Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Pukul 15.30 WIB, bel pulang sekolah menyanyikan melodinya.
Sore ini, rombongan mereka terpisah. Ren dan Farah ada ekskul tambahan, sementara Bumi harus melangkah ke ruang musik lagi untuk menyimak evaluasi singkat pasca-lomba. Alhasil, hanya Aery dan Jasver yang berjalan menyusuri trotoar rindang selama sepuluh menit menuju stasiun.
Suasana stasiun sore itu cukup padat oleh lalu lalang penumpang. Setelah menempelkan kartu di pintu putar, Aery dan Jasver melangkah menuju peron dua. Kereta komuter jurusan mereka datang tepat waktu, menghembuskan angin dingin begitu pintunya bergeser terbuka.
"Masuk duluan, Ry," ucap Jasver lembut, memosisikan badannya di belakang Aery untuk melindunginya dari desakan penumpang lain.
Beruntung, gerbong mereka tidak terlalu penuh. Aery dan Jasver berhasil mendapatkan tempat duduk berdua di sudut gerbong. Kereta komuter perlahan bergerak, membelah lintasan rel sambil memancarkan dentang ritmis yang menenangkan.
Aery menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memeluk tas sekolahnya. Di sampingnya, Jasver duduk menyilangkan kaki, berusaha tetap tampil santai walau fokus matanya terus melirik pantulan wajah Aery dari kaca jendela kereta.
Ting!
Layar ponsel Aery yang terletak di atas paha mendadak menyala terang, menyuarakan notifikasi pesan masuk dari nomor baru yang belum tersimpan.
Refleks, mata Jasver melirik ke arah layar dari samping bahu Aery. Jantung Kapten Voli itu mendadak berdesir tajam saat membaca nama pengirim yang tertera di pesan tersebut.
+62 812-xxxx-xxxx: Hai Aery, ini Arka. Nanti malam ada waktu free gak? Gue mau ngobrol santai soal acara syukuran band sekalian pengen kenal lo lebih dekat.
Jasver membeku di tempatnya. Rahangnya mengeras seketika dan jemarinya di dalam saku celana menyatu mengepal erat.
Arka... si Ketua Band itu beneran nekat, batin Jasver memanas.
Rasa cemburu mendadak membakar dadanya secara membabi buta. Jasver selalu memendam rasa yang teramat dalam pada Aery. Namun, rasa itu selalu ia kunci rapat-rapat di balik topeng tengil dan aura playboy-nya, karena Jasver tau betul, atau setidaknya sangat meyakini, bahwa Aery hanya menyimpan kagum untuk sosok berbakat seperti Bumi. Tapi melihat Arka, cowok populer kelas XII, terang-terangan menerobos masuk ke kehidupan Aery, ada kepedihan dan rasa tidak rela yang mencengkeram hatinya.
Aery hanya menatap pesan dari Arka dengan tatapan datar tanpa ada niat membalas, lalu menggeser notifikasi itu.
Ting!
Satu notifikasi pesan baru kembali muncul di layar ponsel Aery. Kali ini, nama pengirimnya membuat sudut bibir Aery mengukir senyum tipis.
Bumi: Aery... maafin aku yaa. Tadi si Arka mendesak aku terus sampai bawa-bawa posisi aku di band, jadi aku terpaksa kasih nomor kamu ke dia. Aku bener-bener merasa bersalah udah ngasih privasi kamu ke orang lain tanpa izin 😔🙏
Aery tertawa kecil melihat pesan dari Bumi yang begitu tulus dan sarat akan penyesalan. Jemari cantiknya dengan lincah mengetik balasan.
Aery: Gapapa Bumi, santai aja. Aku paham kok kamu serba salah sama senior kamu. Jangan merasa bersalah gitu ah.
Jasver yang mengintip seluruh percakapan di layar ponsel itu mendadak mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Senyuman tipis nan pahit terukir di bibirnya.
