Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Ciuman Pertama
Jari mereka masih bersentuhan.
Di sofa ruang keluarga kecil, laptop setengah tertutup memantulkan dua bayangan yang duduk terlalu dekat. Rumah sudah sunyi. Dari taman dalam hanya terdengar suara air kecil yang mengalir, pelan dan terus-menerus, seperti sesuatu yang mencoba menutupi detak jantung Senja.
Rayhan tidak menarik tangannya.
Senja juga tidak.
Ujung jari Rayhan hangat. Sentuhannya sangat ringan, tetapi justru karena ringan, Senja merasakan setiap detiknya. Kalau dia menggerakkan tangan sedikit saja, kontak itu akan hilang. Kalau dia diam, maka mereka berdua harus mengakui bahwa tidak ada yang benar-benar ingin mengakhirinya.
Rayhan akhirnya menoleh.
Tatapannya jatuh pada tangan mereka, lalu naik ke wajah Senja.
"Kamu tidak menarik tangan," katanya.
Suaranya rendah.
Senja menelan ludah. "Kamu juga tidak."
Di antara mereka, kalimat sederhana itu terdengar seperti pengakuan yang terlalu berani.
Rayhan mengangkat tangannya sedikit. Senja mengira dia akan menjauh. Namun bukannya menarik diri, Rayhan menyentuh punggung tangan Senja dengan ujung jarinya, pelan, seperti bertanya tanpa kata.
Senja seharusnya mundur.
Mereka punya perjanjian. Tiga bulan pertama tanpa hubungan fisik. Batas itu jelas, tertulis, terkunci di brankas ruang kerja. Tetapi sentuhan ini bukan pelanggaran yang bisa dihitung seperti pasal. Ini hanya ujung jari di atas sofa.
Hanya itu.
Kenapa dadanya terasa penuh?
"Senja," kata Rayhan.
"Hm?"
"Kalau kamu takut, bilang."
Dia mengangkat wajah.
Kalimat itu bukan perintah. Bukan strategi. Bukan cara Rayhan mengendalikan ruangan. Kalimat itu membuka pintu kecil, dan untuk pertama kalinya Senja tahu dia benar-benar boleh mundur.
Anehnya, justru karena boleh mundur, dia tidak ingin.
"Aku tidak takut," katanya.
Rayhan menatapnya lama.
"Kamu yakin?"
Senja mengangguk.
Tidak besar. Tidak dramatis. Hanya gerakan kecil, tetapi cukup untuk membuat udara di ruang keluarga berubah.
Rayhan menarik napas pelan.
Dia mendekat sedikit, masih memberi jarak. Senja bisa melihat detail yang biasanya tidak dia perhatikan: garis lelah tipis di bawah mata Rayhan, urat halus di punggung tangannya, bibir yang biasanya terlalu sering mengucapkan kalimat dingin.
Tangannya masih di atas tangan Senja.
"Aku tidak pandai berhenti kalau sudah mulai," katanya rendah.
Peringatan itu seharusnya membuat Senja mundur.
Namun yang dia dengar justru kejujuran.
"Kalau begitu," suara Senja hampir tidak terdengar, "mulai pelan."
Rayhan membeku.
Senja sendiri juga membeku.
Dia tidak tahu dari mana keberanian itu datang. Mungkin dari panggung kosong Gedung Kesenian. Mungkin dari saputangan putih di meja kamarnya. Mungkin dari kalimat kamu bukan tambahan. Mungkin karena di hadapan Rayhan, untuk pertama kalinya, dia tidak merasa harus membayar keberadaannya dengan ketakutan.
Rayhan mengangkat tangan, menyentuh sisi wajahnya.
Sentuhan itu berbeda dari saat dia memeriksa ruam alergi, berbeda dari saat menahan bahunya agar tidak jatuh. Kali ini, jarinya menyentuh pipi Senja dengan kehati-hatian yang membuat seluruh tubuhnya terasa lebih peka.
Senja menahan napas.
"Masih tidak takut?" tanya Rayhan.
Senja menggeleng pelan.
Rayhan menunduk.
Dia berhenti sangat dekat, begitu dekat sampai napasnya menyentuh bibir Senja. Masih ada waktu untuk mundur. Masih ada ruang untuk berkata jangan. Rayhan menunggu satu detik, dua detik.
