Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku bukan parasit
Mobil Keenan akhirnya memasuki halaman rumah. Namun, pemandangan di depan rumah membuat dada Tiara kembali sesak.
Sejumlah warga tampak berkerumun di dekat pagar, seolah telah menunggu kepulangan mereka.
Begitu mobil berhenti, beberapa pasang mata langsung tertuju ke arah kendaraan itu. Tiara membeku. Jemarinya mencengkeram ujung jaket, sementara nafasnya kembali terasa berat.
"Aku nggak mau turun..." bisiknya lirih.
Kinanti yang duduk di sampingnya segera merangkul tubuh gadis itu.
Sementara itu, Keenan turun lebih dulu. Meski hatinya dipenuhi kegelisahan, ia tetap berusaha menyapa para tetangganya dengan senyum tipis.
"Pak Keenan, bagaimana keadaan Tiara?" tanya salah seorang warga.
"Kami ikut prihatin atas musibah yang menimpa Tiara," sahut yang lain.
Belum sempat Keenan menjawab, seorang ibu kembali angkat bicara.
"Kalau waktu kejadian Tiara lagi masa subur, suruh dia makan nanas muda saja."
"Iya, atau minum jamu peluntur kandungan sebelum terlambat," timpal ibu lainnya tanpa merasa ucapannya melukai.
Rahang Keenan mengeras. Dadanya bergemuruh menahan amarah. Namun, demi putrinya, ia memaksa dirinya tetap tenang.
"Ibu-ibu, putri saya baru saja pulang dari rumah sakit. Kondisinya masih sangat lemah dan membutuhkan banyak istirahat. Jadi saya mohon pengertiannya."
Alih-alih mundur, rasa penasaran para warga justru semakin besar. Beberapa orang melangkah mendekati mobil, bahkan berusaha mengintip melalui kaca untuk melihat keadaan Tiara.
Di dalam mobil, Tiara langsung menundukkan kepala. Tubuhnya bergetar ketakutan. Kinanti segera memeluknya semakin erat, seolah berusaha menjadi dinding yang melindunginya dari tatapan-tatapan yang terasa begitu menghakimi.
Melihat para warga tak juga beranjak, Keenan menarik nafas panjang.
"Ibu-ibu," katanya sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas. "Saya benar-benar memohon. Beri putri saya ruang untuk memulihkan diri. Kami tidak bisa melayani pertanyaan apa pun saat ini."
Ucapan itu akhirnya membuat para warga saling berpandangan. Dengan wajah yang masih menyimpan rasa penasaran, mereka satu per satu meninggalkan halaman rumah.
Setelah memastikan keadaan kembali lengang, Keenan segera menutup pagar besi rumahnya rapat-rapat. Barulah ia menghembuskan napas panjang, seolah pagar itu bukan hanya memisahkan keluarganya dari kerumunan warga, tetapi juga menjadi benteng yang melindungi Tiara dari tatapan dan ucapan yang terus mengoyak luka di hatinya.
Begitu mobil berhenti sempurna, Tiara segera membuka pintu.Tanpa menoleh sedikit pun, ia berlari memasuki rumah dan langsung mengurung diri di dalam kamarnya. Kinanti memandang punggung gadis itu hingga menghilang di balik pintu. Ia tahu, Tiara sedang menangis. Hatinya tergerus perih, tetapi ia juga mengerti bahwa terkadang seseorang membutuhkan ruang untuk meluapkan kesedihannya sendirian.
"Ya Allah... kuatkan kami dalam menghadapi cobaan ini," lirih Keenan.
Pria itu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Bahunya merosot, seolah seluruh tenaga dan ketegarannya ikut luruh bersama do’a yang baru saja ia panjatkan.
Kinanti duduk di sampingnya, lalu menggenggam lembut tangan sang suami.
"Mas, aku buatkan minuman hangat, ya. Biar badan dan pikiran Mas sedikit lebih tenang."
Keenan hanya mengangguk pelan. Kinanti tidak langsung menyusul Tiara. Saat ini, ia yakin gadis itu membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Ia melangkah ke dapur, lalu menyiapkan secangkir cokelat hangat untuk Keenan.
Beberapa menit kemudian, Kinanti kembali ke ruang tamu sambil membawa secangkir minuman. Belum sempat ia menyerahkannya kepada Keenan, terdengar suara salam dari arah pintu depan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Keenan dan Kinanti hampir bersamaan.
"Eh, Ibu... Kalila."
Ia terlebih dahulu meletakkan cangkir cokelat di atas meja, lalu berjalan menghampiri ibu mertuanya bersama adik iparnya dengan senyum hormat. Kalila membalas senyuman itu dengan hangat.
Namun, berbeda dengan Bu Salma.
Perempuan paruh baya itu justru menepis tangan Kinanti saat hendak menyalaminya. Tatapannya dingin, tanpa sedikit pun menunjukkan keramahan.
