Malam sial itu membuat Ruby harus kehilangan mahkotanya demi menggantikan seorang wanita yang diincar seorang mafia yang harus menyalurkan syahwatnya karena dijebak oleh saingan bisnisnya.
"Tuan. Tolong...! jangan lakukan itu...!" Ruby mendorong pria tampan yang dikenal sebagai mafia bringas.
"Aku sudah membayarmu maka, layani aku...! " Ujar Sean menyeringai licik.
Sean mengira Ruby adalah wanita penghibur namun ternyata Ruby adalah gadis baik-baik yang masih suci. Ia yang ingin kembali ke negaranya ternyata harus menjadi korban salah tangkap oleh anak buahnya mafia.
"Bagaimana kelanjutan kisah antara Ruby dan Sean sang mafia?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Unik Juga Bentuknya
Suasana duka meliputi hati Rubby yang saat ini sedang menyusui bayinya. Ia sangat menyesal telah melalaikan ibunya karena sibuk mengurus putri kandungnya.
Ia bahkan tidak menghubungi Valery hanya sekedar untuk mengetahui perkembangan kesehatan ibunya yang sedang terbaring koma di rumah sakit.
Jika Valery mengirim video ataupun pesan kepadanya, Rubby juga tidak ingin membukanya. Hatinya masih sakit karena ibunya telah memisahkan dirinya dengan putri kandungnya yang masih berusia satu pekan itu.
"Mommy. Maafkan Rubby karena Rubby sudah durhaka pada mommy.. Rubby egois. Rubby lupa kalau tugas Rubby juga harus berbakti pada mommy hiks ..hiks....!" Rubby terisak sambil menyusui bayinya.
Sean yang berada di depan kamar Rubby ikut tersentuh atas kesedihan Rubby. Ia belum tahu bagaimana bisa nyonya Ananta memberikan bayinya pada Sarah.
"Apakah ini permainan takdir? Sehingga bayiku datang padaku melalui tangan Sarah? Bagaimana kalau bukan Sarah yang mengadopsi nya? Bukankah perlu waktu dan tenaga untuk mencari keberadaan bayiku? Terimakasih Tuhan. Sekarang aku percaya keajaiban yang Engkau berikan padaku," ucap Sean lalu mengetuk pintu kamar Rubby yang tidak tertutup rapat itu.
Rubby mengusap lelehan air matanya dari pipinya. Sejak Sean mengetahui dirinya, ia jadi tidak memakai cadar lagi karena sebentar lagi mereka akan menikah. Hanya jilbab yang masih terulur dikepala nya.
"Masuk...!" ucap Rubby lalu Sean membuka pintu lebih lebar. Bayinya yang melihat ayahnya masuk langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Sean yang tersenyum padanya.
Kaki tangannya menggapai-gapai ke arah ayahnya agar segera di gendong." Kok kamu tahu sih kalau Daddy yangg datang?" gemas Sean lalu mengambil alih baby Oliver dari pangkuan Rubby.
Bayi cantik itu merapatkan kepalanya di dada bidang itu seakan tempat ternyaman ke dua adalah ayahnya. Sean datang untuk minta ijin pada Rubby karena sore ini ia harus melakukan khitan. Sebelumnya ia sudah bersyahadat di salah satu mesjid yang ada di Amerika itu.
"Apakah kamu mau ikut aku ke rumah sakit? Aku ingin sehabis khitan langsung menikahimu," ucap Sean.
"Apakah kamu yakin? Biasanya habis khitan butuh waktu dulu untuk bisa melakukan aktivitas," ucap Rubby gugup dan juga geli.
"Aku ingin kamu yang mengurusku saat aku selesai khitan. Aku tidak mau di urus pelayan atau dokter. Yang penting kamu. Aku butuh kamu," ucap Sean enteng.
"What...?!" sentak Rubby karena ia harus melihat kejantanan suaminya yang baru selesai di khitan.
"Kenapa? kamu tidak mau mengurus aku?" Sean terlihat tersinggung dan Rubby harus menarik nafas panjang.
"Ya Allah. Ujian banget aku? Urus suami baru khitan? Kalau anak kecil sih mau? Tapi ini orang dewasa?" batin Rubby antara cemas dan juga lucu.
"Kenapa kamu cemas? Bukankah barang ini juga menjadi mainan mu nanti?" ucap Sean asal ceplos membuat wajah Rubby bersemu merah.
Melihat perubahan wajah Rubby membuat Sean menahan senyumnya. Ia tetap bersikap datar walaupun sebenarnya ia ingin ngakak melihat kepolosan Rubby yang membuatnya senang menggoda wanita bercadar itu.
"Bersiaplah. Kita akan menikah malam ini. Baju pengantinmu sudah aku siapkan." Mendekati wajah Rubby." Aku tidak sabar untuk menyentuh bibirmu yang selalu menggodaku setiap saat." mengedipkan satu matanya untuk menggoda Rubby yang kembali tertunduk malu.
"Ahkkk...! Rasanya sangat menyenangkan memiliki istri pemalu seperti Rubby bukan seperti wanita yang selalu agresif menghadapi ku." Sean meninggalkan kamar Rubby dengan membawa bayinya agar Rubby bisa mempersiapkan dirinya.
Tidak lama kemudian, Rubby sudah keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Jantungnya berdebar kencang dengan rasa bahagia yang tak bisa terlukiskan.
