NovelToon NovelToon
Sweet Moments

Sweet Moments

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Misteri
Popularitas:339k
Nilai: 5
Nama Author: savetia

Beruntungnya Aku Bersamamu

"Grizella Maheswari"

Aku akan bersamamu, aku akan melakukan yang terbaik, agar mipimu tidak berubah menjadi mimpi buruk lagi, aku berjanji akan selalu ada untukmu mengubah semuanya menjadi indah.

"Erkan Gibra Arsakha"

Kisah seorang gadis yang masih memiliki Trauma di masalalu dan seorang Pria yang akan mengubah semuanya, di sini lah dimana moment buruk itu di rubah menjadi moment yang indah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon savetia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minefieldes

*These minefields that I walk through

 Ladang ranjau ini yang aku lalui

What I risk to be close to you

 Apa yang aku ambil risiko berada di dekat kamu

These minefields keeping me from you

 Ladang ranjau ini menjauhkanku darimu

What I risk to be close to you

 Apa yang aku ambil risiko berada di dekat kamu

Close to you

 Dekat denganmu*

...(Faouzia & John Legend - Minefields)...

"sudah berapa lama kamu kenal Erkan?"

seketika gerakan menyuap makanan itupun terhenti, lalu mengerutkan halisnya seprti sedang mengingat sesuatu "Mungkin sekitar 6tahunan, kenapa?

"gak kenapa-napa, aku hanya penasaran saja Lex"

"aku akan sedikit bercerita, apa kamu ingin mendengarnya Zella?" Tanya Alex menghentikan makanannya menatap Zella dengan serius

saat ini mereka berdua sedang berada di sebuah Cafe, yang tidak jauh dari area Hotel, Alex lah yang mengajak Zella ke Cafe tersebut setelah mereka selesai seminar.

"Hmm.. Ok aku siap mendengarkanya" jawab Zella

"dulu ketika aku selesai masa Residen, aku harus mengurus perusahan, karna aku seorang anak tunggal, yang mau tidak mau harus meneruskan memimpin perusahan, disana juga lah aku bertemu dengan Erkan ?

"Tasya? Upss.. sorry aku gak maksud!" Zella merasa tidak enak perasan karna telah membahas tentang Tasya

Alex mengelengkan kepala tesenyum menatap Zella "Its ok.. Tasya itu sahabatku bukan Kekasiku dan dia juga cinta pertamaku!" terang Alex

"Frist Love ?"

"Hmmm.. mungin sejak kecil aku menyukainya.. bisa di bilang cita monyet" Alex tersenyum ketika mengatkan itu seoalah teringat dengan masalalunya.

"apa kamu pernah mengatakannya?"

senyuman Alex hilang menarik nafas berat " tidak pernah, itulah yang aku sesali sampai sekarang, dia mencintai Erkan, tapi si kanebo kering itu tidak pernah meresponya sama sekali"

" itulah sebabnya kamu membenci Erkan?" Alex menganguk

"2tahun telah berlalu rasa bersalahku begitu besar kepada Tasya, aku tidak bisa menyelamatkan dia dan bayi yang di kandungnya.. padahal aku seorang Dokter, tapi begitu lemah jika berhubungan dengan orang yang kita sayang.. aku berdiri bagaikan patung yang tidak bisa berbuat apa-apa"

Zella hanya diam tidak berkomentar apapun ia membiarkan Alex untuk meluapkan semua prasaannya

"ketika aku mendatangi apartrmenya waktu itu dia sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang menagalir dia menyat pergelangan tanganya"

ketika mendengar itu Zella langsung menurunkan tanganya lalu memegang pergelangan tanganya sendiri

"aku bener-bener syok waktu itu, ketika aku membawanya ke rumah sakit dia sudah tidak bisa di selamatkan karna ke habisan darah, disitu juga aku baru mengetahui dia sedang hamil" lanjut Alex

diam sesaat Alex menundukan kepalanya lalu kembali menatap Zella dengan mata yang memerah "semenjak itu, aku begitu membenci Erkan, aku kira dialah orang yang menghamili Tasya, aku tahu itu di buku harianya, tapi nyatanya semuanya salah, bukan Erkan pelakunya, dia adalah Roy sahabat Erkan "

"Roy?"

