Yovandra regar gumilang bad boy STM teknik yang belajar hidup mandiri dengan bekerja part time di 3 tempat, tersandung tanggung jawab baru menikahi seorang gadis karena kecerobohan-nya.
Yona salsabila gadis yang mengharuskan Yovandra menikahinya karena keadaan darurat.
Siapakah yang membuat Yovandra harus menikahi gadis itu?
Rahasia apa yang tersembunyi di balik pemaksaan itu?
Apakah Yovandra akan lulus sekolah dengan sukses.
Bagaimana Yovandra bisa menjalani rumah tangga barunya dengan wanita yang baru di kenal tapi sudah menjadi istrinya, bersama dengan dirinya yang masih seorang pelajar sekolah.
Penuh ketegangan dan intrik, ikuti misteri yang ada di cerita ini!.
Tidak sepenuhnya isi ceritanya percintaan romantis.
Yona salsabila "Tampang tenang begitu apa pernah dia sange" isi pikiran Yona setelah menikah dengan Yovandra.
kisah perjuangan untuk lulus sekolah dengan sukses dan juga perjalanan hidup yang berusaha mandiri, pernikahan yang Rumit dan penuh perjua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seira agatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.Sepenuhnya milikmu
Selamat membaca. Semoga hari kalian selalu bahagia, Amiin.
🌟🌟🌟🌟🌟
"Yona. Beberapa hari yang lalu kak Alreno mukanya bonyok semua, diantar pulang sama kak Hyuga, kamu tahu kenapa?" tanya Renata kepada Yona.
"Hmm, gak tahu aku kalau itu, aku belum ketemu kak Alreno lagi sejak ia ... " jawab Yona terhenti melihat Hyuga datang lagi
Renata yang menyadari itu langsung sigap bertanya, "Ehh.. kak Hyuga, mau beli apa?" tanya Renata ramah sekali, sambil tersenyum menatap Hyuga. Renata ini juga berhijab kadang-kadang, tapi masih sesuka hati.
"Pagi Renata. mau beli ikan bakar lima porsi, di bungkus ya." jawab Hyuga sambil tersenyum.
"Ok, di tunggu ya kak, ada acara apa kok beli banyak kak?''
Yona langsung pergi menyiapkan pesanan Hyuga, tak memerdulikan Hyuga dan Renata yang berbincang-bincang. menyiapkan pesanan Hyuga di dapur bersama karyawan lainya.
"Dimakan sendiri. Keluargaku, kan memang banyak Renata.'' jawab Hyuga sambil mencuri pandangan dimana Yona berada.
"Bagaimana kabar kak Hyuga, udah lama gak kesini, tidak seperti dulu setiap hari kesini?''
"Beberapa waktu lalu aku kesini kok Ren... "
"Gamon ya... kak Hyuga ini?"
"......" tak ada jawaban dari Hyuga, mengingat Pak ustadz sudah menceramahinya selama dua bulan lebih.
"Ini pesananmu sudah jadi kak Hyuga." panggil karyawan lainnya.
Hyuga mencari keberadaan Yona, tapi tak menemukannya. dan akhirnya kembali pulang dengan diam.
Renata masih memperhatikan Hyuga sampai di pergi.
"Andai kamu tahu kak Hyuga... " suara hati Renata sambil berbalik berjalan kembali kerumahnya.
"Oi, Yona. apa yang terjadi antara kamu dan kak Hyuga, kamu adalah wanita yang sangat dicintainya, dari sekian banyak wanita yang memujanya, hanya kamu yang menolaknya. Hyuga adalah laki-laki idaman di kampung ini, dari keluarga terpandang, tampan, baik, keponakan Pak ustadz. kaya raya lagi orang tuanya, sampe detik ini aku masih heran kenapa kamu menolaknya, padahal dia setulus itu padamu." celoteh teman kerja Yona yang sudah berumah tangga. karena lagi sepi pembeli mereka jadi bisa ngobrol.
"Aku mana pantas bersanding dengan kak Hyuga yang terpandang itu mbak. dari awal, keluarganya memang tak setuju kak Hyuga menaruh hati padaku. Aku tak sepadan denganya." jawab Yona.
"Yah begitulah kalau keluarga kaya, terpandang, harus mendapatkan menantu yang seimbang, di kampung kita kan umumnya begitu, apa di tempat lain juga sama seperti di kampung kita ya, Yona?" tanya karyawan 2, menyela.
"Semoga saja tidak sama." jawab Yona.
"Tapi Hyuga ini sudah sarjana lho, tapi masih pengangguran."
"Pengangguran saja hidupnya tercukupi, mau apa saja bisa, buat apa kerja."
"Enak ya jadi anak orang kaya, apa-apa tinggal minta, gak perlu repot-repot bekerja memenuhi kebutuhan sendiri." celoteh para karyawan disaat sepi pengunjung. kebetulan membahas Hyuga jadi keterusan.
"Kita semua do'akan. Kelak kamu mendapatkan laki-laki yang baik dan pekerja keras. Yang mapan, dan juga tanggung jawab." ucap para karyawan serentak.
