"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aryan Kecelakaan
"Astaghfirullah, Aryan!!"
“ARYAAAAAN!”
Teriakan Arshaf menggema keras ketika melihat mobil yang ditumpangi saudaranya melaju tak terkendali ke arah sebuah truk besar yang datang dari arah berlawanan.
Kafa langsung terbangun dari posisi tidurnya. “Kenapa, Shaf?!” tanyanya panik sambil menatap ke depan.
Namun matanya langsung membelalak.
Mobil Aryan oleng hebat.
Beberapa mahasiswa yang berada di bak belakang kendaraan itu refleks melompat keluar demi menyelamatkan diri sebelum tabrakan terjadi.
Bruk!
Beberapa dari mereka tersungkur ke aspal, mengalami lecet dan terkilir.
Namun Aryan dan Andre masih terjebak di dalam mobil.
Dan tabrakan itu— Tidak bisa dihindari.
“Allahuakbar!”
Suara takbir dari Aryan dan Andre terdengar bersamaan tepat sebelum—
BRAAAKKKK!
Benturan keras mengguncang jalan raya.
Mobil menghantam sisi depan truk lalu terpental kuat menabrak pembatas jalan.
Suara besi ringsek dan kaca pecah memekakkan telinga.
“BERHENTI! BERHENTI WOI!” teriak Arshaf histeris pada sopir mobil mereka.
Mobil yang mereka tumpangi langsung menepi secara mendadak.
Belum benar-benar berhenti sempurna, Arshaf sudah melompat turun dan berlari sekencang mungkin menuju mobil Aryan yang kini hancur sebagian.
“YAN!”
Giska syok berat. Tubuhnya membeku.
Kedua tangannya gemetar hebat di depan mulut yang menganga. Air matanya langsung jatuh begitu melihat kondisi mobil tersebut.
Sementara Kafa segera menyusul Arshaf dengan napas memburu.
“Mobil Presma kecelakaan!”
“Tolongin!”
“Ayo bantu!”
“Ban mobilnya ditembak!”
“Astaghfirullah... panggil ambulans!”
“Tolong! Tolong!”
Jalan raya langsung dipenuhi kepanikan. Kemacetan panjang tak terhindarkan.
Orang-orang mulai berkerumun di sekitar lokasi kecelakaan.
Aryan dan Andre terluka parah.
Darah mengalir dari tubuh mereka.
Arshaf dengan tangan gemetar segera menarik tubuh Aryan keluar dari mobil dibantu Kafa.
Sementara mahasiswa lain berusaha mengeluarkan Andre dari sisi pengemudi.
“Yan... Yan bangun...” suara Arshaf pecah penuh tangis. “Lo gak boleh kenapa-napa... nanti Zaskia gimana?!”
Kepala Aryan kini berada di pangkuannya.
Darah membasahi celana dan kaus Arshaf hingga membuat laki-laki itu makin panik.
Ia menepuk-nepuk pipi kembarannya berulang kali.
“Yan! Dengerin gue!”
Aryan tak memberi respons.
Matanya terpejam.
Napasnya terdengar berat dan tidak beraturan.
“Kok bisa...” gumam Kafa dengan tubuh gemetar.
“Ada yang nembak ban mobil mereka...” sahut salah satu mahasiswa dengan suara bergetar.
Kafa langsung berjongkok di samping Aryan. “Aryan... lo denger gue kan?” katanya panik sambil memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan laki-laki itu.
Beberapa detik kemudian Kafa menghembuskan napas lega meski matanya sudah memerah.
“Masih ada...” lirihnya. “Nadinya masih ada... tapi lemah.”
Arshaf langsung menangis makin keras. “Yan... please tahan sedikit lagi...”
Namun suasana mendadak membeku ketika salah satu mahasiswa lain bersuara lirih di belakang mereka.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un...”
Semua kepala menoleh.
Mahasiswa itu menatap Andre dengan wajah pucat.
“Andre meninggal...” ucapnya pelan.
Deg!
Jantung Arshaf seperti berhenti berdetak. Wajahnya langsung pucat pasi.
