NovelToon NovelToon
Tumbal Perawan

Tumbal Perawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Spiritual / Tumbal
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Osiye

Cinta di tolak dukun bertindak itulah sebutan buat Ninis. Penolakan dari laki-laki yang bernama Tirta membuat dia nekat bersekutu dengan jin agar bisa menolongnya untuk mendapatkan Tirta.

Sebagai tunangan Tirta, Sena berjuang mati-matiam gar bisa menyelamatkan Tirta dari pengaruh sihir yang Ninis kirim.

Mampukah Sena menyelamatkanya?

Simak ceritanya di sini. Jangan lupa, Like, Coment, Vote, jangan lupa mawar dan kopinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Guna-Guna

"Allahuakbar! Bang. Abang kenapa?" Sena berteriak menghampiri Tirta.

Tirta terbatuk-batuk sampai muntah darah, wajahnya mendadak pucat di penuhi keringat tubuhnya seketika lemas seperti tidak bertenaga. Laki-laki itu ambruk ke plisturan terduduk lemas hampir kehilangan kesadarannya, Tirta berusaha agar tetep terjaga.

Sena duduk berselonjoran membawa kepala Tirta di pangkuannya, dia terlihat panik melihat saat Tirta mengeluarkan darah dari mulutnya. Sena meminta agar Tirta tetep membuka matanya dan membaringkan Tirta dengan posisi miring.

"Abang kenapa? Bang tunggulah sebentar," ucap Sena ketakutan.

"Dik, abang nggak papa, tetaplah disini jangan pernah tinggalin abang," Tirta menarik pergelangan tangan Sena saat gadis itu berdiri.

"Aku enggak akan kemana-mana bang, aku cuma mau ambil obat buat abang, dimana abang menyimpan semua obat-obatannya." sahut Sena mengusap pipi Tirta lembut.

"Di dalam lemari, kuncinya ada di tas kerja abang," suara Tirta terdengar lemah.

Sena mengangguk melepaskan tangan Tirta. Ia bergegas mengambil tas kerja Tirta dan mencari kunci setelah berhasil menemukannya, Sena berjalan kearah lemari membuka dan membukanya untuk mengambil obat yang Tirta butuhkan ini lagi di butuhkan, saat sudah mendapatkan semuanya Sena kembali menemui Tirta, dengan tenaga yang nggak seberapa Sena memapah tubuh Tirta membawanya naik ke amben dan membaringkan Tirta dengan posisi miring. Sena memasang infus dan menyuntikan obat tersebut ke cairan infusan Tirta.

Tirta tidak lepas memandangi wajah gadisnya, wajah yang sudah di penuhi keringat pun tatapan matanya dengan penuh kekawatiran saat berusaha menolongnya. Laki-laki itu terharu melihat betapa perhatiannya Sena pada dirinya, bulir bening menetes di pipinya, Tirta merasa sangat bersalah mengingat atas sikapnya terhadap Sena belakangan ini, dirinya sangat bersyukur mempunyai tunangan yang begitu mencintainya. Meskipun dirinya sudah membuat perasaan gadisnya terluka tapi Sena masih tetep peduli dengan keselamatannya, Tirta enggak bisa membayangkan kalau seandainya saat ini Sena enggak ada di dekatnya entah apa yang akan terjadi pada dirinya sekarang.

Sena yang menyadari Tirta terus memperhatikan dirinya mengelengkan kepalanya pelan, dia membereskan semua peralatan medisnya menaruhnya ketempat semula. Sena kembali menghampiri Tirta dan duduk di sampingnya, gadis itu mengusap keringat yang ada di dahi sena dan menghapus air matanya.

"Istirahatlah bang dan abang besok enggak usah masuk kerja dulu." ujar Sena sengaja mengalihkan perhatian Tirta yang sejak tadi enggak memutuskan pandangannya.

