Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.
Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.
[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 Mampukah
Mendengar pernyataan Andra, Carlsen mencibir meremehkan, namun Jae Gin justru meresponsnya dengan anggukan kepala yang sangat serius. "Saya mengerti, Andra. Kami tidak mungkin berniat untuk menimbulkan permusuhan atau mencari perkara seperti itu di tengah situasi sekacau ini."
Setelah menyelesaikan pembahasan mengenai hilangnya Min Suho, Jae Gin menekan tombol konsol mimbar untuk memulai agenda utama mereka. Layar besar di belakangnya berubah memanifestasikan sebuah grafik simulasi ukuran robekan spasial.
"Baiklah, mari kita mulai fokus membahas ancaman terbesar umat manusia saat ini: retakan dimensi raksasa yang baru saja terbuka di Sektor Pusat," ucap Jae Gin, nadanya terdengar luar biasa mencekam.
Layar holografik menampilkan perbandingan skala. "Retakan dimensi kali ini... secara resmi telah tercatat sebagai robekan spasial terbesar yang pernah muncul di atas muka bumi sejak era Userator dimulai. Ukuran dimensinya mencapai lima kali lipat jauh lebih besar dari retakan dimensi terbesar yang pernah tercatat di dalam sejarah umat manusia sebelumnya."
Layar kembali berkedip, menampilkan barisan analisis struktur biologis monster-monster purba.
"Di era retakan dimensi terbesar terdahulu, bumi kita sempat diinvasi oleh beberapa monster dari kelas Calamity—sosok makhluk paling mematikan dan setingkat bencana alam yang pernah ada di dunia luar. Monster kelas Calamity jelas dibekali dengan tingkat kecerdasan strategis yang setara dengan manusia biasa, serta memiliki pasokan mana energi yang luar biasa kuat hingga membutuhkan kerja sama taktis dari beberapa Userator 6 Stars sekaligus hanya untuk menumbangkan satu ekor saja," papar Jae Gin membuat atmosfer ruangan semakin membeku.
Para Userator 6 Stars yang hadir, termasuk Carlsen dan Zain, tampak memajukan tubuh mereka, menyimak setiap kalimat Jae Gin dengan fokus mutlak. Hanya Qingxao yang setengah fokus karena matanya masih melirik kemasan jajanannya yang sudah kosong.
"Retakan dimensi baru kali ini berukuran jauh lebih raksasa dari itu. Oleh karena itu, kita sama sekali tidak bisa mengasumsikan bahwa monster kelas Calamity yang akan keluar dari dalam sana nanti akan mudah dikalahkan. Sesuai dengan hukum skala ukuran dimensi, kita harus meningkatkan ekspektasi pertahanan kita ke titik tertinggi... bahwa makhluk yang akan keluar dari dalam sana akan berada di level yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup umat manusia."
Jae Gin menatap keempat pelindung dunia itu dengan pandangan penuh harap. "Aku sangat berharap kalian semua sudah berada di puncak kesiapan tempur untuk menghadapi monster jenis apa pun yang akan melangkah keluar dari sana nanti. Kita harus bekerja sama demi melindungi Benua Axia dan menyelamatkan nyawa para warga sipil."
WUSH—
Tepat di saat rapat dewan eksekutif sedang berlangsung, di luar sana, di dekat titik pusat koordinat retakan dimensi raksasa yang membelah langit Korea.
"Ini benar-benar gila!! Sialan, apakah kita para manusia beneran sanggup untuk melawan gelombang monster abnormal sebanyak ini?!" teriak seorang reporter berita internasional dengan wajah pucat pasi.
Ia harus berteriak sekuat tenaga sembari mengarahkan kamera rekaman video langsungnya keluar dari pintu helikopter media yang sedang terbang tinggi di udara, beradu dengan suara deru baling-baling helikopter yang bergetar hebat akibat tekanan udara magis di langit.
Dari dalam lubang retakan ratusan meter tersebut, bermanifestasi keluar ratusan ekor monster raksasa berukuran setinggi gedung pencakar langit dari kelas Overlord secara serempak! Pasukan raksasa itu jatuh menghantam permukaan tanah laksana hujan meteor jatuh, langsung mengamuk brutal dan meruntuhkan deretan gedung-gedung bertingkat di pusat kota dengan sangat mudah menggunakan sapuan ekor dan cakar mereka.
Ribuan barisan Userator tempur dari seluruh divisi militer wilayah Korea telah dikerahkan secara total di area darat untuk membendung pergerakan pasukan raksasa tersebut.
"Ini tidak masuk nalar sama sekali!! Makhluk-makhluk raksasa ini hanyalah unit monster permulaan... tapi kenapa yang keluar semuanya langsung didominasi oleh kelas Overlord?!"
"Benar! Jika pasukan permulaannya saja sudah semenakutkan ini... monster macam apa yang akan keluar setelah barisan Overlord ini habis?!"
"Jangan banyak melamun, Bodoh! Fokuskan sihirmu! Kita harus terus bertarung sampai mati demi melindungi wilayah pemukiman kita!!"
"Baiklah! Serang mereka secara bersama-sama!! Hancurkan!!"
Barisan pemburu Korea mencoba untuk terus meluncurkan fusi serangan magis beruntun ke arah kaki dan tubuh ratusan monster Overlord setinggi gedung tersebut.
