NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Usia Senja

Gelora Cinta Usia Senja

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romansa / Tamat
Popularitas:143.9k
Nilai: 5
Nama Author: skavivi selfish

Mereka terpaksa menikah meski sudah berjanji tidak akan menikah lagi setelah menjanda dan menduda untuk menghormati pasangan terdahulu yang sudah tiada.

Tetapi video amatir yang tersebar di grup RT mengharuskan mereka berada dalam selimut yang sama meski sudah puluhan tahun hidup di kuali yang sama.

Ialah, Rinjani dan Nanang, pernah menjadi cinta pertama dan hidup saling membutuhkan sebagai saudara ipar. Lantas, bahagia kah mereka setelah menyatu kembali di usia kepala lima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan ngawur

Nanang mematung dan dia benar-benar terlihat kehilangan kemampuan berakting yang sudah diasahnya dari kecil semenjak Rinjani menjadi lebah nakal dan dia adalah bunganya.

“Pak... Bapak...” panggil Jalu Aji sambil mengintip dari celah pintu yang dibukanya sedikit. “Pak'e... ayo berangkat sekolah.”

“Berangkat sekolah, Pak. Naik mobil.” imbuhnya waktu sang Bapak hanya diam di tempat. “Kalau aku telat, pintu gerbang di tutup lho. Run... Runi... sini'o tak kasih tahu!”

Arunika mendekati kakaknya sambil memakai dasi kupu-kupu warna biru. “Apa, Mas?”

“Bapakmu ngelamun, sana di kagetin biar sadar. Ada jam olahraga aku.”

Arunika mendorong pintu kamar seraya meraih tangan Nanang dan menarik-narik. “Ayo berangkat sekolah, Pak. Jangan cosplay jadi patung! Nggak cocok lho ini cuma pakai kolor ijo. Malu-maluin keluarga.”

Nanang memberikan tatapan mata yang kerap Rinjani tunjukkan waktu tidak suka pada Arunika.

“Bapak nggak cosplay jadi kolor ijo yoo, Bapak cuma baru ngasih contoh kalian bagaimana caranya upacara yang benar, tidak ribut, anteng gitu.”

“Halah... Halah... banyak alasan kamu itu.” Rinjani menyampirkan celana chino di bahu Nanang sekaligus jaketnya. “Sudah sana berangkat sekolah.”

Nanang menoleh sambil meraih celananya. “Gimana kalau anak-anakku sekarang dikasih sopir sendiri-sendiri, Ri?”

“Biar apa?”

Nanang memakai celananya dan sambil mengancingkan celananya dia meringis. “Biar aku bisa olahraga pagi di bawah sinar matahari jam tujuh. Tidak terlalu panas, jadi aku tidak pusing.”

Rinjani menertawakan wajah Jalu Aji yang mengandung kecurigaan. “Urusan antar jemput bisa di atur sesuai kapasitasmu sebagai Bapak dan seorang pekerja. Jadi selagi bisa lakukanlah biar tidak ada kata menyesal di kemudian hari.”

“Setuju aku Budhe.” Jalu Aji mengacungkan jempolnya. “Ayo toh, Pak. Buruan...”

Nanang memakai jaketnya seraya mengambil kunci mobil dari tangan Rinjani. “Berangkat dulu ya, terus yang tadi dilanjut bisa?”

Rinjani memandangi Jalu Aji seraya tersenyum-senyum sendiri. “Nggak usah bingung gitu, santai.”

Jalu Aji menatap ayahnya. Tahu kalau suami istri memiliki bayi, tapi belum tahu kalau budhenya sudah menopause. Jadi pikirannya tetap mengembara sekalipun sudah berkali-kali Rinjani dan Nanang bilang tidak akan bisa memiliki anak lagi.

“Adikku sudah empat, jangan nambah bebanku lagi, Pak!”

“Pikiranmu ke mana-mana, Lu. Sudah ayo berangkat, capek Bapak ngurus Budhemu terus.”

“Sama ibu juga gitu dulu, Bapak sering ngeluh capek ngurus anak sama kucing.”

