Wulandari Putri Amelia gadis 19 tahun kuliah jurusan ekonomi dan bisnis tetapi mati karena insiden longsor yang menewaskan seluruh keluarganya di desa, selain jurusan ekonomi dan bisnis Wulan adalah seorang yang hobi memasak makanan, apapun itu, seolah memasak adalah hiburan baginya.
Lalu? Bagaimana saat dirinya masuk ke dalam tubuh putri Duke yang hanya tinggal sendiri di tengah kota, sebab kedua orangtuanya telah menggial akibat serangan bandit saat akan pergi ke istana, maka dari itu dirinya yang hanya seorang putri tunggal terpaksa harus menggantikan tugas kedua orang tuanya, begitu sulit sehingga banyak terjadi penyuapan dan korupsi besar-besaran di wilayah yang dipimpin oleh mendiang ayahnya.
“Aduh, nasib-nasib, malah jadi yatim lagi!” dengus Wulan memandang tubuh gadis berusia 18 tahun ini. “Untung nih bocah umurnya udah 18 tahun, tapi …! Kenapa tubuh gue harus kek bocil kekurangan gizi anjir!” teriak Wulan merasa kesal setengah mati, ingin pingsan saja rasanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _yan08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembantaian Para Pelayan Kastil
Dilansir dari sebuah website yang pernah dirinya baca digitalis purpurea memang bisa dijadikan obat untuk jantung, bahkan daunnya pun saat ini diekstraksi untuk menghasilkan digoksin, suatu glikosida jantung, sebuah molekul kompleks dengan banyak cincin jenis karbohidrat. Digoxin tampaknya menghambat pompa Na+/K+ ATPase di sel otot jantung, menyebabkan kelebihan Na+ intraseluler, yang secara tidak langsung menyebabkan peningkatan ion kalsium yang disimpan dalam retikulum sarkoplasma. Peningkatan kadar kalsium mendukung kontraksi otot jantung yang lebih kuat, sehingga memungkinkan jantung bekerja lebih efisien.
“Aku berharap orang itu bisa menyembuhkan mereka, tetapi … kenapa bisa orang itu sama sepertiku?” batinnya di akhir kalimatnya.
.
.
Kita beralih kekaisaran, raja Damian datang terlebih dahulu sebelum para raja yang lain datang, sebab ini masalah besar bagi kekaisaran mereka.
“Sebenarnya apa yang terjadi yang mulia? Kenapa bisa kekaisaran Devoka ingin melakukan perang?” tanya raja Damian begitu serius.
“Hah, aku pun bingung kakak ipar, aku sudah mengajukan surat pertemuan secara pribadi untuk membicarakan hal ini, tetapi pihak mereka menolaknya,” jelasnya menggeleng.
“Ini sepertinya nampak sulit yang mulia, kita harus memanggil para raja yang lain untuk mendiskusikan hal ini, bersiap-siap untuk hal-hal buruk yang mungkin kita tidak sadari, dan untuk saat ini kita harus mulai bersiap-siap dari sekarang!”
.
.
Hal yang Wulan khawatirkan kini sudah mulai terjadi menghampirinya, di kawasan Utara tempat pintu masuk utama wilayahnya kini sudah hangus terbakar dengan api yang melambung tinggi. “Cepat bantu para warga yang berada di dekat lokasi!” teriaknya kalut, para pengguna sihir air mencoba memadamkan api yang semakin berkobar.
“Kenapa bisa kebakaran seperti itu paman?”
“Kami Pun kurang tahu duchess, semuanya terjadi begitu tiba-tiba.”
Wulan mengangguk, dirinya pergi berbalik untuk ke kastil, firasatnya mengatakan malam ini akan sangat mencekam. “Luke, beritahukan pada yang lain untuk berjaga-jaga malam ini, firasatku tidak enak!” tuturnya pada pengawal barunya, teruntuk Althan dia sudah berpindah menjadi bawahnya jenderal Gariel.
“Baik duchess!”
Wulan masuk dan mengunci pintu kamarnya dari dalam, semua sudah dia siapkan untuk berjaga-jaga. “Gue takut, tapi juga penasaran!” gumamnya penasaran, apakah sebuah pembunuhan secara nyata itu mengerikan daripada yang di film-film itu? Atau sebaliknya? Ini yang dirinya penasaran, dan … apakah perang itu sama dengan yang ditampilkan di film-film kolosal yang sering dirinya tonton?