"Dik, terimakasih kamu sudah menyelamatkan abang, kalau enggak ada kamu mungkin ab..." Tirta menggantung ucapannya karena Sena memotongnya terlebih dulu.

"Itu karena bantuan dari Allah, bersyukurlah abang masih bisa selamat," jawab Sena.

"Maafkan abang sudah menyakiti hati kamu, Dik, jujur sedikitpun abang nggak ada niatan buat nyakitin hati kamu. Abang juga bingung sama diri abang sendiri kenapa semuanya jadi seperti ini." ujar Tirta dari tatapan matanya ada penyesalan yang begitu besar pada Sena.

Sena menghembuskan nafasnya pelan rasanya malas kalau harus ngomongin masalah yang sudah terjadi, justru itu yang akan membuat dirinya terus mengingat perlakuan Tirta padanya akhir-akhir ini. Sena enggak bermaksud menyalahkan Tirta hanya saja dirinya belum bisa melupakan kejadian malam ini saat dimana Tirta bersama Ninis lagi melakukan hal sesuatu yang tidak pantas di lakukan.

"Bang aku nggak mau bahas masalah tadi, lebih baik abang istirahat. Aku akan menemani abang disini tapi aku harus ngabarin Pak Amir dan Ibu Nyai, biar mereka enggak khawatir cariin aku." ucap Sena mengusap lengan Tirta.

Sena mengambil ponselnya mau menghubungi, Pak Amir dan Ibu Nyai, ia meminta izin harus menemani Tirta, takutnya kalau Tirta di tinggal sendirian akan terjadi sesuatu sama tunangannya itu, Sena mengakhiri panggilannya dirinya sempet tidak di izinkan untuk menjaga Tirta, tapi beruntungnya ia berhasil menjelaskan semuanya dan memberi pengertian sama Pak Amir, sampai akhirnya pak Amir memberinya izin.

"Bang ak...." Sena tersenyum tipis melihat Tirta sudah tertidur pulas.

"Aku percaya sama abang. Enggak mungkin kan abang melakukan semua ini sama aku? Apa semua ini ada hubungannya sama Ninis? Tapi bagaimana bisa perempuan itu bisa membuat bang Tirta berubah dalam hitungan detik? Tunggu jangan-jangan Ninis pake guna-guna dan bikin agar bang Tirta membenciku." gumam Sena otaknya dipenuhi tanda tanya.

"Tapi mana mungkin? Ninis enggak mungkin tau soal begituan? Sudahlah lebih baik sekarang aku tidur ini sudah malan." ucap Sena lagi.

Setelah memastikan Tirta baik-baik saja, Sena beranjak dari amben pergi kedapur mencari sesuatu, setelah mendapatkan apa yang di cari Sena kembali ke kamar Tirta yang terhubung dengan ruang tamu, dirinya sengaja enggak menutup pintu rumah karena tidak mau ada gosip dari para tetangga soal dirinya yang bermalam bersama Tirta di rumah Pak Amir yang di tempati tunangannya.

Sena menggelar tikar di bawa dengan posisi tidak terlalu jauh dari amben dimana Tirta tidur, gadis itu membaringkan badanya menarik selimut tipis menutupi tubuhnya, Sena mengucek matanya enggak butuh waktu lama ia tertidur menyusul Tirta pergi ke alam mimpi.

Wus... Wus... Wus..

Angin berhembus sangat kencang masuk kedalam rumah sampai mengganggu waktu tidur seorang gadis yang baru menutup matanya, Sena menggeliat dia mengusap lengannya hawa dingin menembus kulitnya sampai ke tulangnya. Gadis itu mengucek matanya, Sena bangun dan duduk bersandar di pagar. Gadis itu kembali terjaga hawa dingin membuatnya sudah untuk melanjutkan tidurnya.

Argh! Argh!

