Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.
Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.
Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!
Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?
#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern
#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa
#ZeroToHero #BenciJadiCinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketuk Palu Likuidasi dan Saldo Akhir yang Bersih
Ruangan kantor cabang Tomang yang tadinya megah oleh distopia mistis, kini perlahan mulai mengelupas seperti cat dinding murahan yang tersiram air keras. Marmer hitam yang tumbuh dari lantai menyusut, ambles kembali ke dalam bumi, menyisakan karpet abu-abu kantor yang baunya apek karena AC mati. Meja-meja kubikal yang sempat bergeser membentuk ruang sidang gaib, kini kembali ke posisi semula—berantakan, penuh tumpukan kertas, dan berdebu.
Namun, hawa dingin yang menusuk tulang belum sepenuhnya hilang. Di tengah ruangan, ketujuh dukun pendiri firma The Seven Actuariesmasih tersungkur di atas lantai. Jubah hitam tenunan tradisional mereka yang tadinya terlihat berwibawa dan mahal, kini robek di sana-sini, memperlihatkan kemeja sutra mereka yang penuh dengan noda cairan hitam kental—darah gaib yang keluar akibat serangan balik energi spiritual mereka sendiri.
"Pailit... Kami tidak mungkin pailit..." Sang pemimpin dukun mengerang, tangannya yang keriput gemetar hebat mencoba mengumpulkan patahan tongkat besi berujung kayunya. Mata hitam pekatnya yang tanpa bagian putih itu kini bergetar, memancarkan ketakutan yang belum pernah dia rasakan selama dua puluh tahun menimbun kekayaan mistis di lereng Gunung Lawu. "Kami sudah mengunci semua aset. Kami sudah merekayasa laporan takdir! Bagaimana bisa anak magang ingusan seperti kamu menghancurkan struktur modal kami?!"
Dika berdiri tegak di depan mereka. Pijakan kaki telanjangnya masih memancarkan riak cahaya keemasan setebal sepuluh sentimeter, membuat karpet di bawahnya tampak seperti permukaan air danau yang tenang di pagi hari. Pena Audit Langit yang berbentuk kuas raksasa dari jalinan cahaya emas padat masih bertengger dengan anggun di genggaman tangan kanannya. Aura encok dan wajah lempeng Dika yang biasanya bikin kasihan, kini lenyap total. Yang ada hanyalah sosok Kurator Utama Karma Purba yang agung, dingin, dan tidak bisa disuap oleh apa pun.
"Struktur modal kalian dibangun di atas fondasi yang fiktif, Mbah," suara Dika bergaung lembut, namun getarannya membuat kaca-kaca jendela kantor yang tersisa ikut bergetar. "Kalian mengira doa anak-anak yatim di panti asuhan itu adalah komoditas tak bertuan yang bisa kalian kapitalisasi sesuka hati. Kalian pikir sisa umur para pekerja magang yang kalian peras lewat kontrak kerja gaib itu adalah beban penyusutan yang bisa dihapus dalam pembukuan? Kalian salah besar."
Dika melangkah maju satu langkah. Setiap kali kakinya menyentuh lantai, terdengar bunyi tingyang nyaring, mirip bunyi dentingan bel kuno yang biasa digunakan untuk membuka pasar saham kuno.
"Dalam standar akuntansi langit, setiap tetes air mata, setiap keringat yang tidak dibayar, dan setiap doa yang kalian rampas adalah utang jangka pendek yang berbunga darurat," lanjut Dika. Dia mengangkat kuas emasnya, lalu mengarahkannya ke udara terbuka di atas kepala ketujuh dukun tersebut. "Proses Likuidasi: Penarikan Aset Sita Jaminan!"
Dika mengayunkan kuasnya membentuk gerakan melingkar yang tajam. Seketika itu juga, dari ujung kuas emas keluar pusaran angin spiritual berwarna keemasan yang berputar cepat di atas kepala para dukun. Pusaran angin itu bertindak seperti vakum raksasa.
"AAAKKKHHH!"
