Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bumil yang Bosan
"Ngapain di sini?" tanya Aya yang sedang duduk di kasir sambil menatap Naresta curiga.
"Bosan, hehe," jawab Naresta dengan senyum kecil.
"Masuk sana, Mbak."
Naresta langsung mengerucutkan bibirnya.
"Lho, aku baru keluar."
Semenjak satu minggu terakhir, Naresta lebih banyak berada di dalam rumah dan hampir tidak pernah ikut menjaga toko. Namun, hari ini ia terpaksa keluar karena seluruh karyawannya akan menerima gaji.
"Hari ini kalian gajian, lho. Makanya aku keluar," ucap Naresta sambil membawa buku catatan dan beberapa amplop.
Aya langsung melihat amplop-amplop tersebut.
"Kan bisa saya yang bagikan, Mbak."
"Nggak mau."
"Kenapa?"
"Aku yang punya toko, masa setiap gajian karyawan malah nggak pernah kelihatan."
Aya terkekeh.
"Alasan saja. Padahal sebenarnya bosan di dalam."
Naresta langsung tertawa.
"Hehe... ketahuan."
Dicky yang sedang lewat membawa barang ikut menyahut.
"Mbak Naresta keluar karena gajian atau kangen toko?"
"Dua-duanya."
"Nah, jujur akhirnya," sahut Aya.
Naresta berjalan perlahan menuju kursi di dekat kasir, lalu duduk.
"Tenang. Aku cuma duduk di sini."
Aya langsung menunjuknya.
"Nggak boleh ikut angkat barang."
"Iya."
"Nggak boleh berdiri lama."
"Iya."
"Nggak boleh ikut melayani kalau toko ramai."
"Iya, Bu Aya."
Aya langsung melotot.
"Mbak!"
Naresta tertawa kecil.
Tak lama kemudian, Chika datang dari arah rak sambil membawa catatan stok.
"Mbak Naresta sudah keluar?"
"Iya. Hari ini kan kalian gajian."
Mata Chika langsung berbinar.
"Wah, saya sampai lupa tanggal."
Dicky langsung menyahut dari kejauhan.
"Kalau gajian kok bisa lupa?"
Chika tertawa.
"Kan baru pertama kali gajian di sini, Mas."
Naresta tersenyum, lalu mulai memeriksa nama-nama karyawannya satu per satu.
"Aku sudah siapkan semuanya. Nanti bergantian, ya."
Aya melirik amplop di tangan Naresta.
"Sudah dihitung semua?"
"Sudah dari tadi malam."
"Mas Elvan bantu?"
Naresta langsung tertawa kecil.
"Mas Elvan yang jagain aku menghitung. Setiap beberapa menit malah disuruh berhenti."
Seolah merasa sedang dibicarakan, Elvan muncul dari arah dalam.
"S-sayang."
Naresta menoleh.
"Nah, pengawasnya datang."
Elvan berjalan mendekat sambil membawa botol minum.
"M-minum."
Aya langsung tertawa.
"Tuh, kan. Baru juga keluar sudah dicari."
Naresta menerima botol tersebut.
"Mas, aku cuma mau bagikan gaji karyawan."
Elvan mengangguk.
"I-iya. T-tapi j-jangan c-capek."
"Iya, Mas."
Naresta mengusap perutnya yang sudah semakin besar, lalu menatap para karyawannya sambil tersenyum.
"Sudah, kalian selesaikan pekerjaan dulu. Nanti satu-satu ambil gajinya."
Aya langsung mengangkat tangan.
"Saya pertama!"
Dicky menoleh.
"Lho, tadi katanya Mbak Naresta suruh masuk."
Aya langsung menjawab santai.
"Itu beda urusan, Mas. Kalau urusan gajian, saya paling depan."
Naresta langsung tertawa mendengarnya.
"Baiklah, ini gajimu," ucap Naresta sambil menyerahkan satu amplop kepada Aya.
"Terima kasih, Mbak," jawab Aya sambil menerimanya.
Namun, baru saja memegang amplop tersebut, Aya langsung mengernyit. Ia membolak-balik amplop yang terasa lebih tebal dari biasanya.
"Mbak, kenapa tebal betul?"
Naresta tersenyum santai.
"Bonus kalian."
Mata Aya langsung membesar.
"Bonus?"
"Iya."
Aya membuka sedikit amplopnya untuk melihat isinya. Wajahnya langsung berubah terkejut.
"Mbak, ini banyak banget."
"Memangnya kenapa?"
"Ini benar buat saya?"
Naresta langsung terkekeh.