"kamu mengenalnya?" Zella mengangguk "sudah pasti kamu mengenalnya karna dia sahabat Erkan, lagipula aku sudah memeberi pelajaran pada si brengsek itu" Alex tersenyum masam

"Maaf Alex aku tidak tahu cara menenagkan seseorang" ujar Zella dirinya tidak tahu harus berkata apa untuk Alex, karna dirinya sendiripun pernah melakukan apa yang di lakukan Tasya.

seakan mengerti Alex tersenyum menatap teduh pada Zella "tidak apa, aku bisa mengerti"

"tapi aku tahu apa yang di rasakan Tasya dulu kenapa melakukan hal tersebut, karna pada saat melakukannya kita tidak ingat orang yang selalu menyanyangi dan berada di dekat kita, akal sehat kita seakan menghilang, yang tersisa hanya ada perasaan ingin mengakhirinya agar semuanya selesai" Terang Zella tersenyum menatap Alex dengan tangan kanan yang terus mengusap pergelangan tangan kirinya yang terdapat bekas luka sayatan disana

sedangkan Alex merasakan ada sesuatu tersyirat dari kata-kata Zella barusan, tapi apa?" seakan ada sesuatu yang di sembunyikan oleh gadis di hadapanya ini, karna dulu ketika Alex mencari tahu tentang Zella sangat minim informasi seperti ada seseorang yang sengaja menyembunyikannya.

"Ok kita berhenti membahas tentang kehidupanku, sekarang bagaimana denganmu dan Erkan, kamu tahu Zella semejak pertama kali aku kenal pria itu, dan pertama kalinya juga aku melihat sosok Erkan sangat berbeda jika bersamamu ?

Zella menyeritkan halisnya"iya! semua orang yang mengenalnya selalu berkata seperti itu, memangnya dulu yang kamu tahu Erkan seperti apa?"

Alex langsung berdecak malas untuk menceritakanya "dia itu irit berbicara, dia tidak akan berbicara jika kita tidak bertanya, sekalinya berbicara hanya seperlunya atau sekretaris dan ajudanya yang mewakili"

Zella hanya tertawa mendengarnya ia sudah bisa menebaknya, pria itu memang benar-bener menyebalkan, Zella masih ingat ketika pertemuan mereka di rumah sakit, dan bagaimana menyebalkanya ketika pria itu menjadi pasienya, justru sekarang malah menjadi kekasihnya

"aku liat!... kamu juga terlihat bahagia jika bersamanya?"

"hmmm.. ya aku bahagia bersamanya " jawab Zella dengan yakin namun berbeda dengan hatinya entah kenapa dirinya juga merasaakan takut secara bersamaan, bukan takut dengan sosok Erkan tapi takut tentang sesuatu yang akan terjadi, entah itu apa ia sendiripun tidak tahu. apapun itu Zella akan terus berada di dekat Erkan.

sedangkan Alex tersenyum mendengar jawaban dari Zella, sepertinya memang dia tidak akan pernah menemukan celah untuk masuk kedalam hati gadis yang ada di hadapanya ini, karna sejak awal gadis itu sudah membentengi hatinya.

"Aku akan berhenti bekerja di rumah sakit?"

"hah!... apa?... Kenapa?... " tanyanya masih tidak percayapa yang di dengarnya tadi

"aku akan resign dari Premier Hospital, aku sudah mengajukanya pada Dokter Adrian"

"kenapa kamu berhenti Lex.. apa karna aku?"

"Ya! benar.." bisik hati Alex

"Tidak..Tidak" sanggahnya menggelengkan kepalanya " jangan salah paham dulu.. aku memang akan fokus kembali untuk mengurus perusahan, memang sih selama ini Fine-fine saja mengerus keduanya, hanya saja kali ini aku ingin lebih fokus pada bisnis"

Zella bernafas lega mendengar penjelasan Alex karna dirinya takut jika alasan Alex berhenti karna dirinya, sebenarnya Zella masih tidak enak hati karna kejadian semalm ketika Alex memyatakan prasaanya

"tenang aku masih punya waktu 2bulan lagi bekerja disana, karna itu persyaratan dari Dokter Adrian, mangkanya aku mengajakmu makan di Cafe ini anggap saja sebagi perpisahan, mumpung bodyguardmu itu sedang tidak ada disini. jadi aku punya kesempatan bisa berdua denganmu"

Zella tertawa kecil ketika mendengar itu, begitupun dengan Alex

"sangat di sayangkan jika kamu berhenti, tapi aku juga tidak bisa memaksa karna itu sudah menjadi pilihanmu" ujar Zella di angguki oleh Alex

"sebenarnya ada hal penting yang sedari tadi aku ingin tanyakan padamu, darimana kamu tahu tentang masalahku dan Erkan?.."