Sementara Kafa menunduk lemah sambil mengepalkan tangan kuat-kuat.
Di tengah suara sirine ambulans yang mulai terdengar mendekat... Ketakutan terbesar mereka kini hanya satu.
Aryan harus selamat.
***
Zaskia mengernyit menatap layar ponselnya. Pesan yang ia kirim beberapa menit lalu pada Aryan sudah terbaca, tetapi belum juga mendapat balasan. Hal itu langsung membuat bibirnya manyun. Jemarinya kembali menari di atas keyboard, meramaikan ruang obrolan mereka dengan rentetan pesan manja.
“Kak, dibales. Ih!”
“Masa cuma di-read doang!”
“Kak.”
“Kia ngambek nih!”
“Kakak tidur ya? Yaudah, nanti kalau udah sampai masjid kabarin Kia ya. Kia udah beli mie sama telurnya nih. Cepetan pulang ya!”
“Kia kangen... hehehe.”
Namun setelah pesan terakhir terkirim, tanda centang di layar hanya satu.
Tanda online di bawah nama Aryan pun menghilang.
Zaskia menghela napas pelan, berusaha menenangkan pikirannya sendiri. Mungkin Aryan sedang di jalan. Mungkin sedang capek. Ia tak boleh egois.
“Kia,” panggil Ayesha dari arah dapur.
“Iya, Bunda.”
“Bantuin Bunda dulu.”
“Oke, Kia datang.”
Zaskia memadamkan layar ponselnya, lalu berjalan menuju dapur tanpa tau bahwa di tempat lain, dunia seseorang yang sangat ia cintai sedang berada di ujung kehancuran.
Sirene ambulans meraung nyaring membelah jalanan sore yang mulai dipenuhi kendaraan. Lampu merah-biru di atas mobil berkedip cepat, menyorot wajah-wajah panik di dalamnya.
Arshaf duduk di samping brankar Aryan dengan tubuh gemetar hebat. Jemarinya menggenggam tangan saudara kembarnya erat, lalu menempelkannya ke dahinya sendiri.
“Ya Allah... jangan ambil saudara hamba...” suaranya pecah oleh isak. “Tolong selamatin dia. Dia baru mau jadi ayah... jangan bikin perempuan yang nunggu dia pulang nangis, ya Allah...”
Tangis Arshaf pecah semakin keras. Bahunya berguncang hebat. Kepalanya terasa penuh dan sesak.
Apa yang harus ia katakan nanti?
Bagaimana ia menjelaskan semua ini pada keluarganya?
Pada kedua orangtuanya.
Pada Zaskia. Perempuan yang bahkan sedang hamil anak Aryan.
Di sebelahnya, Kafa terduduk dengan wajah pucat. Air matanya jatuh tanpa suara. Tatapannya tak lepas dari tubuh Aryan yang terbaring lemah dengan oksigen menutupi hidung dan mulutnya.
Darah masih terlihat mengering di beberapa bagian wajah dan pakaian laki-laki itu.
“Ya Allah... selamatkan Aryan...” doa Kafa lirih dalam hati. “Kia udah terlalu banyak terluka karenaku. Jangan biarin dia kehilangan suaminya juga...”
Perawat di dalam ambulans terus memeriksa denyut nadi Aryan yang semakin melemah. Suasana di dalam mobil terasa mencekam. Bahkan suara sirene kini seperti terdengar jauh.
Beberapa menit kemudian, ambulans akhirnya tiba di rumah sakit.
Pintu belakang dibuka cepat.
“Cepat! ICU!” teriak salah satu tenaga medis.
Arshaf dan Kafa langsung membantu menurunkan brankar. Mereka berlari mendorong tubuh Aryan menyusuri lorong rumah sakit yang dingin dan terang.
“Permisi! Minggir dulu!”
“Pasien kritis!”
Roda brankar bergerak cepat hingga akhirnya berhenti di depan ruang ICU.
Begitu tubuh Aryan dibawa masuk, seorang perawat menahan langkah Arshaf dan Kafa.
