Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amplop Cokelat Dan Kejutan
Sudah dua hari berlalu sejak hari bersejarah itu, saat novel pertamaku resmi diperkenalkan kepada khalayak luas.
Dua hari yang terasa begitu indah hingga rasanya seperti tengah melayang di dalam mimpi yang tak ingin berakhir. Hari-hari itu dipenuhi oleh ucapan selamat yang datang dari segala penjuru, permintaan untuk wawancara singkat dari beberapa media daring, serta kebahagiaan yang meluap hingga tak mampu aku ukur atau ungkapkan dengan kata-kata apa pun.
Namun, di balik segala rasa gembira dan rasa bangga yang menyelimuti hatiku, ada satu perasaan yang tak pernah benar-benar pergi atau memudar: rasa rindu. Rindu pada Aldo yang terpisah jarak ribuan kilometer. Rindu pada kehangatan keluarga di rumah. Rindu pada suasana kota Jakarta yang selalu menjadi tempat pulangku.
Setiap pagi aku terbangun dengan satu harapan yang sama—berharap hari itu akan membawa kabar yang paling aku nantikan: bahwa Aldo akan segera mengabarkan kehadirannya, bahwa jarak yang selama ini memisahkan kami perlahan akan mendekat, dan bahwa rasa rindu ini akhirnya akan menemukan tempatnya untuk beristirahat.
Namun, hari demi hari berlalu, dan kabar itu belum juga tiba.
Hingga suatu sore yang cerah, saat sebuah amplop berwarna cokelat tebal akhirnya tiba tepat di depan pintu apartemenku.
***
Pukul empat sore, tepatnya jam dua siang waktu setempat, terdengar suara ketukan lembut yang memecah keheningan ruangan.
Saat itu aku sedang duduk bersandar di kursi kecil di dekat jendela, tenggelam dalam bacaan novel The Great Gatsby untuk menyelesaikan tugas kuliah, ketika suara ketukan itu menyadarkanku dari konsentrasi.
Tok… tok… tok…
Aku mengernyitkan dahi sedikit, merasa penasaran. Siapa yang datang berkunjung tanpa memberi kabar terlebih dahulu? Sarah biasanya selalu mengirim pesan lebih dulu sebelum melangkah ke sini. Mia, teman yang bekerja di kafe dekat kampus, juga tidak pernah mampir ke apartemen tanpa alasan khusus.
Aku meletakkan buku di atas meja, berdiri perlahan, dan melangkah menuju pintu. Dengan hati-hati aku membukanya, memastikan siapa tamu yang datang.
Namun, begitu pintu terbuka lebar, tidak ada siapa pun yang terlihat berdiri di ambang pintu. Lorong koridor tampak sepi dan sunyi.
Hanya saja, di lantai tepat di depan kakiku, tergeletak sebuah amplop cokelat yang cukup tebal. Di bagian depannya tertulis jelas namaku, ditulis dengan tulisan tangan yang sangat aku kenali—setiap lekukan hurufnya, tekanan pena yang khas, dan cara penulisannya yang rapi namun santai.
Itu tulisan Aldo.
Jantungku seketika berdebar jauh lebih kencang dari biasanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa penasaran yang meluap, aku mengambil amplop itu, menutup kembali pintu dengan rapat, lalu berjalan cepat kembali ke ruang tengah. Aku duduk di tepi kasur, memegang amplop itu erat-erat, sementara perasaan campur aduk memenuhi dadaku—antara rasa ingin tahu yang membara, rasa takut berharap terlalu tinggi, antara kebahagiaan yang mulai terasa dan kecemasan akan apa isinya.
Setelah menarik napas panjang untuk menenangkan diri, aku mulai membuka lipatan amplop itu dengan hati-hati, seolah takut merusak isinya.
Begitu terbuka, pandanganku langsung tertuju pada selembar kertas yang terlipat rapi di dalamnya. Sebuah tiket pesawat.
Tujuan: Melbourne. Asal keberangkatan: Jakarta.
Tanggal keberangkatan tertera jelas: 15 November.
Dan di kolom nama penumpang tertulis: Aldo Pratama.
Untuk sesaat rasanya aku sulit menarik napas. Mataku melirik tulisan itu berulang kali, membacanya lagi dan lagi seolah ingin memastikan bahwa ini bukan sekadar khayalan atau kesalahan penglihatan.
Aldo akan datang. Aldo benar-benar akan melangkah ke kota ini, ke tempatku tinggal.