Melihat Aery yang begitu dingin membiarkan pesan dari Arka, namun mendadak tersenyum hangat hanya karena membalas pesan permintaan maaf dari Bumi. Jasver makin sadar akan posisinya. Di tengah deru angin dan guncangan halus kereta komuter sore itu, Jasver memilih diam, menelan bulat-bulat rasa cemburunya sendiri di balik tatapan matanya.
Pintu kereta komuter bergeser menutup, meninggalkan peron stasiun yang riuh. Aery dan Jasver melangkah keluar, menyusuri jalanan aspal yang mulai diterangi lampu jalan berwarna kuning redup. Jarak dari stasiun menuju rumah Aery sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki, namun bagi Jasver, durasi sepuluh menit itu terasa seperti selamanya.
Aery berjalan di sisi dalam trotoar dengan langkah mantap. Ia tidak sedikit pun melirik Jasver yang berjalan di sampingnya dengan tangan masuk ke dalam saku jaket varsity-nya.
"Gue anterin sampe depan rumah lo ya, Ry," ujar Jasver memecah kesunyian. Suaranya terdengar santai, mencoba menutupi kegelisahan yang masih bergejolak di dadanya.
Aery menoleh sekilas, tatapannya datar, nyaris tanpa ekspresi. "Ngga usah, Ver. Gue bisa jalan sendiri. Rumah gue udah deket."
"Ya gue tau udah deket, tapi kan ini udah hampir malem. Ngga enak aja ngebiarin cewek jalan sendirian," sahut Jasver tetap bersikeras.
Aery menghela napas panjang, suaranya terdengar jengah. "Terserah lo mau ikut atau ngga. Tapi ngga perlu lebay, gue bukan anak kecil."
Jasver terdiam sejenak. Mendengar jawaban "lo-gue" yang dingin dari Aery, ia merasa seperti menabrak tembok es. Hubungan mereka memang selalu seperti ini. Jasver yang berusaha masuk, dan Aery yang selalu menjaga jarak. Terutama setelah Jasver tau soal Arka.
"Soal chat Arka tadi..." Jasver akhirnya membuka suara, tidak tahan menahan rasa penasarannya. "Lo beneran ngga bakal bales? Dia ketua band, lo tau kan anak-anak cewek di sekolah pada ngejar dia?"
Aery berhenti melangkah di depan sebuah persimpangan lampu jalan. Ia menatap Jasver lurus-lurus, matanya tajam dan tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali.
"Kenapa emangnya? Lo peduli kalau dia ngechat gue?" tanya Aery dengan nada sarkastik yang menusuk.
Jasver tertegun. "Ya... ngga gitu. Cuma gue nanya. Masa lo sedingin itu sama semua cowok kecuali Bumi?"
Aery memalingkan wajah, melanjutkan langkahnya dengan cepat. "Itu urusan gue. Lo ngga perlu tau siapa yang gue bales dan siapa yang gue abaikan. Dan jangan bawa-bawa Bumi di sini. Dia itu beda cerita."
Jasver mengejar langkah Aery, frustrasi sendiri. "Ry, gue cuma–"
"Stop, Ver." Aery menghentikan langkahnya tepat di depan pagar rumahnya yang megah. Ia berbalik menatap Jasver dengan tatapan dingin yang sulit ditembus. "Makasih udah nemenin sampe sini. Sekarang lo bisa balik."
Jasver berdiri terpaku di depan pagar. Ia ingin sekali bilang kalau dia cemburu, kalau dia tidak suka Arka mendekati Aery, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. Aery bahkan tidak menawarkan masuk atau sekadar bertanya "lo mau minum dulu?".
"Oke," jawab Jasver pelan, berusaha mengembalikan topeng playboy-nya. "Gue balik. Good night, Aery."
Aery tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tipis sebagai isyarat perpisahan, lalu membuka gerbang rumahnya. Tanpa menoleh lagi, Aery masuk ke dalam halaman rumah, meninggalkan Jasver yang masih berdiri di trotoar, menatap punggung gadis itu yang perlahan menghilang di balik pintu utama.
