Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Langit di Ndalem Jombang
Malam di Jombang kota terasa berjalan begitu lambat, mencekam, dan sarat akan kepedihan. Di dalam ruang tamu tengah ndalem Pesantren Sepuh yang biasanya hangat dengan aroma kopi dan lantunan selawat, malam ini berubah menjadi ruang pengadilan batin yang teramat dingin. Jam dinding kuno berdetak nyaring, seolah menghitung mundur sisa-sisa napas dari sebuah ikatan suci yang sedang diambang kehancuran.
Belum genap tiga bulan. Baru tiga minggu masa pembuktian itu berjalan, namun badai yang dibawa oleh masa lalu Gus Arsalan telah meruntuhkan pertahanan terakhir Ning Humaira. Video viral yang memperlihatkan kedekatan suaminya dengan wanita dari masa lalu di depan gerbang Al-Anwar telah menjadi sebilah belati yang memotong habis sisa-sisa harapan yang baru saja ingin ia pupuk.
Humaira duduk dengan punggung tegak di atas kursi kayu jati. Wajahnya pucat laksana pualam, matanya sembap dan memerah setelah tangis yang tumpah berjam-jam sejak sore hari. Namun, di balik rapuhnya fisik wanita itu, ada ketegasan mutlak yang terpancar dari sorot matanya.
Di hadapannya, Gus Arsalan duduk bersila di atas lantai karpet, merendahkan posisinya sehancur-hancurnya. Pakaian koko dongker yang dikenakannya tampak kusut, rambutnya berantakan, dan air matanya mengalir tanpa henti membasahi pipi. Laki-laki yang biasanya berdiri angkuh memimpin ribuan santri itu kini tampak laksana seorang pesakitan yang sedang menunggu vonis mati.
"Humaira... kulo mohon, demi Allah, dengarkan penjelasan saya sekali lagi," bisik Arsalan, suaranya parau, pecah, dan bergetar hebat. Kedua tangannya terangkat di udara, hendak meraih ujung gamis Humaira namun ia tarik kembali karena takut. "Video itu dipotong tanpa konteks, Humaira. Saya menolaknya, saya menyuruh wanita itu pergi dan jangan pernah kembali ke Al-Anwar. Demi Allah, hati saya hanya ada kamu, mboten wonten yang lain!"
Humaira menarik napasnya dalam-dalam. Dadanya berdenyut teramat perih, seolah ada tangan tak kasat mata yang sedang meremas jantungnya hingga hancur berantakan.
"Gus..." panggil Humaira, suaranya teramat tenang, namun ketenangan itulah yang justru paling mematikan bagi Arsalan. "Masalahnya bukan lagi tentang video itu salah paham atau mboten. Masalahnya adalah... dunia kita memang mboten pernah sama."
Humaira menatap lurus ke depan, enggan menatap mata suaminya karena ia tahu, jika ia menatap mata itu, pertahanannya akan runtuh.
"Tiga minggu niki kulo mencoba, Gus. Kulo mencoba membuka hati kulo, kulo salat malam, kulo meminta petunjuk kepada Allah. Tapi setiap kali nama Njenengan kulo sebut, yang hadir di dalam benak kulo hanyalah rasa takut, rasa sakit, dan rasa hina," lanjut Humaira, air matanya kembali meluncur deras membasahi pipi. "Kejadian kemarin adalah puncaknya. Allah sedang menunjukkan kepada kulo, bahwa sedalam apa pun Njenengan mencoba merubah diri, masa lalu Njenengan akan selalu punya celah untuk kembali dan merusak ketenangan kulo."
Humaira menjeda kalimatnya. Ia meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan hingga memutih.
"Kulo mboten sanggup lagi, Gus. Kulo mboten kersa hidup dalam ketakutan dan kecurigaan seumur hidup kulo. Maka malam niki... sebelum waktu tiga bulan itu habis, kulo mohon dengan sangat... lepaskan kulo. Ceraikan kulo, Gus Arsalan."
Deg.
Kata 'cerai' itu meluncur untuk kedua kalinya dari bibir Humaira. Kali ini, kata itu terdengar jauh lebih kokoh, mutlak, dan tanpa celah untuk negosiasi.
Jantung Arsalan seolah berhenti berdetak seketika. Seluruh pasokan udara di dalam ruangan itu terasa lenyap. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan histeris. Air matanya kian deras membanjiri wajahnya yang kuyu.
"Mboten, Humaira! Mboten! Kulo mohon jangan katakan itu!" tangis Arsalan pecah sepenuhnya. Ia bersujud di depan lutut Humaira, mencengkeram pinggiran kursi kayu dengan penuh keputusasaan yang teramat dalam. "Hukum saya, Humaira! Cambuk saya, jangan ajak saya berbicara selama berbulan-bulan, saya terima! Tapi kulo mohon jangan minta cerai... Saya mencintaimu, Humaira. Saya baru menyadari arti kehadiranmu di hidup saya!"
Humaira memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan dadanya terguncang hebat menahan isak tangis yang hendak meledak.
*Njenengan telat, Gus... Njenengan teramat telat,* batin Humaira menjerit pilu.
