Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻
Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.
Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. pernikahan yang tak di harapkan.
Hari Minggu yang sibuk bagi keluarga Armanta dan seluruh staf hotel mewah TLJ world. Pernikahan mendadak itu ternyata tak sulit disiapkan, karena Kenzo adalah putra keluarga konglomerat di negara ini. Acara akad nikah sederhana digelar di lantai lima, ruang restoran Rose gold. Sejak pagi tempat itu sudah dihias semarak dan mewah.
Kenzo duduk dengan gugup, dengan posisi Dimas dan Andre tak jauh dari meja putih ini, mereka sebagai saksi dari akad nikah ini. Di sebelah kanannya duduk Larasati mengenakan kebaya modern pengantin putih yang simpel namun anggun. Hanya kerabat dekat dan sahabat yang hadir dalam akad nikah pagi ini.
Mencium tangan Kenzo setelah sesi doa selesai dan penghulu mengucapkan kalimat sah, menjadi penutup prosesi akad nikah ini. Akad yang Kenzo ucapkan tadi seharusnya lahir dari hati, tapi Kenzo tahu itu hanyalah keterpaksaan. Dia tersenyum lebar ke arah kamera dan tamu karena banyak wartawan hadir meliput, padahal hatinya terluka parah.
Wanita yang bergandengan lengannya dan mengobrol akrab dengan tamu bukanlah Vinda, bukan gadis yang memenuhi seluruh hatinya.
"Kamu bahagia kan? Kenzo, kamu tampan sekali… tak kusangka kita benar‑benar menikah, Sayang." Larasati merapikan jas hitam suaminya yang baru sejam lalu telah menjadi pasangan sahnya. Dia mendongak menatap sorot mata Kenzo yang penuh kebencian.
"Jangan harap aku mau bersikap layaknya suami. Ingat itu baik‑baik." Larasati terkekeh santai tetap bergandengan mesra.
"Tapi sesuai perjanjian kan? Di depan orang lain kamu harus bersikap seperti suami. Sekarang cium aku, Sayangku."
"Apa katamu hah?!" Desis Kenzo nyaris ingin menampar istri barunya itu
****
Sementara itu, Vinda duduk sendirian di halte bus dengan hati remuk. Di layar‑layar besar jalanan terus diputar berita pernikahan anak keluarga konglomerat itu.
Vinda tersenyum getir melihatnya—Kenzo tampak sangat gagah, serasi sekali berdampingan dengan Larasati. Siapa pun pasti iri pada wanita yang bisa menjerat ayah sekaligus anak keluarga Armanta. Larasati sungguh wanita berbahaya, batinnya.
Vinda membayangkan andai saja dia yang berdiri di sana dengan kebaya pengantin, pasti dia akan merasa paling beruntung. Tapi kenyataan justru membuat hatinya makin perih, Kenzo kini makin jauh, makin sulit digapai.
"Malam ini pasti dia lewati bersama wanita itu… ah, Vinda lupakan saja… kumohon lupakan dia, sekarang kamu harus pergi dari semua ini…" Dia mengusap bibirnya, seperti masih terasa hangat ciuman Kenzo beberapa hari lalu. Dia merindukannya lagi.
Drrt… drrt…
Lamunan buyar saat ponsel bergetar. Vinda terkejut, itu panggilan video dari Kenzo.
"Apa maunya dia?" Dia bergumam kesal. Sudah hampir malam, sudah dua hari tak ada kabar, dan pria yang baru menikah beberapa jam lalu malah menelepon.
"Halo." Vinda mengangkat tapi mematikan kamera.
"Kenapa lama sekali mengangkatnya, sayang??" Suara Kenzo terdengar jelas. Vinda menggigit bibir menahan tangis.
"Kamu di mana sekarang?! Aku sudah ke rumahmu dan hanya Ayahmu yang ada di sana." Vinda tertegun. Kenapa Kenzo sibuk mencarinya padahal baru saja menikah?
"Aku di halte bus."
"Halte mana?! Tunggu di sana jangan ke mana‑mana! Kirimkan lokasinya sekarang, cepat!"
"Mas, nggak usah"
"Diamlah aku kesana sekarang!" Telepon dimatikan sepihak setelah Vinda memberitahu posisinya.
