DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tamu di penghujung sore
BAB 2 - Tamu di Penghujung Sore
Secercah harapan kini kembali menyelimuti benak Rahmat. Hatinya yang tadinya hampir pupus karena tekanan ekonomi yang selama ini ia pikul, perlahan mulai terangkat kembali.
"Nduk, si Mbah pesan bakso satu ya," ujar lelaki tua itu setelah langkah mantapnya berhenti tepat di depan gerobak. Suaranya terdengar berat, akrab, namun menyimpan sebentuk wibawa yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Nggih, Mbah. Ditunggu sebentar yah," sahut Ratna dengan senyum ramah. Ia langsung bangkit dari kursi panjang dan segera menyiapkan mangkuk kosong.
Dengan cekatan, tangan Ratna mulai meracik bumbu di dalam mangkuk porselen bergambar ayam jago. Bunyi denting sendok yang beradu dengan keramik terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian sore itu. Bunyi yang dulu terasa biasa saja bagi mereka, namun sekarang terdengar seperti untaian musik indah yang sudah lama dirindukan.
Lelaki tua itu—Mbah Cahyo—menarik kursi kayu yang tersedia di dekat meja. Seketika, bunyi berderit nyaring dari kaki kursi yang bergesekan dengan lantai semen terdengar berpadu dengan denting sendok Bu Ratna yang berbenturan dengan mangkuk.
Ia pun duduk dengan tenang menanti pesanannya. Matanya yang sayu namun tajam perlahan menyapu seluruh sudut kios itu. Luas, lengang, dan kosong. Sepinya pengunjung di sore itu seolah memberikan ruang yang jauh lebih besar bagi kesunyian untuk menetap di sana.
Tiba-tiba, gerakan bola mata Mbah Cahyo terhenti. Tatapannya berhenti tepat di wajah Rahmat. Lelaki tua itu memperhatikan Rahmat yang sedang duduk bersandar, namun ada sesuatu yang ganjil di sana. Tatapan mata Rahmat terasa begitu kosong, seolah-olah pria itu sedang memikul rasa berdosa atau beban hidup yang teramat berat di atas kedua pundaknya.
Seakan paham apa yang sedang bergolak di dalam hati lelaki itu, Mbah Cahyo menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Ia berniat memecah keheningan sore yang lambat laun terasa makin menyesakkan dada.
"Sapa jenengmu, Le?" tanya si Mbah. Suaranya terdengar halus, namun entah bagaimana rasanya seperti menembus sampai ke tulang.
Rahmat seketika tersentak dari lamunan panjangnya. Ia menoleh ke arah Mbah Cahyo, lalu memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa begitu hambar dan palsu. "Rahmat, Mbah."
"Rahmat..." Mbah Cahyo mengulang nama itu dengan suara pelan, seolah-olah ia sedang mengunyah makna dari nama tersebut satu demi satu. Ia mengangguk-angguk kecil, sementara sorot matanya sama sekali tak lepas dari wajah pria di hadapannya.
Kehadiran orang tua itu entah bagaimana seolah menjadi penawar instan bagi rasa gelisah Rahmat. Setidaknya untuk saat ini, ada orang lain yang mau berbicara dengannya, dan yang paling penting... ada yang mau menatapnya kembali sebagai seorang manusia, bukan sebagai seorang pedagang yang gagal.
Tak lama kemudian, aroma kaldu yang gurih dan berlemak menguar semerbak memenuhi rongga dada, menandakan bahwa pesanan bakso hangat milik Mbah Cahyo sudah siap disajikan.
"Monggo, Mbah. Iki baksonya," ucap Ratna dengan sangat ramah sambil menyodorkan mangkuk yang masih mengepulkan uap panas ke depan lelaki tua itu. Kehangatan obrolan yang tadi sempat terjalin di antara Rahmat dan Mbah Cahyo, kini terputus sejenak.
Dengan tangan gemetar rentanya, Mbah Cahyo menyambut mangkuk tersebut. Ia menggesernya pelan-pelan ke dekat wajah. Uap panas segera naik ke atas, membawa aroma daging sapi yang kuat dan gurih. Aroma yang dulu selalu menjadi kebanggaan besar bagi Rahmat, namun sekarang... di matanya hanyalah menjadi bau makanan biasa yang tak lagi memiliki daya magis.
"Matur nuwun, Nduk..." ucap si Mbah pelan dengan suara beratnya. Matanya mendadak menatap tajam ke arah Ratna, menembus jauh ke dalam, seolah-olah ia ingin melihat rahasia apa yang sedang tersembunyi di balik wajah lelah wanita itu.
Ratna cuma bisa mengangguk pelan, ada sedikit rasa segan bercampur takut saat berhadapan dengan sepasang mata tua yang teramat tajam itu. Namun di sisi lain, rasa penasaran mulai menggerogoti hatinya. Ia bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya yang sedang atau akan dibicarakan oleh suaminya dengan orang asing ini? Didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat, Ratna pun melangkah mendekat, menarik sebuah kursi kayu reyot lainnya, lalu duduk berhadapan dengan mereka. Ia memilih diam, bersiap menyimak setiap kata yang akan keluar.
Mbah Cahyo mulai membelah butiran bakso di mangkuknya dengan sendok, lalu menyuapnya perlahan dalam keheningan yang pekat. Pasangan suami istri itu hanya bisa terpaku, menyaksikan tamu satu-satunya sore itu menikmati makanan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Waktu kemudian berjalan tanpa terasa di tengah suasana yang intens tersebut. Tiga puluh menit lewat begitu saja. Butir bakso terakhir di dalam mangkuk sudah lenyap, bahkan kuah kaldu yang tersisa pun diseruput oleh Mbah Cahyo hingga tetes terakhir tanpa sisa. Setelah tuntas, Mbah Cahyo meletakkan kembali mangkuk porselen itu, lalu mendorongnya pelan ke tengah meja—sebuah isyarat tak terucap bahwa santapannya telah usai, dan obrolan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.
BERSAMBUNG
jangan lupa like back ke ceritaku 😁