NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.

Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.

Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.

Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.

“Liam…”

“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”

“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”

“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”

Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Avarian Village

“Lepaskan aku! Aku tak bermaksud masuk ke sini!” teriak Davira, tubuhnya digeret paksa oleh dua pria berbadan kekar.

Mereka membawanya ke tengah lapangan perkemahan. Puluhan tenda berdiri melingkar, dan di bagian tengahnya, sebuah panggung kayu tinggi menjadi pusat perhatian seluruh suku.

Di atasnya berdiri seseorang dengan topeng serigala dan jubah bulu yang menjuntai hingga menutupi kakinya. Tangannya memegang tongkat kayu besar berukir simbol-simbol tua yang berkilau di bawah cahaya obor.

Davira menatap ke sekeliling, napasnya memburu. Orang-orang berkulit dingin dan bermata tajam menatapnya dengan kebencian, seperti mereka sudah tahu akhir dari kisahnya.

Sosok bertopeng mulai berbicara dengan suara lantang yang menggema di antara pepohonan, “Orang asing yang menodai batas suku Avarian… hukumannya sudah jelas.”

“Mati!”

“Penggal!”

Teriakan para anggota suku bergemuruh seperti gelombang yang memantul di dinding hutan.

“Tunggu dulu! Aku tidak ada niat datang ke sini!” teriak Davira, putus asa.

Namun tak ada yang peduli. Dua pria kekar menyeretnya ke atas batu persembahan di depan panggung. Di sebelahnya, berdiri seorang algojo bertopeng tengkorak hewan, mengangkat kapak besar yang mengilap di bawah sinar api.

Davira menjerit, berusaha meronta, tapi tangan dan kakinya sudah terikat erat. Nafasnya memburu. Ia bisa merasakan detak jantungnya berdentum di telinga.

Algojo itu mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.

Dan tepat saat bilah besi itu meluncur ke udara—

Toooootttt!

Suara terompet panjang khas suku Avarian menggema, mengguncang seluruh lapangan. Semua orang yang tadi berteriak tiba-tiba terdiam, lalu serentak menunduk dan berlutut.

Dari balik kabut dan kerumunan orang bertubuh besar dan kekar, muncul. Didepan mereka berjalanlah seorang wanita. Rambut pirang panjangnya dikepang dua sisi, jatuh di atas mantel bulu yang tampak hangat sekaligus megah. Di punggungnya menggantung kapak pertempuran, dan matanya menatap lurus ke arah Davira yang hampir di penggal.

Beberapa pria bertubuh kekar mengikutinya dibelakang, pundak mereka dipenuhi hasil buruan—rusa besar dan kulit beruang diseret di tanah, dan aroma darah segar segera memenuhi udara sekitarnya.

Saat wanita itu naik keatas panggung, semua orang disana spontan menunduk, termasuk sosok bertopeng yang berbicara diatas panggung tadi.

“Siapa dia?” tanya wanita berambut perak, tapi cukup untuk membuat dua penjaga yang menggenggam Davira gemetar.

“Dia seorang Orion, ada lambang kerajaan di pakaiannya, ia keluar dari tenda sang tabib."

Davira membeku.

"Siapa perempuan itu? Apa mungkin dia kepala suku Avarian? Seorang wanita?" batin Davira.

“Orang asing yang beraninya melangkah masuk di tanah kami,” ucap Hilda penuh wibawa.

Hilda melompat turun dari panggung, mendarat tepat di depan batu tempat Davira ditahan.

BUUUMM!!

Tanah di bawah kakinya retak halus, angin berhembus kencang seolah mengusir debu dan asap obor di sekitarnya. Beberapa orang Avarian sampai menunduk menahan terpaan angin yang tiba-tiba itu.

Davira menatap tak percaya—bagaimana mungkin seseorang bisa melompat sejauh dan setinggi itu, seperti burung elang yang turun dari langit.

Ia menatap Davira lama, lalu berbicara pelan namun tegas, “Lepaskan dia.”

Kerumunan langsung berbisik panik.

“Tapi, Pemimpin—” sang penjaga hendak protes, tapi Hilda mengangkat tangan. Seketika semua diam.

“Tidak ada darah yang tumpah tanpa perintahku,” ucapnya datar. Lalu, pandangannya kembali ke arah Davira. “Wanita ini… bukan orang biasa.”

Davira menghela nafas lega—ketiga kalinya ia berhasil lolos dari maut.

*****

“Agghhh!!”

Tubuhnya terhempas ke tanah keras, ia meringis menahan sakit, kedua tangannya masih terikat. Davira dibawa masuk ke dalam tenda besar milik kepala suku. Tenda itu jauh lebih luas dibanding tenda lainnya, dihiasi ukiran bulu-bulu putih dan simbol kuno suku Avarian di setiap sisi.

Di depan sana, duduklah Hilda di atas kursi kebesarannya—terbuat dari tulang dan kulit binatang besar, dengan hiasan tengkorak hewan. Api unggun kecil di dalam tenda menyalakan bayangan-bayangan panjang di dinding, membuat suasana semakin mencekam.

Beberapa ekor serigala berbaring di sisi Hilda, tapi setiap kali Davira bergerak sedikit saja, mata-mata mereka yang berwarna kuning keemasan langsung menatapnya tajam.

Glek!

Davira menelan ludah, tubuhnya gemetar hebat. “T-tolong... aku mau pulang ke orion.” ucapnya lirih, suaranya bergetar di antara rasa sakit dan ketakutan.

