NEW FAMILY

NEW FAMILY

PROLOG

Namaku Lucky. Sejak kecil aku hidup sebagai yatim piatu, tanpa pernah tahu siapa kerabatku, dari mana aku berasal, atau bahkan bagaimana rupa kedua orang tuaku. Semua itu hanyalah ruang kosong dalam ingatanku.

Sekarang aku duduk di kelas tiga SMP dan tinggal di Pondok Pesantren Assalam—tempat yang telah menjadi rumahku, sekaligus dunia kecil yang menumbuhkan aku. Di antara jadwal belajar, mengaji, dan disiplin pesantren, aku belajar bertahan hidup dengan caraku sendiri.

Setiap sore, saat matahari perlahan tenggelam di balik atap asrama, aku menjajakan gorengan buatan dapur pondok, menawarkan jasa mencuci baju para santri, dan melakukan apa pun yang bisa kulakukan untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit uang. Bukan hanya untuk kebutuhan, tetapi juga untuk rasa aman… rasa bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri.

Di siang hari, tepat pukul 2, bel sekolah berdentang panjang—suara yang selalu menjadi tanda kebebasan bagi para murid. Begitu gema terakhirnya hilang, teman-teman sekelasku langsung berhamburan keluar, mencari angin segar setelah seharian berkutat dengan pelajaran.

Aku ikut melangkah keluar, tapi bukan untuk beristirahat. Ada tugas lain yang menungguku. Sambil menenteng tas seadanya, aku bersiap menuju pasar untuk membeli bahan-bahan yang akan kugunakan berjualan nanti sore, setelah sesi ngaji di sekitaran pondok.

Adit, teman sekamarku, tiba-tiba muncul sambil mengibas-ngibaskan seragamnya yang sudah kusut.

“Bro,” katanya sambil nyengir lebar, “ana nitip bumbu nasi goreng ya di pasar. Buat nanti malam, kalau ada sisa nasi di dapur, kita masak nasi goreng bareng. Hahaha.”

Aku tertawa kecil, menepuk bahunya.

“Siap, Dit. Santai. Biar ane yang masakin satu kamar nanti. Resep rahasia Lucky—terenak sedunia akhirat.”

Adit makin ngakak, lalu mengacungkan jempol.

“Widih, chef kebanggaan Assalam!”

Aku hanya tersenyum. Di balik candaan itu, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan—rasa bahwa meski dunia tak memberiku keluarga, setidaknya Allah menggantinya dengan teman-teman yang membuatku tak merasa sendirian.

Dengan menuntun sepeda usang kebanggaanku, aku melangkah menuju gerbang pondok. Sepeda itu mungkin sudah tua, rantainya sering selip, dan sadelnya keras minta ampun, tapi bagiku ia adalah sahabat perjalanan—satu-satunya kendaraan yang selalu menemaniku pergi ke pasar yang jaraknya cukup jauh dari pondok.

Di pintu gerbang, seorang pengurus pondok berjaga seperti biasa. Mereka bergantian shift demi menjaga ketertiban, memastikan tak ada santri yang keluar sembarangan. Di Assalam, izin keluar bukanlah hal sepele. Banyak santri yang ditolak karena alasan yang tidak masuk akal.

Tapi aku?

Begitu mendekat, aku hanya mengangkat tangan dan menyapa,

“Semangat, Bang!”

Pengurus itu—yang sebenarnya kakak kelasku—langsung tersenyum dan membuka pintu tanpa banyak tanya.

“Yoo, hati-hati, Luck.”

Aku mengangguk pelan lalu mengayuh sepeda perlahan, menikmati hembusan angin siang.

Mungkin kamu bertanya, kenapa aku bisa sebebas itu?

Jawabannya sederhana: aku adalah santri istimewa.

Bukan karena aku berasal dari keluarga terpandang—aku bahkan tidak tahu siapa keluargaku. Tapi karena aku dibesarkan di sini, di pondok ini, sejak usia lima tahun. Pimpinan pondok, ustaz-ustazah, para alumni, bahkan sebagian besar santri—semua mengenalku. Bagiku, Assalam bukan sekadar pondok… ini adalah rumah yang merawatku sejak aku belum mengerti apa-apa.

