Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030
Meja Makan Keluarga Wibowo
Di rumah Wibowo, permainan ternyata baru dimulai.
Kevin sampai hampir pukul sepuluh malam. Rumah itu berdiri di kawasan lama Jakarta Selatan, besar, rapi, dan terlalu sunyi untuk disebut hangat. Lampu gantung di ruang makan menyala kuning lembut, memantulkan kilap meja marmer dan deretan piring yang belum disentuh.
Pak Herman sudah duduk di kepala meja.
Melinda Wibowo duduk di sisi kanan, memakai gaun longgar berwarna krem pucat. Rambutnya disanggul rendah. Senyumnya tetap halus seperti setiap kali ia muncul di acara sosialita, tetapi wajahnya tampak sedikit lelah.
Kevin berhenti di ambang ruang makan.
"Duduk," kata Pak Herman.
Tidak ada sapaan. Tidak ada pertanyaan apakah syutingnya melelahkan. Di rumah ini, perhatian biasanya datang hanya jika ada kepentingan yang menunggu.
Kevin menarik kursi. "Kalau ini soal berita di lokasi syuting, aku sudah bilang pada Tante Melinda. Itu cuma pekerjaan."
Melinda tertawa lembut. "Kamu selalu buru-buru membela diri. Padahal kami belum menuduh apa-apa."
"Pesan tadi cukup jelas."
Pak Herman meletakkan sendok. Suaranya tenang, tetapi keras di tepi. "Kamu dekat dengan Kiara Tanuwijaya?"
"Kami lawan main."
"Aku tanya dekat, bukan satu film."
Kevin menatap meja sebentar. "Tidak sedekat yang kalian pikirkan."
"Tapi kamu ingin lebih dekat."
Kalimat itu datang dari Melinda.
Kevin tidak menjawab.
Diamnya sudah cukup.
Melinda mengambil gelas air, meneguk pelan. Gerakannya terukur, seolah setiap jari tahu harus berada di mana agar terlihat anggun.
"Kiara menarik," katanya. "Bukan hanya karena dia cantik. Belakangan ini, semua perhatian publik yang buruk berubah menjadi simpati untuknya. Lalu berubah lagi menjadi pengakuan. Perempuan seperti itu, kalau berdiri di sisi yang tepat, bisa menjadi simbol."
Kevin mengerutkan kening. "Dia bukan simbol. Dia orang."
"Di mata publik, semua orang bisa menjadi simbol," jawab Pak Herman. "Rayhan mengerti itu. Kenapa menurutmu dia tidak menghapus gosipmu dengan Kiara? Karena untuk saat ini, itu menguntungkan Kiara."
Kevin terdiam.
Ia tidak suka mendengar nama Rayhan di meja makan rumahnya. Tidak setelah melihat bagaimana pria itu memperlakukan Kiara dengan hati-hati, lalu membayangkan apa yang mungkin ia lakukan pada orang lain.
"Rayhan tidak bisa disentuh dari jalur biasa," lanjut Pak Herman. "Purnawan Group terlalu kuat. Hartono sendiri makin kehilangan kendali atas anaknya. Tapi setiap orang punya titik lemah."
Melinda tersenyum tipis. "Dan titik lemah Rayhan sekarang sangat jelas."
"Kiara," ucap Kevin pelan.
"Tepat."
Kevin menegakkan punggung. "Kalian mau menggunakan dia."
Pak Herman tidak tampak tersinggung. "Kami mau memahami posisinya."
"Itu bahasa lain untuk menggunakan."
"Kamu terlalu idealis karena sedang suka."
Kalimat itu membuat telinga Kevin panas. "Jangan bawa perasaanku ke urusan kalian."
Melinda meletakkan gelas. "Justru perasaanmu yang membuat ini tidak kotor, Kevin. Kalau orang lain yang mendekati Kiara, itu memang strategi. Tapi kamu benar-benar peduli padanya, kan?"
Kevin menatapnya tajam.
Melinda tidak menghindar.
"Kamu melihat sendiri bagaimana Rayhan berdiri di dekatnya. Semua orang menyebut itu perlindungan. Tapi kamu yakin itu sehat? Kamu yakin Kiara tidak pelan-pelan dikurung oleh pria yang semua orang takut lawan?"
Pertanyaan itu mengenai tempat yang sudah retak di kepala Kevin.