"Vinda!" Kenzo memanggil dari dalam mobil sport Porsche hitamnya yang kaca jendelanya terbuka lebar. Vinda yang masih duduk di halte menoleh kaget, tak menyangka Kenzo benar‑benar datang mencarinya ke sini.
"Masuklah sayang, kumohon!" Di belakang mobil terdengar klakson kendaraan lain yang tak sabar karena Kenzo sembarangan meminggirkan kendaraannya.
Namun bukannya mendekat, Vinda malah berjalan menjauh sambil menyeret koper besarnya. "Astaga Vinda! Aku bilang masuklah ke mobil! Argh sialan, benar‑benar merepotkan dia?!" Kenzo mendesah kesal lalu pelan‑pelan mengemudi mengikuti langkah gadis itu.
"Vinda, ayo masuk! Aku tak mau makin banyak orang melihat kita!"
"Pergilah sana! Aku ingin sendiri!" Kenzo menggeram kesal, terpaksa turun dari mobil mewahnya dan berlari menyusul.
Grep…
"Kenapa kamu tega menjauh dariku?"
Dia memeluk Vinda erat. Gadis itu tak kuasa menahan tangis, lalu membalas pelukan itu sekuat tenaga.
"Aku benci padamu… hiks… benci sekali!"
Vinda memukul dada bidang itu berulang kali karena marah, tapi Kenzo makin mengeratkan pelukan meski dia masih meronta.
"Kenapa kamu ada di sini?! Kenapa tak tinggal saja bersama istrimu di kamar pengantin?!"
"Istri mana? Bagiku tak ada istri yang sesungguhnya. Kamulah kekasihku, hanya kamu! Kumohon, Sayang, jangan menangis."
Kenzo menangkup wajah cantik yang bengkak itu, mengecup bibirnya dengan lembut lalu menyatukan dahi mereka.
"Aku mencintaimu… sungguh mencintaimu, Vin tak pernah aku jatuh cinta seperti ini." Vinda meremas lengan kemeja Kenzo, menghirup wangi parfum pria kesayangannya dan memperhatikan penampilan pria itu. Masih mengenakan kemeja putih dan celana hitam yang sama dipakainya saat acara pernikahan tadi, hanya jasnya yang sudah dilepas.
"Ayahmu bilang kamu berencana pergi ke Malang? Kamu benar‑benar tega meninggalkanku, Vin?"
"Aku tak kuat lagi tinggal di Jakarta mas. Hiks… kalau tetap di sini hatiku makin sakit. Lebih baik aku menginap di rumah nenek di desa daerah pegunungan"
"Aduh, lalu kalau kamu pergi bagaimana nasibku? Kamu tega banget sih?" Keluh pria itu cemberut. "Cih, kan masih ada istrimu? Aneh sekali kamu bicara begitu sama aku, sana pergi mas!"
"Sudah, berhenti sebut kata istri itu. Ayo, aku antar ke tempat tujuan kamu, kita pergi berdua."
"Kamu gila?! Kamu baru menikah malah kesini?"
"Masa bodoh bagiku calon istriku itu cuma kamu, bukan gadis yang lain" Kekeuh Kenzo.
"Aish kamu!"
"Ayo kita pergi!"
"Tapi ini sudah hampir malam, aku mau naik bus patas aja, tolong anterin aku ke terminal aja…" Vinda menggeleng bingung sambil meremas kemeja Kenzo.
"Kalo sudah malam memang kenapa? Jarak ke kota Malang di Jawa Timur memang jauh, tapi tenang saja, aku sanggup menyetir sejauh itu bersamamu, kita bisa nginap di hotel kalo capek di perjalanan, ayo....." Vinda mengecup rahang Kenzo, makin yakin pria itu benar‑benar mencintainya.
"Kalau nanti Larasati—"
"Jangan sebut namanya saat kita sedang berdua. Ayo masuk, udara di luar dingin. Lagipula aku lapar, ingin sekali makan mie goreng sama pizza, kita cari makan dulu sebelum berangkat ya"
"Cih, baiklah saja pak Kenzo… kamu memang sulit ditolak." Senyum Vinda tak berdaya menolak lagi.