"Aamiin. Terima kasih doanya ya mbk, aku ketoilet dulu ya mbak." pamit Yona pergi meninggalkan mereka.
"Mau kemana kamu Yona?"
*****
Hari ini Yovandra memintaku libur kerja, dan ini pertama kalinya setelah tiga bulan aku hidup bersamanya, dan juga hari liburku yang pertama.
Tadi pagi Yovandra tidur lagi setelah sholat subuh, seperti biasanya disetiap hari Minggu. Aku udah beresin rumah, nyuci baju, mandi, karena sekarang lapar jadi aku pergi beli sarapan.
Ketika aku udah dirumah, berjalan membawa sarapan yang aku bawa dari dapur menuju meja depan TV, tiba-tiba...
"Mau di bawa kemana makanan sebanyak itu?" tanya Yovandra yang melihat Yona membawa satu piring makanan beserta lauk dan segelas es jeruk.
"Ya di makanlah, masak di buang." jawab Yona ketus.
"Sebanyak itu? emang lagi ada kuli ya di rumah kita?"
"Eh, kok kuli. Bukan kuli yang makan, tapi Aku, Yovan."
"Hah! sebanyak itu? Apa muat di perutmu yang kecil itu?!" tanya Yovan penasaran. Sambil menatap ke arah perut Yona.
Yona yang melihat Yovandra menatap ke arah perutnya, ikut menunduk melihat perutnya, "Kenapa dia menatap perutku? apanya yang salah. Setiap hari, kan memang segini makanku." suara hati Yona.
Yovandra menatap Yona tenang dan santai. Dia heran, kenapa tubuh sekecil itu di kasih makan satu piring penuh, ada rasa penasaran di otaknya, terlihat jelas di raut wajah Yovandra kalau dia penasaran.
"Muat kok, biasanya aku memang makan segini di warung Bu Dhe, kalau kamu penasaran tungguin Aku makan saja, sambil nonton televisi. Gimana?" jawab Yona.
"Mm, ok."
Hari ini adalah hari Minggu jadi mereka berdua punya waktu bersama sebelum datangnya waktu kerja.
Kini Yona sudah duduk di kursi di ikuti oleh Yovandra. Yona tiba-tiba merasa canggung. Yona merasa malu jika dirinya makan terus di tatap oleh Yovandra yang penasaran apakah makanan sebanyak itu beneran habis di perut kecilnya.
Bagi Yovandra satu piring makanan itu cukup banyak. Tapi bagi Yona itu biasa. perasaan canggung membuat Yona terdiam, tak kunjung makan.
Yovandra sudah duduk di depan Yona. Melihat Yona terdiam tak kunjung makan, Yovandra pun bertanya, "Nggak jadi makan. Kenapa?"
"Aku malu, kalau makan di lihatin Kamu. Biasanya, kan Kamu di kamar, Aku merasa gak bebas aja makanya."
"Ah begitu rupanya. Ok. Aku ambil ponselku bentar ya, Aku tungguin kamu makan sambil main game, gimana boleh tidak?" tanya Yovandra lembut
Setiap ucapan Yovandra selalu mampu menenangkan hati dan pikiran Yona. Rasanya nyaman dengerin Yovandra bicara begitu, "Mau lihat Aku makan aja pake ijin segala nih Anak." suara hati Yona.
"Hei, malah bengong, boleh tidak?" tanya Yovandra lagi sambil melambaikan tangannya di depan muka Yona.
"Ah, iya boleh. tapi janji gak lihatin Aku makan ya Kamu. Awas!"
Yovandra menganggukkan kepalanya nurut, lalu berdiri berjalan pergi ke kamar.
"Duh. Gusti, manis banget sih, imutnya, kok jadi gemes ya lihat dia yang penasaran terus nurut gitu. Otak nakalku jadi treveling, kan." isi pikiran Yona.
Yona menepuk-nepuk pipinya, berusaha menyadarkan pikirannya kembali.
Kini Yovandra sudah kembali duduk di depan Yona, langsung memainkan game di ponselnya. tak melirik Yona sedikit pun.
Begitu melihat Yovandra duduk dan mulai main game, Yona langsung menjalankan aksinya, makan satu piring penuh beserta minum satu gelas es jeruk.
sepuluh menit pun berlalu, Yona sudah selesai makan, dan minum es jeruk. lalu memberi tahu Yovandra jika dirinya sudah selesai.
"Aku udah selesai makan nih."
"Eh, apa ... cepat sekali?" jawab Yovandra sambil menoleh menatap Yona. Tak lupa menaruh benda pipih miliknya di atas meja.
"Habiskaan... " jawab Yona.
"Wah. Kau hebat ya ternyata."
"Jangan bikin Aku malu dong."
"Hei yona. Makan sebanyak itu, kenapa tubuhmu masih saja kecil?"
"Pertanyaan macam apa itu!"
Hari ini adalah pertama kalinya Yovandra memintaku libur kerja, sudah tiga bulan aku tidak libur kerja, sejak awal hidup bersama dengannya. Aku tak tahu kenapa Yovandra tiba-tiba menyuruhku libur kerja aku juga tak berani bertanya.