Ia teringat Rayhan yang selalu muncul tepat waktu. Rayhan yang bisa membuat kru studio diam hanya dengan satu pandangan. Rayhan yang membuat Chandra Kurniawan, pria yang dikenal kuat di lingkaran bisnis, tiba-tiba hilang dari percakapan orang dalam dua hari.
Dan Kiara di antara semua itu. Kecil. Pucat. Tersenyum saat Rayhan membuka pintu mobil untuknya.
Apakah itu cinta, atau sangkar yang terlalu indah?
Kevin membenci dirinya karena pertanyaan itu muncul.
"Kalau kamu sungguh peduli," kata Melinda, suaranya makin lembut, "tetap berada di dekatnya. Bukan untuk memaksa. Bukan untuk merebut. Cukup untuk memberinya pilihan lain saat dia mulai takut."
Pilihan lain.
Kata-kata itu terdengar lebih bersih daripada rencana yang sebenarnya.
Pak Herman mengambil map tipis dari kursi sebelah, lalu mendorongnya ke depan Kevin. Di dalamnya ada jadwal produksi Gerbang Majapahit, rencana promosi, dan beberapa catatan tentang Kiara Media.
Kevin tidak menyentuh map itu.
"Dari mana kalian dapat ini?"
"Dunia produksi tidak serapat yang Rayhan kira."
"Aku tidak akan menjadi mata-mata."
Pak Herman menatapnya lama. "Kamu akan tetap bermain film. Kamu akan tetap bersikap baik pada Kiara. Kamu akan tetap menjadi lawan main yang membuat publik percaya kalian punya chemistry. Tidak ada yang meminta lebih malam ini."
"Malam ini," ulang Kevin.
Melinda tersenyum. "Kita lihat nanti."
Kevin bangkit dari kursinya.
"Aku pulang."
"Ini rumahmu," kata Pak Herman dingin.
"Malam ini tidak terasa seperti rumah."
Ia meninggalkan ruang makan sebelum Pak Herman sempat menjawab.
Di koridor, Kevin berhenti sebentar. Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, ia mendengar suara Melinda.
"Dia akan kembali. Laki-laki muda selalu ingin menjadi penyelamat."
Pak Herman menjawab lebih rendah, "Pastikan Hartono percaya kita masih berguna."
Nama Hartono membuat Kevin menoleh.
Melinda tertawa kecil. "Hartono sedang sibuk menunggu anak yang dia pikir akan menjadi pewaris baru. Selama itu, dia akan mendengar apa pun yang membuat Rayhan terlihat bisa dikendalikan."
Hening sebentar.
Lalu kursi bergeser pelan.
Kevin tidak bisa melihat dari tempatnya berdiri, tetapi di ruang makan, Melinda meletakkan tangan di perutnya yang belum tampak. Gerakan itu singkat, hati-hati, dan terlalu penuh perhitungan untuk disebut naluri ibu.
"Sebelum anak ini lahir," katanya, "posisi keluarga Wibowo harus sudah aman."
Kevin mundur satu langkah.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa bukan hanya Kiara yang sedang dijadikan alat.
Dirinya juga.
***
Di apartemen servis, Kiara bersin kecil saat sedang membaca naskah di sofa.
Rayhan langsung menoleh dari meja kerja.
"Dingin?"
"Tidak. Mungkin ada yang sedang membicarakanku."
Rayhan menutup laptop. "Siapa?"
Kiara tertawa. "Itu cuma kata orang."
"Aku bisa cari tahu."
"Koko." Kiara menurunkan naskah, menatapnya dengan wajah tidak percaya. "Tidak semua takhayul perlu diselidiki oleh Purnawan Group."
Rayhan diam dua detik. "Kalau menyangkut kamu, semuanya perlu diselidiki."
Kiara melempar bantal kecil ke arahnya.
Rayhan menangkapnya dengan mudah. Untuk sesaat, dunia terasa ringan lagi. Tidak ada Wenny. Tidak ada Chandra. Tidak ada keluarga Wibowo yang sedang menyusun langkah di meja makan lain.
Hanya Rayhan yang duduk di bawah lampu hangat, memegang bantal kecil dengan wajah serius seolah benda itu bukti kriminal.
Kiara tidak tahu bahwa namanya baru saja menjadi bagian dari rencana orang lain.
Rayhan pun belum tahu.
Tetapi malam itu, di ponsel Adi yang berada di ruangan sebelah, sebuah laporan baru masuk.
Kevin Wibowo pulang ke rumah Pak Herman. Melinda Wibowo hadir.