Dukun wanita yang memegang keris berbentuk grafik candlestickmenjerit histeris ketika dari dadanya mendadak melesat keluar ribuan pendar cahaya berwarna-warni. Cahaya-cahaya itu adalahSoul Units—energi kehidupan, keberuntungan, dan jatah umur yang selama dua puluh tahun ini mereka curi dari ribuan manusia demi memperkaya diri dan klien-klien korporat mereka.
Tidak hanya cahaya, benda-benda pusaka mereka pun mulai retak. Keris candlestickitu patah menjadi tiga bagian, kehilangan semua pendar mistisnya dan berubah menjadi besi berkarat biasa. Sempoa dari tulang manusia yang dipegang dukun kedua meledak menjadi serpihan debu putih setelah seluruh biji sempoanya terlepas dan tersedot masuk ke dalam pusaran emas milik Dika.
"Sembilan juta Soul Units... semuanya dikembalikan ke rekening asal masing-masing pemilik sah takdir," gumam Lina yang berdiri beberapa langkah di belakang Dika.
Lina menyeka darah tipis yang sempat keluar dari sudut lubang telinganya. Matanya berbinar melihat bagaimana pusaran cahaya emas itu memilah-milah pendar energi tersebut dengan akurasi yang luar biasa. Sebagian besar cahaya itu melesat keluar menembus atap kantor, terbang menuju lereng Gunung Lawu, menuju panti asuhan tempat Dika dibesarkan, dan menuju rumah-rumah para mantan pekerja magang yang selama ini hidup menderita dan mati muda akibat ulah The Seven Actuaries.
Namun, ada sebagian cahaya keperakan yang langsung meluncur ke arah belakang ruangan—tepat ke arah Pak Bambang dan teman-teman sekantor lainnya yang baru saja terbebas dari rantai hitam.
"Uhuk! Uhuk!" Pak Bambang tersedak hebat. Kulit wajahnya yang tadi sempat keriput dan layu dalam hitungan detik, mendadak kembali kencang. Warna abu-abu di rambutnya berkurang, digantikan kembali oleh warna hitam rambut alaminya. Rasa lelah kronis dan stres kerja bertahun-tahun yang biasanya menggelayuti pundak gemuknya mendadak menguap begitu saja.
"Pak... Pak Bambang? Kok Bapak kelihatan... agak mudahan ya?" Dika (versi manusia yang penakut) sempat-sempatnya membatin dari dalam jiwanya, meskipun saat ini kesadarannya masih menyatu dengan sang Akuntan Langit.
Di sebelah Pak Bambang, Dika si karyawan senior—bukan Dika sang magang—juga langsung berdiri tegak. Pinggang belakangnya yang tadi dibilang sekusut cucian belum disetrika tiga minggu, mendadak berbunyi krekyang sehat. Dia tidak lagi memegangi punggungnya. Mukanya segar bugar seolah-olah dia baru saja tidur siang delapan jam penuh di hari Minggu, lengkap dengan pijat refleksi seluruh tubuh.
"Gila... encok gue ilang, Lin!" Dika senior berteriak girang, melompat-lompat kecil seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru. "Beban hidup gue rasanya berkurang sepuluh ton!"
Kembali ke tengah ruangan, proses penarikan aset telah selesai. Pusaran cahaya emas itu perlahan mengecil dan menghilang, menyisakan ketujuh dukun Gunung Lawu yang kini kondisinya sangat mengenaskan. Kulit mereka tidak lagi sepucat mayat yang diawetkan, melainkan sudah berubah menjadi hitam kusam, kering, dan keriput ekstrim seperti pohon yang mati kekeringan di tengah gurun. Mata mereka kembali memiliki bagian putih, namun redup dan dipenuhi oleh keputusasaan yang mendalam. Mereka kini tidak lebih dari sekadar orang-orang tua jompo yang tidak memiliki daya apa pun lagi. Kekuasaan mistis, jaringan korporat, dan kekayaan gaib mereka telah dinolkan. Saldo mereka benar-benar zero.
Dika menurunkan Pena Audit Langit-nya. Plastik pulpen butut dua ribu rupiah yang tadi meleleh kini kembali memadat di tangannya, namun kali ini pulpen itu tidak lagi hancur. Warnanya tetap hitam murah, tapi di dalamnya tersimpan inti energi emas yang stabil.