Senja menutup mata.
Itu jawabannya.
Dalam gelap singkat di balik kelopak matanya, Senja mendengar semua hal yang biasanya membuatnya mundur: suara Papa Liem, tawa Serena, pasal perjanjian, bantal panjang di tengah ranjang. Semua muncul, tetapi tidak ada yang cukup kuat untuk membuatnya membuka mata dan menjauh.
Yang paling nyata justru napas Rayhan.
Pelan. Tertahan. Seperti pria itu sedang menahan dirinya lebih keras daripada menahan dunia.
Ciuman pertama mereka tidak seperti badai.
Tidak langsung menghancurkan apa pun.
Bibir Rayhan menyentuh bibirnya dengan pelan, hangat, dan singkat. Terlalu singkat untuk disebut puas, tetapi cukup kuat untuk membuat seluruh tubuh Senja lupa cara bernapas.
Dia mencium aroma cendana. Merasakan telapak tangan Rayhan di pipinya. Mendengar bunyi air di taman mendadak terlalu jauh. Semua hal di luar sentuhan itu menghilang sebentar.
Senja tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan tangannya. Satu tangannya masih berada di atas sofa, yang lain menggenggam ujung piyama. Dia tidak berani menyentuh Rayhan, bukan karena tidak ingin, tetapi karena keinginan itu sendiri terasa baru dan membuatnya takut pada dirinya sendiri.
Rayhan tidak memperdalam ciuman itu.
Dia hanya menahan satu detik lebih lama, cukup untuk membuat Senja merasakan bahwa singkat bukan berarti ringan. Ada sesuatu yang panas dan hati-hati di sana. Sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan dari rumah Liem, tidak pernah dia cari dari pernikahan kontrak, dan tidak pernah berani dia bayangkan dari Rayhan Wijaya.
Rayhan menarik diri lebih dulu.
Matanya masih sangat dekat.
Senja membuka mata perlahan. Wajah Rayhan tidak sedingin biasa. Ada sesuatu yang retak di sana, sesuatu yang ditahan dengan susah payah.
Dia seharusnya mengatakan sesuatu.
Apa pun.
Tetapi bibirnya masih terasa ditempati oleh ciuman tadi.
Rayhan menurunkan tangannya dari wajah Senja, tetapi tidak langsung menjauh. Ibu jarinya sempat menyentuh sudut bibirnya, sangat ringan, seperti dia sendiri tidak sadar melakukannya.
Senja menggigil kecil.
Gerakan itu membuat Rayhan sadar.
Dia menarik tangannya.
"Maaf," katanya.
Kata itu membuat Senja tersentak. "Untuk apa?"
Rayhan berdiri.
Terlalu cepat.
Sofa yang tadi terasa terlalu sempit mendadak terasa kosong.
"Sudah malam," katanya. Suaranya kembali datar, tetapi tidak sepenuhnya berhasil. "Tidur."
Senja juga berdiri, bingung. "Rayhan."
Dia berhenti, tetapi tidak berbalik.
"Kamu menyesal?" tanya Senja.
Pertanyaan itu keluar lebih rapuh daripada yang dia mau.
Rayhan menutup mata sebentar.
Ketika dia berbalik, wajahnya sudah terkendali lagi, tetapi matanya tidak.
"Aku menyesal karena melakukannya tanpa tahu apakah besok kamu akan merasa terbebani."
Senja menggenggam ujung piyamanya. "Aku tidak merasa terbebani."
"Belum."
"Rayhan."
"Kita punya perjanjian."
Kata itu mengembalikan brankas ruang kerja, kertas pasal, tanda tangan, dan batas tiga bulan ke antara mereka.
Senja merasa panas di pipinya berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit.
"Perjanjian itu tentang paksaan," katanya pelan.
Rayhan menatapnya.
"Tadi bukan paksaan."
Mengucapkannya membuat wajah Senja semakin panas, tetapi dia tidak ingin Rayhan membawa semua rasa bersalah itu sendirian. Dia juga ada di sana. Dia juga tidak menarik tangan. Dia juga menutup mata.
