NovelToon NovelToon
ILUSI HANGAT

ILUSI HANGAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:767
Nilai: 5
Nama Author: zayyana

"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."

Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.

Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.

Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.

Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERSIMPANGAN DUA DUNIA YANG BERBEDA

"Aku bilang... cukup," ucap Elian dengan nada rendah yang amat sangat dingin, mengirimkan sinyal ancaman yang membuat murid-murid di sekitar mereka mulai menahan napas ketakutan.

Arsyen tidak mundur selangkah pun. Seringai di wajah berandalannya justru semakin melebar, memamerkan binar provokatif yang menantang maut. "Kenapa, Elian? Tersinggung karena rahasiamu hampir kukupas? Ataukah sang pangeran sekolah takut mainannya rusak sebelum waktunya?"

Di meja seberang, beberapa siswi dari geng elite kelas sepuluh menonton dengan ekspresi sinis. Salah satu dari mereka berbisik keras, "Lihat kan? Gara-gara anak beasiswa miskin itu, dua penguasa sekolah sampai mau ribut. Dasar pembawa sial, baru masuk saja sudah bikin onar."

Lyra mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja hingga kuku-kuku jarinya memutih. Tubuhnya bergetar menahan luapan emosi campur aduk antara malu, marah, dan takut. Kacamata bulatnya yang bertengger di hidung bangirnya mulai terasa berat karena matanya kini telah berkaca-kaca menahan air mata yang mendesak ingin keluar.

"Arsyen El Barack," suara Elian kini terdengar seperti desis ular yang berbisa. "Satu kata lagi keluar dari mulut kotormu itu, dan aku pastikan keluarga El Barack kehilangan hak saham mereka di yayasan ini sebelum matahari terbenam."

"Coba saja kalau kau mampu, Sosiopat Sempurna," bisik Arsyen tepat di depan wajah Elian.

Namun, sebelum adegan itu berujung pada adu fisik, suara deham keras dari arah pintu masuk kantin memecah konfrontasi. Pak Baskoro, kepala bagian kesiswaan yang terkenal galak, berdiri di sana sambil melotot. "Arsyen! Elian! Apa yang kalian lakukan di sudut sana?! Bubar kembali ke kelas masing-masing!"

Arsyen menarik tubuhnya kembali dengan tawa serak yang meremehkan. Ia melirik sekilas ke arah Lyra yang masih menunduk dalam, memastikan gadis itu tidak terluka oleh tendangan mejanya tadi. "Urusan kita belum selesai, Elian," ucap Arsyen penuh penekanan sebelum berbalik pergi dengan langkah santai, mengabaikan seruan Pak Baskoro.

Elian mengatur napasnya yang sempat memburu, memulihkan topeng santunnya dalam sekejap mata. Ia berbalik ke arah Lyra dengan tatapan yang kembali melembut sehangat malaikat. "Kamu tidak apa-apa, Lyra? Maafkan kegaduhan ini. Aku akan mengurus Arsyen nanti."

Lyra hanya menggeleng cepat, buru-buru merapikan kotak bekal plastik hijau pudarnya yang hampir tumpah. "Aku... aku tidak apa-apa, Elian. Terima kasih. Aku harus ke kelas duluan," ucap Lyra lirih, langsung melarikan diri dari tatapan menilai ratusan murid di kantin.

*_*_*

Sore harinya, langit distrik barat perlahan berubah tembaga. Lyra berjalan keluar dari gerbang SMA Elit Gava dengan langkah lelah. Efek dari rumor dan konfrontasi kantin siang tadi benar-benar menguras energinya. Berjalan kaki sejauh dua kilometer menuju ruko kue Nenek terasa seperti beban yang sangat berat hari ini.

Tiba-tiba, bunyi deru mesin motor sport hitam yang bising memecah keheningan di sampingnya. Motor itu berhenti mendadak di tepi trotoar, tepat di sebelah Lyra, membuat debu jalanan sedikit beterbangan.

Arsyen El Barack membuka kaca helm full-face-nya, menatap Lyra dengan pandangan tajam yang dingin.

"Hei, Cewek Beasiswa," panggil Arsyen dengan nada suara yang sombong, kasar, dan tanpa tata krama seperti biasanya. "Naik. Jangan membuatku membuang waktu di pinggir jalan seperti orang bodoh."

Lyra tersentak mundur, memeluk tas sekolahnya erat-erat. "Enggak, terima kasih. Aku bisa jalan kaki sendiri."

"Jangan sok keras kepala," ketus Arsyen, mendengus keras seolah merasa direpotkan. "Lihat muka pucatmu itu, kau kelihatan seperti mayat berjalan yang sebentar lagi pingsan di got. Kalau kau pingsan di jalanan dekat sekolah, reputasi SMA Gava bisa jelek karena membiarkan anak beasiswanya mati kelaparan. Naik atau kupaksa?"

Kata-katanya terdengar sangat menusuk dan kasar. Namun, jika Lyra jeli, Arsyen sebenarnya sengaja memarkir motornya sedemikian rupa untuk menghalangi angin sore yang dingin agar tidak langsung menerpa tubuh Lyra. Arsyen tahu seisi kantin tadi merundungnya lewat tatapan, dan membiarkan gadis rapuh ini berjalan sendirian pulang adalah hal berbahaya. Ini adalah cara berandalan itu melindunginya, kasar di luar, namun tulus di dalam hati, sangat kontras dengan Elian yang bermulut manis namun manipulatif.

"Aku bilang tidak perlu, Arsyen," jawab Lyra tegas, menolak untuk tunduk pada gertakan cowok berandalan itu. Ia melangkah cepat melewati motor Arsyen.

Arsyen menatap punggung tegap Lyra yang menjauh dengan decakan kesal. "Cih, gadis aneh yang merepotkan," gumamnya, namun ia tetap melajukan motornya perlahan di belakang Lyra dari jarak aman, memastikan gadis itu sampai ke distrik barat dengan selamat.

Di seberang jalan, dari balik kaca jendela mobil sedan hitam mewah yang terparkir senyap di bawah bayangan pohon trembesi, sepasang mata elang milik Elian Gava Alaric mengunci pemandangan itu.

Jemari tangan Elian yang mengenakan jam tangan kronograf hitam mewah tampak mencengkeram erat pinggiran jok kulit mobil hingga memutih. Rahangnya mengeras sempurna, dan auranya yang ingin memiliki lyra sepenuhnya di dalam kabin mobil yang kedap suara itu mendadak turun hingga ke titik beku. Elian tidak terima. Sifat obsesif dan posesifnya yang ekstrem bergejolak hebat di dalam dadanya, bagaimana bisa Arsyen, si berandalan kotor itu, berani mendekati wanita yang harus menjadi miliknya seorang diri?.

"Kau sedang menggali kuburanmu sendiri, Arsyen," bisik Elian dengan nada suara yang teramat rendah, berat, dan sarat akan bahaya yang mengerikan pada kesunyian kabin mobil.

1
Lenny Utami
😍
Lenny Utami
sebahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!