Rinjani menyunggingkan senyum selagi Nanang mendesis, menyuruh mereka diam sambil merangkul kedua bahu anaknya. “Mit... Mita... Ayo... menyang sekolah...”

Swastamita gegas meraih bekalnya di meja dan ketika dia melewati Rinjani, dia malah berhenti. “Budhe sabar dulu ya. Bapak memang suka stress.”

Rinjani semakin tidak bisa menyembunyikan senyumnya karena semakin lama dia berada di rumah Nanang, dia semakin tahu bawah pria itu memang membutuhkan seorang perempuan, bukan sekedar pelayan atau pengasuh yang membantunya menyejahterakan rumah tangga, melainkan teman berbagi informasi dan solusi.

“Hati-hati kamu bawa mobilnya.”

“Memangnya aku pernah meleng?” sahut Nanang jengkel sembari menutup pintu penumpang.

Rinjani mengendikkan bahu. “Siapa tahu setelah kejadian tadi kamu mendadak kurang fokus, bisa saja kan...”

Nanang memegangi kedua alis Rinjani yang bergerak-gerak. “Kamu jangan ke mana-mana sekarang, tunggu aku di ruang kerjaku.”

“Ada meeting dadakan memangnya? Sekertarisku kok tidak memberi kabar apa-apa ya.”

Nanang membuka pintu kemudi. “Meeting antara kita berdua dan urusan sirkuit. Tidak usah dandan cantik-cantik biar Pak Burhan dan Pak Doni Hermansyah yang sering ganggu kamu itu sadar, kamu sudah tua!”

Nanang masuk ke dalam mobil dan tak perlu menutupnya, Rinjani sudah mendorongnya kuat-kuat sampai pria itu terkekeh.

“Bahas-bahas Pak Burhan dan Pak Doni, mereka itu memang berondong tua, usianya mirip kamu waktu jadi jomblo abadi!”

Nanang melirik Jalu Aji. “Masalah Bapak memang rumit, Lu. Tapi seru banget... Bapak bisa awet muda ini dan bisa lihat kamu nikah.”

“Waton banget keinginan Bapak ki. Aku loh masih SMP sudah berkhayal aku nikah. Kejauhan.”

“Lah iya, Mas. Bapak memang ngawur akhir-akhir ini.” imbuh Arunika.

Nanang tertawa menanggapi keluh kesah anaknya. “Yang penting kalian hepi, pasti Ibu di sana juga hepi.”

Arunika yang awam pun bertanya. “Memangnya ibu bisa lihat kita, Pak?”

Nanang tersenyum sambil fokus mengemudi. “Ibu kalian mati syahid. Mati karena melahirkan, ganjarannya surga. Kalau dia tidak hepi, tidak mungkin Bapak bisa merelakan ibu kalian dengan mudah.”

“Tapi kan pertanyaanku, ibu bisa lihat kita nggak? Lihat bapak apalagi?”

“Coba nanti kalian tanya Mas Pandu. Atau Mas Jalu.”

Jalu Aji pun segera melipat lidahnya. Tidak mau ngomong.

“Tanya Mas Pandu saja, wawasannya sudah luas. Mas Jalu ini kan baru jadi newbie. Kurang pinter.” ledek Nanang.

Jalu Aji pun tidak peduli karena dia yakin Bapaknya sedang nyelamur ke sana sini untuk menyudahi pembahasan tentang ibunya dan dia sendiri.

“Pokoknya awas kalau Bapak buat rumah nggak nyaman. Jalu Aji siap minggat ke rumah nenek!”

Nanang meringis lebar. “Itu tidak akan Bapak biarkan, tapi sesekali boleh kok minggat ke rumah nenek. Bapak jadi bisa...”

Jalu Aji pun melayangkan protes dengan memanggil Bapaknya lengkap dengan julukannya seperti saat mendiang ibunya mengomel. “Mas Nanang Adiguna Pangarep dalang kondang cap playboy kejepit lawang. Marah lho aku... Ngambek ini.”

Nanang semakin merasa sayang pada anak-anaknya, kendati demikian pembalasan terhadap Rinjani masih akan terus berlanjut setibanya dia ke ruang kerjanya.