Degh!...

***

"selamat sore pak Erkan, saya tidak menyangka jika anda datang ke klinik saya ini, apa yang ingin ada ketahui lagi, bukankah saya sudah menceritakan semuanya kepada anda waktu itu"

"jangan terlalu formal Dokter Delina" jawab Erkan dengan intonasi yang tenang namun terkesan angkuh terlihat dari cara duduknya di sofa dengan menyilangkan kakinya di hadapan Delina

"Ok!.. jadi lo ada urusan apa datang kesini, mau tahu tentang Zella kan gue udah ceritain yang gue tahu SEMUANYA" jawab Dina dengan menekankan kata Semua agar pria di hadapanya ini mengerti

"bukan tentang Zella, ini tentang gue"

Dina menaikan sebelah alisnya menatap Erkan dengan bingung "Maksud lo?"

"lo seorang Psikiater pasti tahu ada seseuatu yang salah dalam diri gue" Erkan menegakan pungungnya yang tadi bersandar di sofa menatap Dina dengan serius

Dina hanya menganguk dan tersenyum mulai mengerti kemana arah pembicaraan mereka " iya tentu!.. apa yang bisa saya bantu ?.. tanyanya dengan formal

Erkan melirik Robbi yang ada di sampingnya yang hanya diam dan berdiri, lalu menyerahkan sebuah dokumen dan di letakanya di meja "Ini adalah riwayat kesehatan Tuan, saya harap Dokter bisa menjaga rahasia ini, jika tidak..." Robbi menjeda ucapanya melirik Erkan

sedangkan Dina menelan ludahnya sendiri tengorokanya seketika merasa kering "apa dirinya saat ini sedang di ancam?" pikirnya

"kamu tidak perlu menakutinya Rob, ingat dia ini sehabat kekasihku" ujar Erkan tersenyum ramah.

namun entah kenapa Dina merasa senyuman itu mengerikan di tambah lagi tatapan Erkan seakan sedang memperingatinya berbeda dengan kata-kata yang pria itu ucapkan, tidak banyak bicara Dina meraih dokumen yang ada di meja membuka dan langsung membacanya, lembar demi lembar Dina membaca dengan sangat teliti riwayat kesehatan tentang Erkan.

"apa Zella juga tahu tentang ini ?" tanyanya Dina namun matanya masih fokus pada lembaran kertas yang di bacanya

Erkan memberikan kode pada Robbi untuk meninggalkan ruangan tersebut, Robbi yang mengerti hanya mengangguk patuh dan keluar dari ruangan tersebut dengan diam

"Dia sudah mengetahuinya, tapi dia tidak mengetahui dengan efek yang di timbulkan, dan itu hanya berlaku pada Zella"

"Kamu sudah merasakan suatu Emosi tapi justru cenderung berlebihan atau mengarah ke Intermittent Explosive Disorder"

"maybe!.." jawab Erkan seraya mengangkat bahunya " tapi untuk saat ini aku masih bisa mengontrolnya, atau pergi jika aku sedang marah untuk melampiaskanya di tempat lain" lanjutnya

"karna aku tidak ingin menyakitinya seperti kejadian di paris dulu " bisik Erkan dalam hati

"Ok!...jika anda bersedia" Dina meletakan kembali dokumen yang di bacanya tadi kemeja " kita akan memulai untuk konseling pertama kita anda siap Pak Erkan?..."

2 jam sudah berlalu Erkan baru saja meningalkan ruangan Dina yang kini sedang meneguk minumanya yang ada di meja "Huh.. gila!.. " gumam Dina dengan mata yang melihat ke arah pintu dimana Erkan baru saja keluar dari sana

Dina merasa simpati terhadap Erkan karna pasti tidak mudah bagi pria itu memiliki gangguan kepribadian, Zella dirinya jadi teringat dengan sahabatnya itu, yang juga memiliki Terauma yang berkepanjangan akibat masalalunya.

Erkan dan Zella keduanya bukan hanya saling mencintai ataupun saling membutuhkan tetapi saling menutupi dan melengkapi kekuranganya masing-masing, ataupun bisa saja saling menyembuhkan berkat Zella Erkan mengalami perubahan dan berkat Erkan Zella merasa di lindungi, atau bisa saja keduanya..

