Warning!
(Kram perut yang disebabkan membaca cerita ini tidak ditanggung BPJS, Jika gejala berlanjut hubungi Otor)
Bianca Nataniasunny seorang gadis mandiri dan sedikit arogan harus menjalani pernikahan tanpa cinta dengan seorang pria bernama Skala Prawira yang tak kalah arogan seperti dirinya. Kedua mahkluk itu sama-sama mengincar warisan dari keluarga mereka dan sepakat untuk melakukan kerjasama.
Menikah tidak membuat mereka lantas dengan mudah saling mencintai. Pertengkaran yang berujung kekonyolan menjadi santapan mereka sehari-hari.
"Kalau gue Anaconda loe Piranha Amazon," ~ Ska.
"Hah...ogah gue sehabitat sama loe," ~ Bian.
Tanpa Skala dan Bianca sadari jeratan takdir masa lalu telah mengikat keduanya.
_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Don't judge
"Sebaiknya kita minta Rohana untuk memimpin doa," ucap Bu Dewan ke salah satu anggota geng sultini blok kamboja yang paling kalem dan agamis.
Bian mengernyitkan dahi, sungguh teramat konyol yang sedang Ia lakukan sekarang. Berada di sebuah mall yang sepi, membentuk lingkaran dengan ibu-ibu tetangganya. Bianca merasa sangat malu saat para pelayan toko di mall itu terlihat menahan tawa. Namun, untuk menunjukkan rasa terima kasih ke para tetangganya, gadis itu mengikuti apapun yang para ibu-ibu itu inginkan.
Akhirnya bu Rohana atau yang kerap disapa dengan panggilan bu Hana mulai memimpin doa.
"Semoga yang akan kita kerjakan mendapat barokah, amin."
Bian yang tertunduk bukannya berdoa tapi malah melamun nampak bingung karena doa yang di lakukan bu Hana tiba-tiba saja selesai, Ia semakin heran saat ibu-ibu itu menumpuk salah satu tangan mereka dan meneriakkan yel dengan lantang secara serempak. Gadis itu hanya bisa tertawa karena terlalu bingung merespon kelakuan aneh para tetangganya.
Ibu-ibu itu silih berganti masuk ke dalam toko, tapi yang membuat Bianca bingung ibu-ibu itu tak satupun memilih barang untuk mereka sendiri. Padahal Bian sudah menyampaikan pesan suaminya dengan jelas dan benar, bahwa mereka dipersilahkan memilih apapun barang yang mereka inginkan yang ada di mall itu.
Aneh, mereka masuk ke toko yang menjual tas, sepatu, mainan dan buku untuk anak-anak, dan membeli sejumlah dua belas sesuai jumlah anggota geng mereka, tak kurang dan tak lebih. Mereka sama sekali tak melirik toko tas, parfum atau perhiasan.
Penasaran, Bian memilih bertanya ke Bu Dewan. Dengan senyum yang merekah dari bibir merahnya wanita itu menjelaskan, bahwa masing-masing dari mereka memiliki satu anak asuh di sebuah panti asuhan, ibu-ibu geng sultini blok kamboja melalui rapat via group chat memutuskan memanfaatkan hadiah berberbelanja gratis dari Skala untuk membeli kebutuhan anak asuh mereka.
"Anggap saja ini rejeki anak-anak asuh kami Mba Bian, dan semoga menjadi berkah buat mas Ska," terang Bu Dewan.
Bianca tak habis pikir, mungkin ini lah yang disebut don't judge book by it cover, ibu-ibu yang awalnya Bian anggap sangat merepotkan dan hanya bisa bergosip sepanjang waktu, ternyata memiliki hati yang mulia. Seketika Bian merasa malu ke dirinya sendiri.
***
Bianca sedikit berlari, melihat istrinya datang Ska langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Ga usah lari!" cegahnya.
"Gue ga nyangka loe bakal bener-bener mau kesini," ucap Bian sambil masih mengatur napasnya.
"Gimana bu Dewan dan gengnya? Apa mereka senang?"
"Loe ga akan percaya Ska kalau gue cerita."
beberapa waktu yang lalu
Saat tengah asyik makan di salah satu restoran di mall seusai berkeliling untuk berbelanja, Ska tiba-tiba menghubungi Bian, laki-laki itu meminta istrinya untuk menemaninya ke rumah sakit menjenguk para karyawan PG Factory yang masih di rawat di sana. Bian langsung meminta ijin ke gengnya, entah mengapa Ia merasa senang, padahal Skala tidak sedang mengajaknya berkencan.
***
Keduanya masuk ke bangsal rumah sakit dimana beberapa karyawan pabrik tengah duduk atau berbaring ditemani keluarga masing-masing. Melihat pimpinan tertinggi di perusahaan mereka datang sontak mereka terkejut.
Sikap ramah yang ditunjukkan Ska dan Bian membuat beberapa dari mereka sampai terharu. Benar, terkadang menghargai orang lain tak serumit yang kita pikirkan, menunjukkan sedikit perhatian dan rasa peduli kita saja terkadang sangat berarti bagi mereka. Sebagai manusia sudah selayaknya kita memanusiakan manusia, bukankah derajat kita sama?
Meskipun Skala adalah orang nomor satu di PG factory, Ia dengan rendah hati menyalami satu persatu karyawannya, mengucapkan kata maaf berulang-ulang kepada keluarga korban tragedi keracunan pabriknya dengan menundukkan kepalanya, membuat yang menerima perlakuan seperti itu merasa benar-benar dihargai dan terharu.
