Pada masa modern jaya pura, Krani, seorang pendidik yang bekerja di sekolah negeri favorit terlibat dalam sebuah drama politik, forum pencitraan dan manusia seribu topeng yang menyebabkan ia harus berurusan masalah tiada henti. Sebuah peristiwa membuatnya tidak sadarkan diri, kemudian dia menemukan dirinya berada di era jaya pura zaman lalu dan terperangkap dalam tubuh seorang perempuan bernama Renggana yang ternyata akan menikah dengan Raja Paku bumi.
Sejak saat itu Krani dalam tubuh Renggana harus menyesuaikan diri dengan jaman Jaya wilayah wangsa selatan sebagai ratu Renggana juga terlibat dalam intrik kerajaan. Berbagai kejadian yang tidak terduga muncul selama Krani hidup sebagai Renggana. Berhasilkan kah kembali ke masa modern dan keluar dari tubuh Renggana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terang
Perjalanan ke wilayah penyebrangan pulau, pangeran agung ketiga berjalan ke salah satu kapal yang mengangkut beberapa nelayan. Suara keras penjaga Pantai memberikan pengumuman pembatalan berlayar di karenakan cuaca yang tidak stabil.
“Tidak masuk akal sekali. Ada apa dengan mu? panas Terik begini mana mungkin disebut cuaca buruk!”
“Cepat ijinkan kami pulang!”
Keluhan para pelayan enggan di dengar. Pangeran agung terpaksa memutar Haluan. Dia menunggangi kuda berhenti di depan dua pengawal yang menutup jalur tepi. Buming mempercepat pacu kuda menerobos pembatas.
Di atas pegunungan dekat tepi laut, pangeran Dong yang lebih dahulu sampai menemui pria yang memakai pakaian sederhana yang sedang sibuk mengumpulkan kayu. Sang pangeran membuka dekrit perintah raja.
Kepada tuan Guno, perintah raja Wangsa paku bumi mengangkat engkau sebagai perdana Menteri pertahanan. Hari ini, engkau di panggil memasuki Istana.
“Tidak, aku tidak mau lagi andil dalam urusan negeri.”
“Tapi, raja yang meminta mu. Apakah kau tidak takut mendapatan hukuman?”
“Ahahaah! Raja ku? Dia raja mu, bukan raja ku. Anak muda, pulang dan jangan ganggu aku! Aku ini sudah tidak sekuat dahulu. Tubuhku yang tua dan renta ini hanya tinggal menunggu waktu berpulang selamanya.”
Ucapan pria itu di patahkan raja Buming yang mengayunkan pedang di tepis Gerakan cepat. Topi pria berhasil melawan setiap tusukan. Perkelahian kedua seimbang di pertunjukkan Teknik bela diri. Seusai bertanding, kedua pangeran mengikuti tuan Guno sampai ke rumahnya.
Di dalam ruangan yang sempit pangeran Dong mulai memejamkan mata sementara pangeran agung Buming membuka buku guna mencari udara dan penerangan Cahaya.
“Kenapa pintunya masih terbuka? Aku bisa masuk angin.”
“Aku tidak bisa tidur. Kau terlihat pria berhati dingin dan penuh perhitungan. Kau tidak menolong ku di pertandingan tadi.”
“Aku tidak mau melanggar peraturan. Kau sendiri yang memutuskan mencari kebenarannya.”
Malam yang singkat di wilayah pesisir Pantai, suara ombak laut, Bintang bertaburan dan kunang-kunang berkibar berhias terang. Memulai membuka mata di pagi hari, kedua pangeran mengikuti kegiatan jual beli dan penerimaan hasil kekayaan laut yang di bawa oleh nelayan.
“Pak, berapa lama lagi kami menunggu mu memilih-milih Binatang laut itu? Semua terlihat sama” ucap pangeran Dong berdiri di belakangnya.
Pangeran agung Buming mengikuti setiap Langkah tuan Guno. Dia mengamati kualitan hasil laut. Setelah membantu mengurus semua pekerjaannya. Buming berbisik pada Dong bahwa tuan Guno memberikan pajak dan kenaikan penurunan yang membuat harga penjualan melonjak sehingga dia mendapatkan keuntungan lebih besar. Akan tetapi, Dong tidak menghiraukannya dan lebih fokus menunggu tuan Guno mau di bawa ke Istana.
Di sekitar Pantai, Buming melihat para warga sibuk mencari kepiting dan kerang laut yang bersembunyi di dalam pasir. Heremoni tanpa sengaja menemukan pria yang dia cari, raut wajah Bahagia yang tidak terkata.
“Tuan! Akhirnya kita bertemu lagi!” Heremoni berlari lalu melingkarkan tangan di pinggangnya.
Dalam hati putri perdana Menteri perang.
“Ayah, engkau mengatakan jika pria yang bisa di jadikan sandaran hidup adalah pria yang memiliki visi dan misi yang besar kan? Aku menemukan pria itu, aku memutuskan menjadi pengantinnya. Aku menyukainya ayah.
“Siapa kau?”
“Tuan, aku wanita yang pernah menawarkan tebusan obat mu. Apakah kau lupa?”
