Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Menyingkir dari ku, apa yang sedang kau lakukan? Jangan mendadak hilang akal setelah kita bertemu kembali ya! Menjauhlah!" Ucap Akila hendak menjauhkan tangan William dari perutnya tapi William malah semakin mengeratkan pelukan itu.
"William!" Ucap Akila tak terima.
Senyum terukir di bibir William, entah kenapa suara Akila jadi indah saat menyebut namanya.
"Apa yang salah? Aku hanya ingin memelukmu, lagi pula kita juga akan menikah hari ini. Aku ingin kau..."
"Tidak! Aku sudah katakan tidak artinya ya tidak! Aku tak akan menikah dengan pria sepertimu." Ucap Akila.
Tubuh Akila disentak oleh William hingga berputar menghadap ke arah William.
Tatapan mereka bertemu.
"Pria seperti apa yang kau cari?" Tanya William.
"Siapapun, tapi bukan kau!" Jawab Akila dengan yakin.
Rahang William mengeras. Padahal masih pagi tapi Akila mampu menguji kesabaran William.
"Aku tak peduli Akila. Aku sudah membawamu ke kota X dan saat ini juga aku ingin kau menjadi istriku. Kau akan selamanya ada disisiku bahkan sampai kau mati sekalipun, anggap saja kau menggantikan Mommy ku yang sudah tiada." Ucap William membuat Akila sejenak diam.
Benar, ini adalah kota X. Mendadak Akila mengingat tentang Feby.
Jika Akila bisa membebaskan Feby maka Akila pasti akan lebih merasa lega.
Ya, itu benar-benar akan membuat Akila bisa berhenti mencemaskan soal sahabatnya itu.
Diamnya Akila membuat William geram.
"Jangan membuatku kesal Akila, jika aku sedang bicara maka..."
"Aku mau pergi." Ucap Akila.
William mendadak bingung.
"Kau bicara apa?" Tanya William.
"Aku ada urusan di kota ini, aku mau pergi. Aku..."
"Bagus. Kita akan pergi bersama, sekarang kau mandi, aku akan menunggumu." Ucap William.
Setelah berucap, tampak William pergi meninggalkan Akila.
Akila tak berpikir banyak hal karena saat ini yang paling penting bagi Akila adalah membebaskan Feby.
---
Dua jam berlalu...
Akila menghentikan langkahnya saat William menyeretnya ke sebuah tempat dimana pasangan mendaftarkan pernikahan mereka.
"Kau gila ya?! Apa kau tak mengerti pada sebuah penolakan? Aku tidak mau! Jika ingin menikah maka nikahi saja perempuan yang menginginkanmu. Yang jelas, perempuan itu bukan aku! Aku tidak sudi." Ucap Akila membuat William menoleh menatap wajah Akila dengan tatapan yang dingin.
"Tidak sudi?" Tanya William.
"Ya." Balas Akila.
Tangan Akila yang ada digenggam William seperti akan dihancurkan oleh William.
"Sakit, sakit sialan!" Umpat Akila membuat senyum William terukir dengan kecut.
Ini sungguhan hanya Akila saja yang berani mengatakan William sialan.
Akila mulai berontak membuat William semakin menggenggam tangan Akila dengan kuat. Tangan lain Akila terangkat, ia mau menampar wajah William tapi lebih dulu William tahan.
"Sudah aku katakan padamu bahwa aku tak menerima penolakan darimu. Hari ini juga kita daftarkan pernikahan kita." Ucap William.
"Aku tidak mau!" Tolak Akila lagi.
William hendak menyeret Akila masuk tapi Akila berucap.
"Kau pikir kau bisa membuat kita menikah dengan cara paksaan seperti ini?" Tanya Akila.
"Apa kau berpikir aku tak bisa melakukan hal itu? Mudah bagiku Akila, apapun yang aku mau pasti akan aku dapatkan." Ucap William.
Akila terus berpikir agar ia tak menikah dengan William sampai akhirnya Akila punya ide.
"Baik. Aku akan menikah denganmu, tapi aku perlu pergi ke suatu tempat." Ucap Akila.
William tersenyum miring mendengar ucapan Akila.
"Kalau begitu, kita menikah saja lebih dulu. Daftarkan nama kita berdua dan aku akan memperbolehkan kau pergi bahkan tanpa aku." Ucap William membuat Akila terkejut.
