NovelToon NovelToon
Romance After Marriage

Romance After Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi
Popularitas:246.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: icha azzahra

Sinopsis :
Mulanya Delvin ingin melamar Ines dan berencana menikah dengan gadis itu. Ines Ratulia adalah gadis yang sudah lama dipacari Delvin. 8 tahun bukan lah waktu yang singkat untuk memadu kasih. Serius, Dalvin pun ingin kisah cintanya dengan Ines bisa berakhir bahagia.

Nahas, apa yang dia harapkan tak terlaksana. Nyatanya Ines mendadak meminta putus dari Dalvin dan selang seminggu dari peristiwa itu terdengar kabar kalau gadis itu akan menikah dengan pria lain yang katanya jauh lebih tajir dari Dalvin.

Di sisi lain Kyra sedang panas dingin akibat melihat orang yang diam-diam dia taksir semenjak SMP, si cinta pertamanya, Bang Ezra sedang terlibat cinlok dengan lawan main di FTV-nya. Huh!

Delvin, Kyra dan Ezra adalah tetangga komplek. Mereka tinggal bersebelahan ada pula yang tinggal di depan rumah persis. Delvin yang emang tau perasaan hati Kyra pun akhirnya punya siasat. Dia masih kesal sama mantannya itu. Gimana pun dia nggak akan mau kalah dari mantannya. Akhirnya dia mencetuskan hal gila!

Iya, gila. Karena tiba-tiba si Delvin ngajak Kyra buat nikah!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon icha azzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1.5 | B : Seriously?!

- Kyra -

Kakiku segera melompat turun begitu sepasang roda motor hitam ini berhenti dengan sempurna di pelataran parkir sebuah rumah makan yang cukup luas dan dihiasi dengan beberapa pohon Akasia yang rimbun.

Selagi membuka kaitan helm, mataku berkelana mencari-cari di mana sebenarnya daerah tempat ini berada. Sebuah daerah di kota Bogor dengan resto berkonsep keluarga yang bernama; Saung Wilujeng.

"Vin," panggilku pada dia yang kini sedang sibuk membuka resleting jaket kulitnya. Ya, tentu saja dia pasti merasa kepanasan pakai jaket hitam itu. Apalagi jaket kulitnya itu tebal!

"Hoh?" Dia menoleh setelah membetulkan letak helmku yang baru saja kuberikan kepadanya, di atas stang motor.

"Kenapa kita malah ke restoran keluarga gini?" Tanyaku keheranan.

Delvin pun menatapku tak kalah herannya. "Loh, kenapa emang? Yang penting sama-sama bisa makan."

"Bukan gitu... Vin, biasanya, kalau resto keluarga gini bukannya kebanyakan menunya paket porsi besar gitu, ya??"

"Ya, terus kenapa?" Delvin menghela napasnya. Tatapannya landai ke bawah. Menatapku yang lebih pendek darinya.

"Kalau kita pesan menu cuman seporsi sayang banget bukannya?" Aku menatapnya dengan mata membulat. Dia mendengus. Mungkin merasa lelah dengan ucapanku yang agak berbelit.

"Eh, Kira-kira... jadi, elo, mau ngomong apa sebenarnya? Langsung to the point aja, nggak bisa?!" Ujarnya jengah sambil geleng-geleng menatapku dengan alis yang menukik tinggi.

Aku nyengir. Membuat dia mendengus, lagi.

"Jadi, intinya apa? Cepetan! Keburu tutup deh tempat makannya karena lo yang kelamaan!" Rutuknya, bertampang lesu.

"Ya, maksudnya... kalau pesan dua porsi kan, jadi sayang kan. Mendingan beli paket aja, biar lebih murah?" Mataku berbinar seketika. Menatap penuh harap padanya dengan senyum yang mengembang cerah.

Delvin mengernyit. Menatapku dengan tatapan heran untuk beberapa saat sebelum akhirnya terbit dengusan geli yang kemudian berubah jadi tawa yang membahana. Kini ganti aku yang menatapnya keheranan. Apa yang salah coba sama otaknya? Kenapa tiba-tiba dia tertawa sendiri?!

Dan, tanpa bisa kuprediksikan, Delvin dengan sekonyong-konyongnya malah menjitak kepalaku.

