NovelToon NovelToon
NEW FAMILY

NEW FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Keluarga & Kasih Sayang / Slice of Life
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Rizz Kyy

Lucky, seorang remaja kelas 3 SMP yang tumbuh besar di Pesantren Assalam sejak usia lima tahun, menjalani hidup penuh kesederhanaan tanpa orang tua maupun kerabat yang menunggu. Hari-harinya diisi belajar, menghafal, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, meski kesepian sering menghampiri. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan tekad kuat untuk bertahan dan meraih masa depan yang berbeda dari garis hidup yang tampak sudah ditakdirkan untuknya. Semua itu berubah ketika suatu hari ia tanpa sengaja menolong keluarga seorang konglomerat. Tindakan kecil yang lahir dari ketulusan itu membuka perjalanan baru baginya—perjalanan yang mempertemukannya dengan kesempatan, harapan, dan rahasia besar yang perlahan mengungkap siapa sebenarnya Lucky dan mengapa takdirnya terasa begitu berbeda sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz Kyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI PERTAMA SEKOLAH 3

Di dalam gedung serbaguna, suasana terasa berbeda.

Ratusan murid baru sudah berbaris rapi. Pendingin ruangan menyala sejuk, murid berbaris menghadap panggung teater yang besar dan megah, lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya lembut yang membuat ruangan itu tampak semakin megah.

Sebagian besar siswa tampil layaknya pewaris kerajaan bisnis.

Jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangan. Tas bermerek tergantung elegan di bahu. Sepatu mengilap, rambut tertata sempurna, kulit terawat—jelas hasil perawatan rutin yang tidak murah.

Beberapa nama bahkan sudah dikenal sebelum mereka memperkenalkan diri. Anak pejabat. Anak pengusaha. Anak tokoh publik.

Di antara barisan itu, Lucky berdiri dengan tenang.

Seragamnya rapi. Bersih. Sederhana. Tidak mencolok. Tanpa aksesoris berlebihan.

Namun simbol bintang kecil di almamaternya—tanda kelas S—tidak bisa disembunyikan.

Beberapa murid memperhatikannya dengan ekspresi heran.

Siapa dia?

Dari keluarga mana?

Mengapa tampil begitu sederhana, tapi berada di kelas istimewa?

Bisik-bisik kecil mulai terdengar.

Tak jauh dari Lucky, berdiri baris seorang gadis dengan aura berbeda tepat di sampingnya.

Cantik. Elegan dengan rambut hitam panjangnya yang lembut terawat, Posturnya tegak, wajahnya tenang tanpa ekspresi berlebih. Tatapannya dingin namun tajam.

Ia adalah Clarissa.

Putri dari Mikhail Arsenov, petinju kelas dunia yang namanya ditakuti di Asia. Ibunya adalah seorang pengusaha besar yang berpengaruh di berbagai lini bisnis.

Di sekolah ini, Clarissa dikenal sebagai “ratu es”.

Bukan karena ia kejam.

Melainkan karena ia dingin.

Terutama terhadap laki-laki.

Biasanya, ketika seorang siswa laki-laki berdiri di dekatnya, ada dua kemungkinan: gugup karena perbedaan status… atau terlalu percaya diri mencoba menarik perhatiannya.

Namun kali ini berbeda.

Lucky berdiri tepat di sampingnya.

Dan ia… biasa saja.

Tidak melirik berlebihan.

Tidak menunjukkan rasa kagum.

Tidak berusaha memulai percakapan.

Seolah gadis di sampingnya hanyalah murid lain.

Clarissa yang awalnya tak peduli, kini justru melirik sekilas.

Satu kali.

Dua kali.

Ia menunggu reaksi.

Namun Lucky tetap menatap lurus ke depan, memperhatikan panggung tempat acara akan dimulai.

Bukan karena ia sengaja bersikap acuh.

Ia memang tidak tahu siapa Clarissa.

Dan bahkan jika tahu pun, mungkin reaksinya tidak akan jauh berbeda.

Baginya, semua orang sama selama belum mengenal isi hatinya.

Clarissa sedikit mengernyit.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ada seseorang yang berdiri di dekatnya tanpa beban, tanpa ambisi, tanpa ketakutan.

Dan itu… justru membuatnya penasaran.

