NovelToon NovelToon
Luka Tak Terlihat

Luka Tak Terlihat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga)
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: Illana Clr

Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.

Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Makan Malam

Malam ini Alana punya rencana.

Rencana untuk membongkar perselingkuhan Johan dan Safa.

Dia angkat handphone.

“Halo Safa? Lo sibuk?”

“Kepo banget sih. Kangen sama sahabat lo yang cantik ini ya?” jawab Safa sambil ketawa.

Alana hampir mual denger suaranya.

“Gila, kangen banget gue. Semenjak nikah kita jarang ketemu lho.”

“Iya juga ya. Kenapa? Mau curhat?”

“Gue mau ngundang lo makan malam. Bisa?”

“Malam ini?”

“Iya. Bisa nggak?”

“Yaudah deh boleh. Gue datang jam 7 ya. Nggak apa-apa kan?”

“Aman. Yaudah ya bye.”

Tut.

Alana menutup telpon. Napasnya berat.

__

Sementara itu, di tempat lain.

Safa masih duduk di pangkuan Johan. Habis telpon dari Alana, Safa menatap Johan.

“Istri kamu tuh. Tiba-tiba ngundang makan malam.”

“Dateng aja. Nginep sekalian juga boleh, sayang,” kata Johan sambil merangkul Safa.

“Nggak lah. Nanti aja kalau nginep. Belum waktunya.”

“Mau dateng bareng aku?”

“Ngaco kamu.”

Ting.

Handphone Johan bergetar. Ada chat dari Alana.

“Sayang, aku ngundang Safa makan malam di rumah kita. Kamu nggak keberatan kan?”

Johan nunjukin chat itu ke Safa sambil ketawa.

“Dia tuh penurut. Nggak kayak kamu, nakal-nakal. Makanya aku lebih sayang sama kamu.”

“Iya, tapi yang dinikahin Alana,” sindir Safa.

“Shh. Kita harus sabar, sayang. Tunggu uangku banyak ya. Aku balas dulu chatnya Alana.”

Johan mengetik.

“Boleh sayang. Aku request ayam rica ya, kayak biasa.”

Kirim.

Alana baca chat itu.

Tangannya mengepal.

“Ayam rica... makanan kesukaan kita bertiga.”

Pikirnya.

Topengnya harus makin tebal malam ini.

__

Alana mempersiapkan semuanya sendiri.

Masak, nata meja, nyalain lilin kecil.

Setelah semua selesai, dadanya sesak.

Dia berdiri di depan meja makan. Di atas meja ada makanan untuk bertiga.

Air matanya jatuh.

“Nggak. Gue nggak boleh nangis.”

Alana usap air matanya kasar.

Dia ke kamar mandi menyegarkan badannya dan juga pikirannya.

Lalu dandan secantik mungkin, ia terlihat falawless. Alana memang sudah cantik sejak kecil, kecantikannya menurun sepenuhnya pada Cia.

Cia juga sudah dia tidurkan lebih cepat.

Semua sudah direncanakan.

__

Tok.

Pintu utama terbuka.

Jantung Alana berdetak kencang.

“Johan udah pulang. Tenang Alana.” Pikirnya.

Dia bersikap biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Saat Johan masuk kamar, Alana menoleh.

“Hey, sayang.”

“Kamu... dandan gini cantik banget, sayang.”

“Makasih sayang. Kamu capek ya hari ini?”

Mata Alana sekilas melihat leher Johan.

Ada bekas lipstik. Merah.

“Oh. Habis ketemu mereka.” Batin Alana.

“Lumayan. Hari ini kerjaan banyak, sayang,” jawab Johan.

“Yaudah mandi gih. Bentar lagi Safa datang.”

“Oke. Aku mandi ya.”

Di dalam kamar mandi, Johan kaget lihat cermin.

Noda lipstik di lehernya jelas banget.

“Safa... berani banget sih dia. Untung Alana nggak ngeh tadi.”

Sementara itu Alana siapkan kemeja terbaik untuk Johan.

“Aku harus bikin malam ini canggung buat Safa.”

Matanya melirik ke pintu kamar mandi.

Ting tong.

Safa datang. Bawa buah dan cheese cake.

“Hay beib... kangen.”

Safa memeluk Alana erat. Tapi matanya malah melirik nakal ke arah Johan.

“Gue juga kangen. Udah yuk langsung makan aja,” kata Alana.

Pelukan lepas. Safa memperhatikan Alana dari atas sampai bawah.

“Lo cantik amat. Waaah Johan beruntung dapetin lo?”

“Ah bisa aja lo. Ayo langsung aja makan yo”

Alana menggandeng tangan Johan.

“Ayo sayang, makan bareng.”

Mereka duduk. Johan di sebelah Alana.

Alana menyendok nasi. Untuk Johan dulu. Lalu untuk dirinya.

Di depan Safa, Alana menyuapi Johan.

Johan gugup namun mulutnya membuka pelan.

Alana bahkan mengusap sudut bibir Johan. Padahal tidak ada nasi di sana.

Safa langsung tersedak.

“Eh, Safa minum minum,” kata Alana sambil menyodorkan air. Wajahnya polos.

Safa menerima gelas air dari Alana. Tangannya gemetar sedikit.

Di dalam hati Safa panas, gemas melihat Alana dan Johan.

Tapi dia nggak bisa berbuat apa-apa.

Johan juga gelisah, keringat dingin di pelipisnya.

Sementara Alana? Sedikit lega. Dia puas lihat mereka canggung.

“ Kok pada diem? Makan lagi dong. Capek lho aku masak buat kalian,” kata Alana sambil senyum.

“I-iya Na,” jawab Safa gugup.

Dia lanjut makan. Tapi nasinya berasa hambar.

Johan melirik Alana.

“Kamu, nggak suapin aku lagi?”

Alana langsung ambil sendok.

“Oh, ini sayang.”

Dia suapi Johan lagi. Pelan. Sambil menatap mata Johan.

Setelah itu dia lap bibir Johan pakai tisu. Lembut.

Safa nunduk. Nyaris membanting sendoknya.

Alana pura-pura nggak lihat.

“Ayo Safa, cobain ayam ricanya. Itu masakan kesukaan kita bertiga kan?”

Ucap Alana santai.

Safa mendongak senyumnya dipaksa.

“Iya... Na, ini gue udah makan nih masakan lo juara sih dari dulu. Makasih ya Na”

“ Sama-sama habisin ya, biar nggak mubazir,” balas Alana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!