Hatinya menjerit kesakitan karena sesungguhnya, Humaira sangat, teramat mencintai suaminya. Cinta itu tumbuh di antara sujud-sujud panjangnya selama berbulan-bulan di Kediri, bertahan di tengah dinginnya sikap Arsalan. Namun, Humaira juga sadar, jika pernikahan yang diawali kebohongan dan dipenuhi luka ini terus dipertahankan, rasanya akan jauh lebih menyakitkan daripada sebuah perpisahan. Ia memilih patah hati demi menyelamatkan sisa-sisa harga diri dan kewarasannya sebagai seorang wanita.
Arsalan mendongakkan kepalanya yang basah oleh air mata. Ia menatap Humaira dengan tatapan mengemis yang teramat memilukan.
"Humaira... tolong tatap saya," pinta Arsalan dengan suara yang teramat serak, hampir menyerupai bisikan yang sekarat. "Tatap mata saya, Humaira. Katakan sekali lagi tuntutanmu itu tepat di depan wajah saya. Tatap suami bodohmu niki..."
Mendengar permintaan itu, Humaira membuka matanya. Ia mengumpulkan seluruh sisa keberanian dan kekuatan di dalam jiwanya. Ia menurunkan pandangannya, menatap lurus, tepat ke dalam sepasang netra elang Gus Arsalan yang kini redup dan hancur lebur.
Di dalam tatapan itu, mengalir seluruh memori tentang dinginnya malam pertama mereka, bentakan kejam di kamar, hingga momen manis saat mereka mengupas kentang bersama di dapur tiga minggu lalu. Semua rasa itu berbaur menjadi satu rasa sakit yang teramat masif.
Dengan suara yang bergetar namun terdengar teramat tegas dan mutlak, Humaira berbicara tepat di hadapan wajah suaminya.
"Gus Arsalan Al-Anwar... demi kebaikan kita berdua, demi menyembuhkan luka yang sampun terlanjur membusuk di dalam dada niki... kulo, Humaira binti Syamsuddin, meminta Njenengan untuk menjatuhkan talak kepada kulo malam niki juga. Lepaskan kulo, Gus."
Setiap suku kata yang keluar dari bibir Humaira laksana petir di siang bolong yang menyambar tepat di ulu hati Arsalan. Tatapan mata Humaira yang begitu dingin namun dipenuhi air mata itu mengunci mati seluruh argumen dan harapan di dalam diri sang putra mahkota. Arsalan tahu, saat seorang Ning yang paling penurut sudah menatapnya dengan tatapan seperti itu, maka tidak akan ada lagi jalan untuk kembali. Pintu hati Humaira telah dikunci rapat dari dalam, dan ia sendiri yang telah membuang kuncinya ke dalam jurang masa lalu.
Arsalan memejamkan matanya, bahunya merosot jatuh. Seluruh kekuatannya sirna. Rasa kalah, rasa berdosa, dan rasa hancur berkumpul menjadi satu kejutan rasa sakit yang membuat dadanya terasa sesak laksana dihantam batu besar.
"Astaghfirullahaladzim... Astaghfirullahaladzim..." bisik Arsalan berulang kali dengan suara yang tercekat oleh tangis.
Laki-laki itu membuka matanya perlahan, menatap wajah wanita yang teramat dicintainya namun harus ia lepaskan karena kebodohannya sendiri. Dengan berat hati, dengan seluruh jiwa yang terasa dicabut paksa dari raganya, Arsalan mengucapkan kalimat yang paling dibenci oleh Allah namun terpaksa ia keluarkan demi mengabulkan permintaan terakhir istrinya.
"Bismillahirrohmanirrohim..." Arsalan menjeda kalimatnya, air matanya luruh membasahi bibirnya yang bergetar hebat. "Humaira binti Syamsuddin... malam meniko, saya... saya menjatuhkan talak tiga kepadamu. Kamu... kamu resmi bukan lagi istri saya."
Wuss!
Angin malam Jombang mendadak berembus kencang lewat celah jendela, seolah ikut berduka menyaksikan runtuhnya sebuah Arsy karena kalimat talak yang baru saja terucap.
Humaira memejamkan mata, mengembuskan napas panjang yang terasa begitu hampa. Meskipun hatinya hancur berkeping-keping mendengarnya, ada sebersit rasa lega yang luar biasa merayap di dadanya. Ikatan yang menyiksanya selama berbulan-bulan itu kini telah putus sepenuhnya.
Arsalan menungkupkan wajahnya di atas kedua lututnya, menangis sejadi-jadinya di atas lantai. Suara tangis sang Gus terdengar begitu memilukan di dalam keheningan ndalem.
"Nyuwun pangapunten, Humaira... nyuwun pangapunten," isak Arsalan di sela-sela tangisnya. "Saya sudah menjadi suami yang bodoh... suami yang tidak becus menjaga titipan Allah. Saya telah menghancurkan hidupmu..."
Humaira menatap kepala suaminya yang kini telah resmi menjadi mantan suaminya dengan tatapan yang teramat teduh. Ia menghapus air mata di pipinya sendiri dengan ujung khimarnya.