Malam semakin larut, Wulan terlelap, beberapa orang berpakaian hitam dengan parang di tangan mereka mulai masuk kedalam kamar pelayan dan mulai menggoroknya satu-persatu, hingga membuat yang selamat pergi berlari menangis histeris di sepanjang lorong.
Namun naas bukanya mendapatkan perlindungan wanita itu malah ikut menyusul para pelayan yang lain dengan cara sebilah pedang menusuknya dari belakang hingga menembus apik di dadanya.
Khuk!
Mereka dengan cepat pergi bagaikan ditiup angin di tengah gelapnya malam, mereka melupakan seorang pelayan yang bersembunyi di bawah ranjang yang tertutupi oleh selimut, pelayan wanita itu menutup mulut dengan suara tangis yang memilukan, bau amis begitu ketara masuk di hidungnya, genangan darah begitu banyak, dia tak kuasa untuk melihatnya, apalagi untuk keluar, dia hanya bisa mengeraskan suara tangisannya agar mereka mendengar dan membawanya keluar dari tempat mengerikan ini.
Pada jam empat pagi semua orang mulai bangun dengan suara teriakan para pelayan wanita yang menangis histeris, sebagian prajurit datang untuk memeriksa, mereka terkejut akan kengerian yang mereka lihat.
“Kalian keluarlah, dan yang lain bantu aku untuk mengurus para korban.” Huh, orang kejam mana yang membunuh delapan orang pelayan dalam semalam, dan … kenapa mereka tidak menyadarinya? Sepertinya ada yang salah.
Di dalam kamarnya Wulan selesai bersiap-siap. “Duchess, gawat!” teriak Dahlia dengan mata memerah menahan tangis.
“Kau tidak sopan Dahlia!”
“Maafkan saya duchess, tetapi ini sangat mengejutkan duchess!” ucapnya bersujud menangis di lantai kamar.
“Ck, berdirilah! Jelaskan dengan benar!?” kesalnya.
“Duchess, semalam ada sebuah pembantaian hebat di kastil, delapan pelayan kita tewas dibunuh duchess!” tangisannya sesenggukan.
Wulan mengangguk dan terkejut, firasatnya seperti tak meleset. “Antarkan aku kesana!” pintanya, Dahlia mengangguk patuh lalu membimbing Wulan ke tempat kejadian mengerikan itu.
Sesampainya di sana sudah banyak para prajurit yang tengah membersihkan tempat tersebut, genangan darah begitu banyak, ngeri? Tentu saja, dia seorang wanita awam tentu saja takut dan mengerikan. “Ini baru setengahnya! Bagaimana selanjutnya?” batinnya.
“Duchess kami menemukan ini?” ucap seseorang menyodorkan sebuah kertas yang sudah berlumuran darah para korban.
...'bagaimana nona kecil? Apakah kamu suka dengan hadiah yang saya berikan? Aku berharap hadiah kali ini mengesankan untukmu nona kecil'...
^^^Tertanda I.^^^
Wulan menatap kosong pada surat itu. “Buang! Kalian bersihkan para mayat itu dan pulangkan mereka ke keluarga masing-masing, dan jangan lupa berikan uang kompensasi untuk keluarga korban!”
.
.
“Hahaha, kalian bersiaplah! Malam ini kita habisi sebagian warga Copatria, supaya nona kecil nan tangguh itu tahu siapa lawannya!” tertawa terbahak-bahak begitu kesenangan akan kabar yang diberikan oleh anak buahnya.
Perang yang sesungguhnya akan di mulai pada malam ini, waktu yang sangat-sangat tak terduga untuk Wulan, apakah ini akhir dari perjalanan Wulan? Apakah dia akan mati begitu saja di tangan penjahat yang belum pernah diketahui identitasnya? Dan …, apa rencana Wulan untuk menghadapi mereka semua? Sungguh sangat rahasia.
“Aku memang lemah, tetapi aku tak sebodoh kalian!”
apakah wulan mati .....
lanjutkan berkarya.nya
jadi bagaimana seharusnya si Wulan bertindak....