Di dalam amplop itu masih ada satu lembar kertas kecil lain yang ditulis tangan. Aku mengambilnya, lalu membacanya perlahan:
“Tari,
Aku sudah tidak sanggup lagi menahan rasa rindu ini sendirian. Sejak melihatmu berbicara lewat layar pada hari peluncuran novelmu, sejak mendengar suaramu yang menyampaikan isi hatimu, aku sadar satu hal: aku tidak bisa lagi hanya memandangmu dari kejauhan. Aku butuh melihatmu secara langsung, menatap matamu tanpa perantara layar, dan memelukmu erat hingga rasa rindu ini hilang seketika. Aku butuh meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu benar-benar nyata, bukan hanya sosok yang terbayang dalam pikiranku setiap malam.
Maka aku memutuskan untuk datang ke Melbourne. Tanggal 15 November, aku akan terbang ke sana. Aku bisa tinggal selama dua minggu saja—tidak bisa lebih lama karena tanggung jawab pekerjaan di Jakarta. Tapi percayalah, setiap detik dari dua minggu itu akan aku habiskan sepenuhnya hanya bersamamu, tanpa gangguan apa pun.
Aku sangat menyayangimu, Tari. Sampai ke bintang dan kembali lagi.
Aldo.”
Setelah membaca kalimat terakhir, air mataku tumpah begitu saja.
Bukan tangis yang meledak-ledak seperti saat-saat sedih dahulu. Bukan juga tangis yang keluar karena rasa sakit atau kesepian. Ini adalah tangis yang lahir dari bagian paling dalam hatiku—campuran rasa bahagia yang meluap, rasa haru yang tak terlukiskan, dan rasa tidak percaya bahwa keinginan yang selama ini aku panjatkan akhirnya menjadi kenyataan.
Aldo datang. Aldo benar-benar akan datang menemuiku.
***
Pukul setengah tiga sore, aku segera meraih ponsel dan menghubungi Aldo.
Panggilan itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya ia mengangkatnya.
“Halo? Tari?” suaranya terdengar sedikit waspada di ujung sana, mungkin merasa heran karena aku menelepon di luar jam komunikasi kami yang biasa.
“Aldo…” suaraku keluar terputus-putus, masih terasa berat karena sisa isak tangis. “Aku… aku baru saja menerima amplop yang kamu kirim.”
Sejenak keheningan menyelimuti sambungan telepon itu. Lalu terdengar suara Aldo yang lebih lembut dan tenang.
“Kamu sudah membaca isinya?”
“Sudah, Aldo. Sudah semuanya.”
“Dan… apakah kamu senang mendengar kabar ini?”
“Senang? Aldo, rasanya aku tidak punya kata-kata yang cukup untuk menjelaskan perasaanku sekarang. Aku menangis, tidak bisa berhenti menangis karena rasa bahagia ini.”
Aldo terdiam sejenak, lalu aku bisa mendengar suara napas panjang yang ia hembuskan—napas yang terasa seperti melepaskan beban berat yang selama ini ia pikul juga.
“Aku juga sudah tidak tahan lagi menahan rindu, Tari. Setelah hari peluncuran itu, setelah melihatmu dan mendengar segala yang kamu sampaikan, aku sadar bahwa jarak ini terasa terlalu jauh untuk dijalani sendirian. Aku ingin berada di sisimu, setidaknya untuk beberapa waktu.”
“Aldo…”
“Aku sangat menyayangimu, Tari. Dan aku tidak ingin melewatkan satu hari pun tanpa memikirkan keberadaanmu.”
“Aku juga sangat menyayangimu, Aldo. Sampai ke bintang dan kembali lagi—sama seperti yang kamu katakan.”
Kami berdua terdiam sesaat, hanya mendengarkan suara napas satu sama lain yang terdengar jelas lewat sambungan telepon, seolah itu sudah cukup untuk menghangatkan hati yang terpisah jarak jauh.
“Kapan tepatnya kamu akan tiba di sini?” tanyaku akhirnya, ingin memastikan semuanya kembali.
“Tanggal 15 November. Tiket sudah terbayar, izin cuti kerja sudah disetujui, dan segala persiapan sudah aku atur. Tidak ada yang bisa mengganggu rencana ini lagi.”
“Aldo… rasanya ini seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.”
“Ini bukan mimpi, Tari. Ini nyata. Aku akan benar-benar berdiri di depanmu dalam waktu dua minggu ke depan.”
***
Pukul tiga sore, jari-jariku dengan cepat menekan nomor telepon Mama. Begitu suara Mama terdengar menyapa, aku langsung menyampaikan kabar itu dengan nada yang masih bergetar karena haru.
“Ma… Aldo akan datang ke Melbourne!”
Suara Mama di ujung telepon terdengar kaget seketika, namun segera diikuti oleh nada yang ceria dan senang.
