Muda, tampan, kaya, tidak berguna! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Huan Wenzhao. Namun…
Siapa sebenarnya Huan Wenzhao tak ada yang tahu.
Mau tahu identitas lain Huan Wenzhao?
Ikuti kisahnya di sini!
Hanya di: Noveltoon/Mangatoon.
~Selamat membaca~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode³⁰
“Ujian Tiga Wilayah sudah di depan mata…” Pagi itu secara khusus, pangeran ketujuh menghadap dekan sekolah. “Sebagai rekan belajar, saya perlu tahu bakat Penerus Huan. Mohon Dekan Qin melakukan pengujian untuk Penerus Huan!”
Ujian Tiga Wilayah adalah program tahunan Sekolah Kekaisaran yang khusus menguji para penerus pilar negara. Semacam kejuaraan beladiri yang diselenggarakan di tiga wilayah.
Tak butuh waktu lama untuk dekan sekolah menyetujui permintaan pangeran ketujuh.
Begitu Huan Wenzhao tiba di sekolah, hari itu juga, ia digiring ke tempat pengujian.
Seorang guru penguji berusia empat puluh tahun mendampinginya bersama pangeran ketujuh.
Para pelajar berbondong-bondong mengikuti mereka untuk melihat rangkaian prosedur itu.
“Pangeran ketujuh sudah hampir satu bulan belajar di Sekolah Kekaisaran,” tutur guru penguji yang menggiring Huan Wenzhao ke tempat pengujian. “Sesuai aturan, sudah seharusnya memilih rekan di antara para pelajar. Sudah begitu lama, Pangeran baru menentukannya.”
Pangeran ketujuh ini… sedang merencanakan apa lagi? Gerutu Huan Wenzhao dalam hatinya.
Tempat pengujian pertama adalah pilar pengukur kekuatan spiritual.
Pilar itu terdapat di tengah-tengah lapangan di pekarangan utama Sekolah Kekaisaran.
Tingginya sekitar sembilan kaki. Bentuknya seperti pedang raksasa yang ditancapkan ke tanah. Di bagian atas pilar itu terdapat sebuah permata besar berbingkai logam mulia berbentuk sepasang sayap seperti penahan pedang.
Kristal pengukur empat digit! Huan Wenzhao menyimpulkan.
Keberuntungan tampaknya berpihak pada Huan Wenzhao.
Kristal pengukur empat digit adalah batu spiritual tingkat sembilan. Hanya mampu mendeteksi kekuatan spiritual di ranah pemahaman kesadaran ke bawah.
Seseorang dengan level kekuatan sepuluh ribu ke atas hanya akan terpindai empat angka di belakangnya.
“Letakkan telapak tanganmu pada pilar!” Instruksi guru penguji itu.
Huan Wenzhao mematuhinya tanpa beban sedikit pun.
Pilar itu berkeredap ketika ia menyentuhnya. Lalu menyala hingga ke puncak. Permata di atasnya meledak oleh cahaya putih terang yang menyilaukan.
Semua orang di sekeliling pilar itu menunggu dengan penasaran.
Cahaya putih menyilaukan itu berangsur-angsur meredup, meninggalkan empat digit angka nol.
Lapangan itu meledak oleh gelak tawa para pelajar.
Para guru pendamping menggeleng-geleng.
Pangeran ketujuh mengerjap dan menelan ludah. Lalu tertunduk dengan raut wajah muram. Jelas-jelas permata itu bercahaya! Batinnya getir. Dekan sekolah meliriknya dengan tatapan prihatin.
Mungkinkah batu pengukur dapat dimanipulasi? Pangeran ketujuh bertanya-tanya dalam hatinya. Atau jangan-jangan…
Dia tak mungkin sudah menjadi dewa, kan? Pikirnya tak ingin percaya. Kemudian menoleh pada Huan Wenzhao.
Guru Wang juga sedang mengamatinya.
Pemuda itu tertunduk sembari menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak terasa gatal.