Bagus kalau ia dibebaskan tapi kenapa harus menikah lebih dulu? Sial memang William.
Bolehkah bercerai usai mendaftar pernikahan? Ah Akila sungguh frustasi.
"Kau tak akan menarik kata-katamu?" Tanya Akila.
"Tidak, selama kau menurut. Jika kau berani kabur dari kota ini, kakimu yang akan aku lepaskan." Ancam William.
Gila memang William.
Untuk saat ini Akila berusaha berpikir jernih. Walau ia tahu William memang iblis yang menakutkan.
'Ya Tuhan aku harap, aku tidak bodoh.' ucap Akila membatin.
William tidak mencengkram tangan Akila lagi.
"Berjalan sukarela, atau aku seret?" Tanya William.
Akila tak menjawab, ia berjalan lebih dulu dari William walau kakinya terseok karena masih sakit akibat luka beling.
---
Setelah menandatangani berkas, Akila baru sadar bahwa mungkin keputusan yang ia ambil saat ini adalah hal paling salah. Menikah dengan William, pria yang memberikan benih di masa lalu dalam perut Akila dan terlebih benih itu kini tumbuh menjadi dua makhluk cantik dan tampan.
Oh Tuhan, bagaimana ini? Akila merasa benar-benar bodoh dan konyol di waktu yang bersamaan.
Bukankah Akila sudah salah jalan menikah dengan pria yang tak lain adalah Ayah biologis si kembar?
Bolehkah Akila hancurkan saja namanya dan William yang terukir indah di dalam berkas itu?
Ah gila! Pikiran di dalam otak Akila makin kacau.
"Pilihan yang bagus, Akila." Gumam William seakan menang.
Tangan Akila digenggam oleh William lalu ia bawa keluar dari gedung itu.
"Sekalipun aku bebaskan, bukan berarti kau bebas. Pahamkan?" Tanya William.
"Licik." Balas Akila.
Tangan William terulur ke arah puncak kepala Akila, ia mengusapnya dengan sangat lembut.
"Lari yang jauh Akila, karena pada akhirnya pulangnya akan tetap bersamaku. Aku sekarang adalah suamimu." Ucap William.
William menarik paksa dagu Akila hanya untuk memberikan kecupan singkat di bibir Akila.
Dengan cepat Akila hapus jejak kecupan itu.
"Jangan pernah mengecup bibirku atau bahkan puncak kepalaku!" Peringat Akila.
"Apapun yang aku lakukan, itu terserah padaku. Aku melakukan apapun yang aku suka, aku tak berhak menerima penolakan darimu." Ucap William.
William suka dengan raut wajah Akila yang semakin emosi itu.
"Aku pergi, kita akan tetap kembali karena ponsel milikmu akan terlacak olehku." Ucap William.
---
Siang itu.
Akila menghentikan langkahnya di sebuah ruang rawat milik Feby, belum juga ia masuk tiba-tiba sebuah tangan menariknya dengan cepat.
Tubuh Akila membentur dinding bahkan mulutnya dibekap.
"Diamlah Akila." Ucapnya.
Akila menatap sosok itu, dia Feby. Sudah lama Akila tak bertemu dengan Feby, detik itu juga ia memeluk Feby dengan erat.
"Feby." Gumam Akila.
Air mata Akila jatuh.
"Kita tak bisa bicara disini, kita harus cepat pergi. Ayo." Ajak Feby melepaskan pelukan itu lalu menarik Akila pergi sejauh mungkin dari rumah sakit itu.
Keduanya berakhir di sebuah taman kota.
"Feby, apa yang terjadi? Kenapa kau membawaku lari?" Tanya Akila bingung.
Feby menoleh menatap Akila, tak bohong kalau Feby juga merindukan Akila.
"Melihatmu muncul, aku cemas luar biasa. Harusnya kau menghilang lebih lama, kalau bisa jangan kembali ke kota X lagi." Ucap Feby membuat Akila bingung.
"Bukan aku yang mengharapkan kau tak kembali, tapi kau akan baik-baik saja jika kau menetap di tempat lain. Asalkan tidak dekat keluarga Mason." Lanjut Feby.
Akila semakin bingung.
"Ada apa Feby? Aku datang karena aku mau membawamu bersamaku. Aku..."