Sesaat tangan Kinanti menggantung di udara. Meski ada sesak yang menyelinap di dadanya, ia tetap menarik kembali tangannya sambil mempertahankan senyum sopan di wajahnya.
"Silakan duduk, Bu... Kalila," ucapnya lembut, seolah penolakan itu tak pernah terjadi.
"Gimana keadaan Tiara, Mas, Mbak?" tanya Kalila dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Keenan menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab.
"Sejak keluar dari kamar perawatan, Tiara terus diliputi ketakutan. Dia takut orang-orang bukan cuma menghakiminya, tapi juga menjauhi dan mengucilkannya."
Kalila menundukkan kepala sesaat. Hatinya ikut nyeri membayangkan beban yang harus dipikul keponakannya.
"Aku temui Tiara dulu."
Tanpa menunggu jawaban, ia bangkit dari sofa dan melangkah menuju kamar Tiara.
Suasana ruang tamu pun berubah sunyi. Tak seorang pun membuka percakapan, hingga akhirnya suara Bu Salma memecah keheningan.
"Kamu sadar nggak," ucapnya dingin sambil menatap Kinanti tanpa berkedip, "kalau semua yang terjadi ini gara-gara kamu!”
Kinanti mengernyit. Meski hatinya mulai terasa panas, ia tetap berusaha menjaga nada bicaranya.
"Kenapa Ibu menyalahkan saya?"
"Karena sejak awal cucu-cucu saya nggak pernah setuju ayah mereka menikah sama kamu. Tapi kamu tetap memaksakan diri masuk ke keluarga ini. Kamu memang nggak tahu diri!"
"Bu," sela Keenan. "Jangan menyalahkan Kinanti. Dia tidak bersalah. Aku yang melamarnya untuk menjadi ibu sambung bagi anak-anakku."
Namun, Bu Salma seolah tak mendengar pembelaan putranya.
"Keenan, apa kamu benar-benar buta?" katanya dengan nada menyindir. "Perempuan seperti dia cuma mengincar hartamu. Dia menikah denganmu supaya hidup enak. Dia itu tidak lebih dari parasit yang menumpang hidup di istana.”
Ucapan itu menampar harga diri Kinanti. Selama ini ia memilih diam, menelan setiap hinaan yang dilontarkan ibu mertuanya demi menjaga keharmonisan keluarga. Namun, kali ini ia merasa jika terus membisu, Bu Salma akan semakin yakin bahwa semua tuduhannya benar.
Kinanti menarik napas dalam, lalu menatap ibu mertuanya dengan tenang.
"Bu, sebelum menikah dengan Mas Keenan, saya sudah memiliki pekerjaan yang layak. Penghasilan saya juga lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sendiri."
Ia berhenti sejenak, menahan gejolak yang memenuhi dadanya.
"Saya meninggalkan pekerjaan itu bukan karena mengincar harta Mas Keenan. Saya melakukannya demi menepati wasiat almarhumah sahabat saya, Ratih Wulandari, yang meminta saya menjaga dan menyayangi anak-anaknya."
Tatapan Kinanti tidak bergeser sedikit pun.
"Jadi, Ibu keliru jika menganggap saya datang ke rumah ini hanya untuk menumpang hidup enak. Saya datang membawa amanah, bukan ambisi.”
"Ah, sudahlah. Nggak usah sok suci membawa-bawa amanah," cibir Bu Salma dengan senyum meremehkan. "Parasit tetaplah parasit!”
Kesabaran Keenan yang sejak tadi ia tahan akhirnya runtuh.
"Bu, cukup!" serunya tegas. "Berhenti menyebut Kinanti parasit!"
Nada suaranya yang meninggi membuat seluruh ruangan seketika membeku.
Bu Salma menatap putranya dengan sorot mata penuh kekecewaan.
"Jadi sekarang..." suaranya bergetar menahan sakit hati, "hanya karena perempuan itu, kamu berani membentak ibumu sendiri?"
Raut wajah Keenan langsung berubah. Penyesalan seketika menyergapnya.
"Bu... bukan begitu maksudku. Aku cuma..."
Namun, Bu Salma tak lagi memberi kesempatan putranya menjelaskan.
Dengan wajah memerah menahan amarah dan kecewa, ia bangkit dari sofa, lalu melangkah cepat meninggalkan ruang tamu menuju halaman rumah.
"Bu! Bu, tunggu!" teriak Keenan sambil bergegas mengejarnya.
Belum sempat ia menyusul, dari luar rumah tiba-tiba terdengar suara benturan keras, disusul bunyi sepeda motor yang terjatuh.
Brak!
Sesaat kemudian, sebuah teriakan panik memecah udara.
"Astaghfirullahaladzim! Bu Salma!”
Mahesa hemmmm ada something ini