Aku pasti sudah gila! Pikir pangeran ketujuh sembari menggeleng-geleng, seakan dengan cara seperti itu, ia dapat mengenyahkan semua ganjalan di kepalanya.
Tak puas dengan gagasan itu, pangeran ketujuh mengerling ke arah Jiao Jingling untuk melihat reaksi gadis itu.
Gadis itu memasang wajah cemberut. Sebenarnya masih kesal karena masalah kemarin.
Tapi pangeran ketujuh menyimpulkan bahwa gadis itu sedang kecewa.
Benarkah penerus Huan sepolos ini? Pikirnya tak yakin. Sekurang-kurangnya keturunan kaisar perang, paling tidak memiliki lima level kekuatan spiritual bawaan lahir. Ini… satu level pun tidak?! Apa aku saja yang memandangnya terlalu tinggi?
Pengujian berikutnya tak mungkin ada kekeliruan! Batinnya menyemangati diri.
Tempat pengujian kedua adalah Kolam Nirwana. Kali ini didampingi wali kelas mereka, Guru Wang.
Kolam Nirwana adalah tempat menguji garis keturunan atau bakat elemen.
Hanya kolam buatan di pekarangan samping sekolah yang sepintas terlihat seperti tempat pemandian air panas. Isi kolam itu diambil dari kolam nirwana di kerajaan langit. Air beku yang tidak pernah mencair. Disebut juga kolam kristal atau kolam kaca.
Guru Wang merenggut tangan Huan Wenzhao dan menusukkan jarum ke ujung telunjuknya, lalu meneteskan darahnya ke permukaan kolam.
Kolam beku itu akan berubah menjadi kolam api, kolam air, cairan logam, pusaran angin, atau apa saja, sesuai bakat elemen yang terkandung dalam darah yang diteteskan.
Sayangnya pengetahuan umum tentang elemen hanya terbatas pada tujuh elemen. Elemen api, elemen air, elemen logam, elemen petir, elemen es, elemen kayu dan elemen tanah.
Sekali lagi, keberuntungan berpihak pada Huan Wenzhao!
Garis keturunannya adalah elemen kristal. Elemen paling langka yang hanya dimiliki klan dewa purba generasi pertama.
Begitu langka, sampai semua orang tidak mengetahuinya!
Jadi begitu darah itu menetes di permukaan kolam, kolam itu tidak berubah.
Ini juga tidak berhasil?! Pikir pangeran ketujuh sedikit syok. “Mungkinkah… itu elemen es?” Ia bertanya pada Guru Wang untuk memastikan keraguannya.
Guru Wang tersenyum pahit dan menggeleng. “Kau tak bisa membedakan es dengan kristal?” Tanyanya bernada ketus.
Terdengar cekikikan. Para pelajar yang menyaksikan pengujian itu tak bisa menahan tawa.
Semua orang tahu elemen es mengandung kepingan salju dan uap dingin.
Kolam itu tetap terlihat seperti kolam kaca.
Pangeran ketujuh langsung terdiam.
Huan Wenzhao tertunduk menutupi mulutnya dengan kepalan tangan, menyembunyikan senyum liciknya.
Kerumunan itu akhirnya bubar. Jam pelajaran telah dimulai. Para pelajar digiring ke kelas masing-masing.
Saat pengujian ketiga, hanya tersisa pangeran ketujuh dan guru penguji ketiga berusia setengah abad yang mendampingi Huan Wenzhao.
Tempat pengujian ketiga adalah Gudang Pusaka. Ruang penyimpanan benda-benda keramat warisan para leluhur kekaisaran. Ada senjata, kitab, armor, batu spiritual, cincin penyimpanan dan artefak kuno lainnya.
Benda-benda keramat itu akan memilih sendiri pewaris mereka. Mereka akan menunjukkan reaksi otomatis saat menemukan orang yang tepat.