"Kiara kembali sakit, dia dirawat dan butuh darah darimu. Kau tahu sendiri bahwa darah yang dimiliki oleh Kiara itu berbeda dari darah biasa dan kau punya golongan darah yang sama dengan Kiara bahkan cocok. Kau tahu apa artinya kan? Aku benci setiap kali kau rela memberikan darahmu untuk perempuan itu. Sakit Kiara bukan tanggung jawabmu Akila." Ucap Feby.
Air mata Feby luruh begitu saja.
"Kau manusia dan kau punya perasaan, kau pikir mereka berhak memperlakukanmu seperti kelinci mereka selama ini? Sudah lebih baik kau pergi Akila. Aku mohon pergilah lebih jauh lagi, jangan kembali ke kota X." Ucap Feby memohon membuat Akila segera menggenggam tangan Feby.
"Pergilah ke kota Y Feby. Aku berjanji akan menyusulmu, aku mau kau pergi lebih dulu. Aku," Akila menjeda ucapannya, ia ragu tapi harus tetap mengucapkan segalanya.
"Apa yang ingin kau katakan Akila?" Tanya Feby.
Akila masih menggenggam tangan Feby.
"Tolonglah pergi ke kota Y, disana akan ada seseorang yang bernama Sari. Dia akan mengatakan segalanya padamu, dia akan menceritakan semuanya." Ucap Akila.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Feby.
Ini bukan tentang keluarga Mason, yang paling Akila cemaskan yaitu tentang William.
Akila tak mau kalau William mengetahui tentang Anak kembar milik mereka.
"Akila." Ucap Feby.
"Hm, ada yang perlu aku urus. Aku berjanji tak akan lama. Kau bisa pergi ke tempat ini Feby." Ucap Akila meraih ponsel yang ada di tangan Feby.
Akila juga mentransfer uang pada Feby.
"Akila, aku benar-benar merasa cemas padamu. Bukankah lebih baik kalau kita sama-sama pergi..."
"Tidak Feby, aku akan menjaga diriku disini. Aku berjanji bahwa ini tak akan lama, aku akan membereskan segalanya. Percayalah denganku. Ayo aku antar kau ke Bandara." Ucap Akila.
Feby tak bisa berbuat apapun lagi selain menurut.
---
Bandara.
Akila merasa lega saat Feby sudah sampai, ia tersenyum tenang. Akila berharap Sari mengerti dan membaca pesan yang sudah ia kirimkan barusan melalui ponsel Feby.
Akila juga sempat mengirim pesan suara untuk dua Anaknya melalui ponsel Feby.
Ini hal melegakan walaupun Akila belum bisa bertemu dengan Anak-anaknya.
Senyum cantik Akila luntur saat menatap William bersama banyak pria berbaju hitam datang ke arahnya.
"Luar biasa, apa kau berniat lari dariku sampai pergi sejauh ini? Kau lupa ya bahwa ponselmu sudah aku pasang GPS? Akila, aku sibuk tapi kau membuatku semakin geram!" Ucap William marah tak jelas.
Akila mau mundur tapi tangannya sudah dicekal oleh William.
"Urusanku sudah kacau, jadi jangan buat aku menghukum mu." Ucap William menarik tangan Akila.
Akila meringis, tarikan itu sakit.
"Sakit William! Aku tidak kabur, aku hanya..."
"Hanya berniat? Begitu?" Tanya William.
Akila menatap berani tatapan William.
"Lepaskan dulu, ini sakit! Pada dasarnya aku tak berniat kabur. Kakiku juga sakit. Kau bodoh ya?! Kalau memang aku kabur, lebih baik aku buang ponselku agar kau tak bisa melacak keberadaan ku." Ucap Akila.
William menghela nafasnya.
Ucapan Akila memang benar, artinya Akila tak berniat kabur darinya.
Tampak William melepaskan cekalan itu, tapi anehnya pria itu malah menggendong Akila.
"Reno ayo kita ke kantor lagi, aku masih penasaran siapa yang mengusik Perusahaanku." Ucap William tak peduli pada ucapan Akila.
Reno mengangguk patuh.
Sedangkan William tak berniat lagi beradu mulut dengan Akila karena saat ini ia lebih emosi pada kasus di perusahaan miliknya. Selain data perusahaan bocor, tampaknya keuangan perusahaan juga sedang dibobol oleh pihak lain.
"Sial!" Umpat William.
Akila memilih diam dalam gendongan William. Berjalan memang melelahkan, lebih baik ia digendong seperti ini apalagi kakinya masih sakit.
