Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.
Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"
Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"
Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegundahan Aruni.
Pikiran Aruni masih tak tenang walaupun dia sudah menghabiskan waktu lima jam lamanya utuk mengikuti perkuliahan. Hatinya terus memikirkan Sena. Tentang bagaimana caranya agar bisa mendapatkan perhatian dan hati dari sang suami.
Aruni tau pasti sulit –sangat sulit. Dari segi fisik dia berbeda jauh dengan Bianca. Ibarat Bianca itu 38 C sedang Aruni 34 B. Tinggi badan Bianca 170 cm sedang Aruni 158 cm. mereka berdua berbeda seratus delapan puluh derajat. Jadi pasti Sena tak bisa dengan mudah melupakan Bianca dan berpaling pada Aruni yang… yaah begitulah.
“Nggak! Aruni, jangan menyerah. Kau masih punya kesempatan!” gumam Aruni pelan.
“Kesempatan apa?” tiba-tiba Vivi bergelanyut di bahu Aruni.
“Eh? E- enggak…”
“Ck!” Vivi berdecih kesal pada sahabatnya itu, “Lo tuh, nyembunyiin apa sih dari gue?”
Aruni terdiam –tak enak hati pada sang sahabat. “Nanti ya Vi, aku belum siap buat jujur. Tunggu sebentar lagi…” ucapnya.
“Hmm.. okelah. Tapi janji Lu harus cerita semuanya nanti! Janji!”
Aruni mengangguk.
“Aruni! Vivi!”
Aruni dan Vivi sontak menoleh ke arah orang yang barusan memanggilnya. Seorang gadis cantik, dengan rambut lurus panjang halus bak model iklan shampoo, berlari kecil mendekati Vivi dan Aruni. Dia tersenyum cerah –ramah. Berbeda dengan perempuan judes yang berjalan mengikuti di belakangnya.
“Valerie?” Vivi kaget, tak menyangka gadis popular yang paling cantik dan paling kaya di kampus, memanggil nama mereka berdua. Konyolnya lagi, Vivi malah merasa jika selama ini Valerie tak pernanh mengenal dirinya dan Aruni.
“Akhirnya aku bisa ketemu kalian berdua!” ucap Valerie senang. Dia mengambil sesuatu dari tas tangan merek Harm*es miliknya yang sudah tentu harganya pasti sangat mahal. Gila aja, kuliah pakai tas seharga motor matic? Buat apa coba?
“Apa ini?” Vivi dan Aruni menerima dua buah kartu undangan ditangannya.
"Sabtu nanti, aku mau merayakan ulang tahunku yang ke dua puluh. Aku mengundang semua teman, kalian juga harus datang, ya.”
Vivi terbelalak. Seumur-umur baru kali ini dia mendapatkan undangan ke acara ulang tahun anak orang kaya. Di Hotel pula!
“Kalian bisa datang, kan?” tanya Valerie. Dia terlihat begitu antusias dan bersemangat.
“kalian harus datang! Tenang aja, nggak usah bawa kado nggak apa-apa. Valerie juga tau kok, kalau kalian berdua itu mahasiswi miskin!”
Vivi melirik sinis pada Julia, teman dekat Valerie yang supper judes.
“Kau juga Aruni! Awas kalau samapai nggak datang! Ada makanan enak gratis, lumayan kan, buat perbaikan gizi. Lihatlah badanmu kurus begitu!” Julia menatap sinis Aruni dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu berdecih.
Di mata Julia, penampilan Aruni benar-benar seperti anak kampung. T-shirt polos, cardigan abu, dan celana jeans hitam dan sepatu flat harga 35 ribu di toko barang bekas.
Julia terkekeh sambil geleng-geleng kepala “Yuk Val! Bukanya kamu mau ambil gaun mahalmu buat pesta besok sabtu?”
“Oh iya, hampir saja aku lupa. Okelah kalau begitu, , Aruni, Vivi kalian harus datang, ya. Daah..” Valerie melambai-lambaikan tangannya sambil berjalan cepat karena tangannya ditarik oleh Julia.
“Dih! Si Julia itu! dia juga sama miskinnya kayak kita! Sok-sokan banget! Mentang-mentang besti-an sama Valerie, jadi sombong dia! Palingan juga semua barang mahalnya yang beliin si Valerie!” gerut Vivi sambil menatap sinis pada Julia.
“Stt! Udahlah, biarin aja.” Aruni membaca kartu undangan itu sekilas lalu memasukkannya ke dalam tas ransel. “Aku duluan, ya, Vi.”
“Loh! Mau ke mana? Kita nggak ke mall dulu? Belanja buat ke pesta!”
“Hmm.. besok deh, janji besok kita pergi. Hari ini aku harus ketemu Mama Melati.” Tak menunggu jawaban Vivi, Aruni langsung berlari kecil meninggalkannya. Dia buru-buru menuju halte bus, takut tertinggal.
Sejak pagi tadi, Aruni memang sudah memutuskan untuk mampir ke rumah Mama Melati -Ibu angkatnya dan ibu kandung Bianca. Rumah megah dua lantai yang selama lebih dari dua tahun ini dia tempati.
Dia sudah mengirimi Mamanya pesan, bahwa puliang kuliah akan mampir, dan Mama Melati menjawabnya dengan suka cita. Dia tak sabar bertemu.
Begitu pintu terbuka, Mama Melati langsung menghambur -memeluk Aruni erat.