Sayup-sayup Sena seperti mendengar suara erangan, dia mencari asal suara yang tedengar mengerikan itu. Sena celingukan menggeleng berfikir kalau suara tersebut cuma perasaanya saja, gadis itu beranjak dari tempat tidurnya mau menutup pintu yang ternyata sudah terbuka lebar pantes saja cuacanya sangat dingin ternyata pintunya terbuka pikirnya, siapa sangka Sena di kagetkan sama sosok mahkluk hitam tinggi sedang membangunkan Tirta.

"Hei, lepaskan dia!" teriak Sena menghampiri mahluk hitam tersebut saat mau membawa Tirta pergi.

Argh!! Argh!!

Mahluk hitam tinggi tersebut menggerang marah melihat Sena, bola matanya membesar dengan warna merah menyalah, giginya bertaring lidahnya panjang menjulur ke bawah tangan besarnya bergerak mengulur ke arah Sena dan mendorongnya sampai gadis itu sampai terpental ke belakang dan tubuhnya menghantam pagar. Kuku panjangnya berhasil melukai tangan Sena yang tertutup kain.

Akh!!

Bruk!!

Uhuk! Uhuk!

Sena terpelanting membentur pagar bambu mendapat serangan dari sosok mahluk di depannya membuat dirinya nggak bisa menghindar, Sena meringis menahan sakit memegangi lengannya menggulung bajunya keatas terkejut mendapati ada bekas lima cakaran di tangannya dengan darah segar mengalir membasahi bajunya.

"Astaghfirullah, mahkluk apa itu? Aku baru pertama kali melihatnya," gumam Sena memegangi tangannya yang terluka dan semakin banyak mengeluarkan darah.

"Hei mahkluk aneh mau kau apakan dia? Jangan bawa dia pergi! Jangan bawa dia!" teriak Sena terisak dia ketakutan saat sosok mahluk hitam tersebut menarik Tirta dari tempat tidurnya.

Sena mendelikan matanya saat sosok mahkluk hitam itu menggendong Tirta dan menghilang dari hadapannya meninggalkan asap tebal bewarna hitam. Sena berlari keluar rumah mencari-cari keberadaan Tirta yang sudah lenyap dari pandangannya. Dirinya terus berlari mencari kesana kemari tapi tidak menemukan keberadaan Tirta dan mahkluk tersebut, malam begitu sangat sunyi gelap nggak ada satupun bintang ataupun bulan yang meneranginya, hanya ada suara pepohonan yang saling bersahutan.

"Bang Tirta! Bang Tirta!" Sena terduduk di tanah menangis tergugu karena tidak bisa menemukan Tirta.

Sena mendongakan kepalnya saat melihat ada sosok perempuan bediri membelakanginya sedang tertawa terbahak-bahak. Sena berdiri berniat menghampiri perempuan tersebut mau meliat siapa perempuan itu? Sena tidak melihat kalau di depannya ada pecahan kaca sehingga kakinya tidak sengaja menginjak pecahan kaca tersebut dan membutnya terluka karena kakinya tertancap pecahan kaca itu.

Akh!

"Sakit kan? Itu yang akan kamu rasakan saat kehilangan orang yang kamu sayangi. Laki-laki yang kamu cintai akan ku bikin dia mati mengenaskan." ujar si perempuan tersebut menertawakan Sena.

"Siapa kamu? Apa maksud kamu bicara seperti itu?" Sena berlari menghampiri perempuan itu.

"Tunangan kamu itu ada didalam genggaman saya dan akan saya pastikan tunangan kamu bakalan mati." ujar sosok perempuan itu lagi.

"Tidak. Tidak. Ini tidak mungkin!" Sena menggelengkan kepalanya air mata sudah membanjiri wajahnya.

Tawa perempuan itu semakin menggelegar dia meninggalkan Sena seorang diri didalam gelapnya malam. Dalam sekejap perempuan itu menghilang dari hadapan Sena.

"Bang Tirta," ucap Sena membuka matanya.

**********

1
Rembulan menangis
critnya trlalu brtele² bnyak lompat buat pmbaca gk paham jln critanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!