NovelToon NovelToon
Kau Milikku Sayang

Kau Milikku Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dua puluh satu

"maaf dine, aku nggak bisa meneruskan pertunangan ini"

Mata indah wanita itu membola, mulutnya terperangah, menatap xavier yang menatapnya juga.

"kenapa?" tanya geraldine dengan suara tertahan.

"aku sudah memiliki seorang putra"

Geraldine terkejut, reflek menutup mulutnya. Namun perlahan matanya kembali normal, walau keterkejutan itu belum sepenuhnya hilang dari wajahnya.

"kamu serius, xavi?, setahuku..maaf! Kamukan belum menikah"

Xavier mengangguk, wajah tampannya terlihat santai.

"aku juga baru tahu kalau aku memiliki seorang putra"

"apa maksudmu?" geraldine mengerutkan keningnya heran.

Xavier tersenyum menggeleng, " maaf yah kalau kamu merasa aku membohongimu"

"lalu, mengapa kamu harus memutuskan pertunangan kita?"

"loh!" xavier menatap kaget, wanita itu yang tersenyum lebar, matanya menelisik, mengamati keseriusan dari wajah cantik geraldine.

"kamu butuh istrikan, untuk membesarkan putramu itu?"

Xavier terperangah, menatap tak percaya geraldine yang masih tersenyum.

"aku tak masalah xavi, membesarkan putramu, mari kita besarkan bersama!"

Suara wanita itu terdengar mantap, xavier masih menatap tak percaya. Ternyata wanita ini mencintainya, namun sayang xavier tak memiliki perasaan apapun padanya.

"aldine.." panggilnya hati-hati,

"aku mencintai wanita yang melahirkan putraku itu"

Geraldine tak berkedip menatap lekat bola mata kebiruan xavier, ada yang sakit di dalam dadanya.

Pria ini, begitu gampangnya memutuskan hubungan mereka, mencampakkan perasaannya bagai barang tak berharga.

Sekuat tenaga geraldine menahan air mata yang hendak menerobos pertahanannya, namun matanya tetap berkaca-kaca.

"maafkan aku aldine, aku tak pernah berniat mempermainkan perasaanmu!"

"kamu tahu kan kalau aku menyukaimu?"

Xavier mengangguk, sorot matanya menatap iba.

"jangan tatap aku dengan tatapan itu, xavi!" geleng geraldine tak terima, "jangan anggap perasaanku padamu sesuatu yang pantas dikasihani"

"aldine—"

"aku menerima keputusanmu ini, xavi" sambarnya cepat, suara geraldine mulai bergetar.

"tapi aku akan tetap berusaha membuatmu jatuh cinta padaku!"

Xavier menggeleng, "jangan.." larangnya.

"aku tak bisa memberikan apapun padamu!"

"aku tak peduli.." ujarnya setengah menjerit.

"aku akan pastikan kamu mencintai aku juga"

Xavier terdiam, begitu juga geraldine yang terlihat terpukul itu. Kepalanya menunduk sangat dalam, sepertinya geraldine ingin menyembunyikan perasaan dan sakit hatinya saat ini.

"apakah aku mengenal wanita itu?" tanyanya dengan suara mencicit pelan, kepalanya perlahan terangkat.

Xavier melihat air mata di sudut mata wanita anggun itu, xavier tak menjawab, ia hanya diam mengamati.

"sepertinya aku tahu siapa wanita itu"

Geraldine terdiam sesaat, tiba-tiba dia berdiri.

"aku pulang duluan, kamu nggak perlu mengantarku!"

"aldine..." xavier ikut berdiri, melihat wanita itu yang melangkah tenang, berusaha terlihat tegar di matanya.

"hhhhhhhh" dengus xavier kasar,

Lagi-lagi, dirinya mematahkan hati. Walau dia sering menolak perempuan-perempuan yang omanya siapkan untuk kencannya, namun hanya pada geraldine xavier merasa bersalah.

Wanita itu ternyata sangat menyukainya, dan yang paling ia sesalkan mengapa ia mengajak wanita itu bertunangan saat itu.

Xavier melangkah lesu, di anak tangga, omanya yang baru hendak naik menatapnya heran.

"lesu amat!"

Xavier tak menjawab, ia tetap melangkah meninggalkan neneknya begitu saja.

<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>

"diandra..!, di..di.."

Xavier berulangkali mengetuk pintu rumah bercat hijau itu, namun tak ada sahutan.

Jendela rumahnya juga tertutup rapat, kening xavier mengerut, kemana perginya wanita ini.

"cari siapa mas?"

Xavier menoleh kaget, menatap seorang wanita paruh baya berbadan tambun, yang berdiri di ambang pintu pagar, menatapnya penuh selidik.

Xavier membalikkan tubuhnya, menanti wanita paruh baya itu yang mendatanginya.

"mbak diandra nggak ada di rumah, kemarin dia dan lian pergi terburu-buru membawa pakaian sekoper, seperti orang ketakutan, mas siapa yah?"