"AW!!" Kontan, aku memegangi bagian kepala yang kini terasa panas dan nyeri dalam sekaligus, melotot seketika padanya. Menatap sengit dia yang tiba-tiba berbuat kekerasan terhadap perempuan lemah sepertiku ini tanpa sebab. Dasar kurang ajar!

Bukannya merasa bersalah, dia malah tersenyum sampai deretan gigi rapihnya terlihat. Aku yang masih kesal tentu tak akan terpengaruh meski senyumannya itu amat lah manis. Mataku tetap melotot padanya, bersiap marah. "Sakit, tauk!"

Kini dia balas melotot seolah kaget atas pengakuanku barusan. "Eh? Nggak sakit banget, kan?"

"Banget, banget, bangeeet!!" Jawabku menimpalinya. Dan, dia malah berdecih lalu menggelengkan kepala sambil berlalu untuk berjalan masuk duluan. Meninggalkanku.

"Kalau mau makan cepetan! Jangan kebanyakan drama!" Katanya dengan langkah yang terus berjalan ke depan tanpa perlu repot menoleh kepadaku lagi.

Aku mendesis, kakiku menghentak kesal. Lalu, tanpa banyak bicara aku pun segera menyusulnya. Lagipula aku sudah tak bisa marah-marah lagi, karena mara itu sungguh menguras tenaga dan aku sangat lapar sekarang!

Langkah kakiku terus mengekori Delvin yang sedang mencari tempat yang paling nyaman untuk ditempati oleh kami berdua. Dan tempat itu pun jatuh pada sebuah saung kecil apung tepat di atas kolam buatan yang hidup banyak ikan Koi yang tak jarang menyembulkan kepalanya ke permukaan air sambil membuka-buka mulutnya seolah mereka sedang merayu manusia yang melihatnya agar lekas memberinya makan. Aku pun tersenyum.

Delvin duduk dengan tenang membaca buku menu, bersiap memesan makanan. Berbeda dengannya, aku malah lebih tertarik pada ikan-ikan yang lucu itu dan rasa lapar di perutku pun terabaikan seketika. Uwh, menggemaskannya!

"Jangan norak gitu dong, oi, inget umur bisa kali," selorohnya yang tentu saja berhasil menarik perhatianku hingga kepalaku dengan cepat terputar ke belakang, menoleh dalam sekejap bersama dengan mata menyipit super tajam.

"Katanya tadi laper, kan?" Delvin mengangkat sebelah alis matanya ke atas. "Cepet pesan makanannya, nih!" Lanjutnya sambil melemparkan buku menu itu kepadaku. Yang untungnya bisa kutangkap dengan sigap, kalau tidak mungkin akan terjatuh ke dalam kolam. Huh, dia ini memang sembarangan banget!

Sesuai titahnya, aku lantas membaca isi buku menu tersebut. Bersiap memesan menunya. Kemudian, dahiku mengernyit. Otakku berpikir keras melihat besarnya nominal harga yang tertera. Satu pertanyaanku; kenapa menu paket di sini nggak sehemat seperti bayanganku sih?!

"Buruan, mau pesan paket berapa?" Tanya Delvin yang ternyata sudah memegangi kertas pesanan berserta penanya. "Tadi katanya, lapeeerrr?"

Aku meringis. Melihat nilai angka-angka itu membuatku menyesali apa yang telah kuucap tadi. Bahkan setelah dihitung-hitung, harga menu paket dengan menu biasa pun tak jauh berbeda. Atau, bila pintar memilih menu akan bisa jauuuh lebih hemat. Aih!

"TAK!" Bolpoin itu beradu permukaan meja kayu pinus ini hingga menimbulkan suara hentakkan yang cukup mengejutkan terkhusus untukku karena dia sengaja membuatnya di depan mataku persis.

Mataku yang tadinya terpaku pada bolpoin biru di depanku pun perlahan beralih pada pemilik tangan yang sedang memeganginya. Aku melihat wajahnya itu lagi akhirnya. Wajah dengan tatapan tajam dengan alis menukik tajam.

"Jadi makan, apa enggak?" Tanyanya sekali lagi, penuh dengan intimidasi. Membuatku segera mengangguk, menjawabnya.

"Yaudah, pesan lah. Menunya apa? Nggak enak tuh, Masnya nunggu dari tadi," Delvin mengedikkan dagunya pada angka sembilan dari arah jarum jam. Membuatku menyadari akhirnya bahwa ternyata ada seseorang yang sudah menunggu kami sejak tadi dengan senyum ramahnya.