"Ya iyalah. Namamu saja ada di amplopnya."
Dicky dan Chika yang mendengar percakapan itu langsung menoleh.
"Bonus apa, Mbak?" tanya Dicky.
Naresta mengangkat beberapa amplop yang masih berada di tangannya.
"Kalian semua dapat."
Chika langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Saya juga, Mbak?"
"Iya."
"Tapi saya kan masih baru."
Naresta mengangguk.
"Tetap dapat. Memang nggak sebanyak yang sudah lama kerja di sini, tapi ada."
Chika langsung tersenyum lebar.
"Terima kasih, Mbak."
Aya masih menatap isi amplopnya.
"Tapi kenapa tiba-tiba kasih bonus sebanyak ini?"
Naresta tersenyum.
"Karena beberapa bulan terakhir toko semakin ramai."
Ia memandang para karyawannya satu per satu.
"Dan sejak aku hamil, kalian juga yang lebih banyak mengurus toko."
Aya langsung menggeleng.
"Kan memang kerjaan kami, Mbak."
"Aku tahu."
Naresta menatap Aya.
"Tapi aku juga tahu kalian kerja lebih banyak sejak aku jarang keluar."
Dicky berjalan mendekat.
"Jangan kebanyakan kasih bonus juga, Mbak. Nanti malah Mbak yang rugi."
Naresta langsung tertawa kecil.
"Aku sudah hitung semuanya. Tenang saja."
Aya memeluk amplopnya di depan dada.
"Kalau begini, saya tambah nggak boleh membiarkan Mbak kerja."
Naresta langsung mengerutkan dahi.
"Lho, hubungannya apa?"
"Biar saya kerja yang banyak. Siapa tahu bulan depan bonus lagi."
Dicky langsung tertawa.
"Ujung-ujungnya ternyata itu."
Aya ikut tertawa.
"Bercanda."
Naresta menggelengkan kepalanya sambil mengambil amplop berikutnya.
"Mas Dicky."
"Iya, Mbak."
"Ini gaji sama bonusnya."
Dicky menerimanya dengan kedua tangan.
"Terima kasih banyak, Mbak."
"Sama-sama."
Naresta kemudian mengambil amplop lainnya.
"Chika, sini."
Chika langsung berjalan mendekat dengan wajah semringah.
Naresta tersenyum melihat para karyawannya.
Baginya, memberikan sedikit lebih banyak kepada mereka bukanlah kerugian. Selama beberapa bulan terakhir, merekalah yang membantu menjaga toko ketika dirinya tidak lagi mampu bekerja seperti biasanya.
"Mbak, padahal saya baru di sini, lho," ucap Chika sambil memegang amplop gajinya.
Naresta tersenyum.
"Memangnya kenapa kalau baru?"
"Ya saya nggak enak, Mbak. Baru kerja sebulan sudah dapat bonus."
"Ambil saja."
Chika masih terlihat ragu.
"Tapi, Mbak—"
"Nggak ada tapi-tapi."
Naresta menunjuk amplop di tangan Chika.
"Itu memang hak kamu. Selama sebulan ini kamu juga sudah bantu banyak."
Aya yang berdiri di samping langsung menyahut.
"Ambil saja, Chika. Kalau dikasih Mbak Naresta jangan banyak protes."
Chika menoleh kepada Aya.
"Saya terharu, Mbak."
Aya langsung terkekeh.
"Terharu boleh, tapi jangan sampai nangis. Nanti dikira kita habis dimarahi bos."
Naresta tertawa kecil.
"Memangnya aku pernah marah sama kalian?"
Dicky langsung menyahut.
"Belum pernah, Mbak."
"Belum pernah?" ulang Naresta sambil mengangkat alis. "Berarti kalian menunggu aku marah?"
"Bukan begitu maksud saya, Mbak."
Aya langsung tertawa melihat Dicky yang salah bicara.
"Makanya kalau ngomong dipikir dulu, Mas."
Dicky menggeleng pasrah.
Chika kembali menatap amplopnya.
"Terima kasih banyak, Mbak. Saya benar-benar nggak menyangka."
"Sama-sama."
Naresta tersenyum lembut.
"Selama kalian bekerja dengan baik dan jujur, aku juga akan menghargai pekerjaan kalian."
Aya langsung mengangkat amplopnya.
"Kalau begitu, bulan depan saya tambah rajin."
Naresta menatapnya curiga.
"Karena mau bonus lagi?"
Aya langsung tertawa.
"Nggak salah juga, sih."
"Mbak Aya!"
Semua yang berada di sekitar kasir langsung tertawa mendengar jawaban Aya.