Namun, benteng pertahanan manusia mulai berjatuhan satu per satu; meski jumlah personel manusia jauh lebih banyak, tetap saja menghadapi serbuan ratusan Overlord secara serempak bukanlah sebuah urusan yang mudah untuk dimenangkan oleh pemburu biasa.
Kembali ke dalam ruang rapat Serikat utama, siaran langsung yang merekam pembantaian dan kehancuran kota tersebut terpampang jelas di layar proyeksi raksasa, membuat gurat wajah para Userator 6 Stars tampak menegang kaku menyaksikan situasi yang sangat kacau dan berdarah tersebut.
Di ruangan itu, sosok yang masih terlihat santai hanyalah Hisaki yang terus memejamkan matanya, serta Qingxao yang kini sibuk memainkan tongkat sihir pendeknya.
"Cih... bukankah di dalam situasi darurat dan kritis laksana kiamat seperti saat ini... kita sangat membutuhkan kehadiran dan intervensi langsung dari Alexander, sang Ranking 1 Dunia?!" cetus Carlsen kesal, memukul meja rapat karena frustrasi menatap banyaknya korban pemburu yang berjatuhan di layar.
Jae Gin menoleh ke arah Carlsen, menggelengkan kepalanya pelan. "Tuan Alexander pernah memberikan pesan kepada Serikat pusat... bahwa dia hanya akan turun ke medan pertempuran jika kondisi dunia memang benar-benar sudah berada di ambang kehancuran yang sangat berbahaya."
"Apakah pemandangan kota yang hancur dan ratusan Overlord yang mengamuk saat ini masih belum dianggap cukup berbahaya oleh otaknya?!" sembur Zain mulai ikut terpancing emosi.
"Hmm, jangan terlalu membiasakan diri untuk selalu mengandalkan kekuatan Tuan Alexander," sela Hisaki akhirnya membuka suara. Suaranya terdengar sangat merdu namun sedingin es abadi.
"Kita semua adalah pelindung benua yang menyandang peringkat 6 Stars. Kita harus menghadapi dan menyelesaikan badai monster ini menggunakan sepasang tangan kita sendiri."
"Tapi pria ranking satu itu beneran misterius! Dia tidak pernah sekalipun muncul di depan publik Serikat, bahkan aku sendiri yang seorang aktor terkenal sama sekali tidak pernah tahu bagaimana rupa wajahnya!" keluh Carlsen mendengus kesal.
"Aku juga tidak pernah tahu bagaimana rupa wajah asli Kakak Alexander," timpal Qingxao menyahut dengan nada suara polosnya.
"Tapi... aku tahu kalau Kakak Alexander itu adalah orang yang sangat, sangat kuat!"
Andra tersenyum tipis di kursinya, menyilangkan tangannya. "Mungkin... pria nomor satu itu baru akan benar-benar menampakkan batang hidungnya di depan kita jika tubuh kita semua yang ada di ruangan ini sudah tidak sanggup lagi menahan gempuran monster-monster tersebut."
"Cih! Harusnya dia langsung muncul saja dari awal tanpa perlu banyak berlagak misterius! Setidaknya dengan kekuatannya, kita bisa mengurangi jumlah korban jiwa dari para barisan pemburu bawah!" maki Carlsen gusar.
BOOOOOOMMMM!!!
Belum sempat makian Carlsen selesai bergeming, sebuah guncangan gempa yang luar biasa dahsyat mendadak menghantam struktur bangunan Menara Utama Serikat tempat mereka sedang mengadakan rapat.
Dinding beton magis setebal tiga meter di sudut ruangan meledak hancur berantakan laksana kaca murah akibat terkena hantaman telak dari sebuah tembakan laser energi jarak jauh milik monster dari arah luar.
Ledakan besar itu seketika menciptakan sebuah lubang menganga raksasa berdiameter sepuluh meter di dinding ruang rapat mereka, membiarkan kepulan asap hitam dan angin kencang menerobos masuk ke dalam.
Sontak, Jae Gin, Carlsen, Zain, Andra, Hisaki, dan Qingxao langsung bangkit dari posisi mereka dan melangkah cepat mendekati tepian lubang hancur tersebut.
Mereka mengarahkan pandangan tajam mereka menembus kabut asap, menatap lurus ke arah cakrawala langit kota yang berjarak belasan kilometer di depan mereka.
Dari kejauhan, pemandangan kota Seoul benar-benar telah menjelma menjadi neraka dunia yang dipenuhi kobaran api dan raungan ratusan colossal Overlord yang terus melangkah maju meremukkan peradaban manusia.
"Sialan..." desis Carlsen dengan rahang mengatup rapat, menatap pemandangan mengerikan di hadapannya dengan kepalan tangan yang gemetaran.
"Sampai kapan... sampai kapan barisan pemburu di garda depan itu bisa bertahan menahan gelombang iblis-iblis raksasa itu..."
Bersambung...
klo bsa ceritanya jgan terlalu lma ke yg lain
fokus ke arka aja kan dia MC
klo ke yg lain sebisanya agak dipersingkat
gitu aj dan ceritanya bagus kok
semangat buat ceritanya thor
tak kasih kopi 1👍