Sementara Lucky sendiri hanya berpikir sederhana:

“Fokus saja. Jangan cari masalah. Jangan terlalu dekat dengan siapa pun.”

Tanpa ia sadari, justru sikap itulah yang mulai menarik perhatian lebih banyak mata.

Suasana gedung serbaguna perlahan menjadi hening ketika lampu sorot panggung menyala lebih terang.

Dari sisi kanan panggung, seorang wanita melangkah naik dengan anggun namun penuh wibawa. Tumit sepatunya beradu lembut dengan lantai kayu teater yang mengilap.

Ia adalah Gissele Pauline.

Gissele Pauline

Usianya sekitar empat puluh tahunan, tetapi pesonanya tetap terpancar kuat. Rambutnya tersusun rapi, setelan formal yang ia kenakan sederhana namun berkelas. Tatapannya tajam, namun tidak kehilangan kehangatan.

Seluruh ruangan langsung diam.

Ia berdiri di balik podium dengan lambang SMA Elite Alexandria terukir di bagian depan.

“Selamat pagi, siswa-siswi baru Alexandria.”

Suaranya tegas, jelas, dan berkarakter. Tidak terlalu keras, namun mampu menjangkau setiap sudut ruangan.

“Saya menyambut kalian semua dengan bangga. Kalian berdiri di sini bukan tanpa alasan.”

Beberapa murid terlihat menegakkan punggung mereka.

Gissele melanjutkan, menjelaskan bahwa sekolah ini memang berbeda dari sekolah lain. Bukan hanya karena fasilitasnya, bukan pula karena nama besar yang menyertainya.

“Di sini,” ucapnya, “kalian tidak hanya dinilai dari kecerdasan. Karakter, integritas, dan tanggung jawab adalah pondasi utama.”

Ia tidak menyinggung sistem kelas secara gamblang, namun menekankan bahwa setiap siswa memiliki standar tinggi yang harus dijaga.

“Kalian mungkin datang dari latar belakang keluarga yang kuat. Namun ketika mengenakan seragam ini, yang membedakan kalian hanyalah usaha dan sikap.”

Kalimat itu membuat beberapa siswa saling berpandangan.

Lucky mendengarkan dengan saksama.

Clarissa, di sampingnya, tetap berdiri tegak, namun matanya tampak sedikit lebih fokus.

Pidato itu tidak panjang, namun padat.

Di bagian akhir, Gissele tersenyum tipis.

“Saya berharap kalian tidak hanya lulus dari Alexandria dengan nilai tinggi… tetapi juga dengan hati yang matang.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu meresap.

“Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Bersikaplah dengan hormat. Dan jadilah generasi yang tidak hanya sukses… tetapi juga berarti.”

Tepuk tangan menggema memenuhi gedung.

Lucky merasakan sesuatu yang berbeda.

Sekolah ini memang tampak seperti dunia lain—megah, elit, penuh simbol status.

Namun dari pidato tadi, setidaknya ada satu hal yang ia tangkap:

Jika benar yang dinilai adalah usaha dan karakter…

Maka ia tidak perlu merasa lebih rendah.

Dan tidak perlu merasa lebih tinggi.

Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri.

Lampu panggung meredup perlahan, menandakan acara akan berlanjut ke sesi berikutnya.

......................

Setelah sesi sesi acara itu terlewati akhirnya penyambutan murid baru itu pun selesai, para murid diarahkan untuk menuju kelas masing-masing.

Kelas S berada di lantai dua.

Begitu Lucky dan Arthur masuk, mereka langsung disambut ruangan yang jauh dari bayangan kelas pada umumnya. Luas, terang, dan tertata rapi untuk dua puluh murid saja. Setiap meja adalah meja individual yang nyaman, dengan kursi ergonomis. Pendingin ruangan menyala stabil. Di depan kelas, sebuah monitor cerdas besar terpasang menggantikan papan tulis konvensional.

Jendela-jendela tinggi membiarkan cahaya matahari pagi masuk dengan hangat, menciptakan suasana yang tenang dan elegan.

Arthur sebenarnya sudah datang lebih awal dan menyiapkan dua kursi di barisan depan—posisi yang menurut sebagian besar siswa adalah “tempat emas”.

Namun ketika mereka melangkah mendekat, seorang siswa sudah duduk di salah satu kursi itu.

Lukas.