“Apa? Benarkah itu, Nak? Sungguh kabar yang luar biasa!”
“Iya, Ma. Dia mengirimkan tiket pesawatnya lewat pos. Dia akan terbang ke sini pada tanggal 15 November nanti.”
“Ya Tuhan… itu berita yang paling indah yang bisa Mama dengar hari ini.”
“Aku masih belum percaya, Ma. Aku menangis terus sejak membaca suratnya. Rasanya campur aduk sekali.”
“Menangislah sepuasnya, Nak. Itu tangis kebahagiaan, bukan? Tangis yang pantas kamu terima setelah segala perjuangan yang sudah kamu lalui selama ini.”
“Iya, Ma. Karena bahagia sekali rasanya.”
Mama kemudian tertawa lembut, tawa yang terdengar menenangkan dan penuh kasih sayang. “Tari, kamu memang pantas mendapatkan kebahagiaan ini. Kamu sudah bekerja keras, bertahan dalam kesulitan, dan tetap setia menjaga perasaanmu. Sekarang saatnya kebahagiaan itu datang menghampiri dirimu.”
“Terima kasih banyak, Ma.”
“Mama juga sangat menyayangimu, Nak. Semoga semua berjalan lancar.”
“Aku juga sayang Mama, Papa, dan semuanya di rumah.”
***
Pukul empat sore, aku segera menghubungi Sarah, sahabat setiaku yang selalu ada dalam suka dan duka. Begitu panggilan terhubung, aku langsung berteriak dengan penuh semangat.
“Sarah! Aldo akan datang ke Melbourne!”
Suara Sarah nyaris meledak kegirangan di ujung telepon. “APA?! SERIUS KAMU BILANG ITU?!”
“SANGAT SERIUS! Dia mengirimkan tiket pesawatnya lewat amplop tadi! Dia akan tiba di sini tanggal 15 November!”
“YA TUHAN, TARI! Ini kabar paling menakjubkan yang pernah aku dengar! Luar biasa sekali!”
Sarah terus berteriak riang, bahkan aku bisa mendengar suaranya melompat-lompat di dalam kamarnya sendiri karena rasa gembira yang meluap.
“Nanti hari kedatangannya, aku akan langsung pergi ke bandara menjemputnya. Aku akan berdiri menunggu di pintu kedatangan, dan begitu dia melangkah keluar…”
“Dan begitu dia melangkah keluar, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Sarah sambil tertawa mendengar antusiasme yang meluap.
“Aku akan memeluknya seerat mungkin. Dan aku tidak akan melepaskannya untuk waktu yang lama,” jawabku dengan yakin sambil tersenyum sendiri.
“Itu baru sahabatku! Kamu memang pantas mendapatkan momen indah ini, Tari. Nikmati setiap detiknya nanti!”
“Terima kasih banyak, Sarah. Tanpa dukunganmu, mungkin aku tidak akan sekuat ini.”
“Sudah, jangan berterima kasih. Cukup pastikan nanti kalian berdua bahagia, itu sudah cukup bagiku.”
***
Pukul lima sore, aku melangkah menuju balkon apartemen untuk menikmati suasana sore yang indah.
Udara terasa semakin hangat, pertanda musim semi telah benar-benar hadir dan menggantikan sisa dinginnya musim dingin. Di kejauhan, langit berubah warna secara perlahan menjadi gradasi jingga, merah muda, dan sedikit keunguan—seolah lukisan alam yang selalu baru dan tak pernah membosankan untuk dipandang.
Di tanganku, tiket pesawat milik Aldo masih aku genggam erat, seolah memastikan bahwa ini benar-benar ada dan bukan sekadar khayalan. Aku membaca kembali nama yang tertera di atas kertas itu: Aldo Pratama, berulang kali, hingga setiap hurufnya terasa melekat di dalam ingatanku.
Tanggal 15 November. Masih ada dua minggu lagi untuk menunggu.
Dua minggu lagi, Aldo akan melangkah masuk ke kota ini. Dua minggu lagi, ia akan berdiri tepat di depan pintu apartemenku. Dua minggu lagi, rasa rindu yang selama ini menyelimuti hati akhirnya akan terobati sepenuhnya.
Aku mengangkat wajah, menatap langit yang semakin indah di atas sana, dan tersenyum lebar—senyum yang paling tulus dan paling bahagia yang pernah aku rasakan selama berada di Melbourne.
“Tenang saja, Aldo. Aku akan menunggumu di sini, dengan hati yang penuh cinta dan rasa rindu yang siap kamu obati. Sampai saat itu tiba, aku akan menghitung setiap detiknya dengan sabar.”