yang perlu ia lihat dengan matanya sendiri sebelum api Darren membakar semua jejak.

"Termasuk Pak Darren," katanya pelan.

Andi ragu, tetapi akhirnya menunduk.

"Saya mengerti."

"Kalau ada hasil, langsung beri tahu aku. Jangan simpan di sistem umum. Jangan kirim lewat grup staf. Jangan bicara di koridor."

"Baik, Nona."

Malam turun sebelum Andi kembali.

Keira sedang duduk di dekat jendela Sayap Giok, memandang halaman yang terlihat terlalu tenang. Di kejauhan, lampu Sayap Anggrek menyala. Serena belum datang hari itu. Ia hanya mengirim pesan singkat menanyakan keadaan Jessica, lengkap dengan emoticon sedih yang tampak terlalu sempurna.

Ponsel Keira bergetar.

Pesan dari Andi:

Nona, saya dapat jejak pembelian.

Keira langsung berdiri.

Sepuluh menit kemudian, Andi masuk melalui pintu samping, membawa amplop cokelat tipis. Ia tidak duduk sebelum Keira memberi isyarat.

"Bicaralah."

Andi membuka amplop.

"Gelang itu dibeli dari toko perhiasan kecil di Surabaya. Namanya Toko Emas Permata Jaya. Secara luar, toko itu terlihat biasa. Tapi saya cek jaringan pemasoknya. Pemilik toko beberapa kali mendapat kontrak kecil dari perusahaan keluarga Santoso."

Keira merasakan ujung jarinya dingin.

"Santoso?"

Andi mengangguk.

"Ada satu nama yang muncul di dua dokumen pembayaran lama. Rossa Santoso."

Ruangan itu sunyi.

Nama itu bukan sekadar nama baru. Dalam peta keluarga besar dan bisnis Jakarta, Santoso bukan cabang kecil yang bisa diabaikan. Dan Rossa Santoso, meski belum pernah berdiri langsung di depan Keira, sudah beberapa kali muncul sebagai bayangan di belakang orang-orang yang bergerak terlalu rapi.

Serena.

Gelang.

Toko di Surabaya.

Santoso.

Keira menatap amplop di meja. Untuk pertama kalinya, ia merasa Serena mungkin bukan ular yang bergerak sendiri.

Ada tangan lain di belakangnya.

Jaring ini... lebih besar dari yang kukira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!