“Mohon tunggu di luar ya. Hanya dokter dan perawat yang boleh masuk.”
Keduanya terdiam.
Pintu ICU perlahan tertutup di depan wajah mereka.
Dan di balik pintu itu... Aryan menghilang dari pandangan.
Arshaf menatap pintu tersebut dengan mata merah penuh air mata. Napasnya memburu.
“S-sekarang gimana, Kaf?” suaranya bergetar hebat. “Gue harus ngomong apa sama keluarga gue? Sama Zaskia?” Ia menunduk frustasi sambil mencengkeram rambutnya sendiri.
“Gue gak sanggup lihat mereka nangis...”
Air mata kembali jatuh. “Kenapa semua ini harus terjadi?” teriaknya lirih penuh amarah. “Kenapa bukan gue aja yang ngalamin? Kenapa harus Aryan?! Kenapa, Kaf?!”
“Istighfar, Shaf...” Kafa langsung memegang bahunya erat. Meski dirinya sendiri hampir runtuh. “Semua udah jadi takdir Allah... tenang dulu...”
“Gimana gue mau tenang?!” bentak Arshaf dengan suara pecah. “Kia lagi hamil! Lo bisa bayangin gak gimana hancurnya dia kalau tau keadaan Aryan sekarang?!”
Kalimat itu membuat dada Kafa ikut terasa sesak. Karena ia pun juga membayangkan hal itu. Ia tak sanggup melihat air mata Zaskia.
Arshaf akhirnya terduduk lemas di kursi lorong rumah sakit. Wajahnya tenggelam di kedua telapak tangan. Tangisnya pecah tanpa bisa dibendung lagi.
Bahunya berguncang kuat.
Kafa menatap sahabatnya itu dengan mata sembab, lalu perlahan memeluknya erat.
“Kita tunggu dokter dulu...” ucapnya pelan. “Habis itu... baru kita kabarin keluarga.”
Arshaf mengangguk lemah.
Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan ponselnya.
Nama “Abi” terlihat jelas di layar.
Napasnya tercekat.
Tetapi seberat apa pun ini... kedua orangtuanya harus tau.
Jemari Arshaf gemetar hebat saat menekan tombol panggil pada nama sang abi.
Panggilan tersambung.
Beberapa detik kemudian terdengar suara berat Abidzar di seberang sana.
“Assalamu’alaikum, Shaf. Gimana demonya? Udah selesai?” Mendengar suara ayahnya yang terdengar tenang, tenggorokan Arshaf langsung terasa tercekat.
Ia membuka mulut, tetapi tak ada suara yang keluar.
Sebelumnya Arshaf dan Aryan sudah meminta izin pada kedua orangtuanya untuk melakukan aksi demo. Abidzar mengizinkan sebab ia dulu juga pernah melakukan hal yang sama saat kuliah dulu.
“Shaf?”
Arshaf menutup wajahnya sebentar, berusaha menahan tangis yang kembali naik ke permukaan.
“I-iya, Bi...” jawabnya parau.
Abidzar langsung menyadari ada yang tidak beres. “Kenapa suara kamu begitu?”
Arshaf menunduk dalam. Dadanya sesak sekali. “Abi...” panggilnya lirih.
“Iya?”
“Kami...” napasnya memburu. “Kami kecelakaan, Bi.”
Deg!
Di seberang sana, suasana mendadak hening.
“Kecelakaan?” suara Abidzar berubah tegang. “Kamu gimana? Kafa? Aryan?”
Arshaf langsung menangis lagi. “Kami gapapa...” ucapnya terbata. “Tapi mobil yang ditumpangi Aryan ditembak orang... ban mobilnya pecah... terus nabrak truk...”
“Astaghfirullahaladzim...” suara Abidzar melemah.
Arshaf mendengar samar suara kursi bergeser di sana. Mungkin abinya baru saja berdiri karena panik.
“Sekarang Aryan dimana?!”
“Di ICU, Bi...” tangis Arshaf makin pecah. “Dokter belum keluar... Andre meninggal di tempat...”
