Evina adalah wanita biasa yang hidupnya penuh dengan luka. ketika kecil dia pernah dilecehkan oleh orang dekatnya. Ia juga harus menerima segala sakit fisik maupun mental karena keluarganya yang berantakan. Dan Fahri sang pujaan hatinya yang dia kira akan menyelamatkan hidupnya. Nyatanya justru menjadi puncak dari segala dukanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuisakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EP. 30 PENENGAH
Siska dan Ryan sedang dalam perjalanan pulang dari jalan - jalan bersama. Ryan mengendarai mobil yang ia pinjam dari ayahnya. Sambil menyetir sesekali Ryan menggenggam tangan mulus Siska.
"Makasih buat hari ini," ujar Ryan.
"Iya mas, aku juga makasih udah diajak jalan - jalan. Aku seneng banget," ujar Siska seraya mencium tangan Ryan.
Ryan dan Siska saling berpandangan dengan mesra. Namun karena Ryan sedang menyetir ia tak bisa lama - lama memandangi Siska.
Sesekali Siska mengamati ke arah luar mobil. Ia sangat menikmati pemandang kota dari dalam mobil. Namun pandangannya terganggu saat melihat sesuatu.
"Mas, mas, itu Evina sama Fahri bukan ya?" kata Siska seraya menunjuk ke arah pinggir jalan. Ryan menengoknya sebentar.
"Iya kayaknya. Kamu mau samperin?" tanya Ryan.
"Nanti ganggu ngga ya? Mereka kalau lagi berdua terlalu romantis. Aku jadi ngga tega buat ganggu," kata Siska.
"Eh, tapi itu kog kayaknya mereka lagi berantem?" ujar Ryan yang kemudian menghentikan mobilnya tak jauh dari Evina dan Fahri berada. Siska lantas membuka kaca mobil, dan menengok ke arah Evina dan Fahri.
"Eh, iya. Lho, Evina kog kayak nangis? Ada apa nih sama mereka," ujar Siska yang segera membuka pintu mobil namun Ryan berusaha menahannya.
"Jangan ikut campur dulu. KIta tunggu di sini. Takutnya kalau terlibat masalah mereka nanti kita jadi nambahi masalah ke mereka. Kita lihat dulu situasinya, asal tidak mengarah pada kekerasan kita pantau dulu," ujar Ryan menasehati Siska.
Siska lantas menutup pintu mobil lagi. Ia menyandarkan badannya ke jok mobil. Seraya menatap ke arah dua temannya itu.
"Evina kenapa? Dia ngga pernah nangis. Diapain sama Fahri kog bisa nangis gitu," gumam Siska khawatir.
Ryan terkekeh mendengar Siska bergumam tak menentu. Ia heran sekhawatir itu ia pada sahabatnya.
"Kamu perhatian baget sama Evina. Sampe temennya pacaran masih mau ngikut aja," ujar Ryan.
"Ngga ngerti juga sih mas. Aku dan Evina tu udah kayak saudara aja. Padahal karakter kami beda banget. Sejak SMP Evina tu pendiem banget. Awal kami kenal pun aku dicuekin abis sama dia. Tapi lucunya aku makin suka sama dia," kata Siska sambi lmengenang masa lalu.
"Iya sih, aku pertama ketemu dia emang rasa - rasanya beda ama cewe - cewe seumuran dia. Biasanya anak seumuran dia lagi centil - centilnya. Diajak kenalan aja ngga di respon aku," kata Ryan.
"Aku selalu mikir mungkin dia punya masalah di keluarganya atau apa aku juga ngga tahu. Dia ngga pernah mau cerita apa pun. Bahkan kalau bukan temen - temen ngedukung dia ama Fahri dari awal dia udah mau mundur aja. Alasan dia, Fahri terlalu sempurna buat dia," kata siska menjelaskan.
"Emh gitu, unik juga tuh anak. Bolehlah kapan - kapan ngumpul bareng mereka. Biar bisa akrab, tapi kog kayaknya Fahri ama aku kurang bersahabat" ujar Ryan.
"Masa?" tanya Siska curiga.
"Kog ngeliriknya gitu?" tanya Ryan sambil senyum- senyum.
Namun perbincangan mereka buyar karena Siska melihat Evina meninggalkan Fahri masih sambil menangis sesenggukan. Siska sudah tak sabar lagi ia segera keluar dari mobil begitu pula Ryan.
"EVINA!!!" panggil Siska dengan berteriak.
Namun sepertinya Evina tak mendengar panggilan Siska.
"Mas tolong kejar Evina, aku bicara sama Fahri dulu," kata Siska menghampiri Fahri.
"Okey," jawab Ryan seraya berlari menyusul Evina.
Fahri terkejut karena Siska dan Ryan sudah ada di sana.
"Fahri! Kamu apain temenku?" ujar Siska.
"Kamu bisa di sini?" tanya Fahri.
"Malah ngalihin topik. Itu kenapa dia nangis sambil kabur? Ngga di kejar sama kamu," tanya Siska.
"Dia lagi marah sama aku," jawab Fahri singkat.
"Lah terus dibiarin aja," kata Siska agak kesal.
"Gimana mau ngejar kamu tiba - tiba nyamperin. Lagian temenmu itu ya. Susah banget dikasih tau. Keras kepala, dikit - dikit marah, ngambek," ujar Fahri kesal.
