Kehidupan Selia yang penuh dengan warna menjadi rumit semenjak pertemuannya dengan seorang laki-laki bernama Franz,pasalnya laki-laki berusia tiga puluh tahun itu memiliki perasaan cinta yang menggebu-gebu sejak pertemuan pertama mereka. Namun Selia tidak ingin terburu-buru menikah,meski ia juga memiliki teman laki-laki yang begitu dekat dengannya.
Tujuan hidupnya hanya satu ingin membanggakan orang tua tunggalnya dan memberikan hidup yang lebih bahagia kepada ibu dan adiknya itu,namun apakah Selia dapat mewujudkan mimpinya itu? atau justru cinta dan ambisi yang akan menang?
Simak terus ceritanya dan jangan sampai ketinggalan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inirindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGOREK LUKA LAMA
Setelah selesai dengan urusannya,Selia segera bergegas keluar dari toilet dan berniat menyusul Franz ke ballroom. Namun saat ia baru saja melangkahkan kaki keluar dari toilet ia berpapasan dengan sosok yang dikenalnya,Selia langsung mematung ditempat dengan wajah yang terlihat tegang
"Selia...." sapa Nadheo
"Permisi...." jawab Selia mencoba menghindar dari laki-laki yang pernah menjadi pengisi hatinya
"Tunggu Selia"
"Ada apalagi?"
"Aku ingin menjelaskan soal waktu itu"
"Gak ada yang perlu dijelaskan lagi"
"Kalau begitu,berita soal pernikahan kamu besok Minggu apakah itu benar?"
"Ya"
"Secepat itu kamu melupakan tentang kita?"
"Gak ada yang perlu kita ingat soal masa-masa itu,menjalin hubungan dengan kamu adalah kesalahan yang seharusnya tidak aku lakukan"
"Siapa laki-laki itu?"
"Kamu tidak perlu tahu"
"Aku perlu memastikan bahwa dia laki-laki yang baik yang benar-benar bisa membahagiakan kamu"
"Oh tentunya bisa,dan yang jelas dia gak mungkin berbohong soal latar belakangnya hanya supaya aku mau menerimanya"
"Soal itu aku sama sekali tidak berniat membohongi kamu Selia,aku hanya ingin memberitahu kamu disaat yang tepat"
"Sudahlah,tidak akan ada pembelaan untuk sebuah kebohongan. Aku permisi"
"Seliaaa...."
Dengan gugup Selia berjalan meninggalkan Nadheo,ia memasuki ballroom dengan wajah yang masih sedikit panik. Hal itu membuat Franz khawatir dan segera menghampiri calon istrinya
"Hei,kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa"
"Serius? Kamu kelihatan pucat sekali,kamu sakit?"
"Bisa kita pulang sekarang?"
"Tentu,ayo"
Franz dan Selia keluar dari ballroom dan segera menuju lobi,sementara itu Toni sudah bersedia disana untuk menjemput mereka.
"Sudah selesai tuan?"
"Sudah,kita langsung ke rumah Selia"
"Baik tuan"
Selama perjalanan Selia terdiam,ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Nadheo tadi. Luka yang masih belum kering membuat hatinya kembali sakit,sampai ia hampir meneteskan air mata. Tak terasa mobil telah tiba diseberang rumah Selia,tenda hajatan sudah berdiri di halaman rumah. Didalam terlihat ramai keluarga dan para tetangga membantu mempersiapkan segalanya
"Sebaiknya kamu langsung pulang saja" pinta Selia pada Franz
"Kamu yakin saya tidak perlu ikut turun?"
"Para tetangga sudah pada datang,saya tidak ingin kamu diwawancarai secara mendadak"
"Ya sudah,kamu jaga kesehatan. Kabari saya jika membutuhkan apapun,kita akan bertemu tiga hari lagi dipelaminan"
Selia hanya tersenyum lalu turun dari mobil,setelah Franz pergi ia segera masuk kedalam rumah. Dan benar saja,ia menjadi sasaran orang-orang untuk bertanya soal calon suaminya
"Kamu habis ketemu sama nak Franz ya?" tanya tante Ruhi
"Ibu dimana bulek?"
"Kenapa Lia? Kamu darimana saja?"
"Kita hanya perlu masak untuk syukuran saja bu,masalah catering dan semua soal pernikahan sudah diurus Franz"
"Kamu ini,nak Franz itu calon suami kamu. Seharusnya kamu lebih sopan dan lebih hormat padanya,pakai panggilan mas"
"Dia aja gak keberatan kok bu soal itu"
"Selia,mau bagaimanapun dia lebih tua dari kamu. Dan sudah kewajiban seorang istri menghormati suaminya"
"Ya tapikan kita belum resmi menikah bu"
"Sudah pokoknya mulai saat ini kamu harus memanggilnya mas,supaya nanti kalau sudah menikah kamu sudah terbiasa"
"Iya iya,yaudah Selia mau ke kamar dulu"
"Iya"
...****************...