"Aku tahu batasnya," lanjut Senja, suaranya bergetar tetapi jelas. "Aku tahu kenapa pasal itu ada. Aku bersyukur pasal itu ada, karena sejak awal aku takut pada hal yang tidak bisa kutolak."
Rayhan tidak bergerak.
"Tapi kalau setiap sentuhan yang kupilih sendiri dianggap salah hanya karena ada perjanjian, lalu aku tetap tidak punya pilihan, kan?"
Kalimat itu membuat Rayhan benar-benar diam.
Di ruang keluarga yang sunyi, pertanyaan itu terdengar lebih dalam daripada yang Senja rencanakan. Bukan hanya tentang ciuman. Tentang seluruh hidupnya. Tentang pilihan kecil yang selalu diambil orang lain atas namanya.
Rayhan menatapnya dengan sesuatu yang lebih gelap dari penyesalan.
"Aku tidak ingin menjadi orang lain yang mengambil pilihanmu," katanya akhirnya.
"Kalau begitu jangan putuskan sendirian bahwa aku harus menyesal."
Udara berhenti.
Rayhan tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi menahannya. Untuk pria yang selalu punya kalimat tajam, malam itu dia terlihat kehilangan bahasa.
Pada akhirnya, dia hanya berkata, "Tetap tidur."
Senja hampir tertawa karena frustrasi. "Kamu benar-benar..."
"Menyebalkan?"
Kata itu terdengar aneh dari mulut Rayhan.
Senja teringat Lara. Teringat Ko Jefri. Teringat semua orang yang mulai melihat ada sesuatu di antara mereka sebelum mereka sendiri berani menamainya.
"Iya," jawab Senja. "Sangat."
Untuk sepersekian detik, sudut bibir Rayhan bergerak.
Lalu dia mengambil laptop dan dokumen dari meja, seolah membutuhkan benda-benda itu untuk menyelamatkan tangannya dari kembali menyentuh Senja.
"Aku kerja di ruang sebelah," katanya.
"Sekarang?"
"Sekarang."
"Karena kamu sibuk?"
Rayhan menatapnya. Kali ini, kejujurannya kembali muncul, kering dan berbahaya.
"Karena kalau aku tetap di sini, aku mungkin tidak akan mulai pelan."
Jantung Senja jatuh ke perut.
Rayhan tampaknya menyadari kalimat itu terlalu jujur. Dia langsung berbalik, berjalan menuju pintu ruang keluarga.
"Selamat malam, Senja."
Dia pergi.
Pintu ruang kerja di sebelah tertutup beberapa detik kemudian.
Di balik pintu itu, Rayhan berdiri tanpa menyalakan lampu.
Laptop ada di tangannya. Dokumen ada di bawah lengannya. Semua benda yang biasanya mampu mengembalikan pikirannya ke angka, jadwal, dan keputusan bisnis mendadak tidak berguna.
Dia menatap meja kerja yang gelap, lalu menutup mata.
Rasa bibir Senja masih tertinggal.
Lebih buruk lagi, suara Senja juga tertinggal.
Kalau begitu jangan putuskan sendirian bahwa aku harus menyesal.
Rayhan mengangkat tangan ke wajah, menekan pangkal hidungnya. Dia terbiasa mengambil keputusan cepat. Terbiasa menentukan mana yang aman, mana yang berbahaya, mana yang harus dijauhkan sebelum merusak sesuatu.
Senja membuat semua kategori itu tidak lagi patuh.
Di ruang keluarga, Senja tidak tahu Rayhan masih berdiri di balik pintu.
Senja tetap berdiri di samping sofa.
Di layar laptop yang kini tidak ada, bayangan mereka sudah hilang. Di sofa, bantal kecil miring karena tadi tangannya bergerak. Di telapak tangannya, hangat jari Rayhan masih tertinggal.
Dan di bibirnya...
Senja mengangkat tangan perlahan.
Ujung jarinya menyentuh bibirnya sendiri.
Di sana, ciuman singkat itu masih terasa, terlalu nyata untuk disebut kesalahan, terlalu hangat untuk disebut perjanjian.
Dia berdiri lama di ruang keluarga yang sunyi, dengan wajah panas dan jantung yang terus memukul dadanya, sementara di balik pintu ruang kerja, pria yang baru saja menciumnya mungkin sedang berpura-pura membaca dokumen.