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un...” Suara Arshaf terdengar berat dan syok.
Beberapa detik tak ada yang berbicara.
Arshaf bisa mendengar napas ayahnya yang mulai tidak beraturan.
“Rumah sakit mana kalian sekarang?” tanya Abidzar cepat.
Arshaf segera menyebutkan nama rumah sakit tempat mereka berada.
“Denger Abi baik-baik.” Nada suara Abidzar berubah tegas meski terdengar bergetar. “Jangan tinggalin Aryan sendirian. Abi sama Uma langsung berangkat sekarang juga.”
“Abi...” suara Arshaf kembali melemah. “Bandung jauh...”
“Gapapa. Abi usahain secepat mungkin sampai.”
Arshaf menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak kembali histeris. “Abi...” panggilnya lagi.
“Iya?”
“Gimana kalau Aryan kenapa-napa?” kalimat itu keluar bersama isak yang menyakitkan. “Gimana kalau Kia tau sebelum kita sampai? Aku takut dia syok, Bi... Kia lagi hamil...”
Di seberang sana, Abidzar memejamkan mata kuat-kuat.
Dadanya terasa dihantam sesuatu.
Namun sebagai kepala keluarga, ia memaksa dirinya tetap tenang.
“Jangan mikir yang buruk dulu.” Suaranya rendah namun tegas. “Doain Aryan. Allah masih punya kuasa buat nyelametin anak Abi.”
Arshaf mengangguk meski ayahnya tak bisa melihat. “Iya, Bi...”
“Sekarang kasih teleponnya ke Kafa.”
Arshaf segera mengusap wajahnya kasar lalu menyerahkan ponsel pada Kafa yang sedari tadi diam dengan mata sembab.
“Om.”
“Kafa, tolong jagain Arshaf. Jangan sampai dia sendirian.”
“Iya, Om.”
“Kalau ada apa-apa langsung kabarin Om."
“Baik, Om.”
Panggilan berakhir.
Setelah ponsel turun dari telinga, lorong rumah sakit kembali dipenuhi keheningan mencekam.
Arshaf menatap kosong ke arah pintu ICU.
Lampu di atas ruangan itu masih menyala merah.
***
“Kak Aryan ke mana sih, kok belum pulang juga ya, Bunda?” tanya Zaskia pelan sambil menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
“Iya ya...” gumam Ayesha ikut khawatir. “Kamu udah coba hubungi Aryan belum?”
“Udah, Bun. Tapi nomornya gak aktif.”
“Kalau Arshaf atau Kafa?”
Zaskia menggeleng pelan. “Belum. Kia gak kepikiran ke sana. Coba Kia telepon sekarang ya.”
“Iya, sayang.”
Kedua wanita itu tengah berada di ruang tengah. Sementara Zaid masih berada di kamarnya.
Zaskia kembali membuka ponselnya lalu mencari kontak Arshaf. Setelah menemukannya, ia langsung melakukan panggilan.
Namun tidak diangkat.
Ia kemudian mencoba menghubungi Kafa.
Tetap sama. Tak ada jawaban.
“Gimana?” tanya Ayesha yang sedari tadi menunggu dengan gelisah.
“Kak Arshaf sama Kak Kafa juga gak ngangkat, Bun.”
“Coba telepon lagi sampai diangkat.”
Zaskia mengangguk pelan lalu kembali melakukan panggilan.
Sementara menunggu sambungan tersambung, Ayesha mengambil remote dan menyalakan televisi untuk mengalihkan kecemasan mereka.
Namun baru beberapa detik layar menyala— Keduanya langsung terpaku.
“Terjadi kecelakaan maut pada mobil yang ditumpangi sejumlah mahasiswa yang diketahui baru pulang dari aksi demonstrasi di Gedung DPR RI pada sore tadi sekitar pukul lima lewat lima belas menit di Tol A.”
Suara pembawa berita terdengar jelas memenuhi ruang keluarga.
"Menurut keterangan para saksi, sebelum kecelakaan terjadi, ada sekelompok orang bersenjata yang mengendarai minibus hitam dan menembaki ban mobil yang dikendarai para korban hingga kendaraan hilang kendali dan menabrak truk dari arah berlawanan.”