"Sampun, Gus. Mboten usah disesali lagi. Sedoyo niki sampun dados garis takdir yang tertulis di Lauhul Mahfudz," ucap Humaira dengan kelembutan seorang Ning yang seutuhnya. "Maturnuwun atas segalanya, Gus. Semoga... semoga setelah kejadian niki, Gus Arsalan bisa menjadi pribadi dan imam yang jauh lebih baik lagi untuk wanita lain yang kelak ditakdirkan Allah untuk Njenengan."
Kalimat doa dari Humaira itu justru terasa kian menyayat hati Arsalan. Di saat ia telah menghancurkan hati wanita itu, Humaira masih sempat menyelipkan doa kebaikan untuk masa depannya.
Satu jam berlalu dalam kesunyian yang sarat akan duka. Sesuai dengan adab pesantren, meskipun status mereka telah terputus, keputusan besar niki harus disampaikan langsung di hadapan orang tua. Humaira melangkah keluar dari ruang tengah, memanggil Abah Kiai Syamsuddin dan Ummi Fatimah yang rupanya sejak tadi tidak bisa tidur dan duduk menunggu dengan cemas di ruang makan dalam.
Ketika kedua orang tua sepuh itu melangkah masuk ke ruang tamu utama, mereka mendapati Gus Arsalan yang masih bersila di lantai dengan wajah yang basah oleh air mata, sementara Humaira berdiri di sudut ruangan dengan kepala tertunduk takzim.
Arsalan menggeser tubuhnya, bersujud di hadapan kaki Kiai Syamsuddin dan Ummi Fatimah secara bergantian.
"Abah... Ummi..." suara Arsalan parau, nyaris habis karena terlalu banyak menangis. "Arsalan... Arsalan sowan ke mriki malam niki kagem mengantarkan kembali Humaira kepada Abah dan Ummi. Nyuwun pangapunten yang teramat sangat, Abah, Ummi... Arsalan mboten saget mengemban amanah besar niki. Malam meniko... Arsalan sampun menjatuhkan talak tiga kepada Humaira atas permintaannya sendiri."
Mendengar pengakuan dari menantunya, Ummi Fatimah seketika membekap mulutnya, air mata wanita tua itu langsung luruh membasahi pipinya yang berkerut. Beliau melirik ke arah Humaira yang mengangguk pelan dengan mata yang terpejam rapat, menegaskan bahwa itu adalah keputusan mutlaknya.
Kiai Syamsuddin terdiam seribu bahasa. Wajah sepuhnya tampak begitu sedih, tasbih kayu di tangannya berhenti berputar sejenak. Beliau mengembus napas panjang, menatap menantunya yang sedang bersujud di kakinya dengan tatapan penuh keikhlasan yang luar biasa mendalam.
"Astaghfirullahaladzim... Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap Kiai Syamsuddin dengan nada suara yang teramat tenang namun bergetar hebat. Beliau meraih bahu tegap Arsalan, menuntun mantan menantunya itu untuk kembali duduk tegak.
"Le, Arsalan..." tutur Kiai Syamsuddin, menatap lurus mata Arsalan yang memerah. "Abah sudah pernah mengingatkanmu di dalam mobil waktu itu, toh? Jika perahu itu lambungnya bocor, perbaiki. Tapi jika penumpangnya sendiri yang merasa jiwanya terancam dan meminta untuk diturunkan di dermaga terdekat... maka sebagai nakhoda yang bijaksana, kamu harus melepaskannya dengan cara yang baik."
Beliau mengusap kepala Arsalan dengan penuh kasih sayang, layaknya anak kandung sendiri. "Abah dan Ummi sampun menerima keputusan kalian dengan lapang dada. Mboten usah meminta maaf terus-menerus. Pernikahan ini adalah ujian dari Allah untuk menaikkan derajat keimananmu dan Humaira. Kamu menjemput Humaira dari sini dengan adab yang mulia, dan malam niki... kamu mengembalikannya kepada Abah juga dengan adab yang ksatria. Abah rida, Le. Abah rida..."
Tangis Arsalan kembali pecah mendengar kebesaran hati Kiai Syamsuddin yang mboten sedikit pun menyalahkannya atau memakinya. Laki-laki itu beralih menatap Humaira untuk yang terakhir kalinya malam itu.
"Humaira... saya pamit pulang ke Kediri," bisik Arsalan dengan sisa-sisa kekuatannya. "Jaga dirimu baik-baik di sini."
Humaira mengangguk tipis, menundukkan kepalanya tanpa berani menatap kepergian Arsalan lagi. "Enggeh, Gus. Hati-hati di jalan."
Gus Arsalan bangkit berdiri dengan langkah yang terhuyung-huyung. Ia menyandang tas ransel hitamnya, lalu melangkah keluar dari pintu *ndalem* Jombang tanpa menoleh lagi ke belakang. Hujan deras tiba-tiba kembali tumpah ruah dari langit Jombang, seolah ikut mengiringi langkah kaki sang putra mahkota Al-Anwar yang pulang membawa status baru sebagai seorang duda, meninggalkan belahan jiwanya yang telah ia patahkan sendiri di ujung penyesalan yang abadi.