"Ada apa dengan jantungku?" gumam Rubby saat meninggalkan kamarnya bersamaan dengan kedatangan Sean yang sedang menjemputnya.
Dan membuat Rubby kaget Sean mengenakan gamis pria ala pria Arab. Bahkan ia tidak lupa menggunakan penutup kepalanya.
"Kau....?" sentak Rubby namun Sean hanya menatapnya datar.
"Dengan pakaian ini aku bisa bergerak bebas tanpa menggunakan celana panjang apalagi dalaman," tutur Sean dan Rubby baru paham karena Sean sebentar lagi khitan.
Ia menggandeng tangan Rubby sambil menggendong baby Oliver yang tampak cantik dengan gaun putihnya. Bayi itu tidak lepas mengumbar senyum hingga memperlihatkan gusinya yang merah dan lidah pendeknya. Ditambah dua lesung pipi yang membuat bayi itu makin cantik.
"Sudah siap sayang?" tanya Sean.
"Sudah," singkat Rubby.
"Siap menikah denganku maksudnya," ucap Sean membuat Rubby berhasil mencubit pinggangnya. Sean tergelak karena berhasil mengerjai Rubby. Para pelayan begitu kaget dengan perubahan penampilan Sean. Bahkan mereka tidak percaya apa yang mereka lihat saat ini.
"Wah. Apakah tuan kita akan berpindah kewarganegaraan sekarang?" tanya salah satu dari mereka.
"Tapi tuan kita terlihat sangat tampan mengenakan baju arab itu. Seperti pangeran Arab," puji yang lainnya.
Dick hampir saja tersedak saat melihat penampilan bos-nya. Ia buru-buru membuka pintu mobil untuk Sean dan Rubby. Keduanya berangkat ke salah satu rumah sakit yang sudah direkomendasikan Dick sebelumnya. Dick melihat wajah Sean dari spion mobil.
"Fokus saja menyetir....! Kau menatapku seperti seorang gay," omel Sean.
"Anda sangat tampan tuan. Bukankah begitu nona Rubby?" tanya Dick meminta pendapat Rubby yang hanya bisa menahan senyum.
"Sudahlah...! Aku sudah tampan sejak aku lahir. Jangan iri padaku..!" angkuh Sean.
Dick hanya menjebikkan bibirnya karena kesal dengan bosnya yang narsis. Mobil terus melaju hingga tiba di rumah sakit. Wajah Sean mulai nampak tegang. Ingin rasanya Rubby menyemburkan tawa. Namun ia takut Sean akan balas dendam jika mereka sudah menikah nanti.
Perawat pria menyambut kedatangan Sean yang sudah ditunggu oleh dokter." Silahkan masuk tuan...! Istrinya boleh ikut kalau mau," ucap sang perawat dan Rubby menolaknya dengan elegan.
"Maaf ...! Saya di luar saja. Bayi saya tidak betah di dalam sana," tolak Rubby dan perawat pria itu mengangguk paham.
"Kamu tunggu di sini dan jangan ke mana-mana...! Kalau butuh sesuatu kamu bisa minta tolong Dick melakukannya seperti membeli sesuatu untukmu," ucap Sean lalu masuk ke dalam ruangan itu.
"Baik." Rubby berdiri sebentar sebelum pintu ruangan praktek dokter tertutup.
Sean berbaring dan mendengarkan titah dokter. Dokter dibantu perawat laki-laki untuk menenangkan Sean yang makin tegang.
"Rileks saja tuan. Ayo kita mulai...!" ucap dokter dan Sean mengangguk. Ia menerima suntikan bius sebelumnya dan membuatnya cukup tenang. Dokter mulai tugasnya dan Sean hanya menutup matanya karena ia tidak merasakan apapun lagi pada miliknya.
"Syukurlah. Rupanya tidak sakit seperti yang aku kuatirkan," ucap nya pada dokter yang begitu cepat menyelesaikan tugasnya.
"Silahkan duduk tuan....! Tuan bisa pulang sekarang. Tapi ingat beberapa jam kemudian mungkin obat biusnya akan segera hilang dan digantikan dengan rasa nyeri yang membuat tuan terganggu.
"Apaaa...?! jadi nanti akan terasa nyeri? Berapa lama biusnya bertahan?" cecar Sean karena malam ini ia akan menikahi Rubby di hotel yang sudah ia booking sebelumnya.
"Yah paling sekitar dua sampai tiga jam. Selebihnya mulai terasa nyeri. Minum saja obatnya biar cepat sembuh dan bisa beraktivitas lagi," ucap dokter.
"Apakah hasilnya nanti akan pendek milikku ini?" tanya Sean membuat dokter Naufal nyengir.
"Tidak ada yang berkurang karena yang diambil bagian kulitnya saja yang paling ujung. Panjangnya tetap sama. Hanya bentuknya yang berbeda. Seperti jamur payung atau helm. Tuan tahu helm? Permukaannya botak licin seperti gambar di dinding itu. Lihatlah perbedaan bentuknya yang belum di khitan dan sesudah di khitan," ucap dokter sambil menunjuk ke gambar yang di maksudnya dan Sean melihat perbedaan itu tersenyum.
"Unik juga ya dokter..! Apakah bercinta juga tidak berpengaruh?" tanya Sean.
"Tidak untuk satu pekan ini. Tunggulah sampai sembuh...!" tegas dokter membuat Sean langsung lemas.
Rasanya masih pengin 😭😭😭