"Sidang Likuidasi selesai," ucap Dika, suaranya kembali normal menjadi suara Dika anak magang yang agak serak-serak basah, namun sisa-sisa wibawa sang Kurator masih terasa. "Firma The Seven Actuariesresmi dibubarkan secara gaib dan nyata. Sisa umur biologis kalian yang tersisa hanya cukup untuk kalian berjalan keluar dari gedung ini dan menyerahkan diri ke pihak berwajib atas kasus penipuan pajak dan pencucian uang di dunia nyata yang besok pagi akan dibongkar oleh KPK."
Mendengar kata 'KPK' dan 'pajak', pemimpin dukun itu langsung terkulai lemas di lantai, pingsan dengan mulut menganga. Enam dukun lainnya hanya bisa menangis tanpa suara, meratapi nasib mereka yang kini harus menghadapi dua pengadilan sekaligus: pengadilan akhirat yang sudah mencatat minus besar, dan pengadilan dunia nyata yang siap menjebloskan mereka ke sel tahanan tanpa AC.
Wuuusss.
Tiba-tiba, lampu-lampu di dalam kantor cabang Tomang berkedip-kedip. Jepret!Suara saklar utama otomatis menyala. Udara dingin ekstrem yang tadinya miripfreezertukang daging mendadak netral, digantikan oleh hembusan angin dari unit AC kantor yang mulai hidup kembali dan mengeluarkan suara mendengung yang akrab di telinga. Komputer-komputer di meja kubikal serentak berbunyibippanjang, menampilkan logo sistem operasi di layarnya masing-masing.
Semua keajaiban mistis itu lenyap dalam sekejap, menyisakan kenyataan bahwa ruangan kantor itu sekarang berantakan karena pecahan kaca pintu depan.
Pak Bambang mengerjapkan matanya beberapa kali, melihat ke sekeliling ruangan dengan bingung. Memorinya tentang pembekuan waktu birokrasi agak samar, tapi dia ingat betul bagaimana rasanya jiwanya ditarik lalu dikembalikan lagi dengan bonus kesegaran jasmani.
"Ini... ini ada apa ya? Kok pintu kaca kita pecah semua?" Pak Bambang berjalan maju dengan langkah yang sangat ringan (efek jatah umur biologis yang dikembalikan berlebih oleh Dika). Pandangannya tertuju pada ketujuh orang tua berbaju kemeja mahal yang robek-robek di lantai. "Terus... ini kakek-kakek siapa? Kok bisa masuk ke kantor kita? Mau demo atau gimana?"
Dika senior langsung menyenggol lengan Lina, memberi kode dengan mata melotot yang artinya: Lu yang pinter ngomong, buruan cari alasan!
Lina yang sudah terbiasa menghadapi situasi darurat korporat langsung memasang senyum profesionalnya yang paling manis, meskipun seragam kantornya agak berdebu. "Ah! Ini, Pak Bambang... Ini tadi ada sekelompok... anu, lansia dari paguyuban pensiunan nasabah kakap yang salah alamat. Mereka tadi maksa masuk waktu mati lampu sampai gak sengaja nabrak pintu kaca kita sampai pecah. Terus karena AC mati dan mereka sudah sepuh, mereka semua mendadak lemas dan pingsan di lantai, Pak."
Pak Bambang mengerutkan keningnya, menatap ketujuh dukun yang penampilannya lebih mirip gelandangan elit daripada nasabah kakap. "Masa iya? Tapi kok baju mereka mahal-mahal gitu ya, meskipun robek? Terus itu... kenapa mukanya pada kayak habis ngeliat hantu?"
"Stres finansial, Pak!" Dika anak magang tiba-tiba menimpali dengan cepat, berusaha menutupi identitas Akuntan Langitnya yang baru saja cool down. Dia buru-buru menyembunyikan patahan pulpen dua ribu rupiahnya ke dalam kantong celana. "Mereka habis boncos gede di saham energi Lereng Lawu, Pak. Makanya agak terganggu jiwanya. Mending kita telepon ambulans sama polisi aja sekarang, Pak, biar gak ganggu operasional kantor."