Wajah Ayesha perlahan berubah pucat.
Sementara tangan Zaskia yang memegang ponsel mulai gemetar.
“Dugaan sementara, kelompok bersenjata tersebut memang mengincar salah satu korban yang diketahui merupakan ketua BEM dari salah satu universitas ternama. Jumlah korban meninggal dunia satu orang, satu korban lainnya dalam kondisi kritis, sementara beberapa mahasiswa lain hanya mengalami luka ringan dan terkilir di beberapa bagian tubuh.”
“Berikut liputan selengkapnya untuk Anda.”
Remot yang dipegang Ayesha sontak terjatuh ke lantai. Wanita itu menoleh ke samping dan mendapati Zaskia yang juga tampak syok dengan mulut menganga. Cairan hangat mulai luruh membasahi pipinya. Ponsel di tangan perempuan itu ikut terlepas begitu saja dari genggaman yang bergetar.
“Bunda... gimana kalau itu Kak Aryan?” suara Zaskia bergetar hebat. “Iya, itu pasti Kak Aryan. Makanya dia gak balas chat Kia dan teleponnya gak aktif. Bunda ayo ke rumah sakit sekarang... ayo, Bun!”
Zaskia terlihat linglung. Pandangannya buyar mencari arah. Dadanya naik turun menahan sesak, sementara jantungnya berdetak begitu keras sampai kepalanya terasa pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Kakinya mendadak lemas hingga nyaris tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
“Kia, tenang dulu, sayang.” Ayesha buru-buru menarik putrinya agar kembali duduk di sofa. “Belum tentu itu Aryan. Ayo duduk dulu. Kita hubungi ayah dulu, biar ayah yang cek ke rumah sakit, ya.”
“Tapi Bun—”
“Jangan mikir yang aneh-aneh dulu.” Ayesha mengusap air mata di pipi Zaskia dengan tangan gemetar. “Mungkin aja yang kecelakaan temannya Aryan. Makanya Aryan belum pulang. Positive thinking dulu, sayang.”
Zaskia mencoba mengatur napasnya. Ia berusaha mengikuti ucapan sang bunda. Namun sekeras apa pun ia menenangkan diri, firasat buruk itu tetap menusuk dadanya tanpa ampun. Ada sesuatu yang terjadi pada Aryan. Ia yakin. Sangat yakin.
“Assalamu’alaikum.” Suara Zhafran yang baru masuk ke ruang tengah membuat keduanya menoleh. Lelaki itu langsung terkejut melihat Zaskia yang sudah menangis tersedu-sedu. "Loh Kia kenapa?"
“Wa’alaikumsalam,” jawab Ayesha cepat. “Lihat berita, Mas.”
Zhafran segera mengalihkan pandangan ke televisi. Wajahnya seketika berubah tegang.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un...” gumamnya pelan. “Aryan udah pulang belum?”
“Belum, Mas.”
“Udah dihubungi?”
“Udah. Tapi nggak aktif.”
“Arshaf sama Kafa?”
“Sama, Mas. Nggak ada yang angkat.”
Perasaan Zhafran mulai tidak tenang. Tepat di tengah kecemasannya, ponselnya tiba-tiba berdering. Lelaki itu buru-buru menerima panggilan yang ternyata berasal dari Azzam—om Aryan dan Arshaf.
“Zhaf...” suara di seberang terdengar parau menahan tangis. “Aryan kecelakaan. Tadi Arshaf yang ngabarin. Abidzar juga sekarang lagi di jalan menuju rumah sakit.”
Jantung Zhafran seperti jatuh seketika. Lututnya melemas. Nafasnya tercekat mendengar kabar itu.
“Mas? Siapa yang telepon?” Ayesha mendekat dengan wajah panik. Melihat ekspresi suaminya, jantung wanita itu ikut berdegup tak karuan.
Zhafran menelan ludah berat sebelum berusaha menenangkan diri. “Siap-siap sekarang ya. Kita pergi.”