Anak pejabat besar yang namanya cukup dikenal. Wajahnya percaya diri dengan senyum tipis yang sulit ditebak—antara ramah atau meremehkan.

Ia memang terkenal tidak suka kalah, terutama pada mereka yang ia anggap tidak sepadan dengan statusnya.

Di kelas ini, duduk di depan bukan sekadar soal jarak dengan guru. Bagi beberapa siswa, itu simbol. Posisi untuk menunjukkan siapa yang paling unggul. Siapa yang paling berpengaruh. Siapa yang pantas dilihat.

Clarissa sudah duduk di barisan depan, tetap dengan aura tenangnya yang dingin.

Arthur tampak sedikit tidak enak pada Lucky.

Namun Lucky hanya tersenyum tipis.

Baginya, itu bukan masalah.

Ia justru heran melihat barisan belakang yang sebagian besar kosong. Hanya ada beberapa siswa yang tampak kurang percaya diri memilih duduk di sana.

“Padahal enak banget di belakang,” pikirnya polos. “Kalau ngantuk bisa sandaran. Kalau guru tanya, nggak langsung ditunjuk.”

Matanya lalu menangkap satu kursi kosong di pojok belakang, tepat di samping jendela.

Cahaya matahari menyentuh sisi meja itu dengan lembut. Pemandangan taman sekolah terlihat jelas dari sana.

Tanpa ragu, Lucky berjalan dan duduk di kursi tersebut.

Arthur berdiri sejenak, ragu.

Di satu sisi ia ingin menemani Lucky. Di sisi lain, ia memang ingin duduk di depan.

Lucky meliriknya dan memberi kode halus dengan senyum kecil—seolah berkata, aku nggak apa-apa.

Arthur akhirnya tetap di depan.

Tak lama kemudian, seorang murid perempuan bangkit dari barisan depan.

Cantik. Anggun. Namun wajahnya memancarkan keceriaan yang hangat, berbeda dengan aura dingin Clarissa.

Beberapa siswa langsung memperhatikannya.

Itu adalah Anya Pauline.

Putri dari Kepala Sekolah, yaitu Gissele Pauline.

Ia dikenal sebagai murid terpandang sekaligus salah satu yang paling pintar. Biasanya ia duduk di depan—tempat yang dianggap pantas untuknya.

Namun hari ini, ia berjalan ke arah belakang.

Tepat menuju kursi di samping Lucky.

Beberapa murid saling berbisik pelan, terkejut.

Sebelum duduk, Anya menoleh pada Lucky dengan senyum lembut.

“Maaf… tempat ini kosong?”

Lucky sedikit terkejut. Ia menatap sekitar sebentar, lalu menjawab jujur.

“Eh… iya. Kosong kayaknya.”

Jawaban yang polos.

Anya tersenyum kecil, lalu duduk di sampingnya.

Lucky dalam hati justru semakin yakin, “Ternyata nggak semua orang ngincer depan. Duduk dibelakang memang paling nyaman.”

Sementara itu, dari barisan depan, Clarissa melihat pemandangan tersebut.

Ekspresinya tetap datar.

Namun ada sesuatu yang terasa mengusik di dalam hatinya.

Ia tidak tahu pasti apa.

Bukan karena Lucky.

Bukan juga sepenuhnya karena Anya.

Hanya… perasaan aneh ketika seseorang yang biasanya berada di pusat perhatian justru memilih duduk di tempat yang tidak dianggap “penting”.

Clarissa memalingkan pandangannya, mencoba tidak peduli.

Namun untuk pertama kalinya pagi itu, fokusnya tidak sepenuhnya tertuju ke depan kelas.

Dan di pojok belakang, tanpa sadar, sebuah dinamika baru mulai terbentuk.

Suasana kelas mulai tenang ketika pintu terbuka perlahan.

Seorang wanita muda melangkah masuk dengan langkah mantap.

Rambutnya terurai rapi, pakaian formalnya sederhana namun elegan. Wajahnya cantik dengan ekspresi profesional yang tenang.

Beberapa murid laki-laki langsung berubah sikap.

Ada yang menyandarkan tubuh dengan gaya sok keren.

Ada yang tersenyum percaya diri berlebihan.

Ada yang saling berbisik, mencoba menarik perhatian.

Sikap yang jelas kurang beradab.

Wanita itu berdiri di depan kelas, meletakkan map di atas meja guru.

