#ENEMYTOLOVERS
Xander Thompsom menderita mysophobia, ketakutan berlebih dan tidak masuk akal terhadap sesuatu yang tampak kotor, kontaminasi kuman, atau virus. Tapi, apa jadinya jika dia di jodohkan dengan seorang wanita bar-bar, dan jorok?
"Menjauh dariku, Kuman!" usir Xander seraya mengibaskan tangannya, lalu menyemprot sekelilingnya dengan cairan desinfektan yang selalu dia bawa di kantong jasnya.
"Cih!! Sok bersih! Makan nih upil!" balas Jeje sangat kesal seraya mengorek hidungnya dengan ujung jari telunjuk dan mengusapkan jarinya itu ke jas pria tersebut.
Bagaikan air dan minyak seperti itulah rumah tangga mereka, tidak pernah akur dan tidak pernah bisa menyatu.
Seperti apa keseruan mereka? Simak terus kelanjutannya!
FOLLOW IG @thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Daisy, kamu baru pulang, Sayang?" Airin menatap putrinya yang baru memasuki rumah dengan langkah tergesa.
Daisy terdiam, menatap ibunya sejenak, lalu melanjutkan langkahnya menuju tangga, tapi langkahnya kembali berhenti ketika ibunya menghadangnya.
"Kok kamu diam aja di tanya Mama? Kamu masih marah sama Mama?"
"Ma, bisa nggak nanti aja tanya-tanya nya! Aku mau istirahat, capek!" jawab Daisy dengan nada kesal.
"Memang kamu dari mana? Tadi malam kamu juga nggak ada di kamar hotel. Kamu tidur di mana Sayang?" Airin kembali bertanya tanpa mempedulikan kekesalan putrinya. Dia semalaman suntuk mencemaskan putrinya yang tiba-tiba menghilang saat acara pernikahan Xander dan Jeje berlangsung.
"Ih, Mama! Sudah aku bilang nanti aja tanya-tanya nya! Aku mau istirahat!" sentak Daisy lalu berjalan melewati ibunya menuju kamarnya yang terletak di lantai atas.
Airin menatap putrinya dengan pandangan nanar sambil mengelus dada. Airin selalu mencoba melebarkan kesabarannya untuk menghadapi segala sikap Daisy.
"Harus gimana lagi aku menghadapi sikap Daisy." Airin dilanda kebingungan menghadapi putrinya ini.
Daisy melangkah dengan cepat, lagi-lagi langkahnya terhenti saat berpa-pasan sama Jeje.
"Kak Daisy." Jeje menyapa dengan ramah.
Daisy memutar kedua matanya dengan malas, lalu menatap tidak suka pada Jeje. "Nambah lagi si sampah satu!"
"Maksud Kak Daisy apa? Kenapa ngatain aku sampah?" tanya Jeje masih dengan nada pelan, tapi percayalah Jeje saat ini sedang menahan rasa kesal yang teramat besar.
"Ya karena kamu juga berasal dari sampah sama kayak anak sialan itu! Paham! Kalian emang klop dan cocok, sama-sama sampah yang bisanya cuma menjadi benalu di dalam rumah ini!" jawab Daisy penuh kebencian. Kemudian segera berlalu dari sana menuju kamarnya.
Jeje menahan emosinya, dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat, menatap punggung Daisy sebelum menghilang di balik pintu kamar.
Brak!
Daisy menutup pintu kamar dengan keras, sampai suaranya menggema di setiap sudut lantai atas membuat siapa pun terkejut mendengarnya.
Daisy melemparkan tasnya ke atas tempat tidur. Dia mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengumpat sejadi-jadinya lantaran sangat tidak suka jika Xander dan Jeje masih berada di rumah ini. "Kenapa sih mereka berdua nggak minggat aja dari sini! Muak lihatnya!" geram Daisy sambil berjalan menuju meja rias, melepaskan anting, gelang dan perhiasan lain yang menempel di tubuhnya. Setelah menyimpan semua perhiasannya, dia mematut diri di depan cermin. Tiba-tiba dia teringat malam panas bersama Devan.
Daisy menggelengkan kepala berulang kali berharap ingatan tentang malam panas itu hilang dari kepalanya, lalu dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
*
*
Sementara itu, Jeje menuju dapur sambil terus mendumel. Ia akan membuatkan teh hangat untuk Xander. Kata Mama Airin, Xander mempunyai kebiasaan minum teh hangat ketika sedang berada di ruang kerja.
"Mau buat apa, Nona?" tanya seorang pelayan kepada Jeje.
"Mau buat teh untuk suamiku, Mbak," jawab Jeje ramah.
"Kalau tehnya untuk Tuan Xander maka membuatnya harus super steril."
"Nggak perlu, Mbak. Aku akan membuat tehnya dengan caraku sendiri. Maaf, Mbak sebelumnya," ucap Jeje kepada pelayan tersebut.
Pelayan hanya bisa mengangguk patuh tanpa berani berkomentar lagi walau di dalam hati sangat ketar-ketir, takut kalau Tuan Xander mengamuk karena teh yang dibuat Nona Jeje tidak steril.
*
"Kamu ribut sama Kak Daisy?" tanya Xander pada istrinya yang mengantarkan teh hangat ke ruang kerjanya.
"Nggak!" jawab Jeje.
"Terus tadi apa?" Xander seperti sedang mengintrogasi istrinya.
"Aku hanya menyapa, tapi respon Kak Daisy sangat berlebihan sampai membanting pintu segala," jawab Jeje dengan nada kesal.
"Kak Daisy nggak mungkin kayak gitu kalau kamu nggak cari gara-gara dulu! Aku harap kamu jaga sikap saat di rumah ini, dan jangan cari masalah dengannya! Paham!" tegas Xander, lalu menyuruh istrinya keluar dari ruangannya.
"Kamu kok jadi nyalahin aku sih! Padahal aku cuma sekedar 'say hai' sama dia, letak kesalahanku di mana!" Jeje tetap di tempat, tidak mau beranjak keluar dari ruangan tersebut. Bahkan dengan beraninya dia berkacak pinggang dihadapan Xander.
"Ini masih pagi, jangan ngajak ribut! Keluar sana!" usir Xander lagi tanpa mendengarkan ocehan istrinya.
Jeje menggeram kesal sambil mengepalkan tinju di depan dada. "Awas kamu!" Jeje menatap tajam suaminya.
"Hei, ini teh nya sudah streril kan?" tanya Xander ketika Jeje sudah di ambang pintu ruang kerjanya.
"Tehnya aku kasih sianida!" jawab Jeje asal.
mumpung lagi priode gak puasa. 🤭✌🙏