"Emang ada masalah apa?" tanya Siska.
"Aku omelin karena pergi sendirian. Dia punya temen cowok baru ngga bilang sama aku. Main jalan bareng aja, aku kan khawatir," kata Fahri.
"Ya elah Fahri, kamu cemburu? Cemburumu berlebihan mungkin sampe dia marah. Kamu tau sendiri dia sifatnya tertutup. Kamunya juga jangan asal curiga, palingan temen biasa sama kayak yang lain," kata Siska.
"Ya tapi hargai aku sebagai pacarnya donk. Masa perasaanku ngga ada artinya buat dia," kata Fahri membela diri.
"Secinta itu kamu sama dia? Sampe seposesive itu. Jangan begitu Ri! Evina bukan cewe yang bisa kamu kekang. Aku paham banget dia sangat idealis," ujar Siska.
"Aku bahkan ngga bisa lihat dia duduk sebelahan ama cowok. Meskipun itu Aris sekalipun," ujar Fahri
"Fahri kamu keterlaluan banget. Itu ngga baik buat hubunganmu lho. Cemburu kamu ngga beralasan," kata Siska yang cukup ngeri dengan sifat Fahri.
"Ya mau gimana lagi itu yang aku rasain. Aku kan ngga bisa ngontrol perasaanku sendiri," ujar Fahri ngotot. Siska hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan jalan pikiran Fahri.
Sementara itu, Ryan berhasil mengejar Evina yang menangis sesenggukan. Ditariknya tangan Evina agar tidak berjalan lagi. Evina menoleh dan terkejut karena bukan Fahri yang mengejarnya melainkan Ryan.
"Udah, Vi! Berhenti dulu, kamu jalannya cepet banget," ujar Ryan sambil terengah - engah.
"Mas Ryan kog disini?" tanya Evina sambil menghapus air matanya.
"Tunggu! Kamu nangis? Kenapa? Ada apa?" tanya Ryan. Evina hanya menggelengkan kepalanya.
"Ayo balik ke sana. Di sana ada Siska, kita selesain masalahnya," kata Ryan membujuk Evina. Namun Evina menggelengkan kepalanya lagi.
"Kenapa? Fahri menyakitimu?" tanya Ryan.
Evina tak menjawab pertanyaan Ryan, malah tangisnya semakin menjadi.
"Jangan nangis tow. Aku ngga tega ngeliatnya. Ayo diselesain baik- baik," bujuk Ryan.
Evina masih tak mau mendengarkan Ryan.
Siska dan Fahri pun menyusul mereka. Evina membuang muka ketika Fahri menatapnya.
"Udah kalian selesain masalah kalian. Jangan kayak anak kecil. Malu dilihat orang di pinggir jalan gini. Fahri kamu kan cowo harus gentle. Masa cewenya dibiarin pergi sambil nangis gini. Kasian anak orang jangan disia - siain,"kata Ryan menengahi mereka.
"Vi.." panggil Fahri. Namun Evina masih keukeuh membuang muka. Sesekali diusapnya pipinya menghapus sisa air matanya.
"Evina" kata Ryan membujuk.
"Maafin aku" ujar Fahri.
"Kumaafin," ujar Evina dengan jutek tanpa menatap Fahri.
"Ya udah ayo kita pulang ya. Aku anterin, aku ngga akan ngomong yang engga engga. Aku akan berusaha dengerin kamu," ujar Fahri berjanji.
"Aku mau pulang sendiri," jawab Evina.
"Jangan keras kepala tow Vi," ujar Fahri lagi.
Siska dan Ryan sepertinya terjebak diantara dua sejoli ini. Namun mereka tak bisa pergi begitu saja, karena sepertinya perang belum berakhir.
"Sis, kamu sama mas Ryan naik mobil kan?" tanya Evina.
"Iya," jawab Siska sambil mengangguk.
"Aku boleh nebeng?" tanya Evina.
"Aku sih okey aja, mas Ryan gimana?" tanya Siska sambil menatap pacarnya itu.
"Boleh aja sih," jawab Ryan santai.
"Kog malah nebeng orang lain, kan ada aku Vi," ujar Fahri.
Evina tak menggubris Fahri ia segera menggandeng Siska dan mengajaknya pergi. Fahri kebingungan bagaimana dia bisa pergi begitu saja. Padahal dia sudah minta maaf. Apa belum cukup? Haruskah jadi serumit ini? Oh, wanita apa maumu?
Ryan menepuk pundak Fahri seraya berkata:
"Sabar dulu, tunggu dia tenang dengan emosinya. Wanita memang begitu kalau lagi ngambek kayak anak kecil. Kamu jangan langsung emosi. Berikan dia waktu untuk menjernihkan suasana hatinya. Nanti kalau dia sudah tenang pasti nyariin kamu. Aku tahu dia sayang sama kamu. Tenang aja!" kata Ryan seraya pergi meninggalkan Fahri.
Fahri hanya terdiam mendengarkan nasehat dari Ryan. Apa benar begitu? Apa Evina akan marah terus terusan dengannya? Bagimana jika dia meminta putus? Tidak, ia tidak mau. Ia tidak mau berpisah dengan wanita yang pertama kali ia cinta itu.
mampir juga di karyaku My Kids My Hero
mampir juga di karyaku
Kangen fahri evina,,