Aku meringis. Merasa bersalah pada pelayan tersebut. Hingga akhirnya membuatku berkata, "Mas, ditinggal aja ya. Nanti kalau sudah, saya ke konter langsung aja."

Pelayan berseragam batik itu pun mengangguk masih dengan senyuman ramahnya. Kemudian, berlalu meninggalkan meja kami seperti pintaku.

"Hah," kudengar helaan napas keras dari arah depanku. Delvin menyenderkan punggungnya pada pilar saung di belakangnya sembari menatapku lelah. "Kenapa sih, cewek kalau milih apapun tuh selalu lama?" Gumamnya yang terdengar seperti rutukkan di telingaku.

"Eh, Vin, menu paketnya ternyata mahal banget, Vin!" Ujarku, mengabaikan ucapannya barusan. "Menu biasa aja kali ya, nggak usah pakai paket segala?!" Tanyaku sambil membolak-balikkan buku menu.

"Kenyang nggak?"

"Hah?" Kini, fokus mataku teralihkan seluruhnya padanya yang kini telah menegakkan punggungnya kembali.

"Kalau makan menu biasa, bukan menu paket. Lo bakal kenyang, nggak?" Tanyanya sekali lagi. Membuatku meringis, tanda tak yakin.

"Yaudah, pesan menu paketan aja emang kenapa sih?!" Dengusnya yang seakan paham dengan ekspresiku.

"Mahal, Vin, mahal!" Tegasku.

"Paling berapa sih?! Yaelah, masa bos toko online makan aja perhitungan sih?!" Dia malah menghinaku. Dasar!

"Uang gue habis buat investasi modal projek baru, asal lo tau!" Ketusku kesal.

Beberapa detik berlalu. Delvin hanya diam menatapku. Alisnya bergerak-gerak hingga membuat dahinya mengerut beberapa kali. Entah dia sedang menimbang keputusan atau apa. Aku juga tak tahu.

"Gue yang traktir, deh." Ucapnya kemudian. Yang kontan membuatku menatapnya dengan mata membulat penuh.

"Serius?!"

Delvin mengangguk. "Meski nggak bawa tunai, di sini bisa gesek pakai debit kan, ya?"

Tawa sumringahku terbit seketika. Senangnya diriku bisa menemukan momen yang sangat langka seperti ini. Haha. Mataku pun berbinar-binar. "Bisa kok, bisa! Tenang aja, jenis pembayaran di sini pasti lengkap!"

"Dih," dia berdecih. Aku malah tertawa makin lebar padanya.

"Duh, makasih loh, Delvin. Lo makin ganteng deh, kalau nggak pelit gini!" Aku ngengir. Membuat Delvin memutar bola matanya. Jengah.

1
ayoe
/Brokenheart//Brokenheart/ tak bs berkata²
Nersi Ika nilasari
gas ken 💃
Nersi Ika nilasari
pernikahan kontrak ya
Nersi Ika nilasari
tinggal bilang yes I do gitu aja kira kira😁
Sugermi Yanti
seru bgt njirrr
Ocaa Windarma
aku masih menantimu kak icha😍
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
ga up lg ini tuh tor
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
setahun yang lalu baru up lg tor
Dwi Wahyu Indriati
kok nggantung sih....lanjutnya gimana?
I C A
kaka pindah lapak ya, gak dilanjutin lagi ya ceritanya
I C A
masih nungguin lanjutannya. lama banget gak pernah muncul lagi
Syakila-melly
lanjut Thor...
Neng Bintang
kaaaa ichaaaa ini mana yaaa lanjutan nyaaa,,,lagi seru 2 nya ini...Moga KK sehat yaaaa
Ai Farida
kaaak udah lama banget ini GK update, up lagi dong kaaak 🙏
semoga sehat selalu ya kak
Meliana Soepomo
Kapan Up lagi Thor....🤗
mumtaza
kk icha... mana lanjutannya
mumtaza
kok q ikut nyes ya Ines sedih
Meliana Soepomo
Sekarang udah paham Thor, kenapa Delvin sampai semarah itu ....😄👍
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
intinya klo dengan pasangan itu segala sesuatu hrs dibicarakan, dengan melihat sikon nya.
Catoeer AeLaach
lagi..lagi...lagi...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!