Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Goresan Pertama di Atas Platina
Pulpen platina di tangan Zayyan bergemih di udara, memantulkan pendar kuning lampu ruangan yang mulai terasa hangat. Olin menatap benda itu seolah melihat sebilah belati yang siap mengiris sisa kebebasan yang dia pertahankan selama tujuh tahun ini. Jemari tangannya yang bertumpu di tepi meja kayu jati meremas serat kayu yang kasar, mencari tumpukan kekuatan yang kian menipis.
"Dua tahun, Zayyan," bisik Olin, suaranya nyaris tenggelam oleh desir pendingin ruangan. Dia tidak segera meraih pulpen itu. Matanya bergerak lambat, naik dari jemari kokoh Zayyan, menyusuri lengan kemeja putihnya yang digulung rapi, hingga berhenti tepat pada sepasang mata elang yang menatapnya tanpa riak. "Hanya dua tahun. Setelah itu, kau harus menghapus seluruh nama kami dari sistem pelacakanmu."
Zayyan tidak menarik kembali tangannya. Postur tubuhnya yang tinggi besar tetap mengurung Olin dalam bayangan dominasinya yang pekat. "Tanda tangani dulu, Aureline. Aku tidak terbiasa memberikan garansi atas barang yang belum resmi berada di bawah kendaliku."
Kata 'kendali' itu memicu sengatan kemarahan di dada Olin. Dengan sentakan kecil yang tak sabar, dia merebut pulpen platina itu dari jemari Zayyan. Kulit mereka sempat bersentuhan selama sepersekian detik—sebuah gesekan hangat yang familier, namun segera Olin tepis dengan mengalihkan fokusnya pada layar tablet pintar yang disodorkan Malikh.
Goresan tanda tangan Olin di atas layar digital itu terasa begitu berat. Setiap tarikan garisnya seolah mengunci kembali pintu-pintu pelarian yang selama ini dia buka di berbagai kota kecil. Begitu ujung pulpen terangkat, sebuah bunyi bip pendek dari tablet Malikh menandakan bahwa data tersebut telah terenkripsi dan dikirim langsung ke peladen pusat administrasi sipil hukum.
Xavi, yang sejak tadi memperhatikan dari kursi putarnya, mengangguk kecil. Jemari mungilnya mengetuk papan ketik laptopnya satu kali lagi untuk mematikan skrip pembatasan frekuensi yang mengunci gerbang hidrolik galeri.
"Protokol pembersihan selesai. Jalur evakuasi barat kembali ke mode normal, Tuan CEO," cicit Xavi, menutup layar laptopnya dengan bunyi klik yang tegas. Dia melompat turun dari kursi, lalu berjalan mendekati ibunya, menyelipkan tangan kecilnya ke dalam genggaman Olin yang masih terasa dingin. "Kita bisa pergi sekarang. Aku sudah mengemas seluruh cadangan daya gawaiku ke dalam tas ransel."
Zayyan memutar tubuhnya, melirik Malikh yang langsung bergerak mundur untuk membukakan pintu kerja sementara. "Bawa barang-barang penting saja. Sisa katalog dan lukisan di aula luar akan dipindahkan oleh tim logistik El-Ghazali Corp dalam waktu dua jam ke depan."
"Jangan sentuh lukisan monokrom di sudut barat," sela Olin cepat, suaranya kembali mengeras saat dia melangkah mengikuti Zayyan keluar dari ruangan remang-remang itu. "Itu milik kolektor pribadi yang belum menyelesaikan administrasinya. Aku tidak ingin nama galeriku rusak karena kecerobohan orang-orangmu."
Zayyan menghentikan langkahnya di ambang pintu koridor, membuat Olin nyaris menabrak punggung tegapnya. Pria itu menoleh sedikit, memperlihatkan garis rahangnya yang kaku. "Mulai besok pagi, tidak ada lagi nama 'galerimu', Olin. Tempat ini akan ditutup sementara untuk renovasi sistem keamanan total di bawah divisi taktisku. Kau adalah Nyonya El-Ghazali sekarang, dan tempatmu bukan lagi di balik meja administrasi bangunan tua yang rawan penyusupan ini."
Olin menggertakkan rahangnya, namun remasan lembut dari jemari Xavi di genggamannya menahan wanita itu untuk tidak meluapkan makian yang sudah berada di ujung lidah.
Mereka berjalan menembus aula barat yang kini telah bermandikan kembali cahaya kuning hangat. Gerbang hidrolik yang tadi sempat menutup setengah jalan kini telah terangkat sepenuhnya, menampilkan pemandangan pelataran galeri yang basah oleh sisa gerimis. Tiga mobil SUV hitam pekat berdiri berjajar dengan mesin yang menyala halus, memuntahkan asap tipis ke udara malam yang dingin.
Beberapa pengawal bertubuh tegap dengan setelan jas gelap langsung membungkuk takzim begitu Zayyan melangkah keluar menembus pintu kaca. Salah satu dari mereka membuka pintu baris tengah mobil SUV paling depan, bersiap menyambut sang penguasa korporasi bersama keluarga rahasianya yang baru saja terungkap.
Xavi menatap kendaraan lapis baja itu dengan mata bulatnya yang berbinar penuh minat teknis. "Enkripsi bodi mobil ini menggunakan campuran baja pelat tingkat lima, bukan? Menarik. Kurasa aku bisa menambahkan beberapa baris kode kontrol traksi di bagian rodanya agar tidak selip saat melewati tikungan basah."
Zayyan melirik putranya, dan untuk pertama kalinya malam itu, sebuah senyum tipis yang murni—bukan senyum sinis bisnis—terukir di wajah tampannya. "Kita punya banyak waktu di laboratorium bawah tanah mansion untuk membahas hal itu, Jagoan. Masuklah."