"Kamu gak sarapan Yovan?" tanyaku.
"Udah tadi makan roti sama minum susu. yang kamu makan tadi itu apa?" jawab Yovandra di akhiri dengan tanya.
"Itu namanya lontong pecel, Yovan."
"Ohh ... aku tidak pernah makan itu."
Yovandra ini suka minum susu, susu full cream yang tidak ada rasanya itu. Banyak sekali stok susu itu di kulkas, sekali beli langsung sekardus. Kalau aku lebih suka susu rasa coklat, Yovandra juga membelikan sekardus untukku.
Karena penasaran aku memberanikan diri bertanya, "Kenapa hari ini kamu meminta aku libur Yovan?"
"Selama ini kamu tidak pernah libur, kan."
"Iya juga sih ya ... "
"Kenapa coba kamu gak pernah libur. Apa Bu Fatimah tak memberimu libur?"
"Tidak-tidak ... "
"Teruuus, kenapa?"
"Karena kamu tak memintaku libur."
"Kalau kamu ingin libur, ya libur saja, aku kan sudah memberimu kebebasan sebelumnya, ngapain nunggu aku yang minta?" jawab Yovandra sambil memandangi Yona dengan lembut.
"Aku gak mau sendirian di rumah, kamu kan juga sibuk, kecuali kamu yang minta seperti sekarang ini.''
"Hmm, begitu ya, ok." jawab Yovandra sambil memudarkan pandangannya berpindah kelayar ponselnya.
"Jawab dulu pertanyaanku, kenapa kamu memintaku libur hari ini?"
Yovandra mematikan ponselnya dan beralih menatap Yona dengan tenang beberapa menit kemudian baru menjawab, "Hari Senin besok aku ujian awal semester, selama dua minggu aku berniat tidak pulang kerumah ini, aku akan tidur di rumah kak Adriano, sebab lebih dekat dengan sekolahku, aku butuh banyak waktu belajar untuk mempersiapkan ujian. Hari ini aku ingin bersama denganmu lebih lama, dan meminta ijin darimu. Apa kamu mengijinkannya Yona?"
Astaghfirullah... imut sekali Yovandra ini ya Allah. Ketika menatapku tadi saja aku sudah hampir meleleh karena kepanasan, ditambah dengan sikapnya ini, beneran meleleh deh rasanya, sebagai seorang istri yang baik aku harus mendukungnya.
"Hm... mm ... Aku ijinkan. Tenang saja, kau tak perlu khawatir, aku bisa jaga diri dengan baik disini." jawab Yona seolah meyakinkan Yovandra.
Padahal Yona barusan bilang tak mau sendirian di rumah. dan Yovandra mendengarnya dengan jelas.
"Apa kau yakin tak apa-apa?" Yovan memperjelas lagi.
"Iya, tenang saja." jawab Yona dengan senyum semangat berusaha meyakinkan Yovandra.
"Baiklah, hari ini aku sepenuhnya milikmu, aku temani kamu sampai besok pagi."
Jeduaarr.....
"Apa tadi dia bilang, Dia sepenuhnya milikku katanya, boleh pegang sedikit gak sih, padahal udah halal tapi belum pernah pegang sedikit saja. Takut kelewat batas akunya, eh ... gak ada batas, kan harusnya antara suami istri. kalau Dianya sih gak tahu ke akunya gimana." "Astaghfirullah yona, ayo beranikan dirimu untuk menyentuhnya walau hanya sedikit, mumpung hari ini di temani sampe pagi katanya. Dia sadar dengan ucapannya gak sih, 'Hari ini aku sepenuhnya milikmu, ku temani kamu sampe pagi' ahh ... meleyot rasanya, padahal yang bicara gak sadar sama ucapnya."
Yovandra yang melihat ekspresi wajah Yona berubah-ubah tersirat senyuman di bibirnya, "Sepertinya otak kecilnya berulah lagi. Dasar." suara hati Yovandra.
Yovandra masih asik memandang Yona yang sibuk dengan pikirannya sendiri, lama-lama jadi menggelikan menurut Yovandra, lalu Yovandra menyentil kening Yona.
Cetaak!!
"Ahhhh, sakit Yovan!" teriak Yona sambil mengelus-elus keningnya.
"Mau kutiup, mungkin sakitnya bisa hilang."
Blush...
Pipi Yona seketika menjadi merah merona, 'wahai jantung tolong jangan berdetak terlalu kencang nanti Yovandra bisa mendengar detakanmu'. Yona yang menyadari tatapan Yovandra padanya saat ini langsung menunduk malu. wajahnya sudah merah kepanasan.
"Kenapa lagi dia, Apa otak kecilnya berulah lagi, Apanya yang salah sih, kenapa dia begitu terus dari tadi." suara hati Yovandara.
"Jadi di tiup apa tidak yang sakit?" tanya Yovandra lagi.
Terima kasih sudah membaca.
Joss 🌹🤗 Thor
Joss kamu Thor Agatha 🌹😊
2 /Rose/buatmu. semangat ya.
mari kita saling mendukung kak. thanks.