Akhhh.. Entahlah dirinya benar-benar pusing untuk memikirkannya, Dina hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mereka dan berharap keduanya akan berakhir dengan Happy Ending, hanya itu yang Dina harapkan.

***

Erkan memejamkan matanya dengan punggungnya bersadar pada jok belakang mobil "kapan mereka akan bergera bertindak?.. benar-benar lambat "

"malam ini Tuan.." Robbi melirik sekilas Erkan melalui kaca spion " intelijen dari itali juga sudah membentuk time dengan pihak kepolisian di sini, setau saya salah satu anggota Bianca juga memiliki sniper terbaik " lanjutnya

"Terbaik?..." Cibir Erkan "seharusnya mereka bisa menangkapnya 2tahun lalu, atau sejak aku memgambil alih Winchester 7tahun lalu dimana pertama kalinya kedoknya terungap, tapi nihil.. si tua itu selalu berhasil lolos, selama ini aku diam karna masih menghormati hukum yang berlaku, jika kali ini gagal aku sendiri yang akan menghabisinya!.." tegasnya

Robbi hanya diam tidak ingin lagi bersuara karna dirinya juga sedikit merasa bersalah kejadian 7tahun lalu dia lah yang menjadi ketua timenya waktu itu, ini jugalah salah satu alasan kenapa dirinya berhenti menjadi angota Badan intelijen Itali dan lebih mengabdikan dirinya pada Erkan.

Erkan membuka matanya lalu melihat ke arah luar "kamu menyukai Bianca?"

Glek!...

Robbi membasahi tenggorokanya yang terasa kering, pertanyaan apa ini pikirnya "maksud anda Tuan?...." tanya Robbi melirik kembali ke arah spion

"karna secara tidak langsung kamu memujinya tadi"

"tidak Tuan, saya hanya... " kata-kata Robbi terhenti ketika Tuanya itu mengibas-ngibaskan lenganya tanda tidak ingin mendengar,

Robbi hanya bisa menghelanapas namun jatungnya sudah berdebar-debar denga kencang "Jadi ternyata Tuannya itu tau?" pikirnya

suara dring ponselpun terdengar memecah keheningan yang ada dalam mobil, dan itu suara dering dari ponsel Erkan dan dengan cepat Erkan langsung mengangkatnya

^^^"Gila!... Jadi Zack udah berani temuin Zella?"....^^^

^^^tanya seseorang di sebrang telpon, Erkan langsung menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya karna suara orang itu cukup keras^^^

"Hmmm.."

^^^"apaan Hmm.. doang gue serius berengsek!"^^^

"Terus lo mau apa?.."

^^^"Sial!.. sebenernya gue udah gak mau berurusan lagi dengan mereka, cukup menyelamatkan Zack sebuah kesalahan buat gue, Buku itu lo harus dapetin buku itu?"^^^

"Buku?"

^^^"iya! semacam buku jurnal. semua kejahatan yang di lakukan Zack tertulis disana, karna dulu gue sempet membacanya sedikit, disana ada kaitanya dengan kematian Delio Winchester ?"^^^

Degh!....

mendengar nama kakeknya di sebutkan membuat raut wajah Erkan berubah seketika, jemarinya mengepal dengan kuat, cengkraman di ponselnyapun kiat mengerat

"apa yang lo tahu?" tanyanya dingin

^^^"gue cuman baca sekilas ketika buku itu di buka oleh Zack, di sana gue liat ada tulisan Delio Winchester morire "^^^

(dalam bahasa Itali 'Morire : Mati')

"Ok! cukup... "

^^^"Ok gue harep lo bisa ambil itu buku!"^^^

"Hmmm"

..."Tut".......

seperti biasa Erkan selalu mematikan telponya lebih dulu

"Kita ikut bergabung nanti malam"

"tapi Tuan apa lebih baik, kita menunggu saja, saya yakin kali ini mereka akan menangkap Zack, kita percayakan saja semuanya pada mereka ? saran Robbi sebenernya ia hanya mengingat pesan Bianca agar Erkan tidak ikut campur kali ini.