Hilda tak langsung menjawab. Ia duduk tenang, menyandarkan punggungnya di kursi, satu tangan menopang dagu, memperhatikan Davira seperti seorang hakim menilai terdakwa.

Setelah beberapa detik sunyi yang menegangkan, Hilda berkata pelan, “Kau sepertinya dari kalangan bangsawan, mana mungkin aku mau melepasmu begitu saja."

Mata Davira menyipit. “Kau berniat menjadikanku tawanan!”

Hilda tersenyum, lalu berkata, “Tawanan adalah istilah yang kasar. Aku lebih suka menyebutmu... sumber daya berharga.”

Davira menatapnya dengan rasa heran, keningnya sedikit berkerut seolah tengah mencoba memahami maksud di balik kata-kata Hilda.

“Kerajaan Nether terkenal memiliki persediaan perak dan logam langka yang hanya bisa mereka olah. Logam itu mampu menahan sihir dan tidak mudah hancur oleh api roh. Kau tahu berapa banyak senjata yang bisa kuhasilkan dari satu kargo logam seperti itu?”

Davira terdiam, jantungnya berdetak keras. “Jadi... kau ingin menukarku untuk senjatamu?”

Hilda berjalan mendekat perlahan, menunduk sejajar dengan wajah Davira yang masih terikat di tanah. “Perang sudah dimulai jauh sebelum kau tersesat di hutan ini,” katanya datar. “Aku hanya berencana memastikan suku Avarian tidak menjadi pihak yang hancur.”

Ia tersenyum licik—senyum yang lebih berbahaya daripada ancaman. “Jika Orion menginginkanmu hidup, mereka akan datang membawa logam perak, baja biru, atau apapun yang mereka simpan di gudang perang mereka. Dan aku... akan menempanya menjadi senjata untuk melindungi bangsaku.”

Davira menatapnya tak percaya. “Kau akan menukarku demi senjata?”

“Tidak,” jawab Hilda pelan. “Aku akan menukar nyawamu demi masa depan Avarian.”

Ia menepuk tangannya dua kali. Dua prajurit masuk, menunduk hormat.

“Bawa dia ke ruang tahanan di goa. Pastikan dia tetap hidup. Bila ada luka sekecil apa pun padanya, kalian akan jadi makanan serigalaku.”

Para prajurit menyeret Davira keluar tenda. Sementara itu, Hilda menatap bara api di depannya—sorot matanya memantulkan warna merah menyala.

Davira berusaha melepaskan diri dari pegangan para prajurit. “Aku bisa berjalan sendiri!” teriaknya penuh amarah dan gengsi.

“Cukup, biarkan aku yang mengawasi tawananmu, Hilda.”

Semua orang langsung menoleh. Sosok perempuan berambut hitam melangkah masuk dengan tenang.

Eira. Orang kepercayaan Hilda. Tangan kanan yang tak pernah gagal menjalankan perintah, dan satu-satunya yang diizinkan bicara tanpa menunduk di hadapan sang pemimpin.

Hilda menyilangkan tangan, menatap Eira dengan senyum puas. “Kau pintar sekali, Eira. Bisa-bisanya kau membawa dia masuk kemari tanpa perlawanan. Kau memang selalu bisa kuandalkan.”

Eira tidak menjawab. Matanya sekilas melirik ke arah Davira yang berdiri tak jauh darinya.

Davira menatap Eira tajam, napasnya memburu. “Jadi… ini? Maksudmu membawaku kesini, kau menipuku!”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
LAHHH 😭 Davira malah terinspirasi
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Elizabeth santai menyodorkan daging, sementara orang-orang di sekitarnya mundur perlahan karena takut jadi menu tambahan 😭🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Orang lain mungkin sudah pucat ketakutan, sementara dia malah bangga memperkenalkan hewan peliharaannya. 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
kuda berbulu 😅
Karo Karo
update nya jangan lama-lama kk thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: iya kak 🤗 ikuti teruss yah ☺️
total 1 replies
Karo Karo
oh jelas soalnya dalam buku bgtu banyak pelajaran yg bsa membungkam mulut orang yg hanya bsa pake otot tpi tdk pake otak 😂
Karo Karo
wah wah 😂 mantap
Karo Karo
mantap
Karo Karo
tok tok tok lah Thor 😁
Karo Karo
keren kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih ☺️🤗
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Fiona tralu meremehkan Davira. Nanti juga kena batunya sendiri 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keren banget, Davira, jangan remehkan mantan ratu. tunjukkan kalau mantan ratu punya aura wibawa 🤣👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Nah, saingan akhirnya muncul, pasti bakal makin panas🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
duh Davira lagi2 harus menghadapi perlakuan yg menyakitkan, Grand Duchess terlalu meremehkan Davira 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Visualnya benar² membantu membayangkan Davira, Elliot, dan suasana kerajaannya 🥰
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Kasihan Davira, tapi yahh dia memang harus menghadapi konsekuensi dari kehidupan sebelumnya 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keputusan terbaik! Tinggalkan Liam dan malangnya, mulai lah hidup baru bersama Elliot👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Semoga di kehidupan kedua ini Davira bisa menyelamatkan Elliot & keluarganya.
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Idette siap² tersaingi. Davira sekarang tak klah mempesona
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Davira terlalu sabar di kehidupan pertamanya. Aku ikut sesak bacanya 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!