Dengan sengaja Bian menautkan jemarinya ke jemari suaminya, tak ada penolakan, Ska malah menggenggam erat tangan Bian. Membuat gadis itu kaget bercampur heran.
"Apa ini bagian dari sandiwara?"
Mereka terus bergandengan tangan sampai keluar dari bangsal perawatan terakhir dimana karyawan tragedi mikurame dirawat. Mendapati tangan mereka yang masih saling berpegangan, Skala menatap wajah Bian, gadis itu tersipu. Perlahan Ska melepaskan genggaman tangannya.
"Kakek minta gue ke rumah, apa elo mau ikut?"
"Hah? apa?" Bian yang tak fokus terlihat salah tingkah.
Ska tertawa, menarik tangan Bian menuju ke mobilnya. Tangannya menengadah meminta kunci mobil gadis itu.
"Bukannya elo bawa mobil sendiri?" Meskipun heran, Bian menyerahkan kunci mobilnya begitu saja.
"Gampang biar diambil Beni besok, ga mungkin juga kan kita ke rumah kakek pake mobil yang terpisah." Alasan yang tak masuk akal, tapi Bianca hanya mengiyakan.
"Apa kakek akan marah?" sedikit takut, Bian tak beranjak dari posisinya berdiri, Ia menatap pintu rumah Prawira dimana sudah ada beberapa pelayan yang menyambut mereka.
"Kalaupun marah pasti bukan ke elo tapi gue!" Menarik tangan Bian, entah berapa kali mereka sudah bersentuhan seperti itu, harusnya mereka saling membayar denda satu sama lain.
Bian dan Ska duduk di depan Prawira, pria tua itu terlihat menajamkan mata ke arah cucu kesayangannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya lirih.
Bianca menoleh ke arah suaminya, Ia benar-benar terkejut dengan pertanyaan Prawira, padahal ia sudah berencana akan memohon dan melindungi Skala jika kakeknya berniat melayangkan pukulan ke suaminya itu, Bian sudah membayangkan adegan ala sinetron seperti yang sering mama tirinya tonton, dimana sang orang tua menghajar anaknya yang berbuat salah. Tapi Bian lupa, dalam kasus ini Skala adalah korban juga.
"Aku baik-baik saja, Beni sedang aku minta untuk menghitung semua kerugian, beruntung semua karyawan sudah mendapat jaminan asuransi dari pabrik," terang Ska.
"Kakek akan mencari tahu dalang dibalik semua ini, kakek pastikan akan menemukan orang itu!" Emosi, Prawira nampak menggeraskan rahangnya.
"Tidak perlu kek, aku direktur disana dan aku yang akan bertanggung jawab, aku hanya butuh kepercayaan kakek saja saat ini."
Prawira hanya bisa terdiam, Ia sadar bahwa cucunya pasti ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia lantas menatap cucu menantunya yang dari tadi tanpa sadar terus menatap wajah Skala dari samping.
"Kamu harus menjaga suamimu, jangan sampai dia sakit memikirkan masalah ini," perintah Prawira.
Bian yang kaget terlihat merona malu saat sang suami tiba-tiba menoleh ke arahnya, mereka bersitatap, Ska tiba-tiba tersenyum dan kembali mengusap pucuk kepala Bian seperti kemarin.
Tak mendapat jawaban dari gadis itu Prawira hanya tertawa. "Sepertinya tak perlu aku minta," selorohnya sambil meninggalkan pasangan itu keluar dari ruang kerjanya.
Ska juga berdiri dan berjalan keluar, meninggalkan Bian yang dadanya kembali dibuat berdebar tak karuan oleh laki-laki itu. Saat Bian akan membuka pintu untuk menyusul suaminya, samar terdengar suara Feli dari luar. Mengurungkan niatnya untuk keluar, Bian memilih menguping pembicaraan Feli dan Ska dari dalam.
"Apa kamu baik-baik saja? kamu tidak sampai stress dan tidak napsu makan kan? kamu terlihat begitu lelah, apa istrimu itu tidak memperhatikanmu dengan benar?" Khawatir, Feli mencecar Skala.
Bian menggertakkan giginya, kesal mendengar ucapan Feli yang membicarakan dirinya di belakang.
"Apa pedulimu?" Ska berlalu meninggalkan sang mantan kekasih begitu saja. " Oh ya, jangan lagi berkata yang bukan-bukan tentang istriku!" imbuhnya.
Perlahan Bian memegang handle pintu untuk keluar, sebelum dia berhenti lagi saat mendengar Feli mengungkapkan isi hatinya.
"Aku masih mencintaimu Ska, dan aku tahu kamu juga masih mencintaiku."
Skala menghentikan langkahnya, Ia berbalik, laki-laki itu menatap Feli dengan raut wajah sedingin es, "Kamu tidak sepatutnya berkata seperti itu, sadarlah! kita sudah memiliki pasangan masing-masing."
Mentap wajah Feli yang terlihat kecewa, Ska kembali membuat gadis itu semakin terpuruk dalam lara, "Apakah kelihatan jelas gurat kelelahan di wajahku? kamu tahu kenapa? karena aku sibuk membuat bayi setiap malam dengan Bianca sampai kurang tidur."
Membelalakkan matanya, Bian menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Dasar badak Afrika gila," gumamnya.
Sementara Feli benar-benar tersungkur dengan ucapan mantan kekasihnya, seharusnya gadis itu sadar bahwa sudah tidak ada lagi ruang di hati Skala untuknya.
_
_
_
_
_
_
_
Terima kasih buat kalian yang selalu mau baca cerita receh ini 😘 jangan Lupa LIKE dan KOMEN ya