Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.
Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.
Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.
Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.
Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.
Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Bersalah
Langit sudah berubah menjadi jingga pucat ketika mereka sampai di rumah Nazwa.
Rumah itu masih terasa tenang. Halaman depan sepi, hanya terdengar suara dedaunan yang sesekali bergerak tertiup angin sore. Di dalam rumah pun tidak ada banyak suara, menandakan orang tuanya belum pulang.
Karin dan Nazwa duduk di ruang tamu yang meja kacanya kini dipenuhi buku, laptop, dan beberapa lembar catatan.
Beberapa jam telah berlalu. Tugas yang tadi dibawa Karin akhirnya selesai juga. Ia meregangkan tubuhnya sambil menghela napas panjang.
“Ya ampun…”
Ia menutup laptopnya pelan.
“Setiap kali ngerjain tugas bareng kamu tuh rasanya kayak… aku yang lagi kursus kilat, tau gak?"
Nazwa yang sedang merapikan kertas hanya tersenyum tipis.
“Lebay deh ih."
“Enggak, serius.” Karin bersandar ke sofa.
"Analisis kamu tuh selalu rapi. Aku kadang ngerasa masih jauh banget," pujinya sembari merentangkan tangan bagaikan menarik karet tak terlihat.
Nazwa menggeleng kecil.
“Kamu juga bisa atuh."
Jawabannya singkat. Seperti kebanyakan jawaban yang ia berikan sejak siang tadi.
Karin memperhatikannya beberapa detik.
Sejak di kampus sampai sekarang, Nazwa masih terlihat berbeda. Tidak ada tawa kecil seperti biasanya. Tidak ada komentar panjang yang biasanya muncul ketika mereka berdiskusi.
Hanya jawaban pendek.
Tenang.
Terlalu tenang.
Karin akhirnya menautkan kedua tangannya di atas meja kaca.
“Wa.”
Nazwa menoleh sedikit.
“Iya?”
Karin menatapnya dengan serius kali ini.
“Kamu kenapa sih hari ini?”
Nazwa sempat terdiam. Pandangan matanya turun ke meja.
“Gapapa.”
Karin langsung menghela napas. Ia menggeleng pelan.
Beberapa detik mereka sama-sama diam. Rumah masih terasa sunyi. Hanya suara kipas angin di sudut ruangan yang berputar pelan.
Nazwa menatap meja kaca di depannya. Jari-jarinya tanpa sadar memainkan ujung kertas catatan.
Lalu ia berkata pelan,
“Kalau…”
Ia berhenti sebentar.
“Kalau ada seseorang yang bahkan belum lima kali kamu ketemu…”
Karin langsung menoleh.
“Tapi orang itu malah terus kepikiran.”
Nazwa masih menatap meja.
“Menurut kamu itu aneh gak?”
Karin berkedip beberapa kali. Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat.
“Ooooh…,” gumamnya panjang.
Nazwa menatapnya.
“Kenapa kamu senyum begitu?”
Karin menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Lanjut dulu ceritanya.”
Nazwa menghela napas kecil.
“Dia… orangnya biasa aja. Bahkan mungkin terlalu biasa.”
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan lebih pelan.
Karin langsung mengingat sesuatu.
“Yang ketemu di perpus kemarin itu?”
Nazwa mengangguk pelan.
Karin menyilangkan kaki.
“Oke, lanjut.”
Nazwa terdiam sebentar sebelum berkata lagi.
“Kemarin dia datang ke rumah lagi loh."
Karin mengerutkan kening.
“Terus?”
Nazwa menelan ludah kecil sebelum melanjutkan.
“Dia nganter paket. Seperti biasa."
Karin menatapnya dengan ekspresi yang makin penasaran.
Nazwa menghela napas pelan.
“Waktu itu… Kevan juga dateng.”
Karin langsung mengangguk.
Karin mulai memahami arah ceritanya.
“Oh I see,” gumamnya pelan.
Nazwa menunduk sedikit.
“Aku pikir waktu itu biasa aja.”
“Tapi setelah aku inget lagi…”
Ia berhenti sejenak.
“Cara dia pergi waktu itu... mungkin dia salah paham."
Ruang tamu kembali sunyi beberapa detik. Karin memperhatikan wajah sahabatnya itu dengan lebih serius sekarang.
“So?" katanya perlahan.
“Kamu kepikiran dia?”
Nazwa tidak langsung menjawab. Namun ekspresi wajahnya sudah cukup jelas. Karin menyandarkan dagunya ke telapak tangan.
“Menarik nih,” gumamnya.
Nazwa mengangkat alis.
“Apanya yang menarik?”
Karin tersenyum kecil.
“Kamu.”
Nazwa mengerutkan kening.
“Aku?”
Ia menatap Nazwa dengan mata yang sedikit menyipit, seperti sedang mengamati sesuatu.
“Nazwa yang biasanya super rasional…”
Ia menunjuk dadanya.
“…sekarang lagi kepikiran cowok yang bahkan belum lima kali ketemu.”
Nazwa langsung menghela napas.
“Kebiasaan deh.”