“Selamat pagi.”

Suaranya lembut, tapi tegas.

Namanya Minerva.

Minerva Laurent

Usianya baru 25 tahun. Di usia itu ia sudah menyelesaikan pendidikan S2 dengan peringkat terbaik. Ia memilih mengajar di SMA Elite Alexandria—sekolah bergengsi yang menjadi impiannya sejak lama.

Dan kini, ia dipercaya menjadi wali kelas di khusus yaitu kelas S.

Kelas istimewa.

Kelas yang diisi oleh murid-murid dengan latar belakang keluarga terpandang.

Mendapat perlakuan kurang sopan di hari pertama sebenarnya bukan hal yang menyenangkan. Namun Minerva menahannya. Ia sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi karakter murid-murid seperti ini.

Alih-alih langsung mengajar, ia memulai dengan perkenalan.

Setelah memperkenalkan dirinya secara singkat, ia meminta setiap murid memperkenalkan diri satu per satu.

Barisan depan dimulai.

Clarissa berdiri dengan anggun.

Putri dari Mikhail Arsenov.

Nada suaranya tenang, penuh percaya diri.

Arthur menyebut nama ibunya yang merupakan koki terkenal.

Anya dengan santai menyebut dirinya sebagai putri kepala sekolah.

Lukas menyebut jabatan tinggi ayahnya dengan kebanggaan yang tidak ditutupi.

Hampir setiap siswa menyelipkan status keluarga mereka.

Minerva sempat terdiam dalam hati.

Ia memang tahu kelas ini berisi murid dari keluarga besar. Namun mendengarnya langsung tetap terasa berbeda.

Kini giliran Lucky.

Ia berdiri dari kursi pojok belakang dekat jendela.

Beberapa mata otomatis menoleh. Simbol bintang di almamaternya tetap tak bisa diabaikan.

“Nama saya Lucky. Saya tinggal di daerah pusat kota.”

Singkat.

Tidak ada tambahan.

Tidak ada penjelasan tentang keluarga.

Tidak ada penyebutan nama besar.

Ia lalu duduk kembali dengan tenang.

Beberapa siswa terlihat heran.

Arthur di depan bahkan sempat berpikir, Kenapa Lucky tidak menyebut keluarga Ardan? Padahal itu bisa saja membuat seluruh kelas langsung memandangnya berbeda.

Namun mungkin… itu memang pilihannya.

Di meja guru, Minerva memperhatikan hal kecil itu.

Sementara sebagian siswa berbicara tentang latar belakangnya sedangkan anak yang di pojok belakang itu hanya menyebutkan namanya.

Dan duduk tanpa rasa perlu menjelaskan siapa dirinya lewat orang lain.

Minerva menutup daftar hadirnya.

“Baik. Terima kasih atas perkenalannya.”

Hari pertama pembelajaran pun dimulai.

Di barisan depan, beberapa siswa masih sesekali berusaha terlihat menonjol.

Di barisan belakang, Lucky membuka bukunya dengan tenang.

Baginya, pengenalan sudah selesai.

Sekarang waktunya belajar.

1
Eka Budi
sangat bagus
alma ajidu
sudah selesai kah ceritanya....?
Rita Indah
up lagi kak
Eka Budi
masih lama kah, belum up lagi?
Sutono jijien 1976 Sugeng
👍👍👍👍bagus
Riz Kyy: Terimakasih orang baik 🙏/Determined//Applaud/
total 1 replies
Dania
semangat tor
Riz Kyy: /Determined//Determined//Determined/
total 1 replies
Dania
misi
Riz Kyy: Puntenn mhamank /Smile/
total 1 replies
Aghitsna Agis
harusnya jgn langsung bilang msu adopsi tapi mau ngucapin terima kasih ksrena telah menyelamatkan dari kobaran apj pastj nga akan menjauh kalau udah dekat dan luckynya nyaman baru bilang mau adopsi
Riz Kyy: Seharusnya begitu/Cry//Frown/, mungkin glasya sudah terbiasa dengan setiap keinginanya yang selalu terpenuhi, namun ketika keinginanya baru saja ditolak halus oleh lucky, glasya pun tersadar dan berusaha sendiri untuk mendapatkanya /Determined//Determined/
total 1 replies
laki laki
up lagi thor
laki laki: monitor thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!