“Mas...”
“Sekarang. Jangan tanya dulu.” Tatapan Zhafran penuh arti, seolah menyampaikan sesuatu tanpa kata.
Dan Ayesha langsung mengerti.
Tubuh wanita itu melemas sesaat. Namun ia segera bangkit dan bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian.
Sementara itu, Zaskia yang sedari tadi memperhatikan gelagat kedua orang tuanya mulai merasa semakin takut.
“Ada apa, Yah?” tanyanya dengan suara lirih bergetar. “Ayah habis ditelepon siapa?”
Zhafran terdiam beberapa detik sebelum akhirnya memaksa tersenyum tipis. “Bukan siapa-siapa. Kamu ganti baju juga ya, kita pergi bareng.”
“Kemana?” Air mata Zaskia kembali jatuh. “Terus Kak Aryan gimana? Masa kita mau ninggalin Kak Aryan?”
“Kita nggak ninggalin Aryan, Kia.” Suara Zhafran melemah. “Justru kita mau nyamperin Aryan.”
Zaskia membelalak.
“Ke rumah sakit?” bibirnya gemetar hebat. “Jadi benar kan? Yang kecelakaan itu Kak Aryan?” Tangisnya pecah lagi. “Yang tadi nelepon ayah itu Kak Arshaf atau Kak Kafa, kan? Ayah jawab dong! Kia benar, kan?”
“Kia...” Zhafran melangkah cepat ingin memeluk putrinya. Namun sebelum sempat menyentuh tubuh Zaskia, perempuan itu tiba-tiba limbung.
Bruk!
Tubuhnya jatuh tak sadarkan diri.
“Astaghfirullah! Kia!”
Zhafran langsung menangkap tubuh putrinya sebelum kepalanya membentur lantai.
“Ayesha! Dek!”
Mendengar teriakan suaminya, Ayesha yang baru keluar kamar langsung berlari panik menuju ruang tengah.
“Kenapa, Mas?” Tatapan wanita itu langsung membesar saat melihat Zaskia terkulai pucat di pangkuan Zhafran. “Astaghfirullah, Kia...”
“Pegangin kepalanya dulu,” ucap Zhafran cepat. “Biar Mas bawa Kia ke kamar.”
Ayesha segera menopang kepala putrinya. Setelah itu Zhafran membopong tubuh Zaskia menaiki tangga menuju kamar di lantai atas. Ayesha mengikuti di belakang dengan wajah penuh kecemasan.
Di lantai atas, Zaid yang baru keluar kamar langsung terkejut melihat kakaknya digendong dalam keadaan pingsan. Ia hendak bertanya, namun Ayesha memberi kode agar diam dulu.
Sesampainya di kamar, Zhafran membaringkan tubuh Zaskia dengan hati-hati di atas ranjang. Wajah perempuan itu tampak pucat dengan sisa air mata yang masih membekas di pipinya.
“Kamu temenin Kia dulu ya,” ujar Zhafran pelan pada Ayesha. “Nanti Mas jemput lagi setelah lihat keadaan Aryan.”
Ayesha mengangguk cepat. “Iya, Mas. Mas hati-hati di jalan. Jangan ngebut.”
“Iya.”
Zhafran mengecup singkat kening istrinya sebelum beranjak pergi. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam...”
Tatapan Ayesha mengikuti punggung suaminya hingga menghilang di balik pintu kamar. Setelah itu, wanita itu kembali menoleh pada Zaskia yang masih belum sadar sepenuhnya.
Hatinya terasa sesak melihat putrinya seperti ini.
Ayesha lalu duduk di sisi ranjang, mengusap lembut rambut Zaskia sambil menahan tangisnya sendiri.
Di dalam hati, ia terus memanjatkan doa. Memohon dengan sangat kepada Sang Pencipta agar Aryan baik-baik saja... agar laki-laki itu bisa kembali pulang dan bertemu lagi dengan istri serta calon anaknya yang masih berada di dalam kandungan.
ini pasti slah stu suruhan sikuruptor tuh
ya allah