Karin tertawa kecil.
“Tenang.”
Ia mengangkat kedua tangannya.
“Aku belum analisis kok.”
Namun senyum kecil di wajahnya masih tersisa.
“Walaupun… aku mulai ngerti kenapa kamu murung dari tadi.”
Nazwa menunduk lagi.
“Ini aneh gak sih?”
Karin mengangkat bahu ringan.
“Enggak juga.”
Ia mengambil bantal kecil di sofa lalu memeluknya santai.
“Toh perasaan manusia emang sering muncul dari interaksi kecil.”
Ia menatap Nazwa lagi.
“Apalagi kalau orangnya ninggalin kesan.”
Nazwa terdiam. Bayangan Yuda kembali muncul di kepalanya.
Karin akhirnya berkata pelan,
“Tapi yang bikin aku penasaran cuma satu.”
Nazwa menoleh.
“Apa?”
Karin menyeringai kecil.
"Yang kamu pikirin itu dia... atau perasaanmu sendiri?"
Nazwa menunduk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pelan.
“Ini… lebih ke perasaanku sendiri.”
Karin yang sejak tadi memeluk bantal di sofa langsung memperhatikan wajahnya dengan lebih serius.
Nazwa menarik napas kecil sebelum melanjutkan.
“Awalnya aku cuma pengen ketemu dia lagi buat minta maaf.
“Aku nanya dia lagi cari buku apa… dan dia jawabnya cari buku anak-anak.”
Karin mulai tersenyum kecil.
Nazwa langsung melanjutkan dengan nada sedikit malu. Hingga tanpa sadar dia memainkan ujung rambutnya.
“Padahal kita lagi berdiri di rak pengetahuan umum.”
Ia menunduk semakin dalam.
“Aku pikir waktu itu dia lagi bercanda… tapi sekarang kalau dipikir lagi, mungkin dia cuma gugup.”
Karin tidak berkata apa-apa.
Nazwa menghela napas pelan.
“Jadi aku kepikiran… jangan-jangan dia ngerasa aku lagi ngejek dia.”
Beberapa detik ia diam sebelum melanjutkan bagian lain yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
“Terus soal paket itu…”
“Awalnya aku kira dia sengaja nyamar jadi kurir buat ngasih kejutan.”
Nada suaranya berubah sedikit lebih pelan. Bolpoin ia putar di ujung jemarinya.
“Tapi ternyata… semuanya malah jadi salah paham. Karena ngelihat Kevan lagi ngerjain tugas sama aku di rumah.”
Karin langsung teringat.
“Dan aku lihat sendiri… waktu mereka berdua sempat saling lihat di depan gerbang.”
Ia mengingat jelas gestur itu.
Tatapan Yuda yang sebentar saja. Namun terasa cukup untuk menunjukkan ketidaknyamanan.
“Ekspresinya… aneh.”
Nazwa menghela napas.
“Makanya aku sempet ngira kalo dia salah paham.”
Ruang tamu kembali sunyi beberapa detik.
Namun ketika Nazwa akhirnya mengangkat kepala—
Ia melihat Karin justru sedang menyeringai.
Nazwa langsung menyipitkan mata.
“Kok ekspresimu gitu?”
Karin dengan santai mengangkat bahu.
“Gapapa.”
Ia berkata ringan.
“Emang kenapa kalau ekspresiku gini?”
Ia lalu menambahkan dengan nada santai yang justru terasa menggoda.
“Lagian… Mas Yuda juga ganteng kok. Tampilannya soft boy, green flag, dan plus-plus deh."
Nazwa langsung membeku.
“M-maksudmu apa sih?”
Namun pipinya tiba-tiba terasa hangat.
Karin menatapnya beberapa detik. Lalu senyumnya melebar.
“Kamu itu ya…”
Ia mencondongkan tubuh mendekat.
“…kelihatan jelas banget kalau lagi kasmaran sama dia.”
“Apaan sih—”
Belum selesai Nazwa membantah, Karin tiba-tiba mencubit gemas pipinya.
“Liat nih!”
Karin terkekeh.
“Langsung kayak tomat yang gagal mateng!”
Nazwa langsung menepis tangan Karin dengan kesal.
“Kurang ajar!”
Sebuah buku tulis di meja langsung ia lemparkan ke arah sahabatnya itu.
Karin buru-buru mengelak sambil tertawa.
“Bener kan!”
Nazwa memalingkan wajahnya dengan kesal. Namun pipinya memang terasa panas sekarang.
Karin akhirnya menenangkan tawanya. Namun ketika ia kembali bicara, nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
“Tapi…”
Nazwa masih memalingkan wajah.
Karin melanjutkan.
“Kalau kamu merasa bersalah sama dia, Wa.”
Kalimat itu menggantung.
Nazwa langsung menoleh refleks.
Reaksi cepat itu justru membuat Karin kembali terkekeh kecil. Ekspresi temannya itu benar-benar terlalu mudah dibaca sekarang.
“Kamu harus bicara sama dia empat mata.”