Selain itu, aku memang punya sedikit kelebihan. Banyak lomba sudah kupersembahkan untuk pondok; mulai dari kaligrafi, qori’, debat bahasa Arab, olimpiade matematika, sampai bela diri. Gelar-gelar itu membuat namaku lumayan dikenal, membuat para pengurus memberi sedikit kelonggaran.

Tapi… sebenarnya bukan itu alasannya.

Para ustaz dan pimpinan pondok sering bilang mereka tidak tega sekaligus sudah kewalahan dengan sifatku yang keras kepala. Aku tidak pernah melanggar aturan besar, tapi aku juga terlalu suka keluyuran demi mencari pengalaman baru—kadang sampai membuat mereka geleng-geleng.

Termasuk saat aku nekat mulai berjualan. Awalnya dilarang, tentu saja. Namun setelah kujelaskan berkali-kali—ditambah aku tetap bersikeras melakukannya—akhirnya mereka menyerah dan memberiku izin.

Hehe… mungkin benar, aku bukan istimewa. Aku hanya sulit diatur.

Setelah selesai membeli bahan-bahan untuk dagang, aku mengayuh sepeda pulang dengan santai. Matahari mulai condong, dan jalanan terasa hangat di kulit. Namun ketenangan itu buyar ketika aku tiba di sebuah pusat perbelanjaan—mall yang tampak mewah, tidak terlalu besar namun cukup ramai biasanya.

Saat itu, suasana berubah menjadi kepanikan.

Api besar menjulang dari salah satu pintu masuk. Asap hitam membubung tinggi, membuat langit di atas mall tampak gelap dan mengerikan. Aku terhenti, menuntun sepedaku sambil menatap dari kejauhan. Pengunjung dan para pedagang berlarian keluar dengan wajah pucat, sebagian menjerit, sebagian lagi hanya bisa menangis.

“Arus listrik korslet…” gumam seseorang di dekatku.

Api semakin ganas, didorong angin sore yang tak bersahabat.

Sebuah mobil pemadam kebakaran baru saja tiba, hanya satu, dan itu pun jelas tidak cukup untuk menandingi amukan si jago merah. Para petugas terburu-buru menarik selang, tapi api sudah terlalu besar, menjilat langit-langit mall hingga pintu masuk utama tak lagi bisa dilewati.

Aku melihat ke dalam sebisa mungkin, mencoba memastikan apakah masih ada siapa pun di dalam.

“Sepertinya semua sudah keluar…” batinku, sedikit lega.

Namun rasa lega itu langsung hilang ketika kudengar suara seorang wanita berteriak histeris.

Ia mengenakan setelan jas elegan, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya memerah oleh tangis dan kepanikan. Beberapa warga menahannya agar tidak menerobos masuk ke area terbakar.

“Di dalam masih ada dua orang! Lepaskan aku! Mereka masih di sana!” jeritnya.

“Anda tidak boleh masuk! Bahaya!”

“Apa Anda gila!? Api makin besar!”

Wanita itu meronta, suaranya serak namun penuh ketegasan,

“Tuan saya… istri Jenderal Welton… dia masih di dalam bersama putrinya!”

Nama itu langsung membuat orang-orang di sekitar terdiam.

Glasya Welton.

Aktor terkenal asal Jepang yang sudah bertahun-tahun tinggal di Indonesia. Wanita berusia 35 tahun itu bukan hanya dikenal karena kecantikannya, tetapi juga karena bakatnya—pianis berbakat, pemain film papan atas, dan sosok yang selalu tampak anggun di layar kaca.

Dan di dalam mall yang terbakar itu, ia terjebak bersama putrinya—Chelsea Welton, wanita elegan berusia 30 tahun, CEO yang memiliki banyak perusahaan besar dan menjadi sorotan publik karena kecerdasannya.

Mereka berdua… terperangkap di balik kobaran api.

Aku menelan ludah.

Sesuatu di dalam diriku terasa seperti ditarik. Antara rasa takut… dan dorongan lain yang tak bisa dijelaskan.

Dan entah mengapa, kaki kecilku mulai melangkah perlahan mendekati titik bahaya itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!