Masa lajang Selia tinggal dua hari lagi sebelum akhirnya ia resmi menikah dengan Franz,di sisa harinya itu ia habiskan untuk menikmati kebebasannya dikamar dengan suara para tetangga yang tengah bergosip sembari membantu mempersiapkan pernikahannya. Tiba-tiba Nadhiva masuk kekamarnya dengan membawa kotak hadiah
"Mbak...."
"Apa itu?"
"Gak tahu,barusan ada kurir yang antar. Katanya buat mbak Selia"
"Dari siapa?"
"Entah,mungkin dari om Franz"
"Yaudah,kamu keluar sana"
"Kamu gak ada niatan buka sekarang mbak?"
"Apasih? Udah sana keluar"
"Iya iya"
S
Setelah Nadhiva keluar,Selia membuka kotak berwarna biru itu,didalamnya terdapat sebuah jam dan terdapat sepucuk surat dari sang pengirimnya. Selia membuka surat itu yang didalamnya bertuliskan
"Saat kamu menerimanya mungkin sekarang aku sudah pergi jauh,semoga pernikahan kamu akan selalu bahagia Selia. From Nadheo"
Mata Selia berkaca-kaca,kemarin ia baru saja bertemu dengan pengirim hadiah tersebut dan membuatnya kembali merasakan sakit dari luka yang masih teringat jelas dibenaknya. Tanpa bisa menahannya lagi Selia benar-benar menangis hingga suara isakannya membuat tante Ruhi dan bu Yekti masuk kekamarnya.
"Lia kamu kenapa?" tanya bu Yekti bingung
"Selia...." panggil tante Ruhi
Melihat putrinya yang histeris bu Yekti segera memeluknya,ia berusaha menenangkan Selia yang belum berhenti mengeluarkan air mata sembari menggenggam kertas ditangannya. Tante Ruhi keluar dan berniat menelfon Franz untuk memberitahu keadaan Selia,namun karena Franz sedang mengadakan acara keluarga guna membahas pernikahannya maka ia tidak bisa menjawab saat itu juga. Penuh rasa khawatir tante Ruhi kembali masuk kedalam kamar keponakannya itu,ternyata Selia sudah lumayan tenang namun masih dalam pelukan ibunya
"Mbak..." panggil tante Ruhi pada kakaknya
"Tolong ambilkan minum buat Lia Ru"
"Iya mbak"
Tak lama kemudian tante Ruhi kembali dengan segelas air ditangannya
"Ini mbak"
"Minum dulu Li..."
Selia meneguk beberapa kali air didalam gelas,setelah merasa cukup tenang ia menyenderkan badannya ke dinding
"Mau cerita sekarang?" tanya bu Yekti
"Selia pengen tidur bu"
"Ya sudah kalau begitu,kalau ada apa-apa panggil ibu. Kamu istirahat,nanti malam kita ada acara pengajian sebelum besok kita berangkat ke hotel"
"Iya bu"
Setelah semua keluar dari kamar,Selia kembali menatap box putih disampingnya. Ia segera membereskan dan meletakkannya diatas lemari pakaian,matanya kembali meneteskan air mata namun dengan cepat ia menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara.
...****************...
Pukul 19.00 para tetangga dan jemaah pengajian telah tiba,Selia berada didepan rumah menyambut kedatangan semua orang. Ternyata bu Yekti mengundang ustadz ternama dikampung itu untuk mengisi acara sekaligus memberikan wejangan untuk Selia sang calon pengantin,acara berjalan khidmat. Tak teras jam sudah menunjukkan pukul 22.00,acara telah berakhir dan tinggal keluarga inti yang ada dirumah bu Yekti.
"Selia,kamu tidur duluan sana. Jangan begadang,supaya besok waktu acara kamu terlihat fresh" ucap bu Yekti
"Iya bu"
Selia segera menuju kamar untuk beristirahat,para kerabat beberapa tidur dirumah bu Yekti beberapa dirumah tante Ruhi. Sesampai dirumah tante Ruhi bercerita pada suaminya tentang kejadian yang Selia alami tadi siang
"Mas,masak tadi siang Selia tiba-tiba nangis"
"Nangis kenapa?"
"Aku juga gak tahu,semua orang yang ada dirumah mbak Yekti kaget loh"
"Apa dia masih belum terima untuk menikah dengan nak Franz?"
"Kayaknya sih begitu ya mas"
"Kamu gak coba telfon dia?"
"Dia siapa?"
"Franz,coba kamu tanya apa mereka sedang ada masalah"
"Besok aja deh mas,lagian ini sudah malam paling Franz juga sudah tidur"
"Ya sudah terserah kamu"
Malam itu ditutup dengan rasa lelah seluruh keluarga,namun semua itu demi acara tetap berjalan dengan lancar.