“Wanita itu?”
“Ya, kenalkan. Aku Heremoni haeso.”
“Buming.”
Bersama berjalan-jalan hingga melewati penyebrangan di wilayah pesisir. Di pasar tradisional, mereka berjalan Bersama, pangeran Dong memperhatikan Buming yang sangat perhatian pada wanita berambut Panjang dan bermata tajam tersebut.
Di wilayah Istana Ratu.
Hasil penyelidikan berlanjut, ratu meminta petugas otopsi mayat untuk memastikan hasilnya. Mereka menemukan gumpalan kertas yang di telan ketua bandit. Gambar wajah pangeran Buming. Ratu Renggana membawa kertas bercampur darah ke markas panglima penjaga Istana. Dia juga menyuruh penjaganya untuk mengikuti pergerakan kedua klan.
“Kalian harus lebih menyelidiki perdana Menteri pertahanan dan menemukan tempat rahasia bandit sebelum mereka menemukannya.”
“Perintah di laksanakan yang mulia.”
Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, Mereka berhasil menangkap pelaku. Sang ratu sendiri yang mengintrogasi dan memberikan ancaman mematikan. Mengetahui dalang pelaku pembunuhan adalah ibu suri, sang ratu menunjukkan semua bukti kepada raja paku Bumi.
“Jadi ibu ku pelakunya? Aku tidak menyangka dia mau membunuh pangeran agung Buming.”
“Yang mulia raja. Aku ingin memastikan apakah engkau sanggup melawan ibu suri dan para perdana Menteri? Aku ingatkan pada mu, jika sekali lagi ibu suri melakukannya maka aku akan bertindak yang sama. Aku sudah kehilangan anak ku, putra mahkota. Dan kini dia mau membunuh cucunya lagi pangeran agung Buming.”
Perkataan ratu Renggana menambah gusar sang raja. Menemui ibu suri sambil menimbang perbuatan ibunya yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Di depan pintu masuk, dayang pendamping ibu suri mengabarkan kedatangan sang raja.
Di dalam ruangan kebesaran, ada tabib dan kedua dayang pendamping yang sibuk memeriksa ibu suri.
“Tabib, bagaimana keadaan ibu suri?”
“Yang mulia, racun tumbuhan yang di minum ibu suri sudah di netralisir dengan ramuan herbal pengobatan racikan tumbuhan berkhasiat. Ibu suri hanya butuh pemulihan.”
“Tumbuhan racun?”
“Ya yang mulia. Ratu Renggana berusaha membunuh ibu. Mana mungkin seorang nenek tega membunuh cucu-cucunya. Hikss___” ucap ibu suri bernada parau dalam isak tangisan.
Raja keluar menemui ratu, dia sangat marah dan tidak menyangka bahwa istrinya mau membalas perbuatan ibunya. Hanya ibu suri seutuhnya, apapun Tindakan dan ucapannya di benarkan raja Paku bumi.
“Ratu, aku memng tau engkau tidak terima atas perbuatan ibu. Dengan siapa lagi aku mengadu? Ibu ku ingin membunuh anak ku dan istri ku ingin membunuh ibu ku..”
Di sore hari, langit mendung berhembus angin yang sangat dingin. Ratu menemui ibu suri yang tampak terlihat baik-baik saja. Dia tertawa sangat keras di atas kursi kebesarannya. Ratu tidak menduga mertuanya seperti musuh bebuyutan yang memangsa.
“Aku tidak pernah menduga kau berbuat serendah itu. Kau kira aku takut pada mu? hampir saja aku tadi menyiapkan pemakaman untuk mu!”
Seluruh Istana bertambah sibuk, terutama para perdana Menteri yang mulai menjalankan rencana menghalau semua titah raja. Tidak satupun dari mereka ingin tergeser, perdana Menteri mengerahkan pasukan perompak, bandit dan pembunuh bayaran untuk menggagalkan kompetisi.
“Tuan, yang mulia ratu hadir di aula klan” ucap penjaga gerbang.
“Yang mulia, ada kepentingan apa hingga anda berjalan sejauh ini?”
Pertemuan di ruangan klan.
Perdana Menteri menerima semua kebenaran bahwa ibu suri kemungkinan berkhianat padanya. Musuh sekutu ibu suri yang tidak mengetahui taktik dan pencalonan putra mahkota pilihannya. Ratu menegaskan agar tidak tidak gegabah dalam bertindak.
Galih digambarkan sebagai karakter tragis dengan dilema moral yang kompleks. Pembaca merasa bahwa perjuangannya melawan ilmu hitam untuk melindungi Renggana menambah kedalaman emosional cerita. Konflik ini memberikan lapisan tambahan pada kisah cinta yang sudah tragis,
Cinta Galih kepada Renggana yang tidak sepenuhnya terbalas memberikan elemen tragis yang mendalam. Pembaca terkesan dengan bagaimana cinta abadi Galih tetap hadir meskipun melalui ilmu hitam, menunjukkan pengorbanan tanpa syarat yang menyentuh hati. Hal ini menciptakan hubungan emosional yang kuat antara pembaca dan karakter.