NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Jejak Ilmu yang Hilang

Setelah kembali ke tanah kelahiran dan hidup dalam kedamaian selama beberapa tahun, Cepot dan Dawala tidak pernah benar-benar beristirahat sepenuhnya. Sebagai penjaga keseimbangan, mereka tetap peka terhadap setiap perubahan halus yang terjadi di alam dan kehidupan manusia.

Suatu sore, saat mereka sedang duduk di bawah pohon beringin tua di tepi desa, datanglah seorang utusan dari Kerajaan Pasir Laut — wilayah yang terletak di pesisir timur, terkenal sebagai tempat berkumpulnya para ahli ilmu dan penjaga pengetahuan leluhur. Wajah utusan itu tampak cemas dan tergesa-gesa.

“Mohon bantuan Tuan Cepot dan Tuan Dawala,” katanya sambil membungkuk hormat. “Di tempat kami, terjadi hal yang sangat aneh. Buku-buku tua, tulisan di dinding candi, bahkan ingatan para tetua tentang ilmu dan ajaran leluhur perlahan menghilang seolah terhapus oleh angin. Orang-orang mulai lupa cara mengolah tanah, cara menyembuhkan penyakit dengan tumbuhan, bahkan cara membaca tanda-tanda alam. Jika terus berlanjut, seluruh warisan pengetahuan yang dibangun selama ribuan tahun akan lenyap selamanya.”

Mendengar penjelasan itu, Cepot dan Dawala saling berpandangan. Ini adalah masalah baru — bukan keserakahan biasa, bukan juga makhluk jahat yang menyerang secara kasar, tapi sesuatu yang menyerang akar keberadaan sebuah peradaban.

“Kami akan segera berangkat,” kata Cepot dengan tegas. “Pengetahuan adalah jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Jika ia hilang, maka manusia akan kembali ke dalam kegelapan ketidaktahuan.”

Perjalanan menuju Kerajaan Pasir Laut memakan waktu empat hari. Begitu tiba, mereka langsung merasakan suasana yang berbeda. Di perpustakaan kerajaan yang dulunya penuh dengan gulungan tulisan dan buku, kini banyak rak yang kosong, dan tulisan yang tersisa terlihat pudar seolah larut ke dalam kertas. Para tetua duduk termenung, menggelengkan kepala karena tidak bisa mengingat apa yang dulu mereka ketahui dengan baik.

Raja menyambut mereka dengan wajah penuh kekhawatiran. “Sudah berminggu-minggu hal ini terjadi. Kami telah mencoba segala cara, namun tidak ada yang bisa menghentikannya. Bahkan benda-benda pusaka yang menyimpan jejak pengetahuan juga mulai kehilangan kekuatannya.”

Malam itu, Cepot dan Dawala pergi ke tempat yang dianggap sebagai pusat penyimpanan seluruh ingatan kerajaan — Gua Tulisan Abadi. Di dinding gua itu terukir segala peristiwa, ajaran, dan hukum alam yang pernah diketahui. Namun saat mereka masuk, terlihat jelas: ukiran-ukiran itu perlahan memudar, dan dari celah dinding keluar kabut berwarna abu-abu pucat yang terasa hambar dan kosong.

“Ini bukan kebetulan,” gumam Cepot sambil mengamati dengan cermat. “Ada yang sedang menarik dan menampung segala jejak ingatan dan pengetahuan ini, bukan untuk dipelajari, tapi untuk disimpan dan dikuasai seorang diri.”

Belum sempat mereka melangkah lebih jauh, kabut itu berputar membentuk sosok lelaki bertubuh tinggi kurus, mengenakan jubah berwarna kelabu yang tertutup tulisan-tulisan yang terus bergerak dan berubah. Matanya kosong, namun suaranya terdengar penuh rasa bangga.

“Siapa yang berani mengganggu tempat ini? Aku adalah Ki Hapus, yang telah mengumpulkan segala pengetahuan yang tersebar di mana-mana. Jika semua hanya ada dalam diriku, maka tidak akan ada lagi kesalahan, tidak ada lagi pertengkaran, dan tidak ada lagi yang salah paham — karena hanya aku yang tahu segalanya!”

Dawala mengerutkan dahi. “Itu salah besar! Pengetahuan bukan untuk disimpan sendirian agar menjadi kekuasaan, tapi untuk dibagikan agar semuanya bisa tumbuh dan hidup bersama. Jika hanya satu orang yang memegang semuanya, maka peradaban akan mati, karena tidak ada yang melanjutkan dan mengembangkannya!”

Ki Hapus tertawa dingin. “Aku lebih tahu apa yang terbaik! Pengetahuan yang tersebar membuatnya disalahgunakan, diubah sesuka hati, dan seringkali membawa kerusakan. Jika ada padaku saja, ia akan tetap murni dan utuh!”

Ia segera menggerakkan tangannya, mengarahkan aliran kabut ingatan untuk menyelimuti Cepot dan Dawala, berusaha menghapus sementara ingatan mereka agar mereka lupa tujuan datang ke sini. Namun, begitu kabut itu mendekat, Golek Pancasona yang tersimpan di pinggang Cepot secara otomatis memancarkan cahaya keemasan yang hangat, menolak kabut itu dan mengembalikan kejelasan pikiran mereka.

“Kau menyalahartikan makna pengetahuan,” kata Cepot tegas. “Pengetahuan itu hidup selama ia dipelajari, dipraktikkan, dan diteruskan. Jika ia hanya terkurung dalam satu tempat atau satu orang, ia akan menjadi mati, kaku, dan akhirnya kehilangan maknanya sendiri. Kau bukan menjaganya, tapi mengurungnya hingga ia perlahan memudar dan mati.”

Cepot mengangkat pusakanya, cahayanya menyebar ke seluruh gua dan menembus jubah Ki Hapus. “Kembalikanlah apa yang telah kau kumpulkan! Biarkan pengetahuan itu kembali ke tempatnya, mengalir seperti air yang memberi kehidupan kepada siapa saja yang mau mempelajarinya dengan hati yang terbuka!”

Saat cahaya itu menyentuh tubuhnya, Ki Hapus terasa terguncang. Ia merasakan bahwa segala pengetahuan yang ia simpan justru terasa berat dan semakin lemah, tidak sekuat saat masih tersebar dan digunakan oleh banyak orang. Ia menyadari kesalahannya — keinginannya untuk menjaga agar tidak disalahgunakan justru membuatnya menghilangkan sifat asli dari ilmu itu sendiri.

“Jadi… selama ini aku salah? Aku pikir melindungi dengan menyimpan, tapi ternyata aku hanya membunuhnya…” gumamnya dengan suara yang berubah lembut.

Ia pun membuka ikatan yang ia buat, dan perlahan segala tulisan, ingatan, serta pengetahuan yang terserap mengalir kembali ke tempat asalnya — menempel lagi di dinding gua, kembali ke halaman-halaman buku, dan masuk kembali ke dalam ingatan para tetua dan rakyat. Cahaya kehidupan pun kembali menyelimuti seluruh kerajaan.

Setelah semuanya pulih, Ki Hapus memohon maaf dan berjanji akan menjadi penjaga yang sesungguhnya — bukan dengan mengurung, tapi dengan mengingatkan dan membimbing agar ilmu-ilmu itu digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab.

Meninggalkan Kerajaan Pasir Laut yang kembali ceria, Cepot dan Dawala melangkah dengan pelajaran baru: bahwa kebijaksanaan sejati bukan hanya mengetahui banyak hal, tapi juga tahu kapan dan bagaimana membagikannya agar menjadi berkah bagi banyak orang.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!