"Gila emang," gumam Jasver sambil mengacak rambutnya kasar. "Sedingin itu, tapi kenapa gue malah makin ngga bisa lepas sih?"
Jasver berbalik, melangkah menjauh dalam kegelapan malam, menyisakan tanya di kepalanya sendiri tentang seberapa lama lagi ia sanggup berpura-pura menjadi sekadar sahabat di mata Aery.
♧♧♧
Pukul 19.30 WIB. Suasana Bimbel Aksara di malam hari jauh lebih tenang. Lampu-lampu downlight di koridor memberikan kesan hangat namun kontras dengan ketegangan yang menyelimuti keempat remaja yang sedang duduk di kursi tunggu lobby.
Setelah sesi kelas malam berakhir, Jasver, Bumi, Ren, dan Farah tidak langsung pulang. Mereka terjebak dalam pembicaraan yang membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.
"Bum, please deh. Lo beneran kasih nomor Aery ke Arka tadi?" tanya Farah, matanya menatap Bumi menuntut penjelasan.
Bumi menyandarkan punggungnya ke tembok, menghela napas panjang hingga bahunya turun. "Gue terpaksa, Far. Dia bawa-bawa posisi gue sebagai anak baru di The Novas. Gue ngga punya pilihan lain waktu dia maksa."
Jasver yang duduk di samping Bumi langsung membuang muka. Ia menendang kaki meja dengan ujung sepatunya, gusar. "Ngga punya pilihan atau lo yang ngga berani nolak, Bum?"
Suara Jasver terdengar tajam. Ren yang duduk di seberang mereka menyikut lengan Jasver, memberi kode agar temannya itu sedikit mengerem emosinya.
"Ya wajar lah kalau Bumi ngerasa tertekan, Ver," bela Ren mencoba mendinginkan suasana. "Arka itu ketua ekskul musik. Kalau Bumi cari masalah sama dia, karir band-nya bisa tamat sebelum mulai."
"Tapi privasi Aery itu nomor satu, Ren!" sahut Jasver tiba-tiba, suaranya sedikit meninggi hingga beberapa orang yang lewat menoleh ke arah mereka. Jasver menyadari kesalahannya, lalu merendahkan suaranya kembali, meski rahangnya masih mengeras. "Maksud gue... Aery itu ngga suka kontaknya disebar sembarangan. Apalagi ke cowok kayak Arka."
Farah menatap Jasver dengan tatapan curiga. "Lo kok kayaknya sensi banget soal ini, Ver?"
Jasver berdehem, mencoba membenahi posisinya agar terlihat santai. "Ya... ya karena gue tau Aery gimana. Dia risih sama cowok yang agresif."
Bumi menunduk, memainkan tali tas gitarnya. Rasa bersalah menghujam dadanya berkali-kali. "Gue tau. Tadi gue udah minta maaf ke Aery di chat. Dia bilang ngga apa-apa, tapi gue tetep ngerasa gagal jadi temen yang bisa diandelin."
"Masalahnya, Arka itu tipe yang ngga bakal berhenti cuma dengan satu chat," ujar Farah serius. "Lo tau sendiri reputasi dia. Kalau dia udah naksir, dia bakal ngejar terus. Sekarang dia udah punya nomor Aery, lo pikir dia bakal diem?"
Bumi terdiam. Bayangan Arka yang tersenyum penuh kemenangan tadi siang kembali muncul di kepalanya.
Jasver bangkit dari duduknya, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia menatap ke arah pintu keluar bimbel, matanya menyorot tajam ke kegelapan malam. "Kalo dia berani macem-macem atau bikin Aery ngerasa ngga nyaman, gue yang bakal maju."
"Lo mau ngapain?" tanya Ren waspada.
Jasver berbalik, menyunggingkan senyum miring yang penuh ancaman, meski matanya menyiratkan kecemburuan yang mendalam. "Gue cuma mau pastiin kalau Arka tau batasan. Bumi udah gagal jagain Aery, jadi mungkin sekarang giliran gue yang harus 'ngurus' senior kesayangan kalian itu."