Pak Bambang mengangguk-angguk setuju, meskipun hatinya masih merasa ada yang aneh. "Ya sudah, Dika, kamu telepon ambulans segera. Dika senior, kamu bantu bersihin pecahan kaca ini. Kita harus siapin laporan kejadian buat kantor pusat besok pagi. Dan..." Pak Bambang memegang dadanya sendiri, lalu tersenyum lebar. "Aneh ya... padahal habis ada kejadian begini, tapi kok bapak rasanya seger banget ya? Kayak habis minum jamu kuat lima botol. Kolesterol bapak yang biasanya kumat tiap sore juga mendadak ilang!"
"Alhamdulillah, Pak. Berkah kerja keras buat perusahaan," sahut Lina menahan tawa, sementara Dika senior hanya bisa geleng-geleng kepala.
Dua puluh menit kemudian, petugas medis dan pihak kepolisian datang untuk mengamankan ketujuh dukun yang sudah tidak berdaya itu. Saat mereka digotong keluar menggunakan tandu, sang pemimpin dukun sempat membuka matanya sedikit, menatap Dika yang sedang berdiri di dekat dispenser kantor sambil memegang gelas kertas berisi air mineral. Dika hanya memberikan anggukan kecil—sebuah gestur penutup bahwa urusan mereka di buku besar takdir telah resmi balancedan ditutup.
Setelah semua keributan mereda dan kantor kembali sepi, menyisakan Dika, Lina, dan Dika senior yang masih harus lembur merapikan sisa berkas, suasana berubah menjadi agak canggung.
Dika senior menatap junior magangnya itu dengan pandangan yang campur aduk antara kagum, takut, dan penasaran. "Jadi... Dik. Lu itu sebenarnya siapa? Malaikat pencatat ruko kosong atau gundala versi jurusan akuntansi?"
Dika terkekeh, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aura agung Kurator Utama-nya benar-benar sudah hilang, digantikan kembali oleh Dika si anak magang miskin yang pakai sandal jepit (yang sekarang terpaksa nyeker karena sandal hijaunya hancur jadi debu).
"Gue ya Dika, Mas. Anak magang yang besok masih harus pusing mikirin biaya kosan yang nunggak dua bulan," jawab Dika santai sambil meminum air mineralnya sampai tandas. "Jiwa Akuntan Langit itu cuma titipan leluhur buat benerin angka-angka dunia yang dirusak orang-orang serakah kayak mereka. Kalau dunianya udah bener, ya gue balik jadi keset kantor lagi."
Lina berjalan mendekati Dika, lalu menepuk pundak cowok itu dengan lembut. "Tapi lu keren banget tadi, Dik. Pas lu nulis kata 'Nihil' di udara... gue berasa lagi ngeliat pahlawan super yang senjatanya bukan palu petir, tapi kapabilitas audit finansial."
"Bisa aja lu, Lin. Udah ah, mending kita kelarin ini input jurnal umum PT Lawu Nusantara Energy," kata Dika sambil berjalan kembali ke kubikal kerjanya yang layar monitornya sudah menyala normal. "Meskipun perusahaannya udah bangkrut dan dukunnya udah ditangkap, tapi kalau jurnalnya gak kita closemalam ini di sistem, besok kita tetep diamuk sama Bu Divisi Keuangan kantor pusat."
Lina dan Dika senior saling berpandangan, lalu serentak menghela napas panjang. Mau se-sakti apa pun jiwa purba yang ada di dalam tubuh mereka, pada akhirnya mereka tetaplah budak korporat di dunia nyata yang tunduk pada satu hukum tertinggi yang lebih menakutkan daripada dukun Gunung Lawu: Deadlinedari bos kantor pusat.
Dika duduk di kursinya, meletakkan jari-jarinya di atas papan ketik. Di samping papan ketiknya, pulpen butut dua ribu rupiah itu tergelak diam. Warnanya hitam pekat, namun jika dilihat lebih dekat di bawah cahaya lampu neon kantor, ada pendar emas tipis yang terus mengalir di dalam tabung tintanya, siap untuk menuliskan takdir baru yang lebih bersih.