Tapi sebagai pemilik kekuatan kuno, tidak satu pun dari pusaka itu layak bagi Huan Wenzhao.
Kitab-kitab dunia fana tak ada yang sempurna.
Pusaka lainnya tak lebih tua dari semesta purba.
Lagi-lagi, cara itu pun tak memuaskan rasa penasaran pangeran ketujuh.
“Ilmu iblis apa sebenarnya yang kaugunakan?” Gerutunya tak sabar. “Kau tak mungkin sepolos ini, kan?”
“Yang Mulia! Apa maksudnya?” Huan Wenzhao berlagak dungu.
Pada saat itu, mereka sedang berjalan menyeberangi pekarangan belakang menuju kelas mereka.
Guru penguji ketiga sedang menutup pintu Gudang Pusaka di belakang mereka.
“Kau jelas bermain trik!” Dengus pangeran ketujuh dalam bisikan tajam.
“Yang benar saja?!” Huan Wenzhao balas mendengus. “Sihir tak punya mata,” ia berkilah. “Mereka tak pandang bulu.”
“Cih!” Pangeran ketujuh tersenyum sinis sembari mendelik. “Lalu bagaimana kau menjelaskan ini?!” Tanyanya sembari merenggut pergelangan tangan Huan Wenzhao dan mengangkatnya.
“Ini apa?” Huan Wenzhao pura-pura tidak mengerti. Ternyata cincin ini penyebabnya, katanya dalam hati.
“Cincin ini!” Pangeran ketujuh menekuk tangan Huan Wenzhao dan mendekatkan jemari tangan pemuda itu ke wajahnya. “Tanpa kekuatan spiritual, bagaimana kau menggunakannya?”
“Aiya!” Huan Wenzhao berkilah sembari menarik tangannya dan menepiskan cengkeraman pangeran ketujuh. “Hanya memakai cincin saja, apa perlu tenaga dalam?”
Huan Wenzhao melepaskan cincinnya. “Biar kuperlihatkan caranya menggunakan cincin,” katanya sambil memasang kembali cincin itu di jari telunjuknya. “Mudah, kan?”
“Apa aku bertanya bagaimana cara mengenakannya?” Sanggah pangeran ketujuh. “Aku bertanya, bagaimana kau menggunakannya?”
“Bisa bagaimana lagi?” Huan Wenzhao bersikeras. “Cincin warisan keluarga Huan,” katanya sambil mengangkat tangannya di sisi wajah dan menunjuk permata berbentuk mata tombak dengan telunjuk lainnya. “Siapa yang tidak tahu? Cukup dilihat saja semua orang akan menghormatiku!”
Pangeran ketujuh mengetatkan rahangnya.
“Yang Mulia, Tuan Muda Huan, Dekan Qin memanggil Anda berdua!” Seorang asisten guru berusia dua puluh lima tahun tiba-tiba menyela mereka sambil membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajah.
Kedua pemuda itu berhenti berdebat.
Pangeran ketujuh mendelik ke arah Huan Wenzhao. “Sungguh pandai bicara!” Dengusnya dalam bisikan tajam.
Kemudian berbalik dan berjalan mengikuti asisten guru itu menuju ruangan dekan. Huan Wenzhao mengekor di belakangnya sembari mengulum senyum.
Dua guru penguji lainnya sudah menunggu di kiri-kanan Dekan Qin.
“Guru tatanegara dan guru sastra!” Dekan Qin memperkenalkan mereka.
Huan Wenzhao dan pangeran ketujuh membungkuk ke arah mereka memberikan salam soja.
“Kaisar sebelumnya mendirikan sekolah ini demi mendidik tiang negara,” Dekan Qin memulai dengan pidato singkat. Setiap pelajar yang masuk ke sini harus melewati ujian yang ketat. Jadi…”
" katanya sambil menguap" ini lebih sederhana
mungkin nanti ada asuking
hadeh
Ayo, Thor 💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Semoga dilancarkan rezekinya, Thor...