Xavier kaget, mata birunya terlihat syok. Diandra melarikan diri darinya, lagi.

"mbak diandra punya hutang sama mas yah?" tanya wanita itu lagi, masih dengan sorot penuh selidiknya.

xavier menggeleng, " kemana diandra pergi buk?"

Wanita tambun itu menggeleng, "saya nggak tahu mas, mbak di, ke rumah saya hanya mengantarkan kunci rumahnya"

Xavier terdiam, benaknya berisik tak terkira, mengapa diandra pergi begitu saja. Seketika rahangnya mengeras, perlahan amarah lama yang terpendam karena wanita itu kembali hadir.

Langkah kakinya yang panjang, meninggalkan rumah itu setelah pamit dari wanita paruh baya berbadan tambun itu.

Di dalam mobil beberapa kali xavier memukul stirnya marah, hatinya membara.

Apa maksud diandra pergi tanpa pamit darinya, apakah perempuan itu kembali melarikan diri.

"dimana kau diandra, sialan!" gerutunya kesal, lagi dan lagi ia meninju stirnya marah.

"jangan pikir kau bisa lari dariku lagi!, jangan harap aku akan melepaskanmu lagi nanti"

Xavier mengemudikan mobilnya sedikit ugal-ugalan, tujuan utamanya adalah roy.

Sahabatnya itu memiliki koneksi yang cukup kuat untuk menemukan orang hilang, bagaimanapun diandra harus ketemu.

Wanita itu harus membayar mahal, atas semua perlakuannya selama ini. Dan jika wanita itu tetap bersikeras, maka hak asuh wanita itu pada killian harus dihentikan.

Xavier berjalan tergesa, di lobby kantor roy hadi hartono, ceo mitra grup. Beberapa sekuriti yang mengenal siapa xavier mengangguk hormat, mengantar pria itu langsung menuju lift.

"roy ada di kantornya?"

Sekuriti bertubuh gempal itu mengangguk, sembari menekan tombol lift khusus milik ceo.

Xavier menyelipkan ponsel ke dalam saku celananya, tadi ia mencoba juga menghubungi diandra tapi sepertinya nomor ponsel xavier diblokir.

Xavier sangat ingin marah saat ini, namun tak tahu kemana melampiaskannya. Berulangkali dengkusan kasar keluar dari hidungnya.

Langkah panjang xavier terhenti, roy sahabatnya itu berdiri di depan meja sekretaris menunggunya.

"kamu menungguku?"

Roy mengangguk tersenyum, "sekuriti mengabarkan kedatanganmu, ayo masuk"

Xavier mengikuti langkah roy, wajah kelamnya masih saja terlihat.

"ada apa xavi?" tanya roy begitu pintu ruangan tertutup. Pria itu melangkah ke sofa, matanya mengamati xavier penuh tanya.

"kamu bisa menolongku kan?"

Xavier menghempaskan tubuhnya di sofa, tangannya dengan kasar melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher.

"apakah tentang wanita itu lagi?"

Xavier mengangguk, "namanya diandra ratunisa, sekitar 25 tahunan"

Roy mengernyitkan keningnya, duduknya sedikit mencondong ke depan.

"kamu sudah mengenali wanita itu?"

Xavier mengangguk lagi, "aku punya anak darinya, roy"

Mata roy membola seketika, wajahnya terkejut.

"jadi sebenarnya tujuan utama kamu sekarang perempuan itu atau anakmu?"

"keduanya" jawab xavier singkat, wajah tampannya masih terlihat marah.

"aku harus tanya wanita itu, mengapa dia pergi begitu saja!"

Roy mengamati sahabatnya itu, di wajah tampan xavier ada rasa rindu terpendam menurutnya.

"kamu menyukai wanita itu, xavi?"

Xavier menoleh, amarah di mata itu masih kuat, namun roy tahu, walau xavier tak menjawabnya, sahabatnya itu menyukai wanita bernama diandra itu.

"boleh aku lihat wajahnya?kamu ada foto wanita itu"

Xavier menggeleng lesu, namun tiba-tiba sepertinya ia teringat sesuatu, ponselnya yqng terletak di meja, diraihnya.

Xavier menggulir layar ponselnya," nggak ada yang jelas, ini foto kuambil diam-diam"

Roy menerima ponsel yang xavier ulurkan, foto seorang wanita berdiri di depan sebuah mobil, sedikit blur,namun jelas wanita itu cantik.

"kamu mau aku membawa wanita itu ke hadapanmu, atau aku hanya perlu tahu alamatnya saja?"

Xavier diam, wajahnya terlihat berpikir serius.

"alamatnya saja" jawabnya.

"aku akan menyusul kemanapun wanita itu pergi"

Roy tersenyum penuh arti, "kamu menyukainya bung"

Xavier menoleh lagi, menatap sahabatnya itu. Ia tak menjawab, xavier sangat tahu sahabatnya itu sangat mengenal dirinya dengan baik.

Bersambung...

1
Sri S
lanjut
Sri S
suka
Sri S
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!