---
Hingga hari sore Akila masih ada di Perusahaan besar milik William.
Bangunannya mewah sekali, itu Perusahaan yang bergerak dalam penjualan Berlian.
"Masih belum kau dapatkan?" Tanya William bertanya pada kepala IT kepercayaan Perusahaannya selama ini.
Pria itu mengangguk takut.
"Haruskah aku membunuhmu? Apa kau tak berguna lagi bagiku?" Tanya William.
Akila saja tak habis pikir melihat kejahatan William.
William meraih sebuah pistol dalam lacinya membuat Akila bangkit berdiri lalu menahan tangan William.
"Apa kau masih jadi pembunuh?" Tanya Akila.
Mata William menyelami mata indah milik Akila yang kini menatapnya.
"Jangan ikut campur! Aku bisa lebih gila dari sekedar membunuh! Menjauh dan kembali duduk di posisimu." Ucap William.
"Kalau kau membunuh orang, kita bercerai saja." Ucap Akila.
William jadi tertawa mendengar ucapan Akila, ia menepis tubuh Akila membuat Akila hampir jatuh untungnya William pula yang menangkap tubuh itu.
"Aku sedang emosi Akila, Perusahaanku rugi besar bahkan penjualan Berlian ku jatuh dan data Perusahaanku... sial! Untuk apa aku mengatakannya padamu." Ucap William meletakkan kembali pistol ke laci.
Tubuh Akila ia bawa ke sofa.
"Diam disini." Ucap William.
William mencoba menghela nafasnya, tak lama setelahnya kepala IT itu berucap.
"Tuan, saya menemukan transferan ke beberapa rekening yang terlihat." Ucap pria itu.
"Sebutkan saja. Atas nama siapa?" Tanya William dengan mata yang terpejam, ia masih di dekat Akila.
"Eh? Sistemnya eror lagi... tapi," pria itu menjeda ucapannya membuat mata William terbuka lagi.
"Katakanlah! Jangan membuat aku kesal." Ucap William.
Pria itu berucap dengan ragu.
"Ini masuk ke rekening atas nama Nyonya Akila Georgina." Ucap Pria itu.
Akila tersentak kaget, matanya saja sampai membulat.
Sejak kapan Akila berbuat hal jahat, dan lagi kenapa ia mendapatkan transferan uang? Konyol sekali.
Akila segera mengambil ponselnya, ia menemukan notifikasi transfer uang.
William mengerutkan dahinya.
"Apa? Kau berpikir apa tentangku? Kapan aku peduli apalagi mengerti hal begini? Bukan aku. Aku tak tahu apapun." Ucap Akila.
William mengambil ponsel yang ada di tangan Akila.
"Cepat lacak siapa pemilik akun yang mentransfer uang pada Akila." Ucap William memberikan ponsel Akila pada IT miliknya.
Akila bingung.
'Bagaimana bisa uang itu masuk ke rekeningku? Masalah macam apa ini? Aku benar-benar akan gila berurusan dengan William, ini melelahkan sekali.' keluh Akila.
Daripada pusing memikirkan hal seperti ini, akan lebih baik bagi Akila tidur saja sambil memeluk Anak-anaknya.
Akila jadi merindukan tawa dua Anak kembarnya.
---
Di sisi lain - Apartemen Akila
Dua Anak kembar itu memang benar-benar sedang tertawa hebat.
Mereka sedang asyik bermain di kamar mereka, lebih tepatnya memainkan ponsel sambil menyadap CCTV ruang kerja William.
"Ah Mommy ku, dia selalu cantik." Puji Athena mengagumi wajah Akila yang kini duduk diam di sofa.
Athena tidak lagi menangis karena Atheos telah menunjukkan CCTV bahwa Akila baik-baik saja.
"Atheos, aku mau bertemu Mommy." Ucap Athena tak berhenti menatap layar ponselnya.
Atheos tersenyum kecil.
"Ini masih seru, permainannya belum berakhir. Selama Mommy baik-baik saja maka kita pun harus jadi Anak baik yang menunggu Mommy kembali pulang." Ucap Atheos.
Athena mengangguk setuju.
"Atheos benar, jangan menangis lagi. Kau bisa menahan rindu sambil melihat Mommy dari ponsel." Ucap Atheos.
Athena mengukir senyum melihat Akila lagi, walau akan lebih baik jika bertemu langsung daripada hanya melihat melalui ponsel.
---
Bersambung...
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .