NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: tamat
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Hari itu Bu Ayu benar-benar sudah berdiri sambil membuka aplikasi belanja di ponselnya.

"Ka, menurut kamu warna baju keluarga bagusnya apa? Sage? Dusty blue? Atau krem? Eh tapi kalau lamaran tuh harus ada baki seserahan ya? Mama telepon Tante Mira dulu deh."

Aska langsung bangkit dan menahan tangan ibunya.

"Ma..."

Bu Ayu menoleh. "Kenapa?"

Aska tertawa kecil.

"Pelan-pelan. Jangan sekarang."

Bu Ayu mengerucutkan bibir. "Lho kenapa? Tadi kamu bilang serius."

"Aku serius. Sangat serius. Tapi Celsi belum jawab apa-apa."

Bu Ayu berhenti.

Aska menarik napas pelan.

"Dia habis ngalamin banyak hal. Aku nggak mau dia merasa didesak. Aku mau kasih dia waktu."

Bu Ayu menatap anaknya beberapa saat, lalu senyum lembut muncul.

"Kamu suka dia ya?"

Aska tertawa pelan.

"Banget."

Bu Ayu mengangguk.

"Kalau begitu benar. Jangan buru-buru. Perempuan yang pernah kecewa itu bukan susah jatuh cinta lagi. Mereka cuma takut salah pilih."

Aska mengangguk.

"Aku tahu."

Sejak hari itu, tidak ada lagi pembicaraan soal melamar secara mendadak.

Aska kembali menjalani hari seperti biasa.

Tetap bekerja.

Tetap rapat.

Tetap keliling proyek.

Tetap datang ke Geprek Cinta.

Dan justru itu yang membuat Celsi makin bingung.

Karena setelah pengakuan sebesar itu...

Aska sama sekali tidak menekan.

Tidak menagih jawaban.

Tidak mengirim pesan panjang tiap malam.

Tidak datang membawa bunga.

Dia tetap sama.

Kadang datang siang.

Kadang sore.

Kadang bersama tim lapangan.

Kadang bersama klien.

Kadang sendirian.

Hari pertama setelah kejadian di rumah...

Aska datang membawa dua staf laki-laki.

Hari kedua dia datang bersama klien keluarga.

Hari ketiga...

Celsi sedang berdiri di kasir saat pintu restoran terbuka.

"Aska, sini dong lihat layout rumah yang kemarin."

Suara perempuan.

Celsi refleks mengangkat kepala.

Seorang wanita tinggi berambut panjang berjalan di samping Aska sambil membuka tablet. Pakaiannya rapi, cantik, dan terlihat sangat dekat.

Aska membungkuk sedikit melihat layar yang dipegang wanita itu.

Mereka tertawa.

Celsi langsung menunduk lagi.

"Pesan apa, Bu?" tanyanya datar.

Wanita itu tersenyum.

"Satu paket level tiga ya."

Celsi mencatat cepat.

Jangan lihat.

Jangan peduli.

Dia klien.

Pasti klien.

Memangnya kenapa kalau Aska dekat sama perempuan lain?

Mereka bukan siapa-siapa.

Benar.

Bukan siapa-siapa.

Tapi entah kenapa...

Hatinya tidak nyaman.

Saat makanan selesai dan diantar pelayan, Celsi diam-diam melirik.

Wanita itu sedang menunjuk sesuatu di layar.

Aska ikut melihat.

Lalu mereka tertawa lagi.

Celsi menggigit bibir.

Rasanya... aneh.

Malamnya dia langsung kesal sendiri.

"Aku kenapa sih?"

Bu Dewi yang sedang melipat baju melirik.

"Kenapa?"

"Nggak kenapa."

Bu Dewi tersenyum kecil.

"Koh Aska datang lagi?"

Celsi langsung menoleh.

"Mah!"

Bu Dewi tertawa.

"Ya sudah."

Hari-hari berikutnya tidak jauh berbeda.

Kadang Aska datang sama teman.

Kadang sama investor.

Kadang sama klien.

Dan sialnya...

Ada saja perempuan.

Celsi mulai memperhatikan tanpa sadar.

Kalau perempuan itu bicara sama Aska, dia dengar.

Kalau perempuan itu tertawa, dia lihat.

Kalau perempuan itu duduk dekat...

Dia langsung pura-pura sibuk.

Sampai suatu sore.

Aska datang lagi.

Kali ini dengan perempuan berbeda.

Celsi sedang mengelap meja.

Dia melihat perempuan itu menyodorkan minuman.

Aska menerima.

Celsi langsung membalik badan.

Tiba-tiba—

"Celsi."

Jantungnya langsung melonjak.

Aska berdiri di belakang.

Celsi pura-pura santai.

"Iya?"

"Keluar bentar."

"Hah?"

"Ngobrol."

Celsi menatap meja.

"Aku kerja."

Aska menatap jam.

"Lima menit."

Entah kenapa akhirnya Celsi ikut keluar.

Mereka berdiri di samping ruko.

Aska bersandar santai.

Celsi berdiri agak jauh.

Aska menatap lama.

"Kamu kenapa?"

"Nggak kenapa."

"Bohong."

"Nggak."

Aska tersenyum kecil.

"Kamu cemburu ya?"

Celsi langsung membelalak.

"Apa?!"

Aska tertawa pelan.

"Kamu kalau aku datang sama perempuan, mukanya berubah."

Celsi langsung menyilangkan tangan.

"PD banget."

Aska mendekat setengah langkah.

"Yang tadi klien."

Celsi diam.

"Yang kemarin juga klien."

Celsi mengangguk cepat.

"Terus?"

"Yang minggu lalu itu agen."

Celsi menaikkan alis.

"Ngapain jelasin ke aku?"

Aska menatap lurus.

"Karena aku nggak suka kalau kamu kepikiran."

Celsi langsung memalingkan wajah.

"Aku nggak kepikiran."

Aska mengangguk pelan.

"Oh."

Diam.

Lalu Aska mendekat lagi.

"Kalau nggak kepikiran... kenapa pas aku datang sama mereka kamu nggak pernah lihat aku?"

Celsi membeku.

Aska tersenyum.

"Celsi."

"Apa."

"Kamu nggak perlu cemburu."

Celsi langsung mendelik.

"Aku nggak cemburu!"

Aska tertawa.

"Oke."

Celsi makin kesal.

"Aku sama kamu memang nggak ada hubungan apa-apa."

Aska diam sebentar.

Lalu mengangguk.

"Iya."

Jawaban itu malah bikin hati Celsi aneh.

Aska tersenyum kecil.

"Tapi aku tetap nunggu."

Celsi menatapnya.

Aska lanjut pelan.

"Aku cuma nggak mau kamu takut sendirian."

Lalu dia masuk lagi ke dalam restoran.

Dan Celsi berdiri mematung.

Beberapa minggu berlalu.

Suatu hari Celsi memutuskan sesuatu.

Dia ingin beli rumah.

Bukan besar.

Rumah sederhana.

Untuk dirinya sendiri.

Tabungannya cukup.

Awalnya dia membuka kontak Aska.

Jarinya sudah di tombol panggil.

Lalu berhenti.

Jangan.

Nanti dikira cari alasan.

Dia menghela napas lalu mencari nomor tim pemasaran perusahaan Aska.

"Selamat siang, saya mau survei rumah."

Janji dibuat.

Lokasi dikirim.

Hari H.

Celsi datang sendiri.

Perumahan itu cukup tenang.

Dia turun dari motor sambil melihat sekitar.

Lalu seseorang memanggil.

"Celsi?"

Celsi menoleh.

Dan langsung membeku.

Aska berdiri di sana.

Pakai kemeja putih, tangan masuk saku, senyum tipis.

Celsi melongo.

"Koh?!"

Aska berjalan mendekat.

"Selamat datang."

Celsi berkedip.

"Kok... Koh di sini?"

Aska mengangkat alis.

"Kamu booking survei rumah dari tim pemasaran perusahaan aku."

Celsi diam.

Aska tersenyum makin lebar.

"Dan entah kenapa... data prospeknya masuk ke meja aku."

Jantung Celsi mulai tidak tenang.

Aska membuka tablet.

"Jadi Bu Celsi..."

Dia menatap langsung ke matanya.

"Mau cari rumah buat sendiri."

Aska berhenti sebentar.

Lalu senyum jahilnya muncul.

"Atau sekalian cari rumah yang kamarnya cukup buat suami juga?"

1
sunaryati jarum
Hubungan diawali kurang baik akan berakhir kurang baik juga, sungguh sangat adil
Lyeend
menantu? bukankah aska husband nya celsi,🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
sunaryati jarum
Sifat iri kok piara Bu Weni,buang yang jauh toh cari Syukur , hidupmu akan nyaman
Susilawati Arum
kan bukannya Aska pernah bertemu sebelumnya dengan Rangga dan Vena..kok Aska nggak tau kalau itu Rangga
sunaryati jarum
Nah kan kecebong Aska sudah ada yang tumbuh di rahim Celsy,dia nggak ngalami tanda- tanda kehamilan
Dilla Fadilla
lanjut thor yg bnyk 💪
sunaryati jarum
Nah ketahuan jika kau memalsukan hasil tes kesuburan Rangga dan Celsi.
Ambo Nai
hamil kembar
sunaryati jarum
Semoga Chelsi hamil
sunaryati jarum
Nah benar perkiraan emak, yang mandul itu Rangga.Anak dulu yang dituduhkan anaknya, ternyata jebakan
sunaryati jarum
Ayo semangat buat adonan bayi Koh Aska,benih anda semoga tok cer langsung tumbuh Walau difonis mandul siapa tahu ada kesalahan.Dan kandungan Vena bukan benih Rangga.
Syahdu: Gak akan bosen deh, Novel ada chat lucunya😆 di I Love you Brutally. Cewek yang naksir kakak kelas secara terang-terangan! Terima kasih dukungannya🤍🫶🏻😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Bagus
sunaryati jarum
Nah ,sadar diri gitu Rangga.Prnyesalan tidak ada gunanya.Apalagi entar kamu sama Vera tak kunjung punya anak,tapi Celsi yang langsung hamil.Emak ingin tahu reaksi kamu dan ibumu.
Ma Em
Rangga kamu sdh menceraikan Celsi dan kamu sdh ada Vena perempuan pilihan mu sekarang Celsi sdh dapat pengganti mu jauh lbh baik seorang pengusaha properti yg sukses .
Lyeend
omongan yang mantap dan padu😂😂
sunaryati jarum
Ingin hati memprovokasi dan membatalkan pernikahan.Celsi ,belum keluar ucapannya sudah dikunci ,Asaka.Bravo Aska, sepertinya kamu tahu siapa yang mengaku Rian.
sunaryati jarum
Astaga saudara kok kaya gitu , tidak menghargai kakaknya,bukan itu anaknya yang merebut mantan suami Celsi
sunaryati jarum
Kukira tetangga julid ternyata baik malah memberi nasehat walau melalui candaan, segera menikah ya
sunaryati jarum
Ayo Celsi gugup ta, orang yang kau rindu menepati janjinya
sunaryati jarum
Ayo Celcy, terima .Toh kamu juga sudah ada rasa sama Aska
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!