DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyamaran jahanam
##BAB 17 - Penyamaran Jahanam
Rahmat melangkah keluar dari gerbang rumah gedongannya, lalu segera naik ke dalam kabin mobil mewahnya yang beraroma mahal. Ia menyalakan mesin, terdengar deru halus yang bertenaga, lalu perlahan memacu kendaraannya membelah jalanan subuh yang masih sepi menuju ke pasar. Sepanjang perjalanan, fokus Rahmat benar-benar terpecah; pikirannya sama sekali tidak tenang. Bayangan wajah pucat pasi Ratna serta cerita tentang mimpi buruk berlumur darah hitam semalam terus saja berputar-putar di kepalanya.
Rasa bersalah yang teramat sangat kembali mencuat, mencengkeram ulu hatinya dengan hawa dingin yang menyesakkan. Namun, keserakahan yang sudah terlanjur mengakar di jiwanya dengan cepat membuang jauh-jauh perasaan waras tersebut.
"Ah, itu cuma mimpi biasa. Ibu saja yang terlalu penakut. Yang penting sekarang hidup kami sudah serba ada, istriku dan aku juga tidak kenapa-kenapa," gumam Rahmat menghibur diri sendiri di dalam hati, mencoba menepis segala firasat buruk yang mulai dikirimkan oleh alam gaib.
Sesampainya di area pasar subuh, kedatangan Rahmat langsung mengundang perhatian. Mobil mewahnya yang mengkilap tampak sangat mencolok di antara riuhnya motor-motor bebek dan los-los pasar yang becek. Begitu Rahmat turun dari pintu kemudi, ia seketika menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sana.
Para pedagang, mulai dari penjual sayur, bumbu dapur, hingga penjual daging sapi di los basah, langsung kasak-kusuk menyambut kehadirannya. Kini, Rahmat diistimewakan layaknya seorang tamu kehormatan oleh para pedagang pasar. Mereka semua berebut melempar senyum manis dan menyapa ramah dengan nada yang dibuat-buat, semata-mata karena hanya Rahmat satu-satunya juragan besar yang selalu memborong dagangan mereka dalam jumlah yang sangat fantastis untuk menyuplai seluruh cabang kios baksonya.
Kekuasaan uang benar-benar telah mengubah segalanya. Kini, Rahmat tidak perlu lagi bersusah payah mengangkat-angkat barang belanjaan yang berat hingga memeras keringat seperti dulu. Ia hanya perlu berjalan santai sembari menunjuk-nunjuk barang apa saja yang ia perlukan, dan para kuli panggul pasar dengan sigap akan mengangkut serta menyusun semuanya dengan sangat rapi di dalam bagasi mobil mewahnya.
Namun, kepuasan ego Rahmat mendadak terusik saat ia memutari mobil dan hendak masuk ke pintu kemudi untuk pulang. Langkah kakinya mendadak terhenti ketika dirinya disamperin oleh seorang nenek tua berpakaian kumal yang berprofesi sebagai pengemis di sekitar pasar.
Melihat sosok ringkih itu, Rahmat yang sedang dalam suasana hati senang langsung merogoh kantong celananya. Ia menarik selembar uang pecahan besar lalu menyodorkannya, berniat pamer kedermawanan. Namun, di luar dugaan, nenek tua itu justru menolak pemberian uang tersebut. Ia sama sekali tidak menyentuh lembaran rupiah di tangan Rahmat, melainkan mendongak dan menatap lurus ke dalam manik mata Rahmat dengan tatapan yang teramat dalam dan penuh arti.
"Kamu harus berhati-hati... Semua kemewahan yang kamu dapatkan saat ini, perlahan-lahan akan membunuhmu sendiri," ujar nenek tua itu dengan suara parau yang bergetar mencekam.
Setelah melontarkan kalimat kutukan yang sarat akan peringatan gaib tersebut, si nenek langsung berbalik arah, melangkah pergi begitu saja meninggalkan Rahmat yang seketika membeku dan mematung di samping pintu mobilnya. Rahmat berdiri terdiam selama beberapa saat sembari mengernyitkan dahinya dalam-dalam, mencoba mencerna maksud si nenek. Namun, karena tidak mendapat jawaban pasti, Rahmat lekas masuk ke dalam mobil dan segera menginjak pedal gas dalam-dalam untuk pergi dari sana secepat mungkin menuju ke kios utamanya.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, suasana di dalam rumah gedongan yang megah terasa begitu sunyi dan dingin. Ratna yang tengah berbaring lemas di atas ranjang tiba-tiba mendengar suara pintu depan terbuka, disusul derap langkah kaki yang tergesa-gesa menuju ke arah kamarnya. Ketika pintu kamar terbuka, Ratna mendapati sosok yang sangat ia kenali; sosok yang berwajah dan bertubuh persis seperti suaminya, Rahmat.
"Mas... sudah pulang? Kok cepat sekali, apa Mas tidak jadi ke pasar?" tanya Ratna heran sembari berusaha mendudukkan tubuhnya yang masih terasa lunglai.
"Sudah, Mas baru saja pulang dari pasar. Karena Mas ingat kamu terus, jadi Mas buru-buru pulang," ujar makhluk yang menyerupai suaminya itu dengan nada suara yang terdengar sedikit datar dan asing.
Ratna terdiam sejenak. Ia mengernyitkan keningnya dalam-dalam saat merasakan ada sesuatu yang ganjil dari gelagat suaminya.
“Sejak kapan Mas Rahmat memanggil saya dengan sebutan 'Kamu'? Kan biasanya dia selalu panggil 'Ibu',” gumam Ratna dalam hati, merasa aneh dengan perubahan drastis tersebut. Namun, karena kondisi otaknya yang teramat lelah akibat kurang tidur, Ratna segera menepis pikiran buruknya itu. Ia mengira suaminya mungkin hanya sedang kelelahan atau salah ucap setelah pulang dari pasar subuh.
Tanpa babibu dan tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, makhluk yang menyerupai Rahmat itu melangkah maju mendekati ranjang. Ia langsung menyambar dan menggandeng erat pergelangan tangan Ratna, menariknya dengan paksa untuk bangkit dari tempat tidur.
"Mas... ini kan sudah siang. Mas mau ngapain kok tiba-tiba mengajak Ibu ke kamar mandi?" tanya Ratna dengan guratan panik yang mulai menghias wajah pucatnya.
"Sudah... tak perlu banyak tanya! Ayo kita lakukan itu sekarang juga!" sahut makhluk itu dengan nada suara yang teramat tegas, dingin, dan tidak menerima penolakan sedikit pun.
Mendengar bentakan kasar itu, nyali Ratna seketika menciut. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menolak ajakan suaminya tersebut. Ratna tahu betul bagaimana tabiat asli suaminya; jika ia berani menolak atau membantah, Rahmat pasti akan langsung naik pitam dan marah besar.
Dengan perasaan tertekan dan batin yang menangis, Ratna akhirnya terpaksa melayani kemauan makhluk jahanam tersebut saat itu juga, tanpa pernah menyadari bahwa raga yang tengah menyentuhnya dengan kasar bukanlah suaminya, melainkan iblis penguasa hutan fajar yang datang untuk menagih tumbal secara langsung di atas ranjang mewahnya.
Bersambung
jangan lupa like back ke ceritaku 😁