Erkan memejamkan kembali matanya dan mengela nafas "katakan pada Bianca, ketika melakukan pengeledahan, suruh dia mencari buku jurnal milik Zack sampai dapat?" tegasnya

"Baik Tuan "

seakan menyadari sesuatau Erkan kembali membuka matanya lalu segera membuka ponselnya untuk mengirimkan pesan pada seseorang, tidak lama kemudian pesanyapun di balas, sehingga sebuah senyuman terukir di bibir Erkan

Ternyata bener dugaanya karna tidak mungkin Alex mengatakan itu di telpon tadi, jika ada seseorang yang memberitahunya, dan orang tersebut adalah kekasihnya,

Brengsek!.. memang Alex benar-benar mencuri kesempatan, tapi untuk kali ini Erkan akan membiarkanya, dan tidak untuk lain kalinya.

Erkan kembali tersenyum ketika Zella mengatainya, ya! yang di katai Zella benar adanya, Zella itu hanya untuknya, Erkan jadi teringat ketika dia mengajak Kekasihnya itu menikah, Erkan benar-benar serius akan hal itu, mungkin dia akan kembali melamar Zella dengan cara yang benar...

yang tadinya hanya tersenyum kini Erkan tertawa lepas hanya karna sebuah pesan dari kekasihnya, Erkan benar-benar seperti anak remaja yang baru pertama kali mengenal cinta, tapi memang benar bukan Zella itu cinta pertama Erkan

di balik kemudi Robbi hanya bisa tersenyum senang melihat Tuanya yang tertawa lepas, Zella benar-benar membawa berpengaruh besar dalam kehidupan Erkan.

...***...

Intermittent Explosive Disorder (IED) adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengontrol dorongan berbuat agresif. Sehingga, orang yang mengalami gangguan tersebut seringkali melampiaskannya dengan perbuatan agresif, seperti merusak barang atau menyerang orang lain.

1
Nury Laksana Joyo Sentono
lama gak up loh thor
Nur Aenia
episode yg menegangkan Thor..😮😮
kreen ditunggu episod berikutnyaaaa...😍
Savetia Ningrum Bp: ok makasih atas dukungannya ☺
total 1 replies
Nur Aenia
mana lg nihh kelanjutanya thor...🤔
g sabaaar nunggu kelanjutanyaaaaaa😀😀
Nur Aenia
semakin penasaran aq tuuuhh..
Nur Aenia
ditunggu kelanjutanya Author giamanaa
bikin penasaran seru menegangkan...😀😀
Savetia Ningrum Bp
Salam kenal.. makasih nisa😊
Erik Siculay
keren
Erik Siculay
keren😍
Anita Jenius
Semangat up thor..
4 like buatmu.
Savetia Ningrum Bp: thanks u 🙏💕
total 2 replies
Anita Jenius
Like full di ceritamu thor..
Semangat ya
Anita Jenius
Hadir kak..
7 like buatmu.
Mari kita saling dukung.
Semangat up terus ya..
teh Ryu_Za
aku syukaaa paper cuts... suara trio cbx dabest 👍👍👍
Savetia Ningrum Bp: EXOL 😍
total 1 replies
Maulidya Puspasari U
👍
Deasy Verawaty Manangkalangi
bucin akut... lanjut
Anita Jenius
Hadir kak..
8 like buatmu.
Mari kita saling dukung.
Semangat up terus ya..
IG @zmling_
Hai aku mampir meramaikan cerita mu

yuk mampir di "Mr. Mafia or Mr. Psychopath?" juga ya

Semangat
ᨆᨔᨙᨂᨛᨑᨛ
hadirrr
Ansifa: Permisi kak, izin promote.
Mampir Yuk ke karya ku

* Cinta Sang CEO Tampan
* Pesona Prajurit Tampan
* Cold Woman Itu Istriku

Terimakasih🤗
total 1 replies
Mhee
bikin penasaran 😳 ditunggu nexk up nya yaa
Ansifa: Permisi kak, izin promote.
Mampir Yuk ke karya ku

* Cinta Sang CEO Tampan
* Pesona Prajurit Tampan
* Cold Woman Itu Istriku

Terimakasih🤗
total 1 replies
Mhee
ini lanjutannya mana,,,??
Savetia Ningrum Bp: lanjutanya baru Up kk ☺
total 1 replies
HIATUS
vreya cantiiik 😍
Ansifa: Permisi kak, izin promote.
Mampir Yuk ke karya ku

* Cinta Sang CEO Tampan
* Pesona Prajurit Tampan
* Cold Woman Itu Istriku

Terimakasih🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!