"Aruni... maafkan Mama, sayang..."
Aruni membalas pelukan itu. "Mama, aku baik-baik saja."
"Tapi Mama sudah memaksamu menikah dengan Sena. Mama tahu itu tidak adil untukmu."
Aruni menggeleng. "Tidak apa, Ma. Ini demi keluarga."
Mama Melati menepuk-nepuk punggung Aruni. Wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya. Mata sembabnya menunjukkan dia menangis.
Mama Melati membawa Aruni masuk, dan mengajaknya duduk.
Dia menghela napas panjang. "Bianca... Bianca belum ditemukan. Mama sudah mencari ke mana-mana. Ke rumah teman-temannya, ke tempat kerjanya, bahkan ke rumah pacar lamanya. Tapi tidak ada, dan tidak da yang tau!"
Aruni terdiam. Belum ditemukan.Diam-diam dia menghela lega.
"Tapi Mama yakin Bianca baik-baik saja," lanjut Mama Melati. "Dia hanya... mungkin belum siap menikah. Mama minta maaf karena membuatmu menanggung beban ini."
"Ma, aku serius tidak masalah."
"Tapi Runi… Kamu bahagia menikah dengan Sena? Dia memperlakukanmu dengan baik?"
Aruni tersenyum kecil. "Mas Sena... baik. Memang judes dan dingin, tapi dia orang yang baik, Ma. Dia selalu menolongku."
Mama Melati tersenyum lega. "Syukurlah kalau begitu. Tapi... kalau Bianca kembali, apa yang akan terjadi?"
Aruni terdiam.
Itu pertanyaan yang membuat dadanya sesak.
Saat ini, Bianca belum pulang. Dan Aruni -meskipun dia tahu ini salah- berdoa dalam hati agar Bianca tidak pulang dalam waktu dekat.
Maaf, Kak Bianca. Aku tahu ini salah. Tapi aku belum siap kehilangan dia. Aku ingin lebih lama bersamanya.
Di atas meja, foto keluarga terpajang. Bianca tersenyum di samping Sena dalam acara ulang tahun tahun lalu. Mereka terlihat cocok. Terlihat sempurna.
Aruni memalingkan wajah.
Tapi sekarang, dia di sisiku. Aku belum mau melepaskannya.
Cukup lama Aruni melepsa kangen di rumah orang tua angkatnya. Dia bahkan menyempatkan diri memasak makanan kesukaan Mama Melati, Mereka menghabiskan waktu berdua layaknya mama dan anak gadisnya. Sekilas, Aruni merasakan rindu pada Mama kandungnya yang telah tiada.
“Ma… Aruni sudah menikah.. tapi suami Aruni tidak mencintai Aruni. Bantu Aruni, Ma…” doanya dalam hati sambil menatap foto sang mama yang sedang berpelukan dengan mama Melati. Aruni tersenyum, lalu karena merasa sudah cukup lama, dan hari juga sudah mulai gelap, Aruni pamit.
Aruni pulang dengan hati berkecamuk. Lampu rumah menyala terang. Saat dia masuk, Sena sedang duduk di ruang tamu, memegang laptop di pangkuannya.
"Pulang?" tanya Sena tanpa menoleh.
"Iya, Mas."
"Ke mana?"
"Ke rumah Mama."
Sena mengangkat alis. "Ada apa?"
"Tidak ada. Hanya... Mama khawatir. Dan masih mencari Bianca."
Sena terdiam. Lalu dengan suara datar dia berkata, "Dan?"
"Dan apa, Mas?"
"Kamu tanya-tanya soal Bianca?"
Aruni menggeleng. "Tidak. Aku... nggak tanya apa-apa."
Sena menutup laptop dan menatap Aruni dengan tajam. "Kamu tidak penasaran?"
"Penasaran, pasti. Tapi..."
"Tapi?."
"Nggak apa-apa… aku masuk dulu, capek." Buru-buru Aruni naik ke lantai dua –menuju kamarnya.
Sena menghela panjang, lalu meletakkan laptopnya di meja, tepat saat ponselnya berdering. Panggilan dari Wisnu.
“Halo, Bro! apaan?
“Kumpul di kafe lo? Oke. Aruni? Dia udah tidur, nggak usah diganggu!” lalu Sena menutup panggilan telponnya dan bergegas pergi –tanpa pamit pada istrinya.
pantes kalo malem suka kluyuran 🤭🤣🤣🤣
tak tunggu bgt ms brot bucin akut sama runi kk tam
emang mas brot ngeri juga vi kalo mode posesip .....
sampe ngaku kalo do'i jelose kalo perlu🤭🤣🤣🤣
kayake adit sama vivi satu frekuensi dah kk
..... asbun 🤭🤣🤣🤣🤣
kpn lagi numpak mobil mahal .......
trik mu emang siiip lah...👍
dalam benak mas broot ....
mbok yo kira kira lah vi . mosok macak cantik . mbahenol secara lo kan milih dress merah menyala ada belahanya dandan cetar membahana kok naik motor awut awutan loh nanti pas turun 🤭
padamu
bnyak tiponya
berasa godaan setan yang terkutuk itu run 🤭🤣🤣🤣
ternyata diam " jutek" ada rasa yang mulai menjalar tumbuh di hati mas brot..... gass lah mas brot runi kan hallal🤭
mungkikah.. mas brot jatuh cinta dgn runi ....?????
kk tam iki pie .......?
🤭🤭