Bumi terdiam mendengar pernyataan Jasver. Ada sesuatu dalam nada bicara Jasver yang membuatnya tersentak, bukan sekadar solidaritas teman, tapi ada aura posesif yang kuat.
"Jasver, jangan aneh-aneh. Kita cari cara lain yang lebih elegan," lerai Farah, meski ia juga merasa cemas.
Jasver hanya mengangkat bahu, tidak menjawab. Ia tau, di dalam hatinya, ia tidak peduli seberapa 'elegan' caranya. Jika Arka berani melangkah lebih jauh, Jasver sudah siap untuk menjadi penghalang terdepan.
Farah mendadak berdiri dari kursinya. Bunyi gesekan besi kaki kursi dengan lantai marmer lobby Bimbel Aksara terdengar amat nyaring, memotong ucapan Jasver yang baru saja ingin melangkah pergi.
"Ver, jujur sama gue," potong Farah dengan suara yang gemetar menahan letupan emosi. Matanya menatap Jasver lurus, menusuk, dan penuh dengan kepedihan yang tak lagi bisa ia sembunyikan. "Lo... sebenarnya suka kan sama Aery?"
Ruang tunggu lobby Bimbel Aksara seketika membeku.
Ren mendadak bungkam, matanya melebar menatap Farah dan Jasver bergantian. Sementara Bumi yang duduk di sudut langsung mendongak kaget, menatap dua sahabatnya itu dengan hembusan napas yang tertahan.
Jasver menghentikan langkahnya. Punggungnya mendadak kaku. Ia membalikkan badan perlahan, berusaha memoles wajahnya dengan cengiran tengil andalannya. "Hah? Lo ngomong apaan sih, Far? Ya gue peduli lah, dia kan temen–"
"Jangan ngeles pake tameng 'temen' lagi, Jasver!" bentak Farah melangkah maju selangkah. Kedua tangannya terkepal erat di samping paha, dadanya naik turun menahan sesak. "Gue ngga bego! Cara lo emosi pas denger nama Arka, cara lo protektif banget sama Aery, bahkan tatapan mata lo tiap kali ngelihat Aery sama Bumi... itu bukan sekadar solidaritas teman!"
Farah menahan napasnya yang tertahan, matanya mulai berkaca-kaca di bawah sorotan lampu downlight bimbel.
"Lo emosional begini bukan cuma karena Arka minta nomor Aery, kan?" lanjut Farah, suaranya meliuk samar akibat rasa cemburu yang akhirnya pecah. "Lo cemburu, Ver! Lo cemburu setengah mati karena lo suka sama Aery, tapi lo penakut buat ngaku karena lo tau Aery cuma punya rasa buat Bumi!"
DEG.
Kalimat Farah menghantam tepat di pusat dada Jasver. Topeng playboy yang selama ini ia pakai rapat-rapat seketika hancur berkeping-keping. Rahang Jasver mengeras, matanya menatap Farah dengan binar yang tak lagi bisa mengelak.
Bumi terpaku di tempatnya. Hatinya bergetar hebat. Prasangka halus yang sempat melintas di benaknya tadi sore, kini terkonfirmasi secara brutal oleh tebakan Farah. Jasver... sahabat terbaiknya yang selalu sok gonta-ganti cewek itu, ternyata memendam rasa yang begitu dalam pada Aery.
"Farah..." gumam Ren pelan, menyadari ada air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata cewek tomboy itu.
Ren tau betul hal yang selama ini tersembunyi dari mereka berdua. Farah menyimpan perasaan mendalam pada Jasver. Dan melihat Jasver seemosional ini demi Aery, adalah luka paling tajam yang harus Farah terima malam ini.
Jasver memalingkan wajahnya ke arah pintu kaca bimbel, menghembuskan napas kasar dengan berat. Ia tidak membalas tuduhan Farah, dan diamnya Jasver malam itu... adalah jawaban paling jujur yang mengkonfirmasi semuanya.