Ucapannya kali ini tegas. Nazwa langsung terlihat sedikit gugup.
“M-maksudmu…?”
Ia menelan ludah kecil.
“Aku harus kencan sama dia?”
Karin langsung mengangkat kedua tangan dan mengendikkan bahunya.
“Aku gak bilang kencan loh ya.”
Ia mencoba menahan senyum yang masih tersisa.
“Aku cuma bilang… kamu harus minta maaf secara pribadi.”
Ia mulai menghitung dengan jari.
“Bisa datang ke rumahnya kek..."
“…atau—”
Senyumnya kembali berubah nakal.
“Kencan juga boleh.”
Nazwa masih memalingkan wajahnya sedikit setelah Karin melontarkan kalimat terakhirnya. Pipinya yang tadi memerah perlahan kembali normal, meskipun rasa canggung itu belum sepenuhnya hilang.
Beberapa detik ia diam sebelum akhirnya berkata pelan.
“Masalahnya…”
Karin menunggu.
“Aku gak pernah punya pengalaman kencan.”
Karin yang tadinya bersandar santai langsung menegakkan tubuh.
“Loh?”
Alisnya terangkat tinggi.
“Bukannya kamu pernah punya mantan si Rafael?”
Ia mencoba mengingat dengan jelas.
“Yang anak bisnis itu gak sih?”
Nazwa terkekeh kecil.
“Iya sih…”
Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan.
“Tapi itu pun cuma bertahan enam bulan doang, Rin.”
Tawanya masih ada, namun jelas ada rasa pahit di baliknya. Senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya.
Karin yang tadinya masih setengah menggoda mulai sedikit berubah ekspresinya.
“Maksudmu?” tanyanya pelan.
Nazwa menatap meja beberapa detik sebelum menjawab.
“Rafael emang ganteng.”
Ia berkata jujur.
“Keren lagi.”
Kalimatnya menggantung sebentar.
“Bahkan… terlalu sempurna menurutku.”
Karin tidak menyela. Ia hanya menunggu.
Nazwa menghela napas panjang.
“Cara dia ngomong… tinggi.”
Karin mengangkat alis.
"Tinggi gimana?"
“Setiap kali kita ngobrol, topiknya selalu berat. Masa depan. Investasi. Relasi bisnis. Strategi perusahaan keluarganya," jawabnya sembari menghitung udara.
Nazwa menoleh ke arah Karin.
“Itu yang bikin aku kurang nyaman, Rin.”
Suaranya terdengar lebih lirih sekarang.
“Aku ngerasa… dia memperlakukanku seperti rekan bisnis.”
Ia tersenyum kecil, tapi pahit.
“Bukan seperti kekasih.”
Karin masih diam.
Nazwa melanjutkan dengan pelan.
“Emang sih aku bisa ngimbangin cara pikirnya. Bahkan kadang diskusi kita nyambung.”
Ia menghela napas lagi.
“Tapi aku sering ngerasa capek.”
Ruang tamu kembali hening beberapa saat.
Nazwa menunduk sedikit.
“Makanya setiap habis jalan sama dia…”
Ia tersenyum getir.
“…aku selalu pulang dengan kepala penuh dan hati yang juga capek.”
Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.
“Bukannya senang. Tapi malah lelah.”
Karin akhirnya mengangguk kecil.
Ia tidak langsung memberi komentar, seolah sedang memahami cerita itu dengan serius.
Lalu ia berkata pelan,
“Berarti…”
Ia melirik Nazwa.
“Yang kamu cari bukan orang yang sempurna, Wa."
Nazwa menatapnya.
Karin menyeringai kecil lagi, tapi kali ini lebih lembut.
“Cuma orang yang bikin kamu nyaman.”
Ia berhenti sebentar.
“Dan anehnya…”
Ia mengangkat satu alis.
“…kamu malah kepikiran sama kurir yang makan buku anak-anak di rak pengetahuan umum.”
Nazwa langsung menatapnya tajam.
“KARIN!”
Karin langsung tertawa kecil, mengangkat tangan menyerah.
“Iya iya, maaf.”
Namun senyum kecilnya masih tersisa.
“Cuma… jujur aja.”
Ia menatap Nazwa lebih serius.
“Waktu kita ketemu dia kemarin di perpustakaan…”
Karin mengangkat bahu sedikit.
“Aku juga ngerasa dia orangnya lumayan.”
Nazwa tidak menjawab.
Karin lalu menambahkan dengan nada santai,
“Walaupun agak canggung sih."
Ia tertawa kecil.
“Tapi justru itu yang bikin dia kelihatan tulus.”
Nazwa terdiam.
Bayangan Yuda kembali muncul di kepalanya: cara bicaranya yang kaku, senyumnya yang tidak pernah terlihat terlalu percaya diri, dan caranya berdiri di depan gerbang rumah hari itu.
Karin lalu berkata pelan,
“Makanya aku bilang tadi…”
Ia menatap Nazwa dengan penuh arti.
“Kalau kamu belum ada aksi…”
“…kamu bakalan terus dihantui rasa penasaran.”