“Kok nggak bawa bunga buatku?” ucap Rinjani.

Nanang memakai jas kerjanya seraya menyisir rambutnya ke belakang setelah dia memberi minyak esensial khusus rambut agar wangi dan tidak rontok.

“Untuk apa bawa bunga? Hari ini bukan hari yang spesial toh?”

“Ya biar romantis begitu kalau kamu kasih bunga untukku sebelum meeting. Biar semangat gitu.”

Nanang mengantongi sisirnya yang kecil imut itu di saku jasnya. “Besok aku belikan karangan bunga sebesar dinding kamarmu asal meeting dan poin keputusan hari ini lancar!”

Rinjani mengangguk sembari menghidupkan laptopnya. “Koneksinya harus lancar kalau gitu, Mas. Jangan mirip hati kita yang maju mundur.”

Nanang menghidupkan komputernya seraya menegakkan punggung. Berusaha berwibawa, tetapi ketika matanya berusaha melirik Rinjani yang betul-betul tidak pakai riasan berlebihan dan hanya memakai bedak dan lipstik warna kulit, dia malah mendapatinya mengedipkan sebelah mata. Menggoda.

“Kelilipan?” tanya Nanang.

Rinjani mengulum senyum sambil menggerakkan kursi putarnya untuk mengitari meja kerja Nanang dan mendekatinya.

“Tiupin mataku dong, ini pasti kelilipan debu atau kelilipan bulu kucingmu.” Rinjani mengerjapkan mata.

Nanang sengaja menghidupkan web camnya lalu menyuruh Rinjani melihat layar komputernya.

Rinjani tersenyum. “Mas Burhan sudah tahu kita nikah. Eh... tapi kalau kita cemburu di usia sekarang ribet nggak, Mas?”

Nanang meniup mata Rinjani, dan waktu wajah itu mengerut dan memejamkan mata. Terabadikanlah momen tidak romantis itu.

“Niup sih niup, Mas Nuanang. Tapi air liurmu itu mirip Pak RT.” Rinjani mengusap wajahnya di jas kerjanya seraya kembali ke depan laptopnya sendiri.

“Hih... kebangetan. Di ajak mesra-mesraan saja susah. Sudah bagus ini aku inisiatif.”

Nanang mengirim hasil fotonya ke email Rinjani.

“Aku masih normal, jadi jangan ngawur. (⁠◠⁠‿⁠◕⁠).”

-

Selamat membaca...

1
Cicak Speed
seruuu
Cicak Speed
guyu aku rekkkk
estycatwoman
nice 👍💯😍
estycatwoman
Aamiin👐
Ida Miswanti
Jeng Vi Semua karyamu menetap di hati dan selalu ku nanti notif darimu lagi🤗💪
Ida Miswanti
Alhamdulillah karep ku ketekan🤗
Ida Miswanti
definisi cinta dari kulit kencang sampai kulit kendor😂
Ida Miswanti
kasian Mbakyu Jani tak pernah memahami Mas Nanang 😏
Ida Miswanti
emang apa yang Bunda mau???🤭
💕Rose🌷Tine_N@💋
berbulan bulan nungguin ternyata gk ada sambunganny lagi...piye to mbae...end atau digantung lg nih?😢
Ida Miswanti
tenang hatimu Dalilah tak hanya Ahli tp udh Spesialis
Ida Miswanti
coba minta 1 ke mantu mu🤭
Ida Miswanti
gini,,ni,kalo punya mantu turun dari khayangan bikin geumees🤗
Ida Miswanti
ternyata oh ternyata baru ku tau julukan lengkap Mas Nanang selain Om Oyen 😂
Ida Miswanti
kejujuran hati Mas Jalu..
Ida Miswanti
edan tenan Kowe adik'e Mas Kaysan😂
Ida Miswanti
makin cocok Run,,,jadi Patung Kolor ijo 🤣🤣🤣
Ida Miswanti
pasangan senja yg tiada tandingannya
Ida Miswanti
yang lagi bikin Romantis 😅
Ida Miswanti
KDRT dooong Mbak Riri😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!